Tingkatan Ihsan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil

Ihsan: Tingkatan Ketiga dalam Agama Islam

Telah kita kaji tentang Islam dan rukun-rukunnya. Telah dikaji tentang iman dan rukun-rukunnya. Berikutnya yang ketiga terkait dengan ihsan. Penulis berkata, tingkatan yang ketiga adalah Ihsan.

Definisi Ihsan

Di poinkan tiga pembahasan di sini. Yang pertama, Ta’riful Ihsan. Definisi dari Ihsan di dalam syariat punya dua makna. Ada makna umum dan ada makna khusus. Makna umum ihsan adalah agama yang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus dengannya. Di atas makna umum ini bersyarikat dengannya makna umum pada Islam dan Iman.

Makna khusus dari ihsan adalah itqan terhadap hal yang batin dan yang zahir. Yang batin dan yang zahir yang disebut dengan ihsan, dia itqan terhadap segala hal yang terkait dengan batin dan zahir untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang disebut dengan ihsan yang didefinisikan di sini oleh penulis:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.

Jadi tampak dari sini bahwa Ihsan yang dibahas dalam istilah penulis di sini, ini Ihsan Terkait kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena perbuatan Ihsan itu sendiri, kalau kembali kepada dasarnya, Ihsan artinya itqan. Dia mengerjakannya secara sempurna, secara tepat, lengkap, betul-betul mapan, itu disebut ihsan. Terkait dengan makhluk maupun terkait dengan al-khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan makhluk.

Karena itu ada sebagian hadits dibahasakan: ihsan berbuat baik kepada manusia.

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ,

Sungguhnya Allah telah menetapkan ihsan terhadap segala sesuatu.

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ‏”

Apabila engkau menyembelih, perbaiki cara menyembelinya. Kalau engkau membunuh, perbaiki cara membunuhnya.

Ini ihsan terkait dengan makhluk. Tapi yang dibahas di sini oleh penulis, Ihsan terkait dengan Al-Khaliq, terkait kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini terkait dengan definisi ihsan. Hakikat dari ihsan adalah apa yang disebut oleh penulis di sini:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalau engkau tidak bisa seakan-akan melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. Allah melihatmu.

Rukun Ihsan

Pembahasan yang kedua, Rukun Ihsan. Rukun Ihsan cuma satu, yaitu: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalau tidak bisa, maka ketahui lah bahwa Allah Melihatmu.

Di satu rukun, ada dua maqam. Namanya ada dua jenjang, dua kedudukan pada ihsan. Jenjang yang paling tingginya namanya maqamul musyahada. Jenjang seakan-akan dia menyaksikan, melihat. Dan jenjang yang kedua di bawahnya namanya maqamul muraqaba. Jenjang muraqaba, merasa diawasi. Jadi ada dua, ada maqam al-musyahadah dan ada maqam Al-muraqabah. Kau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.

Jadi ihsan ini kalau dilihat memang pada akar bahasanya, ihsan artikan dia mempercantik, memperindah. Jadi pada puncak keindahan itu disebut ihsan. Dimana dia melakukan pekerjaan itu di atas bentuk yang paling bagusnya, cara dhahir dan batin.

Karena itu kata Ibn Dakiq ilid rahimahullah, ihsan itu kesimpulannya rajina ila itqanil ibadat. Ihsan kesimpulannya kembali kepada menitqan seluruh ibadah. Dia itqan seluruh ibadah. Dia buat ibadah itu lengkap, sempurna, paling baiknya, di atas puncak penjagaan dan kelengkapan. Jadi dia kembali kepada itqan Al-ibadah, dia itqankan seluruh ibadah. Ihsan itu kembali kepada dia menjaga seluruh hak-hak Allah dan selalu memperhatikannya. Demikian pula dia hadirkan keagungan dan kebesaran Allah saat dia beribadah. Dia hadirkan keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala saat Dia beribadah.

Tingkatan dan Cakupan Ihsan

Jadi ihsan ini kalau dilihat dari sisi tingkatan agama, ada Islam, iman dan ihsan, maka ihsan dia adalah yang paling tingginya dan paling luasnya dari sisi keumuman ihsan ini. Karena ihsan dia tidak terkait dengan amalan zahir saja, tidak terkait dengan amalan batin saja, tapi dia terkait dengan amalan Zahir dan amalan Batin semuanya. Dan dikerjakan dalam bentuk itqan, yang paling bagus dan paling lengkapnya. Jadi yang paling tinggi dan paling mencakup semuanya.

Hanya saja dari sisi pemiliknya, yang ihsan ini derajat yang tinggi. Sebab orang yang berada di derajat ihsan, dia muhsin. Apabila dia muhsin, pasti dia mu’min dan muslim. Tapi orang yang mu’min belum tentu masuk ke ihsan. Orang yang muslim dia belum tentu masuk ke mu’min dan ke muhsin.

Jadi ini penggunaan-penggunaan dan penjelasan terkait dengan masalah ihsan. Sekali lagi ihsan itu di sini disebut oleh penulis satu rukun. Jadi ada dua jenjang, yaitu Al-Mushahada dan Al-Muraqabah. Jenjang, Mushahada: Anta’budallaha ka’annaaka tarahu. Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Ini Mushahada, seakan-akan dia melihat Allah. Karena kuatnya dari ilmunya, kuatnya dari keimanannya, bagusnya dari pengamalannya, seakan-akan dia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jenjang yang paling tingginya.

Kalau tidak bisa sampai seperti itu, maka ada jenjang di bawahnya, yaitu Muraqabh. Kalau engkau tidak bisa seperti itu, maka ketahuilah Allah melihatmu. Dia merasa diawasi, dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ini dua jenjang penghambaan di dalam ihsan ini.

Maqamul Musyahada: Seakan-akan Melihat Allah

Menunjukkan akan tingginya derajat ihsan tersebut. Jadi anta’budallah ka’annaaka tarahu. Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau Melihat-Nya. Bukan melihat benaran, tapi seakan-akan engkau melihat-Nya. Seorang kadang dalam kehidupan dunia, kalau dia sangat cinta pada sesuatu, merindukannya dan sangat ingat sesuatu itu, kadang dia hadirkan sesuatu itu, seakan-akan sesuatu itu di depannya, masih bersamanya. Ini karena dia pikirannya itu saja, hatinya kesitu saja, dan dia sangat menguasainya, maka itu bisa seperti itu.

Seorang sampai kejenjang Musyahada, Kalau dia betul-betul Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah di sini jenjang ilmu namanya. Jenjang yang paling tinggi. Sebab ini tingkatannya orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang bagus di dalam mengamalkan dari ilmunya. Maka dia beribadah itu seakan-akan dia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini disebut dengan nama Musyahadah. Jadi jenjang musyahadah seperti itu. Ini ada pembahasannya, kita akan kaji lagi nanti Insya Allah dijenjang Amalan hati, ada sudut pembahasan di sana.

Jadi kalau ada yang mengatakan dia beribadah, betul-betul dia lihat, atau dia lihat dengan mata kepala, maka itu dusta. Karena di dunia ini tidak ada yang bisa melihat Allah dengan mata kepalanya dalam keadaan terjaga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah menyatakan dalam hadits Jabir bin Abdillah riwayat Muslim: “ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melihat Rob kalian sampai kalian meninggal, sampai kalian mati.”

Jadi dalam kehidupan dunia ini tidak mungkin ada yang bisa Melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan sebagian ulama telah menukil kesepakatan bahwa siapa yang mengaku dirinya Melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia, maka ini hukumnya Kafir, keluar dari Islam. Karena itu bertentangan dengan ayat Al-Quran dan bertentangan dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi yang ada itu seakan-akan dia melihat Allah, karena kuatnya, keilmuannya, kuatnya, keimanannya, dan bagusnya dia di dalam mengamalkan Islam dan iman, dan berada di atas jenjang ihsan.

Maqamul Muraqabah: Merasa Diawasi Allah

Tingkatan yang kedua adalah tingkatan muraqabah. Jadi kalau dia tidak bisa seakan-akan melihat Allah, maka dia merasa diawasi. Dia tahu bahwa Allah melihat segala gerak-geriknya, mengetahui apa yang dia kerjakan, menyaksikan apa yang dia lakukan. Nah, ini disebut muroqabah.

Jadi disimpulkan di sini terkait dengan masalah Islam, iman dan Ihsan. Jadi tiga tingkatan agama ini, ini kadang bertemu, berkumpul semuanya. Islam, iman, ihsan. Kadang bertemu semuanya pada makna umum. Karena itu kadang Islam digunakan bermakna iman, digunakan bermakna ihsan. Tapi Islam itu dia bersendirian penggunaannya pada amalan yang dahir. Sama dengan iman juga. Iman kadang mengumpulkan makna Islam dan mengumpulkan makna ihsan. Tapi iman kalau bersendirian itu digunakan untuk makna amalan yang batin. Ihsan juga begitu. Ihsan kadang mengumpulkan mana Islam dan iman. Tapi Ihsan kalau digunakan bersendirian ini maknanya Itqan terhadap amalan yang batin dan yang zahir.

Kadar Minimal Ihsan

Kadar yang paling minimalnya pada Ihsan itu kembali kepada dua hal. Kadar yang paling minimalnya. Kita berbicara tentang mengenal agama Islam. Agama Islam ada tiga tingkatan di dalamnya. Ada Islam, ada iman dan ada ihsan. Kita sudah kenal kadar minimal pada Islam, kadar minimal pada iman. Sekarang pada ihsan itu kadar minimalnya pada dua hal.

Yang pertama, Dia ihsan kepada Allah dalam hukum Allah Al-Qadari. Dia ihsan kepada Allah dalam hukum yang bersifat penakdiran. Bahasa lainnya, bersabar terhadap takdir Allah. Bahasa lainnya, bersabar terhadap takdir dan Ketentuan Allah.

Yang kedua, Ihsan bersama Allah dalam hukum syar’i. Dalam hukum syar’i, bahasa lainnya menjalankan perintah, meninggalkan larangan. Menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Ini kadar yang minimal pada ihsan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia ihsan dalam hukum Allah al-Qadari dan ihsan dalam hukum Allah al-Syar’i. Sabar dalam menerima ketentuan Allah dan Melaksanakan segala yang diperintah, Meninggalkan segala Yang dilarang.

Tafsir Ayat tentang Ihsan

Pembahasan yang ketiga, Tafsir tiga ayat tentang ihsan. Penulis menyebutkan tentang ihsan ada tiga ayat. Ayat yang pertama di surah An-Nahl. Kata beliau, Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (An-Nahl: 128)

Sungguhnya Allah Bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan. Dikatakan di sini, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa, di sini ma’iya, kebersamaan Allah. Ini ma’iya namanya, kata para ulama, ma’iya khasah, kebersamaan khusus. Yang bermakna Allah menolongnya, Menguatkannya. Sungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. Jadi disebutkan ihsan itu bersama Orang-orang yang bertakwa. Dimaklumi ketakwaan itu kadarnya sampai Menjalankan apa yang diperintah, meninggalkan Apa yang dilarang. Karena itu tadi di katakan kadar paling minimalnya pada ihsan adalah ini. Ini namanya ihsan kepada Allah dalam hukum syar’i. Jadi sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa Dan orang-orang yang ihsan dalam beribadah kepadanya.

