Tingkatan Ihsan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil

Ihsan: Tingkatan Ketiga dalam Agama Islam

Telah kita kaji tentang Islam dan rukun-rukunnya. Telah dikaji tentang iman dan rukun-rukunnya. Berikutnya yang ketiga terkait dengan ihsan. Penulis berkata, tingkatan yang ketiga adalah Ihsan.

Definisi Ihsan

Di poinkan tiga pembahasan di sini. Yang pertama, Ta’riful Ihsan. Definisi dari Ihsan di dalam syariat punya dua makna. Ada makna umum dan ada makna khusus. Makna umum ihsan adalah agama yang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus dengannya. Di atas makna umum ini bersyarikat dengannya makna umum pada Islam dan Iman.

Makna khusus dari ihsan adalah itqan terhadap hal yang batin dan yang zahir. Yang batin dan yang zahir yang disebut dengan ihsan, dia itqan terhadap segala hal yang terkait dengan batin dan zahir untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah yang disebut dengan ihsan yang didefinisikan di sini oleh penulis:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.

Jadi tampak dari sini bahwa Ihsan yang dibahas dalam istilah penulis di sini, ini Ihsan Terkait kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena perbuatan Ihsan itu sendiri, kalau kembali kepada dasarnya, Ihsan artinya itqan. Dia mengerjakannya secara sempurna, secara tepat, lengkap, betul-betul mapan, itu disebut ihsan. Terkait dengan makhluk maupun terkait dengan al-khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan makhluk.

Karena itu ada sebagian hadits dibahasakan: ihsan berbuat baik kepada manusia.

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ,

Sungguhnya Allah telah menetapkan ihsan terhadap segala sesuatu.

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ ‏”

Apabila engkau menyembelih, perbaiki cara menyembelinya. Kalau engkau membunuh, perbaiki cara membunuhnya.

Ini ihsan terkait dengan makhluk. Tapi yang dibahas di sini oleh penulis, Ihsan terkait dengan Al-Khaliq, terkait kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini terkait dengan definisi ihsan. Hakikat dari ihsan adalah apa yang disebut oleh penulis di sini:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalau engkau tidak bisa seakan-akan melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu. Allah melihatmu.

Rukun Ihsan

Pembahasan yang kedua, Rukun Ihsan. Rukun Ihsan cuma satu, yaitu: Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalau tidak bisa, maka ketahui lah bahwa Allah Melihatmu.

Di satu rukun, ada dua maqam. Namanya ada dua jenjang, dua kedudukan pada ihsan. Jenjang yang paling tingginya namanya maqamul musyahada. Jenjang seakan-akan dia menyaksikan, melihat. Dan jenjang yang kedua di bawahnya namanya maqamul muraqaba. Jenjang muraqaba, merasa diawasi. Jadi ada dua, ada maqam al-musyahadah dan ada maqam Al-muraqabah. Kau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya.

Jadi ihsan ini kalau dilihat memang pada akar bahasanya, ihsan artikan dia mempercantik, memperindah. Jadi pada puncak keindahan itu disebut ihsan. Dimana dia melakukan pekerjaan itu di atas bentuk yang paling bagusnya, cara dhahir dan batin.

Karena itu kata Ibn Dakiq ilid rahimahullah, ihsan itu kesimpulannya rajina ila itqanil ibadat. Ihsan kesimpulannya kembali kepada menitqan seluruh ibadah. Dia itqan seluruh ibadah. Dia buat ibadah itu lengkap, sempurna, paling baiknya, di atas puncak penjagaan dan kelengkapan. Jadi dia kembali kepada itqan Al-ibadah, dia itqankan seluruh ibadah. Ihsan itu kembali kepada dia menjaga seluruh hak-hak Allah dan selalu memperhatikannya. Demikian pula dia hadirkan keagungan dan kebesaran Allah saat dia beribadah. Dia hadirkan keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala saat Dia beribadah.

Tingkatan dan Cakupan Ihsan

Jadi ihsan ini kalau dilihat dari sisi tingkatan agama, ada Islam, iman dan ihsan, maka ihsan dia adalah yang paling tingginya dan paling luasnya dari sisi keumuman ihsan ini. Karena ihsan dia tidak terkait dengan amalan zahir saja, tidak terkait dengan amalan batin saja, tapi dia terkait dengan amalan Zahir dan amalan Batin semuanya. Dan dikerjakan dalam bentuk itqan, yang paling bagus dan paling lengkapnya. Jadi yang paling tinggi dan paling mencakup semuanya.

Hanya saja dari sisi pemiliknya, yang ihsan ini derajat yang tinggi. Sebab orang yang berada di derajat ihsan, dia muhsin. Apabila dia muhsin, pasti dia mu’min dan muslim. Tapi orang yang mu’min belum tentu masuk ke ihsan. Orang yang muslim dia belum tentu masuk ke mu’min dan ke muhsin.

Jadi ini penggunaan-penggunaan dan penjelasan terkait dengan masalah ihsan. Sekali lagi ihsan itu di sini disebut oleh penulis satu rukun. Jadi ada dua jenjang, yaitu Al-Mushahada dan Al-Muraqabah. Jenjang, Mushahada: Anta’budallaha ka’annaaka tarahu. Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Ini Mushahada, seakan-akan dia melihat Allah. Karena kuatnya dari ilmunya, kuatnya dari keimanannya, bagusnya dari pengamalannya, seakan-akan dia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini jenjang yang paling tingginya.

Kalau tidak bisa sampai seperti itu, maka ada jenjang di bawahnya, yaitu Muraqabh. Kalau engkau tidak bisa seperti itu, maka ketahuilah Allah melihatmu. Dia merasa diawasi, dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka ini dua jenjang penghambaan di dalam ihsan ini.

Maqamul Musyahada: Seakan-akan Melihat Allah

Menunjukkan akan tingginya derajat ihsan tersebut. Jadi anta’budallah ka’annaaka tarahu. Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau Melihat-Nya. Bukan melihat benaran, tapi seakan-akan engkau melihat-Nya. Seorang kadang dalam kehidupan dunia, kalau dia sangat cinta pada sesuatu, merindukannya dan sangat ingat sesuatu itu, kadang dia hadirkan sesuatu itu, seakan-akan sesuatu itu di depannya, masih bersamanya. Ini karena dia pikirannya itu saja, hatinya kesitu saja, dan dia sangat menguasainya, maka itu bisa seperti itu.

Seorang sampai kejenjang Musyahada, Kalau dia betul-betul Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itulah di sini jenjang ilmu namanya. Jenjang yang paling tinggi. Sebab ini tingkatannya orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang bagus di dalam mengamalkan dari ilmunya. Maka dia beribadah itu seakan-akan dia melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini disebut dengan nama Musyahadah. Jadi jenjang musyahadah seperti itu. Ini ada pembahasannya, kita akan kaji lagi nanti Insya Allah dijenjang Amalan hati, ada sudut pembahasan di sana.

Jadi kalau ada yang mengatakan dia beribadah, betul-betul dia lihat, atau dia lihat dengan mata kepala, maka itu dusta. Karena di dunia ini tidak ada yang bisa melihat Allah dengan mata kepalanya dalam keadaan terjaga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah menyatakan dalam hadits Jabir bin Abdillah riwayat Muslim: “ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melihat Rob kalian sampai kalian meninggal, sampai kalian mati.”

Jadi dalam kehidupan dunia ini tidak mungkin ada yang bisa Melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan sebagian ulama telah menukil kesepakatan bahwa siapa yang mengaku dirinya Melihat Allah dengan mata kepalanya di dunia, maka ini hukumnya Kafir, keluar dari Islam. Karena itu bertentangan dengan ayat Al-Quran dan bertentangan dengan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi yang ada itu seakan-akan dia melihat Allah, karena kuatnya, keilmuannya, kuatnya, keimanannya, dan bagusnya dia di dalam mengamalkan Islam dan iman, dan berada di atas jenjang ihsan.

Maqamul Muraqabah: Merasa Diawasi Allah

Tingkatan yang kedua adalah tingkatan muraqabah. Jadi kalau dia tidak bisa seakan-akan melihat Allah, maka dia merasa diawasi. Dia tahu bahwa Allah melihat segala gerak-geriknya, mengetahui apa yang dia kerjakan, menyaksikan apa yang dia lakukan. Nah, ini disebut muroqabah.

Jadi disimpulkan di sini terkait dengan masalah Islam, iman dan Ihsan. Jadi tiga tingkatan agama ini, ini kadang bertemu, berkumpul semuanya. Islam, iman, ihsan. Kadang bertemu semuanya pada makna umum. Karena itu kadang Islam digunakan bermakna iman, digunakan bermakna ihsan. Tapi Islam itu dia bersendirian penggunaannya pada amalan yang dahir. Sama dengan iman juga. Iman kadang mengumpulkan makna Islam dan mengumpulkan makna ihsan. Tapi iman kalau bersendirian itu digunakan untuk makna amalan yang batin. Ihsan juga begitu. Ihsan kadang mengumpulkan mana Islam dan iman. Tapi Ihsan kalau digunakan bersendirian ini maknanya Itqan terhadap amalan yang batin dan yang zahir.

