Tingkatan Ihsan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil

Ihsan: Tingkatan Ketiga dalam Agama Islam

Telah kita kaji tentang Islam dan rukun-rukunnya. Telah dikaji tentang iman dan rukun-rukunnya. Berikutnya yang ketiga terkait dengan ihsan. Penulis berkata, tingkatan yang ketiga adalah Ihsan.

Definisi Ihsan

Di poinkan tiga pembahasan di sini. Yang pertama, Ta’riful Ihsan. Definisi dari Ihsan di dalam syariat punya dua makna. Ada makna umum dan ada makna khusus. Makna umum ihsan adalah agama yang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus dengannya. Di atas makna umum ini bersyarikat dengannya makna umum pada Islam dan Iman.

Makna khusus dari ihsan adalah itqan terhadap hal yang batin dan yang zahir. Yang batin dan yang zahir yang disebut dengan ihsan, dia itqan terhadap segala hal yang terkait dengan batin dan zahir untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang disebut dengan ihsan yang didefinisikan di sini oleh penulis:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.

Jadi tampak dari sini bahwa Ihsan yang dibahas dalam istilah penulis di sini, ini Ihsan Terkait kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena perbuatan Ihsan itu sendiri, kalau kembali kepada dasarnya, Ihsan artinya itqan. Dia mengerjakannya secara sempurna, secara tepat, lengkap, betul-betul mapan, itu disebut ihsan. Terkait dengan makhluk maupun terkait dengan al-khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan makhluk.

Karena itu ada sebagian hadits dibahasakan: ihsan berbuat baik kepada manusia.

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ,

Sungguhnya Allah telah menetapkan ihsan terhadap segala sesuatu.

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ‏”

Apabila engkau menyembelih, perbaiki cara menyembelinya. Kalau engkau membunuh, perbaiki cara membunuhnya.

Ini ihsan terkait dengan makhluk. Tapi yang dibahas di sini oleh penulis, Ihsan terkait dengan Al-Khaliq, terkait kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini terkait dengan definisi ihsan. Hakikat dari ihsan adalah apa yang disebut oleh penulis di sini:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalau engkau tidak bisa seakan-akan melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. Allah melihatmu.

Rukun Ihsan

Pembahasan yang kedua, Rukun Ihsan. Rukun Ihsan cuma satu, yaitu: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalau tidak bisa, maka ketahui lah bahwa Allah Melihatmu.

Di satu rukun, ada dua maqam. Namanya ada dua jenjang, dua kedudukan pada ihsan. Jenjang yang paling tingginya namanya maqamul musyahada. Jenjang seakan-akan dia menyaksikan, melihat. Dan jenjang yang kedua di bawahnya namanya maqamul muraqaba. Jenjang muraqaba, merasa diawasi. Jadi ada dua, ada maqam al-musyahadah dan ada maqam Al-muraqabah. Kau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.

Jadi ihsan ini kalau dilihat memang pada akar bahasanya, ihsan artikan dia mempercantik, memperindah. Jadi pada puncak keindahan itu disebut ihsan. Dimana dia melakukan pekerjaan itu di atas bentuk yang paling bagusnya, cara dhahir dan batin.

Karena itu kata Ibn Dakiq ilid rahimahullah, ihsan itu kesimpulannya rajina ila itqanil ibadat. Ihsan kesimpulannya kembali kepada menitqan seluruh ibadah. Dia itqan seluruh ibadah. Dia buat ibadah itu lengkap, sempurna, paling baiknya, di atas puncak penjagaan dan kelengkapan. Jadi dia kembali kepada itqan Al-ibadah, dia itqankan seluruh ibadah. Ihsan itu kembali kepada dia menjaga seluruh hak-hak Allah dan selalu memperhatikannya. Demikian pula dia hadirkan keagungan dan kebesaran Allah saat dia beribadah. Dia hadirkan keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala saat Dia beribadah.