Jadi ma’ia di sini, Kebersamaan Allah Bersama orang yang bertakwa maksudnya Membantu dan menolong mereka. Demikian ditafsirkan oleh Al-Bagawi Rahimahullahu ta’ala.

Dalil yang kedua Tentang ihsan. Dan firman Allah ta’ala:

وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧ٱلَّذِى يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨وَتَقَلُّبَكَ فِى ٱلسَّـٰجِدِينَ ٢١٩إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ ٢٢٠

Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ash-Shu’ara: 217-220)

Dan bertawakkallah Engkau kepada Allah Yang maha perkasa Lagi maha penyayang. Disebutkan dua nama Dari asmaul husna, Nama al-aziz Dan nama Ar-Rahim. Jadi tawakkallah, Tawakkal pada segala perkara. Al-Aziz Ar-Rahim. Kenapa diperintah tawakkal kepada Allah? Karena Allah yang menguatkanmu Dan menjagamu. Dan disebutkan dua namanya, Al-Aziz, Al-Rahim, Yang Maha Perkasa lagi Maha Merahmati. Ini Penyebutan bahwa kalau engkau bertawakkal, Allah Maha Perkasa, Allah akan menjagamu. Allah Maha Rahim, Rahmat Allah, kalau meliputimu Maka akan mencukupi engkau Pada segala sesuatu. Karena itu diantara manfaat orang yang bertawakkal, Kecukupan Allah berikan Untuknya. Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah Maka Allah yang akan Mencukupinya.

Jadi ini bentuk tawakkal ya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. At-tawakal itu dari makna isti’ana, memohon pertolongan. Dia sandarkan perkara yang kepada Allah, dia mohon pertolongan kepada Allah. Ini derajat ihsan namanya. Dia hadirkan kedekatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya dia sudah berada di derajat ihsan. Karena itu di ayat setelahnya dikatakan, Yang melihat engkau ketika engkau berdiri. Berdiri solat kepada Allah, Allah melihatmu. Ini penyandaran ke derajat ihsan. Sekan-akan Allah melihat engkau. Dan juga Allah melihat perubahan gerak badanmu. Diantara orang-orang yang sujud, Kelihatan Bagaimana engkau ketika ruku, sujud, duduk. Dan disebutkan di sini, Pembahasan sujud saya bersama orang yang sujud, padahal sholat bukan cuma sujud. Karena besarnya kedudukan sujud ini.

Kemudian di ayat setelahnya dikatakan, dia lah Allah yang maha mendengar lagi maha mengetahui. Ini semuanya terkait dengan jenjang Ihsan. Tampak di sini, merasa diawasi oleh Allah, dilihat.

Dalil yang ketiga, kata penulis rahimahullah ta’ala:

وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur`ān dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. (Yunus: 61)

Tidaklah kalian berada dalam Sebuah perkara, Dalam sebuah Perkara atau sebuah keadaan. Dan tidaklah kalian membaca Suatu ayat dari Al-Quran. Dan tidaklah kalian Beramal Dengan suatu amalan apapun, kecuali kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukan amalan-amalan itu tadi.

Ketika kalian masuk dalam amalan itu, sudah larut di dalamnya, tenggelam padanya, maka kami menyaksikannya. Kami mengetahui, melihat apa yang engkau kerjakan. Maka ini derajat ihsan, dia merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu merasa dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi ini tiga dalil dari penulis rahimahullah menjelaskan tentang derajat ihsan. Dan ini derajat yang agung. Ihsan itu jenjang ibadah ada dua di dalamnya, ada musyahadah dan Muroqabah. Dan ini ada sebab-sebabnya seorang itu sampai ke sana. Saya sudah terangkan kadar minimalnya pada ihsan. Maka dengan ini selesai sudah apa yang wajib diketahui terkait dengan agama ini. Ini landasan yang kedua: Mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Jadi kalau ditanya oleh malaikat madinuka, apa agamamu? Ini terkait dengan tiga tingkatan ini. Islam, iman, dan ihsan. Seorang mu’min yang akan lancar di dalam menjawabnya itu sepanjang pengamalan dia terhadap tiga hal ini. Kita sudah terangkan kadar yang paling minimal.

Ada pun yang diatasnya, disitulah manusia berjenjang, bertingkat-tingkat. Dalam tingkatan keislaman, keimanan dan Ihsan. Dan seseorang apabila dia pelajari dari agama, dia mengerti apa yang harusnya dia kerjakan. Apa yang harusnya dia lakukan. Kalau dia sudah mendalami dan mengilmui, maka akan mudah perkara-perkara itu. Sisa kewajibannya adalah bagaimana dia beramal dengan sebaik-baik amalan. Beramal dengan sebaik-baik perkara yang menyambungnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Keimanan kepada Kitab-Kitab Allah, Para Rasul, Hari Akhir, dan Al-Qadar

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil

Keimanan kepada Kitab-Kitab Allah

1. Keyakinan bahwa Seluruh Kitab Turun dari Allah Subhanahu wa Ta’ala

Kita imani bahwa seluruh kitab-kitab ini turunnya dari sisi Allah Azza wa Jalla. Turun dengan sebenar-benar turun. Turun itu dengan sebenar-benar turun Itu keyakinan Ahli sunnah Kita imani Sebagaimana yang diberitakan Karena Allah subhanahu wa ta’ala Membahasakannya dengan bahasa Menurunkan.

2. Mengimani Nama-Nama Kitab Secara Khusus dan Global

Dari kitab-kitab Apa yang disebutkan namanya apa yang disebutkan namanyadari kitab-kitab kita imani secara terperinci secara khusus apa yang tidak disebut namanya maka kita imani secara global yang disebut itu dalam Al-Quran ada enam yang disebut Al-Quran, Taurat, Injil, Zabur, Suhuf Ibrahim Lembaran-lembaran Nabi Ibrahim Dan Suhuf Musa Lembaran-lembaran Nabi Musa. Suhuf Musa ini kalau dia Taurat berarti 5 Kalau dia lembaran lagi sendiri Berarti 6, kita tidak tahu Hakikatnya bagaimana Kita beriman secara global. Tapi kita umat Islam Ada kewajiban khusus beriman terhadap Al-Quranul Karim Inilah kitab yang diturunkan Kepada kita umat Islam Dan Al-Quran ini adalah Penutup Yang telah muhaiminan Yang telah menghapus kitab-kitab sebelumnya Isi dari kitab-kitab sebelumnya ada di dalam Al-Quran.

3. Membenarkan Berita yang Sah dari Kitab-Kitab

Ketiga dari kewajiban terhadap kitab-kitab adalah membenarkan segala hal yang syah dari berita di dalam kitab-kitab itu. Kalau Al-Quran itu dipastikan. Tapi selain dari Al-Quran ini sudah banyak yang berubah dari kitab-kitab yang dipegang oleh Ahlul Kitab. Ada pun Al-Quranul Karim Al-Quranul Karim tetap terjaga Tak mungkin ada dari Al-Quran Yang bisa dirubah Karena Allah telah berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`ān dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. Al-Hijr: 9)

Kami menurunkan Al-Quran dan kami akan Menjaganya. Maka Al-Quran ini Dimasukkan Satu huruf pun Maka akan ketahuan Ada yang dimasukkan bahkan di dalam pembahasan harokatnya panjang pendeknya itu ada riwayat-riwayatnya ada riwayat-riwayatnya kapan dibaca 4 harokat, kapan dibaca 2 harokat, kalau dibacaan kita misalnya, Hafs dari Atsim, itu ada 2 riwayat ada dari jalan Syatibia dan ada dari jalan Tayyibatun Nasr ada dari jalan tayyibatun nasyur perbedaan yang paling menyoloknya kalau dari jalan syatibia matmumfasilnya biasanya empat harokat, kalau tayyibatun nasyur dibaca dua saja, itu perbedaan menyolok di seluruh Al-Quran dari awal hingga akhirnya. Ini perbedaan dari sisi riwayat. Jadi ini kedetailan dalam Al-Quran sangat terjaga sekali. Ada pun selain daripada Al-Quran, kalau ada yang misalnya sahih berita dari kitab-kitab itu, maka kita wajib untuk Mengimaninya. Tapi yang menjadi masalah, mana yang benar Karena tidak ada yang dijaga seperti Penjagaan terhadap Al-Quran.

4. Beramal dengan Hukum yang Belum Di-Naskh

Keempat Kita dari kewajiban terhadap kitab-kitab Kita beramal Dengan hukum-hukum yang terkandung Di dalam kitab-kitab itu Dan ridha terhadapnya Sepanjang hukumnya belum dihapus. Dengan turunnya Al-Quran terhapus semua kitab sebelumnya. Jadi apa yang ditetapkan dalam Al-Quran itulah yang diamalkan.

Manfaat Keimanan kepada Kitab-Kitab

Ini memberikan berbagai pelajaran. Memberikan berbagai manfaat. Manfaat yang pertama supaya seorang mengenal bagaimana rahmat Allah kepada umat. Di mana umat itu diterunkan kepada mereka kitab untuk memberi hidayah kepada mereka. Sebagai pedoman dan hidayah mereka. Ini rahmat Allah SWT.

Dan yang kedua adalah dengannya seorang mengenal dari hikmah Allah SWT di dalam syariatnya. Di mana setiap umat diberi kitab apa yang mencocoki keadaan mereka apa yang mencocoki keadaan mereka, karena itu setiap umat ada kitabnya masing-masing sesuai dengan keadaan mereka ada di syariat Nabi Musa misalnya cocok untuk mereka itu tidak cocok untuk umat Islam tapi umat Islam ini dimudahkan Untuk mereka kemudahan-kemudahan Dan Lebih banyak pemberian dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala untuk mereka.

Keimanan terhadap Para Rasul

Keimanan terhadap para rasul, wa rusulihi. Keimanan kepada rasul-rasul-Nya. Ar-rusul jamak dari Rasul. Rasul itu adalah siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus dari manusia dengan syariat. Rasul ini sama dengan Nabi. Keduanya bersyarikat dalam hal diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya saja perbedaannya, kalau Rasul itu diutus kepada umat, biasanya menyelisihi mereka. Kalau Nabi itu diutus kepada umat yang sudah bersepakat dengan mereka.

Karena itu kalau kita lihat Rasul, Nabi Nuh ‘Alaihissalam diutus kepada umat. Umatnya tidak di atas akidah Nabi Nuh. Karena itu didakwai. Demikian pula Nabi Ibrahim, berbeda dengan kaumnya. Demikian pula Nabi Musa dan Nabi Harun, berbeda dengan Fir’aun. Demikian pula Nabi Isa. Demikian pula Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ini contoh para rasul.

Kalau Nabi itu diutus kepada kaum yang bersepakat dengannya. Karena itu Bani Israel itu para Nabi yang banyak. Tapi setelah Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi-Nabi yang datang setelahnya itu disebut Nabi, tidak disebut Rasul. Karena itu dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dikatakan, adalah Bani Israel itu mereka disiasati oleh para Nabi-Nya. Maksudnya siasat dalam bahasa Arab, bahasa cocoknya Diatur dan dijaga kebaikannya oleh para Nabi-Nya. Karena kata siasat dalam bahasa Arab itu adalah pengaturan terhadap umat, apa yang dengannya mereka menjadi baik. Bukan siasat dalam bahasa Indonesia, siasat politik yang ada bermakna kibul-kibulan, sikut-menyikut, tendang-menendang, bukan itu yang dimaksud.