Kadar Minimal Ihsan

Kadar yang paling minimalnya pada Ihsan itu kembali kepada dua hal. Kadar yang paling minimalnya. Kita berbicara tentang mengenal agama Islam. Agama Islam ada tiga tingkatan di dalamnya. Ada Islam, ada iman dan ada ihsan. Kita sudah kenal kadar minimal pada Islam, kadar minimal pada iman. Sekarang pada ihsan itu kadar minimalnya pada dua hal.

Yang pertama, Dia ihsan kepada Allah dalam hukum Allah Al-Qadari. Dia ihsan kepada Allah dalam hukum yang bersifat penakdiran. Bahasa lainnya, bersabar terhadap takdir Allah. Bahasa lainnya, bersabar terhadap takdir dan Ketentuan Allah.

Yang kedua, Ihsan bersama Allah dalam hukum syar’i. Dalam hukum syar’i, bahasa lainnya menjalankan perintah, meninggalkan larangan. Menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Ini kadar yang minimal pada ihsan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia ihsan dalam hukum Allah al-Qadari dan ihsan dalam hukum Allah al-Syar’i. Sabar dalam menerima ketentuan Allah dan Melaksanakan segala yang diperintah, Meninggalkan segala Yang dilarang.

Tafsir Ayat tentang Ihsan

Pembahasan yang ketiga, Tafsir tiga ayat tentang ihsan. Penulis menyebutkan tentang ihsan ada tiga ayat. Ayat yang pertama di surah An-Nahl. Kata beliau, Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (An-Nahl: 128)

Sungguhnya Allah Bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan. Dikatakan di sini, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa, di sini ma’iya, kebersamaan Allah. Ini ma’iya namanya, kata para ulama, ma’iya khasah, kebersamaan khusus. Yang bermakna Allah menolongnya, Menguatkannya. Sungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. Jadi disebutkan ihsan itu bersama Orang-orang yang bertakwa. Dimaklumi ketakwaan itu kadarnya sampai Menjalankan apa yang diperintah, meninggalkan Apa yang dilarang. Karena itu tadi di katakan kadar paling minimalnya pada ihsan adalah ini. Ini namanya ihsan kepada Allah dalam hukum syar’i. Jadi sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa Dan orang-orang yang ihsan dalam beribadah kepadanya.

Jadi ma’ia di sini, Kebersamaan Allah Bersama orang yang bertakwa maksudnya Membantu dan menolong mereka. Demikian ditafsirkan oleh Al-Bagawi Rahimahullahu ta’ala.

Dalil yang kedua Tentang ihsan. Dan firman Allah ta’ala:

وَتَوَكَّلْ عَلَى ٱلْعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ٢١٧ٱلَّذِى يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ ٢١٨وَتَقَلُّبَكَ فِى ٱلسَّـٰجِدِينَ ٢١٩إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ ٢٢٠

Dan bertawakallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud. Sesungguhnya Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Ash-Shu’ara: 217-220)

Dan bertawakkallah Engkau kepada Allah Yang maha perkasa Lagi maha penyayang. Disebutkan dua nama Dari asmaul husna, Nama al-aziz Dan nama Ar-Rahim. Jadi tawakkallah, Tawakkal pada segala perkara. Al-Aziz Ar-Rahim. Kenapa diperintah tawakkal kepada Allah? Karena Allah yang menguatkanmu Dan menjagamu. Dan disebutkan dua namanya, Al-Aziz, Al-Rahim, Yang Maha Perkasa lagi Maha Merahmati. Ini Penyebutan bahwa kalau engkau bertawakkal, Allah Maha Perkasa, Allah akan menjagamu. Allah Maha Rahim, Rahmat Allah, kalau meliputimu Maka akan mencukupi engkau Pada segala sesuatu. Karena itu diantara manfaat orang yang bertawakkal, Kecukupan Allah berikan Untuknya. Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah Maka Allah yang akan Mencukupinya.

Jadi ini bentuk tawakkal ya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. At-tawakal itu dari makna isti’ana, memohon pertolongan. Dia sandarkan perkara yang kepada Allah, dia mohon pertolongan kepada Allah. Ini derajat ihsan namanya. Dia hadirkan kedekatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Artinya dia sudah berada di derajat ihsan. Karena itu di ayat setelahnya dikatakan, Yang melihat engkau ketika engkau berdiri. Berdiri solat kepada Allah, Allah melihatmu. Ini penyandaran ke derajat ihsan. Sekan-akan Allah melihat engkau. Dan juga Allah melihat perubahan gerak badanmu. Diantara orang-orang yang sujud, Kelihatan Bagaimana engkau ketika ruku, sujud, duduk. Dan disebutkan di sini, Pembahasan sujud saya bersama orang yang sujud, padahal sholat bukan cuma sujud. Karena besarnya kedudukan sujud ini.

Kemudian di ayat setelahnya dikatakan, dia lah Allah yang maha mendengar lagi maha mengetahui. Ini semuanya terkait dengan jenjang Ihsan. Tampak di sini, merasa diawasi oleh Allah, dilihat.

Dalil yang ketiga, kata penulis rahimahullah ta’ala:

وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ

Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur`ān dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. (Yunus: 61)

Tidaklah kalian berada dalam Sebuah perkara, Dalam sebuah Perkara atau sebuah keadaan. Dan tidaklah kalian membaca Suatu ayat dari Al-Quran. Dan tidaklah kalian Beramal Dengan suatu amalan apapun, kecuali kami menjadi saksi atas kalian di waktu kalian melakukan amalan-amalan itu tadi.

Ketika kalian masuk dalam amalan itu, sudah larut di dalamnya, tenggelam padanya, maka kami menyaksikannya. Kami mengetahui, melihat apa yang engkau kerjakan. Maka ini derajat ihsan, dia merasa diawasi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu merasa dilihat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi ini tiga dalil dari penulis rahimahullah menjelaskan tentang derajat ihsan. Dan ini derajat yang agung. Ihsan itu jenjang ibadah ada dua di dalamnya, ada musyahadah dan Muroqabah. Dan ini ada sebab-sebabnya seorang itu sampai ke sana. Saya sudah terangkan kadar minimalnya pada ihsan. Maka dengan ini selesai sudah apa yang wajib diketahui terkait dengan agama ini. Ini landasan yang kedua: Mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya.

Jadi kalau ditanya oleh malaikat madinuka, apa agamamu? Ini terkait dengan tiga tingkatan ini. Islam, iman, dan ihsan. Seorang mu’min yang akan lancar di dalam menjawabnya itu sepanjang pengamalan dia terhadap tiga hal ini. Kita sudah terangkan kadar yang paling minimal.

Ada pun yang diatasnya, disitulah manusia berjenjang, bertingkat-tingkat. Dalam tingkatan keislaman, keimanan dan Ihsan. Dan seseorang apabila dia pelajari dari agama, dia mengerti apa yang harusnya dia kerjakan. Apa yang harusnya dia lakukan. Kalau dia sudah mendalami dan mengilmui, maka akan mudah perkara-perkara itu. Sisa kewajibannya adalah bagaimana dia beramal dengan sebaik-baik amalan. Beramal dengan sebaik-baik perkara yang menyambungnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Tentang Menyembelih untuk Selain Allah – Dalil 1

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

  • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
  • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

Bab 9: Tentang Menyembelih untuk Selain Allah

Dalil 1, Firman Allah Ta’ala:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ١٦٢لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُسْلِمِينَ ١٦٣

Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al-An’am: 162-163)

Hubungan antara Bab dan Kitab Tauhid

Pada bab ini, terdapat penjelasan tentang salah satu jenis kesyirikan yang merupakan lawan dari tauhid.

Makna Ayat secara Global

Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang musyrikin, yang menyembah selain Allah dan menyembelih untuk selain Allah, “Sesungguhnya aku mengikhlaskan untuk Allah: shalatku, sembelihanku, dan segala hal berupa keimanan dan amal shalih yang aku hidup dan mati di atas hal itu. Semua hal itu kutujukan kepada Allah semata, dan aku tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, bertolak belakang dengan sesuatu berupa kesyirikan yang kalian berada di atas (kesyirikan) tersebut”.

Hubungan antara Ayat dan Bab

Ayat ini menunjukkan bahwa menyembelih untuk selain Allah tergolong sebagai kesyirikan.

Faedah Ayat

  1. Bahwa menyembelih untuk selain Allah adalah syirik besar karena Allah menggandengkan (penyebutan di dalam ayat) dengan shalat. Sebagaimana, seseorang yang mengerjakan shalat untuk selain Allah berarti dia telah berbuat kesyirikan, demikian pula orang yang menyembelih untuk selain Allh berarti dia telah berbuat kesyirikan.
  2. Bahwa shalat dan menyembelih termasuk sebagai ibadah yang paling agung.
  3. Kewajiban untuk ikhlas kepada Allah dalam semua peribadahan.
  4. Bahwa ibadah-ibadah adalah taufiqiyyah -yaitu hanya bergantung pada perintah pembuat syariat- berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku”.