Tingkatan dan Cakupan Ihsan

Jadi ihsan ini kalau dilihat dari sisi tingkatan agama, ada Islam, iman dan ihsan, maka ihsan dia adalah yang paling tingginya dan paling luasnya dari sisi keumuman ihsan ini. Karena ihsan dia tidak terkait dengan amalan zahir saja, tidak terkait dengan amalan batin saja, tapi dia terkait dengan amalan Zahir dan amalan Batin semuanya. Dan dikerjakan dalam bentuk itqan, yang paling bagus dan paling lengkapnya. Jadi yang paling tinggi dan paling mencakup semuanya.

Hanya saja dari sisi pemiliknya, yang ihsan ini derajat yang tinggi. Sebab orang yang berada di derajat ihsan, dia muhsin. Apabila dia muhsin, pasti dia mu’min dan muslim. Tapi orang yang mu’min belum tentu masuk ke ihsan. Orang yang muslim dia belum tentu masuk ke mu’min dan ke muhsin.

Jadi ini penggunaan-penggunaan dan penjelasan terkait dengan masalah ihsan. Sekali lagi ihsan itu di sini disebut oleh penulis satu rukun. Jadi ada dua jenjang, yaitu Al-Mushahada dan Al-Muraqabah. Jenjang, Mushahada: Anta’budallaha ka’annaaka tarahu. Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Ini Mushahada, seakan-akan dia melihat Allah. Karena kuatnya dari ilmunya, kuatnya dari keimanannya, bagusnya dari pengamalannya, seakan-akan dia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jenjang yang paling tingginya.

Kalau tidak bisa sampai seperti itu, maka ada jenjang di bawahnya, yaitu Muraqabh. Kalau engkau tidak bisa seperti itu, maka ketahuilah Allah melihatmu. Dia merasa diawasi, dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ini dua jenjang penghambaan di dalam ihsan ini.

Maqamul Musyahada: Seakan-akan Melihat Allah

Menunjukkan akan tingginya derajat ihsan tersebut. Jadi anta’budallah ka’annaaka tarahu. Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau Melihat-Nya. Bukan melihat benaran, tapi seakan-akan engkau melihat-Nya. Seorang kadang dalam kehidupan dunia, kalau dia sangat cinta pada sesuatu, merindukannya dan sangat ingat sesuatu itu, kadang dia hadirkan sesuatu itu, seakan-akan sesuatu itu di depannya, masih bersamanya. Ini karena dia pikirannya itu saja, hatinya kesitu saja, dan dia sangat menguasainya, maka itu bisa seperti itu.

Seorang sampai kejenjang Musyahada, Kalau dia betul-betul Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah di sini jenjang ilmu namanya. Jenjang yang paling tinggi. Sebab ini tingkatannya orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang bagus di dalam mengamalkan dari ilmunya. Maka dia beribadah itu seakan-akan dia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini disebut dengan nama Musyahadah. Jadi jenjang musyahadah seperti itu. Ini ada pembahasannya, kita akan kaji lagi nanti Insya Allah dijenjang Amalan hati, ada sudut pembahasan di sana.

Jadi kalau ada yang mengatakan dia beribadah, betul-betul dia lihat, atau dia lihat dengan mata kepala, maka itu dusta. Karena di dunia ini tidak ada yang bisa melihat Allah dengan mata kepalanya dalam keadaan terjaga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah menyatakan dalam hadits Jabir bin Abdillah riwayat Muslim: “ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melihat Rob kalian sampai kalian meninggal, sampai kalian mati.”

Jadi dalam kehidupan dunia ini tidak mungkin ada yang bisa Melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan sebagian ulama telah menukil kesepakatan bahwa siapa yang mengaku dirinya Melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia, maka ini hukumnya Kafir, keluar dari Islam. Karena itu bertentangan dengan ayat Al-Quran dan bertentangan dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi yang ada itu seakan-akan dia melihat Allah, karena kuatnya, keilmuannya, kuatnya, keimanannya, dan bagusnya dia di dalam mengamalkan Islam dan iman, dan berada di atas jenjang ihsan.