Tapi as-siasat kalau dalam bahasa Arab itu adalah al-qiyamu bishay li-islahihi wahibdihi, yang menegakkan sesuatu untuk memperbaikinya dan menjaganya. Itu siasat namanya. Jadi para Nabi ini, Bani Israel ini dijaga oleh para Nabi-Nya. Dirawat oleh para Nabi-Nya. Setiap kali ada Nabi yang meninggal, datang lagi Nabi setelahnya. Itu Bani Israel.

Jadi itu perbedaan antara Nabi dan Rasul, itu perbedaan yang paling pokoknya. Adapun definisi yang masyur, kita dari kecil pelajar definisi, kalau Nabi itu diberikan padanya wahyu tidak diperintah menyampaikan. Kalau Rasul diberi wahyu, diperintah untuk Menyampaikan. Ini definisi paling banyak kritikannya. Masa ada Nabi diberi wahyu tidak menyampaikan. Nabi Khidir disebut Nabi, tapi dia ada bentuk penyampaian. Karena kata Nabi dan Rasul itu bersyirikat dalam makna sama-sama diutus. Diutus itu artinya menyampaikan. Jadi Rasul dan Nabi bersyirikat dalam kata Sama-sama diutus.

Keimanan kepada para Nabi dan para Rasul ini mengandung empat perkara.

1. Mengimani Kebenaran Risalah Mereka

Yang pertama, keimanan bahwa risalah mereka, kerasulan mereka itu adalah hak, benar datangnya dari Allah. Jadi wajib diimani. Bahwa mereka adalah Rasul hak benar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini sama semuanya para Nabi dan para Rasul seperti itu. Semua Nabi dan Rasul diimani sama. Sebab semuanya datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diutus dari sisi Allah. Siapa yang kafir terhadap kerasulan seorang Rasul, artinya dia kafir kepada seluruh Nabi dan Rasul. Itu kaedah. Siapa yang kafir terhadap satu Rasul, maka artinya dia kafir terhadap seluruh Nabi dan Rasul.

Karena itu dikatakan كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ ٱلْمُرْسَلِينَ, kaumnya Nabi Nuh telah mendustakan para Rasul. Padahal kaumnya Nabi Nuh yang diutus ke mereka Satu saja, Nabi Nuh. Tapi karena dia dustakan satu Nabi, maka hukum Al-Quran dikatakan mereka mendustakan para Rasul. Ini hati-hati ya. Kemarin sebagian orang jahil dari kaum muslimin ketika ada ribut-ribut karikatur itu, di Denmark, ketika bikin karikatur terhadap Nabi, ada yang balas bikin karikatur terhadap Nabi Isa ‘Alaihissalam. Jadi dia balas kekafiran dengan Kekafiran. Memang yang membuat karikatur Nabi sudah kafir. Ini mengaku dirinya muslim, bikin karikatur terhadap Nabi Isa, itu juga hukumnya kafir, sama. Karena itu hati-hati jangan terjerumus di dalam kejahilan-kejahilan.

2. Mengimani Nama-Nama yang Diketahui

Yang kedua, dari keimanan kepada para Rasul, dari kandungan keimanan kepada para Rasul, kita imani siapa yang diketahui namanya Para Nabi itu ada yang disebut namanya dalam Al-Quran. Disebutkan nama para Nabi dalam Al-Quran ada 25 orang Nabi. Selain Nabi Adam, itu bisa dilihat namanya ada di Surah An-Nisa, ada di Surah Al-An’am. Ini dua surah yang paling mengumpulkan nama para Nabi. Selain daripada itu ada surah-surah yang menyebutkan nama-nama Nabi yang lainnya. Ada di Surah Al-Anbiya, ada di Surah Asy-Syu’ara, ada di Surah As-Saf. Ini semuanya dari tempat-tempat kita melihat penamaan para Nabi dan para Rasul.

Tapi dari para Nabi itu dan para Rasul dalam Al-Quran disebut 25. Di luar Al-Quran ada yang disebut namanya dari Nabi. Misalnya Yusha bin Nun. Ini kan disebut namanya. Itu anak muda yang menemani Nabi Musa itu. Setelah Nabi Musa dan Nabi Harun, anak muda ini menjadi Nabi. Itu namanya Yusha bin Nun. Dan jumlahnya para Rasul itu mereka bukan hanya 25. Lebih daripada 25. Sebagaimana para Nabi, jumlah Nabi itu lebih banyak lagi.

Jadi kalau diketahui namanya, kita imani dari namanya. Yang tidak diketahui maka kita imani secara global.

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (QS. Ghafir: 78)

Diantara mereka ada yang sudah kami kisahkan dan diantara mereka ada yang belum dikisahkan. Ada yang belum dikisahkan. Jadi ada yang dikisahkan, ada yang tidak dikisahkan. Menunjukkan banyak para Nabi dan para Rasul itu.

3. Mengimani Berita yang Sahih

Kemudian yang ketiga dari keimanan kepada para Rasul adalah kita imani segala berita yang syah, yang sahih, yang benar dari berita para Nabi tanpa Rasul. Jadi kalau syah hal tersebut di dalam Al-Quran atau di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka kita terima.

Ada namanya kisah Isra’iliyyah. Kisah Isra’iliyyah ini penyebutan kisah umat terdahulu terkait dengan umat terdahulu. Kalau tidak ada beritanya di dalam Al-Quran dan Hadits, maka hukumnya tidak dibenarkan, tidak pula didustakan. Tidak dibenarkan, tidak pula didustakan. Tapi boleh diceritakan sepanjang tidak ada makna yang bertentangan dengan Al-Quran di dalamnya.

Tapi kalau ada makna yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits, apalagi makna tersebut adalah celahan terhadap para Nabi dan para Rasul, maka itu tidak boleh diceritakan. Seperti Naudzubillah, ada yang cerita katanya Nabi Daud tertarik dengan istri salah seorang prajuritnya. Prajuritnya disuruh perang, diletakkan dia di pasukan paling depan supaya cepat mati, kemudian setelah itu dinikahi istrinya oleh Nabi Daud. Ini Naudzubillah. Ini dari semenjak masa Umar bin Abdul Aziz berkata, beliau berkata: “Siapa yang saya dengar bercerita tentang isu, saya akan cambuk dia haddal muftari.” Hukum had terhadap orang yang bikin kesaksian palsu. Jadi kalau orang bikin kesaksian palsu dicambuk 80 kali. Jadi kalau orang mu’min saya bikin saksi palsu terhadap mu’min lainnya, dicambuk 80 kali. Apalagi ini terhadap seorang Nabi.

Nah ini berarti banyak yang mau dicambuk-cambuk di atas mimbar Jumat. Sering bawa cerita-cerita sembarangan. Hal-hal yang seperti ini dari perkara yang tidak diperbolehkan.

4. Beramal dengan Syariat Rasul

Kemudian yang keempat dari keimanan kepada para Nabi atau para Rasul, kita beramal dengan syariat Rasul yang diutus kepada kita. Yang diutus kepada kita adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan beliau adalah penutup para Nabi dan para Rasul. Wajib kita imani bahwa beliau adalah penutup para Nabi dan para Rasul.

رِّجَالِكُمْ وَلَـٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ

Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. (QS. AL-Ahzab: 40)

Wa rasul Allahi wa khataman nabiyyin. Tapi beliau adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi.

Ditegaskan di dalam hadits yang mutawatir: La nabiya ba’di, tidak ada Nabi lagi setelahku. Ini penegasan yang secara tegas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Nabi yang terakhir.

Keimanan terhadap para Rasul ini punya berbagai manfaat, diantaranya adalah kita mengenal rahmat Allah dan kasih sayangNya terhadap segala makhluk, dimana diutus kepada mereka para Rasul untuk memberi hidayah menuju kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan diutusnya para Nabi dan para Rasul untuk mengangkat hujah terhadap mereka, supaya mereka tidak beralasan lagi pada hari kiamat: “Kami begini karena belum sampai Rasul.” Tidak, diputus hujah itu sudah diangkat.

Dan juga dari keimanan kepada para Rasul ini ada kesyukuran kepada Allah akan nikmat ini, apalagi diutus kepada kita umat Islam ini seorang Rasul yang merupakan pemuka, pemimpin para Nabi dan para Rasul, yaitu Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Dan dari keimanan kepada para Rasul juga adalah cinta kepada mereka. Bagaimana seorang mengenal para Rasul itu mencintainya, menghormatinya, memujinya. Karena seorang itu dikumpulkan bersama siapa yang dia cintai.

Keimanan terhadap Hari Akhirat

Kemudian yang kelima adalah keimanan terhadap hari akhirat. Keimanan terhadap hari akhirat ini mencakup banyak hal. Karena hari akhirat itu bermula dari alam kubur. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Al-qabru awal manazilil akhirat. Kuburan itu adalah awal persinggahan negeri akhirat. Jadi masuk dalam keimanan kepada hari akhirat adalah alam kubur. Jadi apa yang ada dalam kubur itu, dari fitnah, adzab itu kita imani, kita yakini. Sebagaimana hari kebangkitan, kita imani akan hari kebangkitan itu bagian dari keimanan kepada hari akhirat. Dan ini yang diingkari oleh kaum musyrikin.

Demikian pula dari keimanan kepada hari akhirat, keimanan akan hisab dan jaza. Hisab dan pembalasan. Demikian pula masuk di dalam keimanan kepada hari akhirat, keimanan terhadap surga dan neraka. Jadi kalau diurut itu, keimanan kepada hari akhirat semenjak ruh keluar dari jasad, itu masuk sudah di pembahasan alam barzah, alam kubur. Setelah itu hari kebangkitan. Setelah hari kebangkitan, dikumpulkan di padang mahsyar.

Padang mahsyar itu adalah bumi yang telah diganti, langit yang sudah diganti.

يَوْمَ تُبَدَّلُ ٱلْأَرْضُ غَيْرَ ٱلْأَرْضِ وَٱلسَّمَـٰوَٰتُ

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain, dan (demikian pula) langit (QS. Ibrahim: 48)

Hari tatkala bumi diganti dengan bumi selain dari bumi yang ada, demikian pula langit diganti selain dari langit yang ada sekarang ini. Karena pada mahsyar, sebab hamparan, berkumpul di situ seluruh makhluk dari awal hingga akhirnya dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, belum dikhitan, matahari dekatkan di atas kepala. Manusia berkeringat sesuai dengan apa kadar amalannya. Ada yang dinaungi di bawah teduhan Arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada yang berkeringat sampai ke mata kakinya. Ada yang ke lututnya. Ke pinggangnya. Ada yang ke lehernya. Ada yang ditenggelamkan oleh keringatnya.

Di padang mahsyar ini, di situ ada telaga. Setiap Nabi dan Rasul punya telaga. Dan Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga memiliki telaga. Di telaga Nabi Muhammad inilah, siapa yang minum darinya satu kali tegukan, dia tidak akan haus selama lamanya. Di telaga Nabi Muhammad inilah umatnya berkumpul. Ada pembahasan tentang telaga.