Catatan Kajian

Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah: Bab 9 Tentang Menyembelih untuk Selain Allah 1

Dalam bab ini dijelaskan mengenai hukum menyembelih kepada selain Allah Ta’ala. Dalam bab ini terdapat ancaman-ancaman yang menunjukkan larangan menyembelih kepada selain Allah Ta’ala. Juga dijelaskan bahwa penyembelihan itu adalah ibadah kepada Allah. Sehingga apabila dipalingkan kepada selain Allah maka hukumnya adalah syirik akbar yang mengeluarkan dan keislaman. Diantaranya: menyembelih untuk kuburan, pepohonan, bebatuan, malaikat, Nabi, Jin dan selainnya.

Kaidahnya: memalingkan suatu ibadah yang merupakan kekhususan Allah kepada selain Allah, maka hukumnya adalah syirik akbar.

Terdapat 4 dalil dalam bab ini yang terdiri dari 2 ayat Al-Qur’an dan 2 hadits.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Katakanlah, “Sesungguhnya salatku, ibadahku (penyembelihanku), hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al-An’am: 162-163).

Tafsir Ayat:

“Katakanlah“, ini adalah kata perintah kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mengatakan kepada kaum musyrikin yang beribadah kepada selain Allah dan menyembelih kepada selain Allah. Sesungguhnya shalatku dan sembelihanku, apa yang aku hidup dan mati di atasnya berupa keimanan dan amal saleh, semuanya milik (ikhlas) Allah Rabbul ‘Alamin. Tidak ada tandingan bagi Allah dalam segala jenis ibadah.

“Dengan itulah saya diperintah“, ini menunjukkan bahwa agama datangnya dari perintah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui wahyu. Sehingga semua yang disampaikan oleh nabi adalah perintah Allah kepada Nabi-nya.

“Dan saya adalah orang yang paling pertama berislam“, maksudnya di antara umat Islam beliau ﷺ yang paling pertama berislam. Keislaman setiap Nabi mendahului keislaman kaumnya.

Sisi pendalilannya adalah pada kata “An-Nusuk“, yang bermakna penyembelihan adalah ibadah untuk Allah dan tidak boleh berserikat di dalamnya. Sehingga memalingkan penyembelihan kepada selain Allah, maka hukumnya adalah syirik akbar. Sebagaimana melaksanakan shalat kepada selain Allah, maka menyembelih kepada selain Allah juga hukumnya syirik.

Wallahu Ta’ala A’lam

Pelajaran Keenam: Kisah Kemurtadan Sepeninggal Nabi

Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah (Enam Pelajaran Aqidah dari Sirah Nabi ﷺ)

Pelajaran Keenam: Kisah Kemurtadan Sepeninggal Nabi

الۡمَوۡضِعُ السَّادِسُ: قِصَّةُ الرِّدَّةِ بَعۡدَ مَوۡتِ النَّبِيِّ ﷺ، فَمَنۡ سَمِعَهَا لَا يَبۡقَى فِي قَلۡبِهِ مِثۡقَالُ ذَرَّةٍ مِنۡ شُبۡهَةِ الشَّيَاطِينِ الَّذِينَ يُسَمَّونَ الۡعُلَمَاءَ، وَهِيَ قَوۡلُهُمۡ هَٰذا هُوَ الشِّرۡكُ، لَٰكِنۡ يَقُولُونَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَمَنۡ قَالَهَا لَا يُكَفَّرُ بِشَيۡءٍ.

Peristiwa keenam adalah kisah kemurtadan sepeninggal Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Barang siapa mendengarnya maka tidak akan tersisa di dalam hatinya sebiji zarah syubhat pun yang dilontarkan oleh para setan yang mereka gelari ulama. Syubhat itu adalah ucapan mereka bahwa perbuatan ini memang kesyirikan, namun mereka masih mengucapkan “laa ilaaha illallaah” dan siapa saja yang sudah mengucapkannya, maka dia tidak bisa dikafirkan dengan sebab apapun.

وَأَعۡظَمُ مِنۡ ذٰلِكَ وَأَكۡبَرُ: تَصۡرِيحُهُمۡ بِأَنَّ الۡبَوَادِيَ لَيۡسَ مَعَهُمۡ مِنَ الۡإِسۡلَامِ شَعۡرَةٌ وَلَٰكِنۡ يَقُولُونَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَهُمۡ بِهَٰذِهِ اللَّفۡظَةِ أَهۡلُ إِسۡلَامٍ.

Yang lebih besar daripada itu adalah penegasan mereka bahwa orang-orang badui tidak melakukan ‘sehelai rambut pun’ amalan-amalan keislaman, akan tetapi mereka mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Jadi mereka dengan kalimat ini merupakan penganut agama Islam.

وَحَرَّمَ الۡإِسۡلَامُ مَالَهُمۡ وَدَمَهُمۡ مَعَ إِقۡرَارِهِمۡ بِأَنَّهُمۡ تَرَكُوا الۡإِسۡلَامَ كُلَّهُ. وَمَعَ عِلۡمِهِمۡ بِإِنۡكَارِهِمُ الۡبَعۡثَ، وَاسۡتِهۡزَائِهِمۡ بِمَنۡ أَقَرَّ بِهِ.

Islam mengharamkan harta dan darah orang-orang badui itu padahal mereka mengakui bahwa mereka meninggalkan seluruh amalan Islam. Apalagi mereka mengetahui bahwa mereka mengingkari hari kebangkitan dan mereka mengolok-olok orang yang menetapkan hari kebangkitan.

وَاسۡتِهۡزَائُهُمۡ وَتَفۡضِيلُهُمۡ دِينَ آبَائِهِمۡ الۡمُخَالِفَ لِدِينِ النَّبِيِّ ﷺ. وَمَعَ هَٰذَا كُلِّهِ يُصَرِّحُ هَٰؤُلَاءِ الشَّيَاطِينُ الۡمَرَدَةُ الۡجَهَلَةُ أَنَّ الۡبَدۡوَ أَسۡلَمُوا وَلَوۡ جَرَى مِنۡهُمۡ ذٰلِكَ كُلُّهُ؛ لِأَنَّهُمۡ يَقُولُونَ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ. وَلَازِمُ قَوۡلِهِمۡ أَنَّ الۡيَهُودَ أَسۡلَمُوا لِأَنَّهُمۡ يَقولُونَهَا وَأَيۡضًا كُفۡرُ هَٰؤُلَاءِ أَغۡلَظُ مِنۡ كُفۡرِ الۡيَهُودِ بِأَضۡعَافٍ مُضَاعَفَةٍ، أَعۡنِي: الۡبَوَادِي الۡمُتَّصِفِينَ بِمَا ذَكَرۡنَا.

Pelecehan mereka dan sikap mereka lebih memuliakan agama leluhur mereka yang menyelisihi agama Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Bersamaan dengan ini semua, para setan yang sangat durhaka lagi jahil itu menegaskan bahwa orang badui itu telah berislam walaupun semua sikap itu masih bercokol pada diri mereka, dengan alasan mereka mengucapkan “laa ilaaha illallaah”. Konsekuensi ucapan mereka ini berarti orang-orang Yahudi pun berislam karena mereka juga mengucapkannya. Bahkan kekufuran orang badui lebih parah daripada kekufuran orang Yahudi berkali lipat. Yang aku maksudkan adalah orang-orang badui yang memiliki sifat yang telah kami sebutkan.

وَالَّذِي يُبَيِّنُ ذٰلِكَ مِنۡ قِصَّةِ الرِّدَّةِ أَنَّ الۡمُرۡتَدِّينَ افۡتَرَقُوا فِي رِدَّتِهِمۡ، فَمِنۡهُمۡ مَنۡ كَذَّبَ النَّبِيَّ ﷺ وَرَجَعُوا إِلَى عِبَادَةِ الۡأَوۡثَانِ وَقَالُوا: لَوۡ كَانَ نَبِيًّا مَا مَاتَ. وَمِنۡهُمۡ مَنۡ ثَبَتَ عَلَى الشَّهَادَتَيۡنِ، وَلَٰكِنۡ أَقَرَّ بِنُبُوَّةِ مُسَيۡلَمَةَ.

Yang menjelaskan (kekafiran orang yang melakukan pembatal keislaman walau mengucapkan “laa ilaaha illallaah”) dari kisah kemurtadan (sepeninggal Nabi) adalah bahwa orang-orang yang murtad itu berbeda-beda dalam kemurtadan mereka. Di antara mereka ada yang mendustakan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan kembali menyembah berhala-berhala; dan mereka berkata: Andai dia benar-benar seorang nabi, niscaya dia tidak meninggal. Di antara mereka ada yang tetap di atas dua kalimat syahadat namun mereka mengakui kenabian Musailamah.