Maqamul Muraqabah: Merasa Diawasi Allah

Tingkatan yang kedua adalah tingkatan muraqabah. Jadi kalau dia tidak bisa seakan-akan melihat Allah, maka dia merasa diawasi. Dia tahu bahwa Allah melihat segala gerak-geriknya, mengetahui apa yang dia kerjakan, menyaksikan apa yang dia lakukan. Nah, ini disebut muroqabah.

Jadi disimpulkan di sini terkait dengan masalah Islam, iman dan Ihsan. Jadi tiga tingkatan agama ini, ini kadang bertemu, berkumpul semuanya. Islam, iman, ihsan. Kadang bertemu semuanya pada makna umum. Karena itu kadang Islam digunakan bermakna iman, digunakan bermakna ihsan. Tapi Islam itu dia bersendirian penggunaannya pada amalan yang dahir. Sama dengan iman juga. Iman kadang mengumpulkan makna Islam dan mengumpulkan makna ihsan. Tapi iman kalau bersendirian itu digunakan untuk makna amalan yang batin. Ihsan juga begitu. Ihsan kadang mengumpulkan mana Islam dan iman. Tapi Ihsan kalau digunakan bersendirian ini maknanya Itqan terhadap amalan yang batin dan yang zahir.

Kadar Minimal Ihsan

Kadar yang paling minimalnya pada Ihsan itu kembali kepada dua hal. Kadar yang paling minimalnya. Kita berbicara tentang mengenal agama Islam. Agama Islam ada tiga tingkatan di dalamnya. Ada Islam, ada iman dan ada ihsan. Kita sudah kenal kadar minimal pada Islam, kadar minimal pada iman. Sekarang pada ihsan itu kadar minimalnya pada dua hal.

Yang pertama, Dia ihsan kepada Allah dalam hukum Allah Al-Qadari. Dia ihsan kepada Allah dalam hukum yang bersifat penakdiran. Bahasa lainnya, bersabar terhadap takdir Allah. Bahasa lainnya, bersabar terhadap takdir dan Ketentuan Allah.

Yang kedua, Ihsan bersama Allah dalam hukum syar’i. Dalam hukum syar’i, bahasa lainnya menjalankan perintah, meninggalkan larangan. Menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Ini kadar yang minimal pada ihsan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia ihsan dalam hukum Allah al-Qadari dan ihsan dalam hukum Allah al-Syar’i. Sabar dalam menerima ketentuan Allah dan Melaksanakan segala yang diperintah, Meninggalkan segala Yang dilarang.

Tafsir Ayat tentang Ihsan

Pembahasan yang ketiga, Tafsir tiga ayat tentang ihsan. Penulis menyebutkan tentang ihsan ada tiga ayat. Ayat yang pertama di surah An-Nahl. Kata beliau, Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (An-Nahl: 128)

Sungguhnya Allah Bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan. Dikatakan di sini, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa, di sini ma’iya, kebersamaan Allah. Ini ma’iya namanya, kata para ulama, ma’iya khasah, kebersamaan khusus. Yang bermakna Allah menolongnya, Menguatkannya. Sungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. Jadi disebutkan ihsan itu bersama Orang-orang yang bertakwa. Dimaklumi ketakwaan itu kadarnya sampai Menjalankan apa yang diperintah, meninggalkan Apa yang dilarang. Karena itu tadi di katakan kadar paling minimalnya pada ihsan adalah ini. Ini namanya ihsan kepada Allah dalam hukum syar’i. Jadi sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa Dan orang-orang yang ihsan dalam beribadah kepadanya.

Jadi ma’ia di sini, Kebersamaan Allah Bersama orang yang bertakwa maksudnya Membantu dan menolong mereka. Demikian ditafsirkan oleh Al-Bagawi Rahimahullahu ta’ala.