Dan di situ juga di padang mahsyar, pembahasan tentang syafaatul udhma. Karena manusia di penantian yang sangat lama itu. Satu hari di hari kiamat itu, dalam Al-Quran ada yang disebut seperti seribu tahun, ada yang disebut seperti 50 ribu tahun. Penantian yang sangat lama. Dalam keadaan yang dahsyat, Allah murka. Dengan kemurkaan yang sangat besar. Tidak pernah murkah semisal itu sebelumnya dan tidak akan murka semisal itu setelahnya. Para Nabi hanya berkata: Nafsi-nafsi. Diriku-diriku. Memikirkan dirinya.

Manusia mendatangi para Nabi dan para Rasul, supaya para Rasul memohon kepada Allah agar hisab disegerakan. Dan semuanya hanya memikirkan dirinya, memikirkan dosanya, kesalahannya. Dan akhirnya manusia kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau pun yang berdiri dan memohon kepada Allah. Beliau berkata: “Akulah yang memang pemilik syafaat itu.” Akulah pemilik syafaat itu. Maka berdirilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian beliau bersujud di bawah Arsy, memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pujian yang dibukakan untuk beliau waktu itu. Mengalir di lisan beliau, beliau memuji Allah dengan pujian yang sangat agung. Kemudian Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad untuk mengangkat kepalanya, berucap memohon dan memberi syafaat. Dizinkan oleh untuk Nabi Muhammad. Maka Nabi pun memohon kepada Allah agar supaya hisab disegerakan. Dikabulkan permohonan Nabi Muhammad.

Berikutnya itulah yang disebutkan:

وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا ٢٢وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَـٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ ٢٣

dan datanglah Tuhan-mu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (QS. Al-Fajr 22-23)

Datanglah Rabb mu dan para malaikat bersaf-saf. Ini hisab. Didatangkan neraka Jahannam dalam keadaan ditarik dengan 70 ribu. Setiap tali ditarik oleh 70 ribu malaikat. Ada namanya Aradh. Ada namanya hisab. Aradh itu ditunjukkan dari amalan-amalan. Dihisab, diperhitungkan. Dipertanyakan setiap dari amalannya. Ada namanya timbangan. Ditimbang antara kebaikan dan keburukannya.

Setelah ditentukan, setelah semua ini, penentuan dia ke surga atau Ke neraka. Yang penduduk neraka dilemparkan, diseret ke neraka. Yang penduduk surga masih ada fase berikutnya. Melewati jembatan di atas neraka Jahannam. Penduduk neraka juga melewatinya tapi dia pasti jatuh di bawah neraka. Sebab ini jembatan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bersumpah seluruh dari makhluk akan mendatanginya.

وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا

Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhan-mu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (QS. Maryam: 71)

Demi Allah, setidak seorang pun di antara kalian kecuali dia akan mendatangi jembatan yang dihamparkan di atas neraka Jahannam. Itu adalah ketentuan dari Rabb-mu yang sudah dipastikan.

Jadi ada yang menafsirkan mendatangi Jahannam artinya mendatangi jembatannya. Dan ada yang menafsirkan mendatangi Jahannam, dia datangi betul nerakanya. Tapi kalau dia kafir, dia langsung masuk dalamnya. Kalau mu’min, dia hanya melihat, setelah itu dia melewatinya. Melewati ini hikmahnya supaya seorang mu’min itu ketika dia masuk ke surga, dia pernah melihat Jahannam, ngerinya dan dahsyatnya. Maka dia semakin bersyukur kepada Allah dimasukkan ke dalam surga, dibebaskan dari api neraka.

Setelah ‘Asirat, di situ sebagian ulama dia mengatakan masih ada qisas lagi di situ. Di situlah masih ada orang yang punya amalan-amalan, ada yang menuntut dia, dia bayar. Orang yang menuntut dengan kebaikan-kebaikannya. Ada yang habis sudah amalan kebaikannya, masih ada yang menuntut, maka dosa orang itu dia tanggung. Lalu setelah itu dia dilemparkan ke dalam neraka.

Setelah selesai dari qisas berikutnya adalah memasuki surga. Jadi itu keimanan terhadap kehidupan akhirat. Ini yang tercakup di dalamnya. Allah Ta’ala ‘Alam.

Keimanan kepada Al-Qadar

Dan yang terakhir adalah keimanan kepada Al-Qadar. Keimanan kepada takdir yang baik dan yang buruknya. Wa nu’mina, wa tu’mina bil qadari khairihi wa syarihi. Engkau beriman kepada al qadar khairihi wa syarihi. Beriman kepada takdir yang baik dan buruknya. Al qadar di sini maknanya al makdur. Engkau beriman kepada yang ditakdirkan. Yang baik dan yang buruknya. Sebab takdir terbagi dua, baik dan buruk, itu terkait dengan al makdur, apa yang Allah takdirkan. Apa yang Allah tentukan. Itu ada dua. Ada yang baik, ada yang buruk. Ada keimanan, ada kekafiran. Ada kebaikan dan ada kejelekan. Ada Abu Bakr, ada Fir’aun. Ada orang yang salih, ada orang yang fasik. Ada mu’min, ada kafir. Jadi yang ditakdirkan itu baik. Ada yang baik dan ada yang buruk.

Tapi kalau perbuatan Allah menakdirkan, perbuatan Allah menakdirkan semuanya baik, tidak ada buruknya. Allah menakdirkan adanya keimanan itu baik di sisi Allah. Allah menakdirkan adanya kekufuran itu baik di sisi Allah. Sebab ada hikmahnya di sisi Allah. Perbuatan Allah selalu baik.

Jadi ini keimanan kepada takdir. Keimanan kepada takdir itu terkandung di dalamnya empat hal. Yang pertama, mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ditakdirkan. Yang kedua, mengimani bahwa segala yang ditakdirkan itu tercatat di Lauhil Mahfuz. Dan yang ketiga, mengimani bahwa segala yang ada ini itu terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang keempat, mengimani bahwa segala yang ada, segala makhluk itu adalah ciptaan Allah. Allah yang menciptakan dan mengadakannya.

Jadi ini empat perkara dari keimanan kepada takdir. Terkait dengan dalil-dalilnya, ini ada pembahasan khusus ya. Kita akan kaji nanti insyaallah pada tempatnya. Ini di pembahasan Al-Aqidah Al-Wasitiyyah, insyaallah kita akan uraikan lebih mendalam di situ. Tapi ini empat ini dasar pokok dalam keimanan kepada takdir.

1. Allah mengetahui segala yang ditakdirkan

Yang pertama, kita imani bahwa segala yang ditakdirkan, Allah mengetahui. Tidak mungkin ada yang ditakdirkan Allah tidak tahu. Kekafiran orang-orang Qadariyah. Itu setelah mereka mengatakan, sesuatu itu kalau baru terjadi, Allah baru tahu. Sebelumnya Allah tidak tahu katanya. Ini kekafiran orang Qadariyah. Yang disepakati oleh para ulama.

Mirip dengan kekafirannya orang Syiah Rafidhah. Orang Syiah itu punya akidah namanya akidah al-bada’. Artinya al-bada’, Allah berubah pikiran. Ini Naudzubillah. Tadinya Allah sudah menetapkan begini, kemudian Allah berubah pikiran, kemudian Allah tetapkan begini. Ini dari kekafirannya orang Yahudi. Dan ini yang disebarkan oleh orang-orang Syiah, ada di buku-buku mereka disebut dengan nama yang kedua.

2. Segala yang ditakdirkan tercatat di Lauhil Mahfuz

Dari keimanan kepada takdir, mengimani bahwa segala yang ditakdirkan tercatat Di Lauhil Mahfuz. Apa saja yang ditakdirkan sudah dicatat. Segala yang ditakdirkan tersebut.

3. Segala yang terjadi Kehendak Allah

Dan yang ketiga, kita mengimani bahwa apa yang Allah adakan, apa yang Allah ciptakan, itu terjadi dengan kehendak Allah. Tidak mungkin ada sesuatu dalam kekuasaan Allah terjadi tanpa Allah menghendakinya.

Ini orang menyimpang yang mengatakan, kalau si hamba berbuat maksiat, ini ciptaan hamba sendiri. Kehendak hamba sendiri, bukan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini menyimpang. Sebab tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kenapa ada orang aneh seperti ini mengatakan bahwa hamba kalau berbuat maksiat itu kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah? Ini dasar pemahaman yang keliru dalam takdir. Karena dia pandang kalau kemaksiatan ini terjadi dengan kehendak Allah, berarti Allah menghendaki Kejelekan. Dan tidak boleh kita katakan Allah menghendaki kejelekan. Ini dia sudah jatuh dalam kekeliruan, kesesatan. Yang pertama dia qiaskan perbuatan makhluk dengan perbuatan Allah. Kemudian yang kedua, dianggap bahwa segala yang ditakdirkan itu pasti Allah cintai. Tidak. Takdir itu apa yang Allah kehendaki, ada yang dicintai oleh Allah, dan ada yang tidak dicintai oleh Allah. Ditakdirkan Karena Allah punya hikmah di belakangnya.

الٓمٓ ١أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ٢

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-Ankabut: 1-2)

Apakah manusia menyangka akan dibiarkan begitu saja berucap: “Kami beriman” dan mereka belum diuji? Jadi adanya kekafiran itu ujian. Siapa yang benar Keimananya. Jadi Allah menakdirkan kekafiran, perbuatan Allah menakdirkan baik. Sebab itu ada hikmahnya. Tapi kekafiran sendiri Allah tidak cintai. Allah telah berfirman:

وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ

Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya (QS. Az-Zumar: 7)

وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ

dan menjadikan iman itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. (QS. Al-Hujurat: 7)

Allah tidak meridai kekafiran untuk hamba-Nya. Allah membuat kalian itu menjadikan haram hal yang dibenci terhadap kalian. Kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Jadi ini semuanya tidak bertentangan. Jadi apa yang ditakdirkan atau apa yang ada dari makhluk itu, Allah yang menghendakinya.

4. Semua makhluk Ciptaan Allah

Yang keempat, beriman kepada takdir, apa yang ada dari makhluk, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengadakan dan menciptakannya. Allah yang mengadakan dan menciptakannya. Karena Allah yang firman, Allah yang menciptakan segala sesuatu.

ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ

Allah menciptakan segala sesuatu (Az-Zumar: 62)

Ini saja empat hal ini. Kalau diakini maka akan lurus keimanan seseorang di pembahasan Takdir. Kalau ada syubahat-syubahat sana sini, syubahat itu kalau menyelisih empat ini, ditolak saja dulu. Ini batil, anggap batil. Kalau menyelisih empat ini. Bagaimana caranya mengetahui dia batil? Nanti kalau kita belajar lebih mendalam lagi akan kelihatan. Ini namanya kaedah awal pokok kewajiban.

Nah itu pentingnya seorang mengenal dasar kewajibannya. Supaya dia teguh dulu di atas petunjuk. Bisa menghindar dari kejelekan-kejelekan. Nanti kalau dia belajar lebih mendalam, dia akan lihat nanti bagaimana kebatilan itu betul-betul batil. Akan lebih kelihatan.

Dalil-Dalil Rukun Iman

Jadi sudah selesai di sini pembahasan tentang Enam rukun iman. Sekarang penulis menjelaskan dua dalil. Ada dalil terkait dengan lima rukun dan ada dalil terkait dengan Takdir.