ظَنًّا أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ أَشۡرَكَهُ فِي النُّبُوَّةِ؛ لِأَنَّ مُسَيۡلَمَةَ أَقَامَ شُهُودَ زُورٍ شَهِدُوا لَهُ بِذٰلِكَ، فَصَدَّقَهُمۡ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ. وَمَعَ هَٰذَا أَجۡمَعَ الۡعُلَمَاءُ أَنَّهُمۡ مُرۡتَدُّونَ وَلَوۡ جَهِلُوا ذٰلِكَ. وَمَنۡ شَكَّ فِي رِدَّتِهِمۡ فَهُوَ كَافِرٌ.

Karena menyangka bahwa Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melibatkannya dalam perkara kenabian. Latar belakangnya adalah Musailamah memberikan persaksian dusta, kemudian orang-orang menyaksikan persaksian palsunya itu, maka sebagian besar manusia membenarkannya. Bersamaan ini para ulama sepakat bahwa mereka adalah orang-orang yang murtad walaupun mereka tidak mengerti itu. Dan siapa saja yang ragu tentang kemurtadan mereka, maka dia kafir.

فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ الۡعُلَمَاءَ أَجۡمَعُوا أَنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا وَرَجَعُوا إِلَى عِبَادَةِ الۡأَوۡثَانِ وَشَتَمُوا رَسُولَ اللهِ ﷺ، هُمۡ وَمَنۡ أَقَرَّ بِنُبُوَّةِ مُسَيۡلَمَةَ فِي حَالٍ وَاحِدَةٍ وَلَوۡ ثَبَتَ عَلَى الۡإِسۡلَامِ كُلِّهِ.

Apabila engkau mengetahui bahwa para ulama bersepakat bahwa orang-orang yang mendustakan, kembali menyembah berhala-berhala, dan mencela Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dengan orang-orang yang mengakui kenabian Musailamah dalam keadaan yang sama (yakni murtad) walaupun mereka tetap melakukan seluruh amalan keislaman.

وَمِنۡهُمۡ مَنۡ أَقَرَّ بِالشَّهَادَتَيۡنِ وَصَدَّقَ طُلَيۡحَةَ فِي دَعۡوَاهُ النُّبُوَّةَ.

Di antara mereka ada yang masih menetapkan dua kalimat syahadat, namun membenarkan Thulaihah yang mengaku nabi.

وَمِنۡهُمۡ مَنۡ صَدَّقَ الۡعَنۡسِيَّ صَاحِبَ صَنۡعَاءَ. وَكُلُّ هَٰؤُلَاءِ أَجۡمَعَ الۡعُلَمَاءُ أَنَّهُمۡ سَوَاءٌ، وَمِنۡهُمۡ مَنۡ كَذَّبَ النَّبِيَّ ﷺ وَرَجَعَ إِلَى عِبَادَةِ الۡأَوۡثَانِ عَلَى حَالٍ وَاحِدَةٍ، وَمِنۡهُمۡ أَنۡوَاعٌ أُخَرُ.

Di antara mereka ada yang membenarkan (kenabian) Al-‘Ansi, seorang pemimpin Shan’a`. Mereka ini semua, para ulama sepakat bahwa mereka itu sama saja. Di antara mereka ada yang mendustakan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan kembali menyembah berhala-berhala berada dalam keadaan yang sama. Di antara mereka ada jenis-jenis yang lain.

آخِرُهُمۡ الۡفُجَاءَةُ السُّلَمِيُّ، لَمَّا وَفَدَ عَلَى أَبِي بَكۡرٍ وَذَكَرَ لَهُ أَنَّهُ يُرِيدُ قِتَالَ الۡمُرۡتَدِّينَ، وَطَلَبَ مِنۡ أَبِي بَكۡرٍ أَنۡ يَمُدَّهُ، فَأَعۡطَاهُ سِلَاحًا وَرَوَاحِلَ، فَاسۡتَعۡرَضَ السُّلَمِيَّ الۡمُسۡلِمَ وَالۡكَافِرَ يَأۡخُذُ أَمۡوَالَهُمۡ، فَجَهَزَ أَبُو بَكۡرٍ جَيۡشًا لِقِتَالِهِ، فَلَمَّا أَحَسَّ بِالۡجَيۡشِ قَالَ لِأَمِيرِهِمۡ: أَنۡتَ أَمِيرُ أَبِي بَكۡرٍ وَأَنَا أَمِيرُهُ، فَلَمۡ أَكۡفُرۡ. فَقَالَ: إِنۡ كُنۡتَ صَادِقًا فَأَلۡقِ السِّلَاحَ. فَأَلۡقَاهُ، فَبَعَثَ بِهِ إِلَى أَبِي بَكۡرٍ فَأَمَرَ بِتَحۡرِيقِهِ بِالنَّارِ وَهُوَ حَيٌّ.

(Kasus kemurtadan) yang terakhir adalah Al-Fuja`ah As-Sulami. Ketika dia datang menemui Abu Bakr, dia menyebutkan keinginannya untuk memerangi orang-orang yang murtad dan dia meminta dukungan dari Abu Bakr. Lalu Abu Bakr memberinya persenjataan dan hewan-hewan tunggangan. Namun As-Sulami membunuh membabi buta baik muslim maupun kafir dan mengambil harta-harta mereka. Maka, Abu Bakr menyiapkan satu pasukan untuk memeranginya.

Ketika pasukan itu bertemu, Al-Fuja`ah berkata kepada pemimpin pasukan itu, “Engkau pemimpin yang dipilih Abu Bakr dan aku pun pemimpin yang dipilih beliau, namun aku tidak kafir.”

Pemimpin pasukan itu berkata, “Jika engkau jujur, maka lemparkan senjatamu.”

 Dia pun melemparkannya, kemudian dia dibawa menghadap Abu Bakr, lalu Abu Bakr memerintahkan agar dia dibakar dengan api dalam keadaan hidup-hidup.

فَإِذَا كَانَ هَٰذَا حُكۡمُ الصَّحَابَةِ فِي هَٰذَا الرَّجُلِ مَعَ إِقۡرَارِهِ بِأَرۡكَانِ الۡإِسۡلَامِ الۡخَمۡسَةِ، فَمَا ظَنُّكَ بِمَنۡ لَمۡ يُقِرَّ مِنَ الۡإِسۡلَامِ بِكَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ إِلَّا أَنۡ يَقُولَ: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ بِلِسَانِهِ مَعَ تَصۡرِيحِهِ بِتَكۡذِيبِ مَعۡنَاهَا، وَتَصۡرِيحِهِ بِالۡبَرَاءَةِ مِنۡ دِينِ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَمِنۡ كِتَابِ اللهِ تَعَالَى؟

Jika demikian ini hukum sahabat terhadap orang ini padahal dia masih mengakui rukun Islam yang lima, lalu bagaimana sangkaanmu dengan orang yang

  • tidak mengakui satu kalimat pun dari Islam kecuali dia hanya mengatakan “laa ilaaha illallaah” dengan lisannya,
  • bersamaan itu dia menegaskan sikapnya yang mendustakan maknanya,
  • dia juga menegaskan sikap berlepas dirinya dari agama Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan dari kitab Allah?

وَيَقُولُونَ: هَٰذَا دِينُ الۡحَضَرِ وَدِينُنَا دِينُ آبَائِنَا، ثُمَّ يُفۡتُونَ هَٰؤُلَاءِ الۡمَرَدَةُ الۡجُهَّالُ أَنَّ هَٰؤُلَاءِ مُسۡلِمُونَ وَلَوۡ صَرَّحُوا بِذٰلِكَ كُلِّهِ، إِذَا قَالُوا: لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ. سُبۡحَانَكَ هَٰذَا بُهۡتَانٌ عَظِيمٌ.

Mereka (orang-orang badui) mengatakan bahwa (Islam) ini adalah agama orang yang hidup menetap, adapun agama kami adalah agama leluhur kami.

Kemudian orang-orang yang sangat durhaka lagi jahil itu memfatwakan bahwa mereka ini tetap merupakan kaum muslimin apabila mereka telah mengatakan “laa ilaaha illallaah” walaupun mereka menegaskan semua sikap (pembatal keislaman) itu.

Mahasuci Engkau ya Allah, ini adalah kedustaan yang amat besar.

وَمَا أَحۡسَنُ مَا قَالَ وَاحِدٌ مِنَ الۡبَوَادِي لَمَّا قَدِمَ عَلَيۡنَا وَسَمِعَ شَيۡئًا مِنَ الۡإِسۡلَامِ، قَالَ: أَشۡهَدُ أَنَّنَا كُفَّارٌ -يَعۡنِي هُوَ وَجَمِيعُ الۡبَوَادِي- وَأَشۡهَدُ أَنَّ الۡمُطَوِّعَ الَّذِي يُسَمِّينَا أَهۡلَ الۡإِسۡلَامِ أَنَّهُ كَافِرٌ.