Dalil yang kedua Tentang ihsan. Dan firman Allah ta’ala:

وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧ٱلَّذِى يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨وَتَقَلُّبَكَ فِى ٱلسَّـٰجِدِينَ ٢١٩إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ ٢٢٠

Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ash-Shu’ara: 217-220)

Dan bertawakkallah Engkau kepada Allah Yang maha perkasa Lagi maha penyayang. Disebutkan dua nama Dari asmaul husna, Nama al-aziz Dan nama Ar-Rahim. Jadi tawakkallah, Tawakkal pada segala perkara. Al-Aziz Ar-Rahim. Kenapa diperintah tawakkal kepada Allah? Karena Allah yang menguatkanmu Dan menjagamu. Dan disebutkan dua namanya, Al-Aziz, Al-Rahim, Yang Maha Perkasa lagi Maha Merahmati. Ini Penyebutan bahwa kalau engkau bertawakkal, Allah Maha Perkasa, Allah akan menjagamu. Allah Maha Rahim, Rahmat Allah, kalau meliputimu Maka akan mencukupi engkau Pada segala sesuatu. Karena itu diantara manfaat orang yang bertawakkal, Kecukupan Allah berikan Untuknya. Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah Maka Allah yang akan Mencukupinya.

Jadi ini bentuk tawakkal ya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. At-tawakal itu dari makna isti’ana, memohon pertolongan. Dia sandarkan perkara yang kepada Allah, dia mohon pertolongan kepada Allah. Ini derajat ihsan namanya. Dia hadirkan kedekatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya dia sudah berada di derajat ihsan. Karena itu di ayat setelahnya dikatakan, Yang melihat engkau ketika engkau berdiri. Berdiri solat kepada Allah, Allah melihatmu. Ini penyandaran ke derajat ihsan. Sekan-akan Allah melihat engkau. Dan juga Allah melihat perubahan gerak badanmu. Diantara orang-orang yang sujud, Kelihatan Bagaimana engkau ketika ruku, sujud, duduk. Dan disebutkan di sini, Pembahasan sujud saya bersama orang yang sujud, padahal sholat bukan cuma sujud. Karena besarnya kedudukan sujud ini.

Kemudian di ayat setelahnya dikatakan, dia lah Allah yang maha mendengar lagi maha mengetahui. Ini semuanya terkait dengan jenjang Ihsan. Tampak di sini, merasa diawasi oleh Allah, dilihat.

Dalil yang ketiga, kata penulis rahimahullah ta’ala:

وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur`ān dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. (Yunus: 61)

Tidaklah kalian berada dalam Sebuah perkara, Dalam sebuah Perkara atau sebuah keadaan. Dan tidaklah kalian membaca Suatu ayat dari Al-Quran. Dan tidaklah kalian Beramal Dengan suatu amalan apapun, kecuali kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukan amalan-amalan itu tadi.

Ketika kalian masuk dalam amalan itu, sudah larut di dalamnya, tenggelam padanya, maka kami menyaksikannya. Kami mengetahui, melihat apa yang engkau kerjakan. Maka ini derajat ihsan, dia merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu merasa dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi ini tiga dalil dari penulis rahimahullah menjelaskan tentang derajat ihsan. Dan ini derajat yang agung. Ihsan itu jenjang ibadah ada dua di dalamnya, ada musyahadah dan Muroqabah. Dan ini ada sebab-sebabnya seorang itu sampai ke sana. Saya sudah terangkan kadar minimalnya pada ihsan. Maka dengan ini selesai sudah apa yang wajib diketahui terkait dengan agama ini. Ini landasan yang kedua: Mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Jadi kalau ditanya oleh malaikat madinuka, apa agamamu? Ini terkait dengan tiga tingkatan ini. Islam, iman, dan ihsan. Seorang mu’min yang akan lancar di dalam menjawabnya itu sepanjang pengamalan dia terhadap tiga hal ini. Kita sudah terangkan kadar yang paling minimal.

Ada pun yang diatasnya, disitulah manusia berjenjang, bertingkat-tingkat. Dalam tingkatan keislaman, keimanan dan Ihsan. Dan seseorang apabila dia pelajari dari agama, dia mengerti apa yang harusnya dia kerjakan. Apa yang harusnya dia lakukan. Kalau dia sudah mendalami dan mengilmui, maka akan mudah perkara-perkara itu. Sisa kewajibannya adalah bagaimana dia beramal dengan sebaik-baik amalan. Beramal dengan sebaik-baik perkara yang menyambungnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Tinggalkan komentar