Yang pertama ada dalil ayat Surah Al-Baqarah. Tafsir ayat Surah Al-Baqarah tentang lima rukun iman. Dalil terhadap enam rukun ini dalam firman Allah Ta’ala. Dalil atas enam rukun ini adalah firman Allah Ta’ala:

۞ لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَـٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, (Al-Baqara: 177)

“Bukanlah suatu kebajikan engkau menghadapkan wajah kalian ke timur dan ke barat.” Maksudnya kebaikan itu tidak terbatas pada itu saja. Dan itu bukan pokok dari kebajikan. Tapi kebajikan yang paling pokoknya, yang sesungguhnya adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, dan kitab-kitab serta nabi-nabi.

Di Surah Al-Baqarah, penyebutan rukun ada lima. Jadi katakan bukanlah kebaikan itu. Jadi terkait dengan kebaikan, yaitu bukan terbatas pada masalah kalian menghadap kemana di waktu ibadah. Tapi pokok kebaikan itu yang dikatakan dengan kebaikan adalah apa yang disebut pada ayat ini. Lima. Ini pokoknya. Keimanan kepada Allah, hari akhirat, para malaikat, kitab Allah, dan para Nabi.

Kemudian beliau terangkan dalil tentang takdir. Jadi di sini tidak disebut dalil. Tadi cuma disebut lima. Adapun tentang takdir, dikhususkan ayat-ayat tentang takdir dalam Al-Quran. Karena itu oleh penulis ditambah satu dalil lagi. Dalil tentang takdir adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَـٰهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Qamar: 49)

Sesungguhnya segala sesuatu itu kami ciptakan dengan qadar. Kami ciptakan dengan takdir. Jadi apa saja yang Allah ciptakan, segala sesuatu yang Allah ciptakan itu diciptakan berdasarkan takdir. Allah yang menakdirkannya. Ini diantara dalil yang menunjukkan bahwa segala yang Allah adakan itu apa yang Allah takdirkan. Segala yang Allah adakan itu Allah yang menakdirkannya, Allah yang menciptakannya, Allah yang menghendakinya.

Sengan ini selesai sudah pembahasan tentang rukun iman.

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Nadzar

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

  • Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
  • Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
  • Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Nadzar

Definisi Nadzar

Yang terakhir dari bentuk ibadah yang disebut oleh penulis adalah Nadhr. Adalah Nadar.

Nadar adalah seorang mukallaf mewajibkan sesuatu atas dirinya. Sesuatu ini asalnya dalam syariat bukan wajib, terhadap asalnya tidak wajib. Misalnya dia bernadzar untuk i’tikaf di masjid satu hari. Asal i’tikaf tidak diwajibkan baginya, tapi dia wajibkan i’tikaf terhadap dirinya. Ini disebut Nadar. Atau dia nadzar untuk berpuasa tiga hari. Asalnya nadzar, kewajiban dia berpuasa dikatakan wajib puasa tiga hari. Itu nadzar dari asal syariat. Tapi karena dia wajibkan puasa atas dirinya, maka ini disebut sebagai Nadar.

Jadi Nadar ini ingin diterangkan oleh penulis di sini bahwa Nadar itu adalah ibadah. Kalau Nadar adalah ibadah, ibadah tidak boleh diserahkan kepada selain Allah. Apa dalilnya Nadar adalah ibadah?

يُوفُونَ بِٱلنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًۭا كَانَ شَرُّهُۥ مُسْتَطِيرًۭا

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan: 7)

Mereka menunaikan Nazar, Allah memuji mereka yang menunaikan Nazar. Sehingga menunjukan Nazar adalah ibadah. Karena ibadah maka harus ikhlas untuk Allah, memalingkan dari Nya maka adalah Syirik Akbar. Mereka takut suatu hari, maksudnya di hari kiamat yang siksa merata di mana-mana.

Bentuk-Bentuk Nadzar

Kalau kita berbicara tentang Nadar, itu apa yang disebut ibadah? Itu Nadar yang disebut ibadah hanya seseorang maksud ketika dia menadarkan. Ini ada yang dibahas oleh para ulama, apakah di situ dikatakan makruh atau dianjurkan. Jadi kalau dia nadzar tanpa muqobil, ada nadzar tanpa muqobil (balasan) dan dengan muqobil. Jadi ada dua, ada nadarnya tanpa dia minta balasan dan ada nadzar karena diharapkan suatu balasan.

Tanpa balasan, misalnya dia sekarang duduk, “Saya ingin mengharuskan diri puasa tiga hari”. Dia bernadzar, “Lillahi, puasa tiga hari”. Ini nadzar tidak bagus, ibadah. Tapi kalau dia minta, misalnya, “Apabila saya kembali perjalanan selamat, maka saya nadzar tiga hari”. “Apabila anak saya lulus ujian, maka saya akan puasa Senin-Kamis selama satu bulan”. Misalnya, maka ini nadzar ada sebabnya, dia meminta. Inilah yang dikatakan oleh Nabi, itu yang dikeluarkan dari kebakhilan. Itu yang dikatakan oleh Nabi, itu tidak mendatangkan kebaikan, tidak mendatangkan kebaikan. Dan sebagian ulama dia mengharamkan nadzar yang seperti ini dari sisi hukumnya, itu diharamkan.

Tapi kalau dia sudah terlanjur nadzar, artinya dia sudah mengajibkan dirinya, sisa apa yang dia nadarkan? Kalau nadarnya taat, wajib dia lakukan. Nadarnya kalau nadarnya maksiat, bahkan tidak boleh dia kerjakan.

Kesimpulan Pembahasan Mengenal Allah

Dan dengan ini kita selesai pembahasan yang pertama tentang Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dari kesimpulan pembahasan Mengenal Allah itu, sebagaimana yang telah diuraikan oleh penulis, pembahasan pembahasannya jelas. Dan manusia di dalam hal ini bertingkat sesuai dengan kadar upayanya di dalam berilmu dan mengamalkan. Karena itulah yang harusnya selalu dipegang oleh para penuntut ilmu. Dia selalu memperdalam bagaimana dia mengenal Allah. Semakin dalam dia mengenal-Nya, maka itu akan semakin kuat kebaikannya dan harapan dia diselamatkan pada hal-hal yang mengkhawatirkan. Itu di sekaratul maut, di alam kubur, dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu Ta’ala a’lam.

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Dzabh – Menyembelih

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

  • Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
  • Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
  • Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Ad-Dabh

Definish Dzabh – Menyembelih

Kemudian yang ketiga belas dari ibadah adalah Al-Dzabh. Menyembelih ini dari ketaatan pada Allah, ini dari ibadah terkait dengan harta. Karena ibadah itu ada yang terkait dengan badan, ada yang terkait dengan harta. Ibadah yang terkait dengan harta ini namanya Ad-Dzabh.

Menyembelih artinya mengeluarkan ruh dari hewan dengan cara menumpahkan darahnya. Dengan bentuk yang telah dimaklumi, yang telah ditentukan di dalam syariat.

Menyembelih ini, disebutkan oleh penulis dia adalah ibadah. Apa dalilnya bahwa dia adalah ibadah? disebutkan ayat dan hadits. Pada ayat dan hadits ini keduanya ada menyembelih. Ibadah boleh dipalingkan kepada selain Allah. Ada dua dalil, ayat dan hadits.

Dalil menyembelih adalah firman Allah Ta’ala, ini ayat:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ١٦٢لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُسْلِمِينَ ١٦٣

“Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-Anam: 162-163)

Maksudnya, katakanlah Nabi Muhammad. “Inna solati”, sungguh ibadahku dengan solat. “Wa nusuki”, di sini artinya sembelihanku. Ada yang mengertikan nusuk dengan ibadah, tapi mayoritas ahli tafsir menafsirkan nusuk dengan sembelihan. Sungguh sembelihanku! Apa yang saya lakukan dalam hidupku dan apa yang saya persiapkan untuk kematianku, semuanya hanya milik Allah, Rabbil ‘Alamin, Rabb semesta alam. Yang kuibadahi, “La syarika lahu”, tidak ada syarikat bagi-Nya dalam ibadah, sebagaimana tidak ada syarikat bagi-Nya dalam kekuasaan dan pengaturan. “Wa bidha”, dengan ikhlas dalam ibadah ini, dengan tauhid ini. “Umirtu”, saya diperintah. “Wa ana awalul muslimin”, dan saya dari umat ini orang yang paling pertama berserah diri.

Jadi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang paling pertama melaksanakannya. Beliau adalah orang yang paling pertama berislam karena beliau membawa syariat ini. Karena itu, siapa yang menyandang dari syariat, maka harusnya dia adalah orang yang paling pertama untuk melaksanakannya. Maka ini jelas bahwa sembelihan itu, nusuk, adalah ibadah. Harus dilakukan ikhlas karena Allah.

Ada pun dari hadits, kata penulis, dan juga dalil dari sunnah: “Allah melaknat siapa yang menyembelih untuk selain Allah“. Ini hadits Al-Bin Nabi Talib, riwayat Muslim. Allah melaknat siapa yang membeli untuk selain Allah. Melakat itu adalah At-Tardu wal-Ibaat min Rahmat Allah, mengusir dan menjauhkan dari rahmat Allah. Itu yang disebut dengan melaknat. Jadi Allah melaknat siapa yang menyembelih, untuk selain Allah.

Bentuk-Bentuk Menyembelih

Menyembelih itu, kata Syekh Ibn Utsaimin Rahimahullah Ta’ala, itu ada beberapa bentuk.

1. Menyembelih yang Bersifat Ibadah

Yang pertama, menyembelih yang disebut ibadah. Dimana dia menyembelih dengan mengagungkan siapa yang dia sembelih untuknya, merendah diri kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya. Ini menyembelian seperti ini hanya untuk Allah. Seperti misalnya seorang menyembelih kurbannya, dia sembelih untuk Allah, membesarkan Allah, dia tunduk kepada-Nya, takarrub, mendekatkan diri. Ini ibadah. Ini tidak boleh diserahkan kepada selain Allah. Menyerahkannya kepada selain Allah ini adalah Syirik Akbar. Walaupun dia menyebut nama Allah, dia baca Bismillah misalnya, tapi ini dia peruntukan untuk kuburan, untuk orang yang dikubur, maka itu masuk di dalam Syirik Akbar.

2. Menyembelih untuk Memuliakan Tamu atau Acara

Kemudian menyembelih yang kedua, dia menyembelih untuk memuliakan tamu, untuk acara nikah. Ini hal-hal yang seperti ini disyariatkan, tergantung bagaimana bentuknya. Kalau acara nikah, kadang wajib. Acara nikah, wali itu hukum wajib kalau dia mampu, misalnya, maka bisa menjadi wajib. Atau untuk acara akikah, misalnya dia menyembelih untuk anaknya, bisa menjadi wajib. Atau memuliakan tamu, ada dia sembelih untuk memuliakan tamu.

3. Menyembelih untuk Dimakan atau Berdagang

Kemudian yang ketiga, seorang menyembelih dalam bentuk hanya untuk dimakan, saya bersenang-senang dengan, atau dia berdagang dengan, dia jual belikan. Ini asalnya masuk ke dalam mubahat, perkara yang mubah, perkara yang dibolehkan. Karena menyembelih dalam bentuk ibadah itu harus dijaga, sembelih itu hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Istighatsah – Meminta Dihindarkan dari kesusahan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

  • Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
  • Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
  • Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Istighatsah

Definisi Istighatsah

Al-Istighatsah itu adalah Tolabul Ghaits. Tolabul Ghaits adalah meminta supaya dihindarkan dari kesusahan, diselamatkan dari bahaya.