Alangkah bagusnya ucapan salah seorang badui ketika dia datang ke tempat kami dan mendengar sedikit tentang Islam. Dia berkata, “Aku bersaksi bahwa kami adalah orang-orang kafir.” Yakni dia dan semua orang-orang badui. “Dan aku bersaksi bahwa guru yang menamai kami sebagai orang muslim bahwa dia kafir.”

تَمَّ وَالۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ.

Tamat. Segala puji bagi Allah, Tuhan alam semesta. Semoga Allah mencurahkan selawat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabat beliau.


Penjelasan

Pelajaran yang keenam adalah kisah kemurtadaan sepeninggal Nabi ﷺ.

Penulis ingin membantah syubhat para syaithon yang dimunculkan oleh orang-orang yang dikatakan dimasa beliau (penulis). Apalagi dimasa kini, terdapat berbagai macam definisi ulama diantaranya orang yang pandai beretorika, orang yang mampu berorasi didepan banyak orang, dan lainnya. Tidak tahu definisi dan ukuran ulama yang sebenarnya.

Syubhat syaiton yang dimaksud adalah mereka berkata, “Betul itu kesyirikan, tapi orang yang berucap syirik ini sudah berucap La Ilaha Illallah. Maka dengan kalimat ini tidak menjadikan dia kafir dengan satu apapun.” Mereka menganggap demgan ucapan La Ilaha Illallah, maka apa saja yang mereka lakukan tidak akan menjadi kafir walaupun berbuat kesyirikan. Ini yang penulis katakan sbeagai syubhat syaitan.

Penulis membantah syubhat syaitan ini dengan membawahkan kisah kemurtadan sepeninggal Nabi ﷺ. Sebahagian kisah kemurtadan ada yang semasa Nabi ﷺ masih hidup. Siapa saja yang mendengar kisah Ridha’ ini tidak ada syubhat para syaitan, yang mereka namakan ulama, walaupun sebesar djarah.

Yang lebih besar dari syubhat ini adalah, mereka mengatakan bahwa orang Badui (pedalaman), tidak ada keislaman mereka sehelai rambutpun. Mereka tidak shalat, tidak puasa, tidak ada keislaman sama sekali. Mereka orang badui hanya berucap kalimat la ilaha illallah, sehingga dengan kalimat ini mereka menjadi Islam. Sedangkan Islam telah mengharamkan harta dan darah mereka. Pada mereka mengetahui, bahwa kaum badui meninggalkan Islam secara keseluruhan. Kaum badui juga meningkari hari kebangkitan, mereka mengolok-ngolok siapa yang meyakini hari kebangkitan, dan lebih mengutamakan agama nenek moyang mereka dari pada agama yang dibawah Nabi ﷺ. Bersamaan dengan itu para syaitan yang durjana mengatakan bahwa mereka telah memeluk Islam. Walaupun seluruh pembatal keislaman berjalan ditengah mereka, dengan alasan kaum badui telah mengucapkan kalimat la ilaha illallah.

Konsekuensi dari ucapan mereka ini, berarti bahwa orang Yahudi juga masuk Islam karena mereka juga mengatakan la ilaha illallah. Penulis menegaskan bahwa kekafiran orang badui lebih besar daripada kekafiran orang Yahudi. Orang badui yang dimaksud disini adalah orang badui yang tidak mempunyai keislaman sama sekali, kecuali berucap la ilaha illallah.

Orang pembawa syubhat ini mengatakan apabila telah berucap la ilaha illallah, maka tidak bisa dibatalkan dengan apapun.

Banyak kita temui pada masa ini, ketika ditegurkan akan perbuatan syiriknya, mereka mengatakan kami sudah bersyahadat, mengucapkan la ilaha illallah dan muslim.

Penulis membawakan kisah orang yang murtad untuk membantah syubhat ini. Hal yang menjelaskan kebatilah syubhat diatas adalah bahwa orang-orang yang murtad berbeda-beda bentuk kemurtadannya. Diantara mereka ada yang medustakan nabi ﷺ, kembali menyembah berhala. Hal ini dikarenakan karena mereka meyakini apabila Muhammad adalah Nabi maka tidak akan mati. Mereka murtad karena hal ini dan kembali menyembah berhala.

Beberapa bentuk kemurtadan:

Pertama, Diantara mereka ada yang mendustakan nabi, kembali menyembah berhala. Hal ini disebabkan karena mereka meyakini apabila Muhammad adalah Nabi maka tidak akan mati. Mereka murtad karena hal ini dan kembali menyembah berhala.

Kedua, Ada yang telah mengucapkan syahadat tetapi ucapannya ditambah dengan bahwa mereka beriman dengan Musailamah (Al-Kadzab). Ini juga termasuk kemurtadan. Mereka mengakui kenabian Musailamah karena dia menyangka bahwa Nabi ﷺ memperserikatkan kenabiannya dengan Musailamah. Para ulama sepakat siapa yang menganggap kenabian Musailamah maka dianggap kafir, keluar dari Islam (murtad) walaupun dia jahil akan hal itu. Dan siapa yang ragu terhadap kemurtadannya, maka dianggap kafir.

Para ulama sepakat siapa yang mendustakan dan kembali beribadah kepada berhala, mencerca nabi, bahwa mereka ini dan yang mengakui kenabian Musailamah, maka hukumnya sama yaitu seorang yang murtad. Walaupun di atas keislaman seluruhnya.

Ketiga, Dan dibenarkan Tulaiha bin Kluwaid yang tadinya mengaku Nabi tapi bertaubat kembali ke dalam Islam. Dan keislamannya bagus dan menghadiri beberapa peperangan sampai mati syahid dalam peperangan di Nahwan. Maka ketika Tulaiha mengaku Nabi, orang-orang yang membenarkannya dianggap murtad.

Keempat, Ada yang membenarkan Al-‘Ansi, yang juga mengaku nabi di akhir hidup nabi. Dia membuat masalah di Yaman sampai menguasai wilayah di San’a. Nabi mengutus utusan empat orang ke pemuka kaum muslimin yang berada di Yaman dan membunuh Al-‘Ansi secara senyap.

Para ulama sepakat bahwa kisah tersebut adalah mereka yang dianggap orang yang murtad. Diantara mereka ada yang mendustakan Nabi dan kembali beribadah kepada berhala dan bentuk lainnya.

Kelima, kisah Al-Fuja`ah As-Sulami walaupun tidak ada sanad yang kuat mengenai ini. Kisah ini dipakai oleh sebagian orang Syi’ah Rafidah untuk mencela Abu Bakar As-Syidiq Radhiallahu Anhu. Orang Syi’ah mengatakan Abu Bakar telah membakar manusia. Pernyataan ini dibantah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yaitu mengapa Abu Bakar yang dipermasalahkan sedangkan ketika Ali bin Abi Thalib membakar pengikut Abdullah bin Saba (Yahudi), mereka tidak mempermasalahkannya. Kemungkinan larangan membakar manusia tersebut belum sampai kepada Abu Bakar dan Ali. Para ahli fiqih sepakat bahwa tidak boleh menyiksa dengan membakar manusia kecuali pada satu kondisi, yaitu qishah. Apabila seseorang mati karena dibakar, maka hukuman bagi yang membakar tersebut adalah dibolehkan dibakar.

Al-Fuja`ah As-Sulami berkata kepada Abu Bakar bahwa beliau akan memerangi kaum yang murtad, agar diberi bantuan senjata. Maka Abu Bakar memberi persenjataan dan tunggangan-tunggangan. Akan tetapi As-Sulami menghadang muslim dan kafir, tidak memerangi orang yang murtad saja. Maka Abu Bakar menyiapkan pasukan untuk memeranginya, dan As-Sulami merasakan kekalahan. As-Sulami berkata kepada pimpinan pasukan Abu Bakar, “Engkau adalah pimpinan dari pasukan Abu Bakar, dan aku juga pimpinan pasukan Abu Bakar. Saya tidak kafir.” Maka pimpinan dari pasukan Abu Bakar berkata, “Jika engkau jujur lemparkan senjatamu.” Maka As-Sulami melemparkan senjatanya, kemudian dia dibawa ke Abu Bakar. Kemudian Abu Bakar memerintahkan untuk membakarnya dengan api dalam keadaan hidup.

Apabila itu adalah hukuman para sahabat terhadap orang tersebut, padahal dia mengakui lima rukun Islam, bagaimana dengan orang yang:

  • tidak mengakui satu kalimat pun dari Islam kecuali dia hanya mengatakan “laa ilaaha illallaah” dengan lisannya,
  • bersamaan itu dia menegaskan sikapnya yang mendustakan maknanya,
  • dia juga menegaskan sikap berlepas dirinya dari agama Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan dari kitab Allah?