Perbedaan antara Doa dan Istighatsah: kalau istighatsah itu dia berlindung dari hal yang sifatnya makruf, sesuatu yang sudah membahayakannya. Kalau doa itu dia meminta umum. Ya, kalau doa baik. Itu perbedaan Doa dengan Istighatsah.

Berikutnya, apa perbedaan antara Istighatsah dan Istiadah? kalau istiadah itu dia memohon perlindungan supaya dijaga dari hal yang jelek, dibentengi, ditamengi supaya terpelihara tidak didekati oleh kejelekan. Kalau istighatsah, dia sudah kena musibah, kena bahaya, dia minta kepada Allah supaya dibantu menghilangkan bahaya ini. Jadi istighatsah itu permohonan supaya menghilangkan bahaya yang telah menimpanya.

Jadi istighatsah itu cocok dibahasakan dengan memohon pertolongan. Sebab pertolongan itu sifatnya diberikan pada orang yang sudah kena apa, bahaya. Kalau orang yang belum kena bahaya, itu disebut perlindungan.

Istighatsah itu mengandung dua hal. Yang pertama, kesempurnaan kefakiran kepada Allah. Dia betul-betul fakir kepada Allah. Dan yang kedua, dia meyakini bahwa Allah mencukupinya. Ini dua kandungan dari apa Al-Istighatsah. Dia betul-betul sempurna kefakirannya kepada Allah, dan yang kedua dia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mencukupinya.

Dalil Al-Istighatsah

Kata penulis Rahimahullah, “Wa dalilul istighatsah kauluhu ta’ala: Istaghitsuna Rabbakum Fasta’jaba lakum”. Dalil istighatsah adalah firman Allah Ta’ala:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ

“Ingatlah ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu diperkenankan-Nya kepada kalian.” (QS. An-Anfal: 9)

Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian, wahai umat Islam, telah berjumpa dengan musuh kalian. Maka waktu itu, “Tastagitsuna Rabbakum”, kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian. Ini kejadian di Surah Al-Anfal, sudah terjadi, bertemu dua pasukan. Jadi bahayanya itu sudah ada. Karena itu bahasanya bahasa Istighatsah.

Bahasa-bahasa Istighatsah umum, bikin acara Istighatsah, kumpul-kumpul di mana begitu. Dan kadang dia tidak paham apa istighatsah itu. Mungkin kadang dia yang dia minta, mungkin hal yang sudah menimpa umat, itu masuk Istighatsah. Tapi kadang ada hal-hal yang dikhawatirkan, ditakutkan, itu bukan istighatsah. Di situ namanya istiadah.

Tapi yang menjadi rumit ini, bikin acara yang seperti itu pada hal-hal yang ada ritual khusus, perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Kalau seorang mengajak manusia untuk berdoa, kemudian mendoakan kebaikan untuk negeri, itu adalah hal yang baik, perkara yang bagus. Tapi harusnya hal yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jangan masukkan di dalamnya ritual-ritual yang tidak ada dalil.

“Istaghitsuna Rabbakum”, ketika kalian meminta pertolongan kepada Rabb kalian, “Fastajabalakum”, lalu Allah mengabulkan. Ini diperbincangkan, kejadian ini ketika Rasulullah meminta pertolongan maka dikabulkan. Dikabulkan, diberi dari malaikat, diturunkan kepada kaum mukminin sehingga mereka menang. Karena itu di kelanjutan ayat:

إِنَّا مُنْصِرُونَكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“Sungguh, Aku akan menolong kalian dengan seribu malaikat yang mengikuti kalian.”

Padahal jumlah waktu itu kaum musyrikin lebih dari seribu, dan umat Islam cuma berapa? 300 lebih, mungkin 313, sekitar itu. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memohon kepada Allah dan para sahabat memohon. Itulah Istighatsah namanya. Kemudian dibantulah, maka turun para malaikat. Dan disebutkan dalam riwayat di Perang Badar itu ada malaikat-malaikat yang turun berwujud manusia, berperang ikut di dalam peperangan.

Baik, ini malaikat. Kalau turun, benar-benar apa, turun kemenangan. Itu kalau malaikat turun, jangan seperti cerita-cerita di Suriah, turun malaikat. Ini cerita-cerita para pemberontak, orang-orang yang jahil. Kemudian untuk mendukung patwa-patwa menyesatkan supaya manusia memberontak kepada pemerintah. Itu katanya ada yang melihat apa namanya, orang pakaian putih, tidak tau dari mana. Orang pakaian putih boleh dari mana? Pakaian putih? Kalau malaikat turun, malaikat turun pasti mati semua. Itu orang kan begitu. Kalau malaikat benar turun, ini tetap begitu, begitu. Saya ini Ashabul Fitnah, seperti itu biasanya mencari alasan saja untuk pembenaran perbuatannya yang keji. Sudah terbunuh kaum Muslimin di mana-mana, dia masih menggambarkan bahwa diri mereka benar. Jelas, ada lebih mengerikan lagi. Kalau penduduk Suriah sembilan juta orang, terus satu juta mati untuk kebaikan, delapan juta maka satu juta ini gak apa-apa mati. Patwa, patwa konyol seperti tidak ada rasa takut kepada Allah, tidak ada harganya nyawa kalau Muslimin. Padahal satu jiwa yang melayang itu seakan akan dia membunuh seluruh, seluruh manusia. Tapi sebagian orang tidak ada rasa takut.

Jadi dari dalil ini tampak bahwa Istighatsah itu adalah ibadah karena Allah mencintainya, dikabulkan permohonannya. Berarti dia adalah ibadah. Hanya diberikan kepada Allah. Dan kaidahnya, kalau Istighatsah adalah ibadah, harus ikhlas hanya untuk Allah. Memalingkannya kepada selain Allah, hukumnya Syirik Akbar.

Bentuk-Bentuk Al-Istighatsah

Istighatsah itu ada beberapa bentuk. Disebutkan Al-Syeikh Ibn Utsaimin di sini Rahimahullah ada empat bentuk Istighatsah.

1. Istighatsah kepada Allah

Yang pertama dijelaskan oleh penulis di sini, Istighatsah yang bersifat ibadah.

2. Istighatsah kepada Orang Mati atau Orang Hidup yang Tidak Hadir dan Tidak Mampu

Istighatsah yang kedua, Istighatsah kepada orang-orang mati atau kepada orang-orang yang hidup tapi tidak hadir di situ, tidak mampu. Maka ini dari Syirik Akbar.

3. Istighatsah kepada Orang Hidup yang Hadir dan Mampu

Kemudian yang ketiga adalah Istighatsah kepada orang-orang yang hidup, hadir, dan dia mampu. Untuk itu, Nabi Musa ‘Alaihissalam disebutkan dalam Al-Quran:

فَٱسْتَغَـٰثَهُ ٱلَّذِى مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِى مِنْ عَدُوِّهِۦ فَوَكَزَهُۥ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu.” (QS. Al-Qasa: 15)

Kaum dari Nabi Musa ini beristighatsah kepada Nabi Musa agar supaya menyelamatkan dia dari musuhnya. Maka Nabi Musa pun meninju, ya, mengikut Fir’aun ini yang mengganggu Bani Israel tadi. Maka matilah orang-orang tersebut. Ini di kisahnya di Surah Al-Qasas. Jadi Istighatsah itu kalau dia terhadap makhluk hidup, mampu, ini hukumnya boleh. Ini tiga syarat, itu dibolehkan.

4. Istighatsah kepada Orang Hidup yang Tidak Mampu

Yang keempat, Istighatsah kepada orang yang hidup tapi tidak mampu. Tidak mampu, ini masuk ke dalam bentuk apa? Sia-sia. Nah, tapi kalau misalnya dia bilang, dia lihat orang lumpuh tadi, dia sudah mau tenggelam, dia sudah tenggelam, ada orang apa namanya, buta lewat, minta tolong. Ini orang buta mana bisa dia melihat, berenang?. Atau orang buta lewat, misalnya dia tidak punya tangan, kemudian minta tolong padahal dia sudah mau tenggelam. Di sini kalau dia hanya minta tolong, ini hal yang sia-sia karena dia tidak mampu untuk melakukannya. Tidak mampu. Kecuali kalau dia yakin ini si buta tapi dia orang salih, mungkin dia komat-kamit mulutnya sedikit, “Saya tiba selamat”. Begitu kan? Ini namanya keyakinan aneh yang tersembunyi. Ini bahaya. Seperti ini namanya keyakinan rahasia. Itu maksud di pembahasan kesyirikan.

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Istiadah – Meminta Perlindungan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

  • Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
  • Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
  • Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Istiadah

Terjemahan Kitab

Dalil Istiadah adalah firman (Allah) Ta’ala:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) waktu subuh.” (QS. Al-Falaq: 1)

Selanjutnya, firman Allah Ta’ala:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia.” (QS. An-Nas: 1)

Hakikat dan Kandungan Istiadah

Al-Istiadah secara bahasa berarti memohon perlindungan dari sesuatu yang tidak disenangi atau hal yang dikhawatirkan. Ketika seseorang melakukan Al-Istiadah kepada Allah, tiga hal utama yang menjadi inti dari makna tersebut.

  1. Dia berlindung kepada Allah.
  2. Dia melakukan ikhtisam, yaitu berpegang teguh kepada Allah.
  3. Dia meyakini bahwa Allah akan mencukupinya dan melindunginya dari segala kejelekan.

Al-Istiadah ini termasuk ibadah yang sangat agung. Oleh karena itu, penulis membawakan dua ayat sebagai dalil Istiadah. Firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Falaq:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) waktu subuh.” (QS. Al-Falaq: 1)

Kata Al-Falaq ditafsirkan dengan dua penafsiran. Al-Falaq bisa bermakna subuh, dan Al-Falaq juga bisa bermakna tumbuhan yang dikeluarkan dari bijinya. Misalnya, biji keluar darinya, lalu tumbuhan itu dikatakan Falaq. Memang subuh dikatakan Falaq sebab tadinya kan gelap, kemudian dari kegelapan ini ditembus oleh terang subuh yang keluar. Itu disebut Falaq karena memang dia dari sesuatu yang keluar, ditembus. Itu disebut Falaq dalam bahasa Arab. Jadi, “Saya berlindung kepada Al-Falaq”.

Selanjutnya, firman Allah Ta’ala:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia.” (QS. An-Nas: 1)

Ini mengandung tiga hal: dia berserah diri kepada Allah, menuju kepada-Nya, berpegang teguh terhadap-Nya, dan meyakini bahwa Allah yang mencukupinya dan melindunginya. Maka, ini adalah tiga hal di dalam Al-Istiadah.

Pembagian Al-Istiadah

Istiadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala oleh Syekh Ibn Utsaimin dibagi menjadi empat jenis.

1. Istiadah kepada Allah dengan Tiga Unsur Utama

Yang pertama, Al-Istiadah kepada Allah dengan tiga hal yang kita sebutkan tadi. Hukumnya adalah ibadah. Dan kalau dia ibadah, ibadah itu tidak boleh diserahkan kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Istiadah dengan Sifat-Sifat Allah

Yang kedua, Istiadah dengan sifat dari sifat-sifat Allah. Ini juga dibolehkan. Karena itu, ada beberapa doa seperti doa dua pagi dan petang:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.”

Ini berlindung dengan kalimat-kalimat, yaitu sifat Allah. Doa dua pagi dan petang juga:

وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ

“Dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar aku tidak dibunuh.”

Minta hati, “Saya berlindung dengan Keagungan-Mu”. Ya, ‘Adhamah. Demikian pula doa kalau orang sakit, ada sakit misalnya di badan. IDiperintah oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca, Bismillah tiga kali, kemudian dibaca tujuh kali:

أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang aku rasakan dan aku khawatirkan.”

“Wa qudratihi”, berlindung dengan Kemampuan Allah. Dan doa di solat malam:

أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ

“Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu.”

Berlindung dengan Sifat Allah, Istiadah dengan Sifat Allah, itu boleh saja, hal yang diperbolehkan.

3. Istiadah kepada Orang Mati atau Orang Hidup yang Tidak Hadir dan Tidak Mampu

Jenis yang ketiga dari Istiadah adalah Istiadah dengan orang-orang mati atau orang yang hidup tapi tidak hadir dan tidak mampu. Maka ini masuk ke dalam kesyirikan, masuk di dalam Syirik Akbar yang telah kita sebutkan. Karena itu, dicela orang-orang yang para jin, apa, para manusia yang berlindung dari jin. Dan sekelompok dari laki-laki manusia, mereka Istiadah kepada sekelompok laki-laki dari jin. Maka mereka bertambah rahaka, ya, bertambah kesewenang-wenangan.

4. Istiadah kepada Makhluk yang Mampu Melindungi

Yang keempat dari Istiadah adalah berlindung dari sesuatu yang makhluk itu mampu melakukannya. Terdiri berlindung pada tempat yang di situ dia bisa dapat perlindungan. Ini tidak dipermasalahkan kalau dia mampu. Karena itu dikatakan di dalam hadits ketika terjadi fitnah, siapa yang mendapatkan tempat berlindung, maka hendaknya dia berlindung pada tempat tersebut. Maka hal yang seperti ini tidak ada masalah sebab ini masuk di dalam hal yang memungkinkan, hal yang memungkinkan. Baik, jadi ini empat pembagian apa Istiadah.

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Isti’anah – Memohon pertolongan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Isti’anah – Memohon Pertolongan

Terjemahan Kitab

Dalil isti’anah adalah firman (Allah) Ta’ala:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan” (Q.S.Al-Fatihah: 4)

Di dalam hadits (diriwayatkan) pula:

“`Apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah`”

Definisi Al-Isti’anah

Al-Isti’ana artinya Talabul ‘Aun, yaitu meminta pertolongan atau bantuan.

Dalam Isti’anah kepada Allah terkandung tiga perkara:

  1. Kesempurnaan penghinaan diri kepada Allah.
  2. Percaya kepada Allah.
  3. Bersandar kepada Allah.

Siapa yang memenuhi tiga hal ini, itulah yang disebut dengan Isti’anah, yaitu memohon pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalil Bahwa Isti’ana Adalah Ibadah

Dalil Isti’ana adalah firman Allah dalam Surah Al-Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah: 4)

Para ulama mengatakan bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an kembali kepada Surah Al-Fatihah, dan seluruh kandungan Surah Al-Fatihah kembali kepada ayat Iyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Ayat ini menggabungkan dua hal: ibadah dan memohon pertolongan kepada Allah.

Di dalam Isti’ana terkandung banyak jenis ibadah. Hal ini dijelaskan oleh Abu Ishaq Al-Harawi dalam kitab Manazilus Sa’irin (Jenjang-jenjang Penghambaan), dan dijelaskan secara panjang lebar oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab Madarij as-Salikin. Buku Madarij as-Salikin sangat bagus dibaca oleh penuntut ilmu yang sudah memiliki kunci-kunci ilmu, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang luasnya amalan-amalan hati.

Ayat Iyaka na’budu wa iyyaka nasta’in menunjukkan bahwa Isti’ana adalah ibadah. Dalam hadits disebutkan, apabila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.

Bentuk-Bentuk Isti’ana

Sheikh Ibn Utsaimin menyebutkan lima bentuk Isti’ana.

1. Isti’ana kepada Allah

Ini adalah Isti’ana yang bersifat ibadah, yang mengandung tiga perkara: kesempurnaan penyerahan diri, percaya kepada Allah, dan bersandar kepada-Nya. Isti’ana seperti ini tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Jika diberikan kepada selain Allah, hukumnya adalah Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

2. Isti’ana kepada Makhluk pada Perkara yang Mampu Dilakukan Makhluk

Meminta tolong kepada makhluk dalam perkara yang memang mampu dilakukan oleh makhluk tersebut. Hukumnya dilihat dari jenis perkaranya.

  • Jika hal yang baik dan boleh secara syariat, maka boleh, bahkan disyariatkan. Allah berfirman, “Wata’awanu alal birri wattaqwa” (Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa).
  • Jika hal yang haram, maka tidak diperbolehkan dan hukumnya haram. Allah berfirman, “Wala ta’awanu alal izmi waluduan” (Jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan).
  • Jika hal yang mubah, maka tidak ada masalah, hukumnya mubah.

3. Isti’ana kepada Makhluk yang Hidup dan Hadir Namun Tidak Mampu

Meminta tolong kepada makhluk yang hidup dan hadir, tetapi tidak mampu melakukan hal tersebut. Ini adalah hal yang sia-sia. Misalnya, seseorang sedang mengangkat lemari, lalu meminta bantuan kepada orang lumpuh yang duduk di kursi roda. Ini jelas sia-sia.

4. Isti’ana kepada Orang Mati atau Orang Hidup dalam Perkara Gaib

Meminta tolong dari orang-orang mati, atau dari orang-orang yang hidup, pada perkara gaib yang tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hukumnya adalah Syirik Akbar yang meluarkan pelakunya dari Islam.

Praktik kesyirikan di masa sekarang ini sangat dahsyat. Ada orang yang meminta-minta di kuburan, meminta kepada Habib Fulan dengan bahasa-bahasa tertentu seperti “uang-uang lembaran halus warna merah”. Ini adalah tipuan terhadap orang-orang jahil yang senang dengan hal-hal instan dan mudah, seperti mie instan. Mereka tidak mau berpikir panjang, padahal perkara-perkara yang mereka lakukan sering jatuh dalam kesyirikan.

5. Isti’ana dengan Amalan atau Hal-hal yang Dicintai Allah

Isti’ana dengan amalan shalih atau hal-hal yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sheikh Ibn Utsaimin menjelaskan bahwa ini disyariatkan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ

Dan carilah pertolongan dengan sabar dan shalat. (Q.S. Al-Baqarah: 45)

Sabar dan shalat adalah dua amalan shalih. Ini adalah hal yang diperbolehkan dan disyariatkan.

Demikianlah jenis-jenis Isti’ana. Pembahasan tentang Isti’ana ini juga mencakup tafsir ayat Surah Al-Fatihah dan penjelasan hadits dari hadits-hadits Arba’in Nawawi yang disebutkan oleh penulis. Hadits tersebut menjelaskan bahwa Isti’ana adalah ibadah. Kaidahnya, ibadah harus ikhlas untuk Allah, dan menyerahkannya kepada selain Allah adalah kesyirikan.

Sumber:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Al-An’am Ayat 51, Tidak ada pelindung dan pemberi syafa’at, kecuali Allah Ta’ala

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

  • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
  • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

Bab 16: Syafaat

Dalil Ke-1

Firman Allah Ta’ala,

وَأَنذِرْ بِهِ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحْشَرُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّهِمْ ۙ لَيْسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِىٌّۭ وَلَا شَفِيعٌۭ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhan-nya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada “seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain dari Allah, agar mereka bertakwa.” (Al-An’am: 51)

Hubungan antara Bab dan Kitab Tauhid

Bahwasannya, ketika kaum musyrikin membenarkan perbuatan syirik yang mereka lakukan, seperti berdoa kepada malaikat, para nabi, dan para wali, yang mereka katakan, “Kami mengetahui bahwa mereka adalah makhluk, namun mereka memiliki kedudukan di sisi Allah, sehingga kami menginginkan dari mereka agar mereka memberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Maka, dengan bab ini penulis ingin menegakkan hujjah-hujjah bahwa hal tersebut betul-betul merupakan kesyirikan yang nyata dan dilarang oleh Allah, juga sekaligus penulis ingin menerangkan kebatilan semua sarana yang mengantarkan kepada perbuatan syirik tersebut.

Asya fa’ah: bentuk masdar dari kata syafa’a yang berarti menggabungkan sesuatu kepada yang semisalnya. Kalau engkau mengatakaan, “Syafa’tu asy-syai’a syafa’an.” artinya aku menggabungkannya kepada yang satu itu. Memberi syafa’at padanya artinya membantunya untuk mendapatkan sesuatu yang dia cari (dia tuntut) dari seseorang yang memiliki sesuatu itu.

لَيْسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِيٌّۭ: ‘tidak ada bagi mereka seorang wali dan pemberi syafa’at’: artinya dalam keadaan tidak memiliki seorang wali pun yang akan menolong mereka, juga tidak memiliki pemberi syafa’at yang akan memberi mereka syafa’at.

Makna Ayat Secara Global

Allah Ta’ala berkata kepada Nabi-Nya ﷺ, “Berilah rasa takut dengan Al-Qur’an kepada orang-orang yang merasa takut kepada Rabb-nya dari kalangan orang-orang yang memiliki hati yang mengerti, yang mengingat bahwa mereka akan berdiri di hadapan Rabb mereka tanpa ditemani seorang kerabat yang akan menolongnya dan perantara yang akan memberinya syafa’at -di sisi Allah- tanpa seizin Allah, agar mereka melakukan persiapan untuk hal itu, sehingga mereka mengerjakan amalan-amalan di dunia ini, yang dengannya Allah akan menyelamatkannya dari adzab-Nya pada hari kiamat”.

Hubungan antara Ayat dan Bab

Dalam ayat ini ada bantahan terhadap kaum musyrikin yang berdoa kepada para nabi dan orang-orang saleh untuk meminta syafa’at dari mereka.

Faedah Ayat

  1. Bantahan terhadap kaum musyrikin yang bertaqarrub kepada para nabi dan orang-orang shalih dalam rangka meminta syafaat dari mereka.
  2. Disyariatkannya memberi nasihat dan peringatan tentang hari kiamat.
  3. Bahwa orang yang beriman adalah orang yang dapat mengambil manfaat dan nasihat.



Catatan Kajian

Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah: Bab 16 Syafa’at

Bab tentang syafaat

Syafaat secara bahasa: dari kata as-syafa yang bermakna menggabungkan atau menyatukan. Atau lawannya dari ganjil, yaitu genap. Dikatakan genap karena yang satu bergabung dengan yang kedua, dan yang kedua ini menggenapkannya.

Syafaat secara istilah adalah perantaraan untuk orang lain dalam mendatangkan manfaat atau menolak bahaya.

Misalnya di vonis 4 tahun oleh hakim, kemudian ada orang yang memberi syafaat, dia berkata kepada hakim bahwa hukuman 4 tahun ini terlalu berat, harusnya dikurangi menjadi satu tahun. Maka dia meminta keringanan hukum. Ini adalah syafaat, tapi ini dikatakan syafaat sayya. Syafaat yang jelek, karena hukum tidak boleh ada syafaat karena terkait dengan hudud, hal yang telah dipastikan.