Mereka (orang-orang Badui) mengatakan bahwa (Islam) ini adalah agama orang yang hidup menetap, adapun agama kami adalah agama leluhur kami.

Kemudian orang-orang yang sangat durhaka lagi jahil itu memfatwakan bahwa mereka ini tetap merupakan kaum muslimin apabila mereka telah mengatakan “laa ilaaha illallaah” walaupun mereka menegaskan semua sikap (pembatal keislaman) itu.

Ada seorang Badui hadir di majelis syiekh, mendengar tentang Islam dan Tauhid. Mereka mengatakan bahwa saya bersaksi bahwa kami dulunya kafir dan saya bersaksi bahwa si Mutawi’ (sebutan orang yang pandai agama) yang mengatakan kami Muslim, dia adalah kafir. Akhirnya orang Badui ini mengerti apa itu tauhid.

Pembahasan 1: Pelajaran dari kisah kemurtadan.

Pembahasan 2: Syubhat para syaitan bahwa siapa saja yang mengucapkan La Ilaha Illallah, dia tidaklah kafir dengan sesuatu apapun.

Pembahasan 3: Konsekuensi ucapan mereka dalam syubhat ini.

Dengan konsekuensi ucapan syubhat ini maka orang Yahudi juga bisa dianggap Muslim, dan yang lainnya menjadi keliru.

Pembahasan 4: Bantahan terhadap syubhat ini dari kisah kemurtadan

Bentuk kemurtadaan banyak, ada yang melakukan seluruh rukun Islam tapi murtad karena melakukan pembatal keislaman.

Pembahasan 5: Penyebutan sejarah beberapa orang murtad

Kisah beberapa orang murtad yang disebutkan penulis

  1. Orang yang mendustakan Nabi dan kembali menyembah berhala
  2. Musailamah (Al-Kadzab)
  3. Tulaiha bin Kluwaid
  4. Al-‘Ansi
  5. Fujaah As-Sulaimi

Pembahasan 6: Pemahaman orang Badui yang telah mengenal Islam

Orang awam apabila sudah mengenal tauhid, maka bisa mengetahui syubhatnya kaum musyrikin.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber:

Matan dan Terjemahan Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah:

Ismail bin Issa. (2020, April 16). Sittatu Mawadhi’ Minas Sirah. Sittatu Mawadhi’ minas Sirah – إسماعيل بن عيسى. https://ismail.web.id/2020/04/16/sittatu-mawadhi-minas-sirah/

Pelajaran Keempat: Kisah Abu Thalib

Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah (Enam Pelajaran Aqidah dari Sirah Nabi ﷺ)

Pelajaran Keempat: Kisah Abu Thalib

الۡمَوۡضِعُ الرَّابِعُ: قِصَّةُ أَبِي طَالِبٍ، فَمَنۡ فَهِمَهَا حَسَنًا وَتَأَمَّلَ إِقۡرَارَهُ بِالتَّوۡحِيدِ، وَحَثَّ النَّاسِ عَلَيۡهِ، وَتَسۡفِيهَ عُقُولِ الۡمُشۡرِكِينَ، وَمَحَبَّتَهُ لِمَنۡ أَسۡلَمَ وَخَلَعَ الشِّرۡكَ، ثُمَّ بَذَلَ عُمۡرَهُ وَمَالَهُ وَأَوۡلَادَهُ وَعَشِيرَتَهُ فِي نُصۡرَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى أَنۡ مَاتَ. ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى الۡمَشَقَّةِ الۡعَظِيمَةِ وَالۡعَدَاوَةِ الۡبَالِغَةِ، لَكِنۡ لَمَّا لَمۡ يَدۡخُلۡ فِيهِ وَلَمۡ يَتَبَرَّأۡ مِنۡ دِينِهِ الۡأَوَّلِ لَمۡ يَصِرۡ مُسۡلِمًا، مَعَ أَنَّهُ يَعۡتَذِرُ مِنۡ ذٰلِكَ بِأَنَّ فِيهِ مسَبَّةً لِأَبِيهِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ وَلِهَاشِمٍ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ مَشَايِخِهِمۡ.

Peristiwa keempat: Kisah Abu Thalib. Siapa saja yang memahaminya dengan baik dan memperhatikan

  • pengakuannya terhadap tauhid,
  • anjurannya kepada manusia agar bertauhid,
  • sikap beliau yang membodoh-bodohkan akal orang-orang musyrik,
  • kecintaan beliau kepada orang yang masuk Islam dan lepas dari kesyirikan,
  • kemudian beliau menghabiskan umur, harta, anak-anak, dan kerabatnya untuk menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai meninggal,
  • kemudian sikap beliau yang menyabarkan Rasulullah terhadap kesulitan yang besar dan permusuhan yang memuncak.

Akan tetapi ketika Abu Thalib tidak masuk Islam dan tidak berlepas diri dari agamanya yang dahulu, maka dia tidak menjadi seorang muslim. Meskipun dia beralasan dengan apabila dia masuk Islam, maka akan mencoreng kehormatan ayahnya—yaitu ‘Abdul Muththalib—dan Hasyim, serta selain keduanya dari para tokoh leluhur mereka.

ثُمَّ مَعَ قَرَابَتِهِ وَنُصۡرَتِهِ اسۡتَغۡفَرَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى عَلَيۡهِ: ﴿مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسۡتَغۡفِرُوا۟ لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ﴾ [التوبة: ١١٣].

Kemudian karena hubungan kekerabatan dan pembelaan Abu Thalib ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan untuknya. Lalu Allah taala menurunkan ayat kepada beliau yang artinya, “Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

وَالَّذِي يُبَيِّنُ هَٰذَا أَنَّهُ إِذَا عُرِفَ رَجُلٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡبَصۡرَةِ أَوِ الۡأَحۡسَاءِ بِحُبِّ الدِّينِ وَبِحُبِّ الۡمُسۡلِمِينَ، مَعَ أَنَّهُ لَمۡ يَنۡصُرِ الدِّينَ بِيَدٍ وَلَا مَالٍ وَلَا لَهُ مِنَ الۡأَعۡذَارِ مِثۡلُ مَا لِأَبِي طَالِبٍ، وَفَهِمَ الۡوَاقِعَ مِنۡ أَكۡثَرَ مَنۡ يَدَّعِي الدِّينَ، تَبَيَّنَ لَهُ الۡهُدَى مِنَ الضَّلَالِ، وَعَرَفَ سُوءُ الۡأَفۡهَامُ، وَاللهُ الۡمُسۡتَعَانُ.

Dan yang lebih memperjelas ini adalah bahwa ketika ada seseorang dari penduduk Bashrah atau Ahsa` yang dikenal mencintai agama Islam dan mencintai kaum muslimin, namun dia tidak menolong agama dengan tangan dan harta. Dia juga tidak memiliki uzur semisal uzur yang dimiliki Abu Thalib.

(Jadi siapa saja yang memahami kisah Abu Thalib ini) dan memahami kenyataan berupa banyaknya orang yang mengaku-aku mengerti agama, maka akan jelas baginya petunjuk dari kesesatan dan dia akan mengerti buruknya pemahaman (terhadap agama). Allah lah yang dimintai pertolongan.


Pembahasan 1: Kisah Abu Thalib

Nabi ﷺ dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal sebelum Rasulullah dilahirkan. Rasulullah ﷺ diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Abdul Muthalib sebelum meninggal berwasiat kepada anaknya yang lain yaitu Abdul Thalib untuk mengasuh dan merawat Nabi Muhammad ﷺ.

Abu Thalib merawat dan mendidik Nabi Muhammad ﷺ hingga diutus menjadi seorang Rasul. Abu Thalib membela dan melindungi Nabi Muhammad ﷺ dari orang-orang Quraish. Seperti kejadian pemboikotan Nabi ﷺ dan para shahabat, Abu Thalib juga ikut diboikot. Abu Thalib adalah orang yang menguatkan Nabi ﷺ.

Abu Thalib meng-ikrar Tauhid dan mengakui agama yang di bawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Seperti ucapan Abu Thalib, “Saya telah mengetahui bahwa agama Nabi Muhammad ﷺ adalah agama yang membawa manusia kepada yang paling baik. Andaikata tidak khawatir akan celaan, maka engkau telah melihat saya lapang menerima agama ini dengan penuh kejelasan”.

Abu Thalib menganggap kaum musyrikin bodoh akalnya. Abu Thalib cinta kepada yang memeluk Islam dan yang menanggalkan kesyirikan. Abu Thalib mencurahkan umur, harta, anak-anak dan kerabatnya untuk menolong Rasulullah ﷺ sampai Abu Thalib meninggal.

Kemudian Abu Thalib bersabar dari kesulitan yang besar dan permusuhan yang berlebihan. Tetap melindungi Nabi Muhammad ﷺ.