Berilah syafaat maka kalian akan mendapat pahala. yaitu membantu orang.

Syafaat ada dua jenis:

  1. Yang dinafikan, syahadat yang dicari atau diminta kepada selain Allah padahal yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah.
  2. Yang ditetapkan, syafaat yang diminta dari Allah untuk ahli tauhid saja.

Dua ketentuan mendapatkan syafaat:

  1. Allah memberi izin kepada orang yang memberi syafaat
  2. Allah ridha kepada orang yang disyafaati.

Tiga sudut syafaat

  1. Pemilik syafaat, yaitu Allah Ta’ala
  2. Yang dimintai syafaat
  3. Orang yang meminta syafaat.

Nabi dikatakan pemberi syafaat, maksudnya memohonkan kepada Allah untuk umatnya.

Bentuk-bentuk syafaat:

Syafaat khusus untuk Nabi Muhammad ﷺ, tidak berlaku untuk yang lain. Ada tiga:

  1. Syafaat Uzma (terbesar), ketika di padang mahsyar dengan penantian yang lama, matahari didekatkan, Allah murka yang tidak pernah sebelumnya, dan tidak akan pernah setelahnya. Manusia dalam keadaan menanti hisab. 1 hari seperti 1000 atau 50000 tahun. Maka manusia mendatangi para Nabi. Hinga mendatangi Nabi ﷺ, yang berdoa kepada Allah untuk dimulai persidangan.
  2. Syafaat nabi ﷺ mengetuk pintu syurga untuk membuka syurga.
  3. Syafaat nabi ﷺ bagi pamannya Abu Thalib yang mendapatkan keringan siksa di neraka.

Syafaat bagi ahli sunnah

Yaitu dipertengahan, artinya tidak berlebihan dan juga tidak meremehkan. Terdapat golongan yang berlebihan dan ada yang meremehkan akan syafaat..

Yahudi dan Nasrani mengingkari adanya syafaat, sebagaimana Khawarij dan Mu’tazilah yang mengingkari syafaat untuk pelaku dosa besar.

Kelompok yang berlebihan dalam menetapkannya: orang sufi, khurafat, sampai dia tetapkan syafaat bisa didapatkan dari hal-hal yang tidak disyariatkan. Minta syafaat kepada orang fajir yang dikenal dengan kefasikan. Kadang mereka katakan syafaat diberikan kepada kaum musyrikin. Ada yang mengatakan bahwa Abu Lahab diringankan siksaan karena bergembira dengan Maulid Nabi Muhammad.

Dalil 1: Surat Al-An’am ayat 51, “Berilah peringatan terhadap orang-orang yang takut. Peringatannya adalah mereka akan dikumpulkan kepada Rabb mereka. Tidak ada yang mempunya pelindung dan pemberi syafaat pun.“

Sisi pendalilan: Ayat ini diterangkan tidak ada yang bisa memberi syafaat, karena hanya milik Allah saja. Ini dalil tentang batilnya syafaat dari selain Allah. Batil meminta syafaat dari Nabi dan orang shalih.

Faedah ayat:

  1. Bantahan terhadap kaum musyrikin yang meminta syafaat kepada nabi dan orang salih
  2. Syafaat yang dinafikan, yaitu syafaat kepada selain Allah.
  3. Terdapat pentingnya rasa takut.
  4. Disyaratkan memberi nasihat tentang hari kiamat.
  5. Isyarat melakukan amalan yang menjadi sebab mendapatkan syafaat daripada Allah.

Wallahu Ta’ala A’lam

Sumber:

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.

Tafsir Surat Nuh Ayat 23

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

  • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
  • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

Bab 18 Faktor yang Mengakibatkan Anak Adam Menjadi Kafir dan Meninggalkan Agama Mereka, yaitu Sikap Melampaui Batas kepada Orang-Orang Shalih.

Dalam Ash-Shahih, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Anhu, bahwa mengenai firman Allah Ta’ala,

وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّۭا وَلَا سُوَاعًۭا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًۭا

“Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata, ‘Janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan kepada) sembahan-sembahan kalian, (terutama) janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan kepada) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr” (Nuh: 23)

Beliau menafsirkan, “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal, syaitan membisikan kepada mereka, ‘Dirikanlah gambar-gambar pada majelis-majelis mereka, tempat mereka pernah mengadakan pertemuan, dan namailah (gambar-gambar) itu dengan nama mereka.’ Orang-orang itu pun melaksanakan (bisikan syaitan) tersebut, tetapi (patung-patung mereka) belum disembah (ketika itu). Hingga, setelah orang-orang (yang mendirikan patung itu) meninggal dan manusia melupakan ilmu (agama), barulah (patung-patung) tadi disembah.”

Ibnu Qayyim berkata, “Banyak kalangan Salaf yang berkata, ‘Setelah mereka meninggal, orang-orang pun sering mendatangi kuburan mereka (untuk beri’tikaf), lalu mendirikan gambar-gambar mereka. Kemudian setelah masa demi masa berlalu, akhirnya mereka pun disembah.'”

Biografi

Ibnul Qayyim adalah Al-Imam Al-‘Alamah Muhamad bin Abi Bakr bin Ayyub Az-Zariy Ad-Dimasysqy, murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau meninggal pada 751 H -semoga Allah merahmati beliau-. Beliau memiliki karya-karya tulis yang bermanfaat dan terkenal.

Makna Atsar Secara Global

Ibnu ‘Abbas Radhyallahu Anhu menafsirkan ayat yang mulia ini dengan (tafsiran) bahwasannya sembahan-sembahan yang disebutkan oleh Allah bahwa kaum Nabi Nuh saling berwasiat untuk terus menyembahnya setelah Nabi Nuh Alaihi Salam melarang mereka dari berbuat kesyirikan kepada Allah. Bahwa pada asalnya sembahan-sembahan tersebut adalah nama orang-orang shalih dari kalangan mereka, yang mereka bersikap berlebih-lebihan kepada orang-orang shalih tersebut disebabkan oleh tipu daya syaithan terhadap mereka, sehingga mereka membuat gambar-gambar orang-orang shalih tersebut. Kemudian berubahlah perkara dengan gambar-gambar ini hingga menjadi patung-patung yang disembah dari selain Allah.

Adapun yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim, semakna dengan apa yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhariy, kecuali bahwa beliau (Ibnul Qayyim) menyebutkan bahwa perkara i’tikaf di atas kuburan orang-orang shalih itu dilakukan sebelum mereka membuat gambar-gambarnya. Maka hal ini dapat menambahkan (menguatkan) keterangan yang telah lalu bahwa i’tikaf di atas kubur juga merupakan sebab terjadinya peribadahan terhadap kubur tersebut.

Hubungan antara Atsar dan Bab

Atsar di atas menunjukkan bahwa sikap berlebihan terhadap orang-orang shalih merupakan sebab penyembahan kepada mereka dari selain Allah.

Faedah Atsar

  1. Bahwa sikap ghuluw ‘berlebihan’ terhadap orang-orang saleh merupakan sebab peribadahan kepada mereka dari selain Allah dan peninggalan agama secara keseluruhan.
  2. Peringatan dari membuat gambar dan menggantungkan gambar, terutama gambar orang-orang yang diagungkan.
  3. Peringatan dari tipu daya syaitan dan tawarannya yang batil dalam bentuk kebenaran.
  4. Peringatan dari berbagai macam bid’ah meskipun pelakunya bermaksud baik.
  5. Bahwa perkara ini merupakan perantara kepada syirik maka wajib dihindari.
  6. Mengetahui nilai keberadaan ilmu dan bahaya hilangnya ilmu.
  7. Bahwa sebab hilangnya ilmu adalah dengan meninggalkan ulama.
  8. Peringatan terhadap sikap taqlid karena sikap tersebut dapat mengakibatkan pelakunya keluar dari Islam.

    Wallahu Ta’ala A’lam

    Sumber:

    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.

    Bab 18 Faktor yang Mengakibatkan Anak Adam Menjadi Kafir dan Meninggalkan Agama Mereka, yaitu Sikap Melampaui Batas kepada Orang-Orang Shalih.

    بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

    Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

    • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
    • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

    Bab 18 Faktor yang Mengakibatkan Anak Adam Menjadi Kafir dan Meninggalkan Agama Mereka, yaitu Sikap Melampaui Batas kepada Orang-Orang Shalih.

    Firman Allah Ta’ala:

    يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ

    “Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas (yang telah ditentukan Allah) dalam agama kalian.” (An-Nisa: 171)

    Hubungan antara Bab dan Kitab Tauhid

    Setelah penulis rahimahullah menjelaskan sebagian perbuatan para penyembah kubur terhadap orang yang sudah meninggal dunia, berupa berbagai kesyirikan yang bertentangan dengan tauhid, dalam bab ini, beliau ingin menjelaskan sebab-sebab terjadinya hal tersebut agar seseorang berhati-hati dan menjauhkan diri darinya, yaitu sikap berlebihan kepada orang-orang shalih.

    Al-Ghuluw ‘melampaui batas’: yakni melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam mengagungkan, baik dengan ucapan maupun dengan keyakinan, serta melewati batas dari hal-hal yang telah Allah Ta’ala perintahkan.

    Fi Sholihin ‘terhadap orang-orang shalih’: yaitu dari kalangan Nabi, para wali dan selainnya.

    Ahli Kitab: yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.

    La taghulu fi dinikum ‘janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian’: artinya jangan kalian melampaui batas dari apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian. Maka orang-orang Nasrani telah berlebihan terhadap Isa, sedangkan orang-orang Yahudi telah berlebihan terhadap ‘Uzair’.

    Makna Ayat Secara Global

    Allah melarang orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara untuk melampaui batas terhadap (ketentuan) yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Yaitu, agar mereka tidak mengangkat makhluk pada kedudukan yang melebihi kedudukan (makhluk) yang telah Allah tetapkan, dan (agar mereka tidak) mendudukkan (makhluk) pada kedudukan yang tidak pantas ditempati oleh siapapun, kecuali Allah.

    Hubungan antara Ayat dan Bab

    Bahwa pada ayat ini, terdapat larangan terhadap sikap ghuluw ‘berlebih-lebihan’ secara mutlak, sehingga mencakup sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih. Meskipun ditujukan kepada ahlul kitab, ucapan dalam ayat tersebut sesungguhnya berlaku secara umum, yang menjangkau seluruh umat manusia, sebagai peringatan bagi mereka supaya mereka tidak memperlakukan Nabi mereka dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagaimana perlakuan orang-orang Nashara kepada Isa dan orang-orang Yahudi kepada Uzair.

    Faedah Ayat

    1. Diharamkan sikap ghuluw ‘berlebih-lebihan’ terhadap individu-individu dalam amalan-amalan dan pada yang selainnya.
    2. Bantahan terhadap orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan yang menyerupai mereka dalam sikap ghuluw mereka terhadap seseorang pada amalan-amalan dan yang selainnya.
    3. Anjuran untuk senantiasa bersikap pertengahan dalam beragama dan dalam segala urusan, yaitu antara dua sikap: sikap berlebihan dan sikap meremehkan.
    4. Peringatan terhadap perbuatan syirik, sebab-sebab (kesyirikan) dan perkara-perkara yang mengantar kepada (kesyirikan)

    Wallahu Ta’ala A’lam

    Sumber:

    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.