Pada masa sulit setelah pemboikotan, meninggal Khadijah istri Nabi Muhammad ﷺ dan juga meninggal pamannya Abu Thalib. Maka semakin besar gangguan terhadap Nabi ﷺ dan para shahabat. Sehingga Nabi menginjinkan para shahabat untuk berhijrah ke Habasa. Raja Habasa, Najasi, terkenal sebagai raja yang tidak mendholomi rakyatnya apapun agamanya.Diantara yang Hijrah ke Habasa adalah Ustman bin Affan.

Para shahabat yang berhijrah ke Habasa menjadi sebab Raja Najasi masuk Islam. Yaitu ketika kaum musyrikin mendengar para shahabat berhijrah, mereka menyusul ke Habasa. Mereka membawakan hadiah untuk Najasi agar para shahabat dikembalikan ke Mekkah. Akan tetapi Najasi berlaku adil dengan memanggil keduabelah pihak untuk berdebat antara para shahabat dan kaum musyrikin. Maka dari perdebatan itu Najasi mengenal kebenaran dari Nabi ﷺ dan mengenal tanda-tanda kenabiannya yang sesuai dengan kitab nya. Setelah dibacakan kepada Najasi surah Maryam, maka dia menangis mendengarkan surah tersebut.

Akan tetapi Abu Thalib tidak memeluk Islam dan tidak berlepas diri dari agama kaum musyrikin. Alasan Abu Thalib tidak masuk Islam adalah karena dia tidak mau mencela ayahnya (Abdul Muthalib), kakeknya (Hasyim) dan nenek moyang mereka.

Ketika Abu Thalib mendekati ajalnya, Nabi berada di sisinya dan berkata, “Wahai paman ku, katakan La Ilaha Illallah, kalimat yang dengannya saya akan mempersaksikan untuk mu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Akan tetapi setiap Nabi menawarkan untuk mengucapkan syahadat, ada Abu Jahal, Abdullah bin Umaya, yang merupakan dua pembesar Quraish yang berkata,”Wahai Abu Thalib apakah kamu benci kepada agama ayahmu Abdul Muthalib?”. Hal ini membangkitkan kesukuan Abdul Muthalib dan juga tidak mau mencaci nenek moyangnya. Akhirnya Abu Thalib meninggal dalam keadaan Musyrik, tidak masuk Islam. Abu Thalib menjadi penghuni neraka dilapisan paling bawah, karena dia tahu bahwa Agama Islam adalah benar tapi tidak mau masuk Islam.

Ketika Abu Thalib meninggal Rasulullah memohonkan ampun untuk Abu Thalib dikarenakan kekerabatannya dan pertolongan Abu Thalib kepada Rasulullah ﷺ. Maka turun 2 ayat yang menegur Nabi ﷺ, Allah berfirman

  • “Tidaklah patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun pada Allah bagi orang-orang Musyrik. Walaupun itu karib kerabat mereka” (At-Taubah: 113)
  • “Engkau Nabi Muhammad tidak bisa memberikan hidayah kepada siapa yang engkau cintai”. (Al-Qhashash: 56)

Allah memberikan kekhususan bagi Nabi Muhammad, yaitu diberikan syafaat khusus untuk Abu Thalib. Abu Thalib harusnya disiksa pada neraka yang paling bawah. Dengan syafaat Nabi ﷺ, Abu Thalib mendapatkan siksaan yang paling ringan siksaannya di dalam neraka. Walaupun kekal didalam neraka. Dalam Shahih Muslim disebutkan siksaan Abu Thalib dalam neraka yaitu, dua terompah yang dipanaskan, sebelum kaki menyentuh terompah tersebut, maka mendidih kepalanya.

Pelajaran Aqidah dari Kisah Abu Thalib

Hal yang memperjelas perkara ini apabila seorang penduduk Bashrah, penduduk Ahsa, mengaku mencintai agama, mencintai kaum muslimin dan dianggap bersama kaum muslim. Padahal dia tidak pernah menolong agama tidak dengan tangan dan tidak pula dengan harta. Dan dia tidak memiliki udzur-udzur seperti Abu Thalib miliki.

Apabila ada yang mengaku cinta Agama Islam dan cinta kaum muslimin. Akan tetapi ketika terjadi perseteruan antara hak dan bathil, antara tauhid dan kesyirikan, dia tidak pernah menampakan dirinya. Karena dia ingin aman dan tidak mau ada musuhnya. Maka orang seperti ini apabila hidup di masa Abu Jahal, tidak ada yang mengingkarinya sebab itu bukan hal yang dipermasalahkan oleh kamu Musyrikin. Kaum musyrikin juga beribadah (haji dan umrah) dan mempunyai akhlak yang bagus. Akan tetapi inti permasalahan kaum musyrikin adalah pada pembahasan tauhid. Hal ini yang membuat mereka membenci Nabi Muhammad ﷺ dan para shahabat.

Abu Thalib mempunyai udzhur yaitu dia khawatir mencela nenek moyangnya. Akan tetapi orang yang sekarang tidak ada udzur seperti Abu Thalib.

Penulis mengingkari sekelompok orang di masanya, yang dianggap berilmu, tahu kebenaran, mengenal tauhid, mengetahui kebathilan kesyirikan. Akan tetapi tidak pernah berdakwah tauhid, melarang kesyirikan dan mengingkari kaum musyrikin.

Abu Thalib saja membela Nabi ditengah kaum musyrikin, bahkan menganggap mereka bodoh. Akan tetapi Abu Thalib tidak masuk Islam.

Sehingga keislaman jelas ketentuannya: shahadat, mengakui tauhid, meninggalkan kesyirikan, dan memusuhi kaum musyrikin. Keislaman dibuktikan dengan ucapan dan amalan.

Pembahasan 2: Tidak cukup mengaku Islam benar dan membela Islam, mencela kesyirikan dan kaum musyrikin

Tidak cukup mengaku Islam benar dan membela Islam, mencela kesyirikan dan kaum musyrikin. Tapi harus masuk kedalam Islam, mengikuti Rasulullah ﷺ, berlepas diri dari kesyirikan dan kaum musyrikin.

Abu Thalib membela Rasullullah, mencela kaum musyrikin, cinta kepada orang yang masuk Islam, senang dengan orang yang menanggalkan kesyirikan. Akan tetapi Abu Thalib tidak masuk islam dikarenakan tidak bersyahadat. Abu Thalib dianggap tidak masuk Islam dan tidak mengikuti Rasulullah ﷺ.

Bermusuhan dengan kaum musyrikin saja tidak cukup. Seperti halnya orang Yahudi bermusuhan dengan orang Nashara. Tapi tidak mengatakan bahwa orang Yahudi muslim walaupun orang Yahudi bisa membantah kaum Nashara. Ada syarat-syarat keislaman, yaitu:

  1. Allah adalah satu-satunya yang diibadahi.
  2. Berlepas diri dari segala yang diibadahi kecuali Allah.
  3. Mengetahui Tauhid.
  4. Meninggalkan kesyirikan
  5. Berlepas diri dari kesyirikan dan kaum musyrikin.

Pembahasan 3: Ada udzhur-udzhur bagi Abu Thalib tapi tidak menjadi seorang Muslim

Tidak semua yang mempunyai udzur, akan diterima udzurnya. Udzur Abu Thalib sebenarnya hal yang mudah, yaitu kesabaran dalam menghadapi kaumnya walaupun ayah dan nenek moyangnya dicela. Maka tidak menjadi masalah, karena Allah akan memuliakannya dengan masuk Islam. Dia lebih mementingkan gensinya sehingga tidak dicela ayahnya.

Pembahasan 4: Menyingkap petunjuk terhadap kesesatan dan jeleknya pemahaman.

Menyingkap petunjuk terhadap kesesatan dan jeleknya pemahaman terhadap orang yang mengenal kebenaran dan tauhid dan mengerti juga kebathilan syirik. Tetapi mereka tidak menolong agama dan tidak memerintah kepada tauhid, dan tidak melarang dari kesyirikan.

Ini adalah pelajaran yang paling pokok dari kisah Abu Thalib. Sehingga semakin jelas apa tauhid dan agama yang dibawa Rasulullah ﷺ, yaitu kandungan dari syarat La Ilaha Illallah.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber:

Matan dan Terjemahan Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah:

Ismail bin Issa. (2020, April 16). Sittatu Mawadhi’ Minas Sirah. Sittatu Mawadhi’ minas Sirah – إسماعيل بن عيسى. https://ismail.web.id/2020/04/16/sittatu-mawadhi-minas-sirah/

Pelajaran Ketiga: Kisah Pembacaan Surat An-Najm

Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah (Enam Pelajaran Aqidah dari Sirah Nabi ﷺ)

Pelajaran Ketiga: Kisah Pembacaan Surat An-Najm

الۡمَوۡضِعُ الثَّالِثُ : قِصَّةُ قِرَاءَتِهِ ﷺ سُورَةَ النَّجۡمِ بِحَضۡرَتِهِمۡ، فَلَمَّا بَلَغَ ﴿أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّـٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ﴾ [النجم: ١٩] أَلۡقَى الشَّيۡطَانُ فِي تِلَاوَتِهِ: (تِلۡكَ الۡغَرَانِيقُ الۡعُلَا، وَإِنَّ شَفَاعَتَهُنَّ لَتُرۡتَجَى) فَظَنُّوا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَهَا، فَفَرِحُوا بِذٰلِكَ وَقَالُوا كَلَامًا مَعۡنَاهُ: هَٰذَا الَّذِي نُرِيدُ، وَنَحۡنُ نَعۡرِفُ أَنَّ اللهَ هُوَ النَّافِعُ الضَّارُّ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَكِنۡ هَٰؤُلَاءِ يَشۡفَعُونَ لَنَا عِنۡدَهُ.

Peristiwa ketiga: Kisah pembacaan surah An-Najm oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah kehadiran mereka. Ketika beliau sampai ayat yang artinya, “Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata dan al-‘Uzza,” setan menyisipkan dalam bacaan beliau, “Itu adalah gharaniq (nama berhala/malaikat) yang mulia dan sesungguhnya syafaat mereka diharapkan.” Sehingga mereka menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengucapkannya. Maka, mereka pun gembira dengan perkataan itu dan mereka berkata dengan ucapan yang maknanya, “Inilah yang kami inginkan. Kami mengetahui bahwa Allah sajalah yang memberi manfaat dan mudarat, tidak ada sekutu bagi-Nya, namun mereka ini (berhala-berhala) dapat memberi syafaat untuk kami di sisi-Nya.”

فَلَمَّا بَلَغَ السَّجۡدَةَ سَجَدَ وَسَجَدُوا مَعَهُ، فَشَاعَ الۡخَبَرُ أَنَّهُمۡ صَافَوۡهُ، وَسَمِعَ بِذٰلِكَ مَنۡ بِالۡحَبَشَةِ فَرَجَعُوا، فَلَمَّا أَنۡكَرَ ذٰلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَادُوا إِلَى شَرٍّ مِمَّا كَانُوا عَلَيۡهِ.

Ketika Rasulullah membaca sampai ayat sajdah, beliau pun sujud dan mereka ikut sujud beserta beliau. Sehingga tersebarlah berita bahwa orang-orang musyrik mengikuti beliau dan berita itu terdengar oleh kaum muslimin yang sedang hijrah di Habasyah sehingga mereka kembali. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari bacaan itu, orang-orang musyrik itu kembali kepada keburukan mereka dahulu.

وَلَمَّا قَالُوا لَهُ: إِنَّكَ قُلۡتَ ذٰلِكَ. خَافَ مِنَ اللهِ خَوۡفًا عَظِيمًا، حَتَّى أَنۡزَلَ اللهُ عَلَيۡهِ: ﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِىٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَـٰنُ فِىٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ﴾… [الحج: ٥٢].

Ketika orang-orang musyrik itu berkata kepada beliau, “Sesungguhnya engkau telah mengucapkannya,” maka Rasulullah sangat takut kepada Allah sampai Allah menurunkan ayat kepada beliau yang artinya, “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia membaca, setan menyisipi bacaan itu…” (QS. Al-Hajj: 52).

فَمَنۡ فَهِمَ هَٰذِهِ الۡقِصَّةَ، ثُمَّ شَكَّ بَعۡدَهَا فِي دِينِ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَمۡ يُفَرِّقۡ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ دِينِ الۡمُشۡرِكِينَ، فَأَبۡعَدَهُ اللهُ، خُصُوصًا إِنۡ عَرَفَ أَنَّ قَوۡلَهُمۡ: (تِلۡكَ الۡغَرَانِيقُ) يُرَادُ بِهَا الۡمَلَائِكَةُ.

Jadi, siapa saja yang memahami kisah ini, lalu setelah itu masih ragu tentang agama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bisa membedakan antara agama Nabi dengan agama orang-orang musyrik, maka berarti Allah telah menjauhkannya. Terkhusus apabila dia mengerti bahwa ucapan mereka, “Itu adalah gharaniq,” yang mereka maksudkan adalah malaikat.


Pembahasan 1: Kisah Nabi ﷺ membaca surat An-Najm yang dihadiri oleh kaum musyrikin.

Ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yang menjadikan para malaikat sebagai anak perempuan Allah Ta’ala. Dan bantahan terhadap Ilhat yang mereka lakukan.

Ketika sampai pada firman Allah “Maka, apakah kalian , patut menganggap Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang paling ketiga?“, Maka syaitan menyusupkan kepada bacaan Nabi ﷺ, yaitu “Al-Gharaniq yang tinggi, sesungguhnya syafaat-syafaat mereka diharapkan”. Maksudnya Nabi tidak membaca apa yang dikatakan oleh syaitan akan tetapi syaithon bersuara dengan memasukan kalimat tadi. Sehingga terdengar oleh orang-orang, yang menyangka perkataan syaithon itu termasuk bacaan Nabi ﷺ.

Kaum musyrikin menyangka Nabi mengucapkan kalimat itu dan mereka bergembira akan hal itu. Mereka berucap yang maknanya, “Itulah yang kami inginkan, kami mengetahui hanya Allah yang memberi madharat dan manfaat, tapi sembahan kami memberi syafaat untuk kami disisi Allah Ta’ala.”

Al-Gharaniq adalah jamak dari Ghanuq yang artinya burung putih (jantan) yang panjang lehernya (burung bangauw). Kaum musyrikin menamakan berhala-berhala mereka dengan Al-Gharaniq.

Ketika mencapai ayat sajadah pada ayat terakhir surat An-Najm, maka Nabi bersujud dan kaum musyrikin ikut bersujud bersama beliau. Maka tersebar berita bahwa Nabi ﷺ telah berdamai dengan kaum musyrikin. Berita ini terdengar oleh para sahabat yang berada di Hasaba. Sehingga para sahabat kembali ke Mekah.

Akan tetapi begitu Rasulullah ﷺ mengingkari perdamaian ini, maka kaum musryikin kembali memusuhinya dan lebih jelek dari pada keadaan sebelumnya. Mereka berkata, “Engkau yang mengucapkan hal tersebut, kenapa diingkari?”. Maka Nabi sangat takut kepada Allah Ta’ala, sehingga Allah menurunkan firmannya:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِىٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَـٰنُ فِىٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ﴾… [الحج: ٥٢].

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia membaca, setan menyisipi bacaan itu…” (QS. Al-Hajj: 52)

Siapa yang memahami kisah ini, kemudian setelah itu ragu kepada Agama Nabi ﷺ. Dan tidak membedakan antara agama Nabi dan agama kaum musyrikin, semoga Allah menjauhkannya. Apalagi kalau mereka mengetahui ucapan Al-Gharaniq maksudnya adalah para malaikat.

Kisah pembacaan surat An-Najm ini disebut juga Kisah Gharaniq. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa periwayatan pada kisah ini, sanad nya lemah. Sebagian ulama lain seperti Ibnu Hajar berpendapat bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur riwayat yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya. Secara umum yang mengatakan riwayat ini tidak sah adalah lebih dekat, hanya saja firman Allah dari surat Al-Hajj sudah cukup sebagai dalil bahwa syaithon menyisipi bacaan para Rasul.

Pembahasan 2: Hakikat permusuhan antara Nabi ﷺ dan kaum musyrikin

Hakikat permusuhan antara Nabi dan Kaum musyrikin adalah pada permasalahan Tauhid dan hakikat kesyirikan. Bahwa apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin berupa peribadatan kepada berhala dengan alasan mendekatkan mereka kepada Allah dan mencari syafaat adalah kesyirikan. Sehingga kaum musyrikin memusuhi Nabi ﷺ dan para sahabat.

Mereka menganggap Nabi ﷺ dan para sahabat mencela agama mereka. Dari sisi Nabi ﷺ dan para shabat bahwa ini adalah sikap al-bara, bahwa tidak cukup seorang bertauhid dan meninggalkan kesyirikan akan tetapi harus memusuhi kaum musyrikin dan membenci agama mereka.

Pada awalnya kaum Musyrikin percaya kepada Nabi ﷺ dan menggelarinya Al-Amin. Akan tetapi tiba-tiba menjadi orang yang sangat mereka musuhi karena hal tersebut diatas.

Pembahasan 3: Perbedaan antara agama kaum muslimin dengan agama kaum musyrikin

Harus dibedakan antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Disebutkan dalam Kitab Qawaidul Arba’, pada kaidah yang kedua: Alasan kaum musyrikin melakukan kesyirikan ada dua yaitu:

  1. Mencari Kedekatan
  2. Mencari Syafaat.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber:

Matan dan Terjemahan Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah:

Ismail bin Issa. (2020, April 16). Sittatu Mawadhi’ Minas Sirah. Sittatu Mawadhi’ minas Sirah – إسماعيل بن عيسى. https://ismail.web.id/2020/04/16/sittatu-mawadhi-minas-sirah/