بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.
Kitab Tsalastatul Ushul
- Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
- Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
- Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah
Landasan Pertama: Mengenal Allah
Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Nadzar
Definisi Nadzar
Yang terakhir dari bentuk ibadah yang disebut oleh penulis adalah Nadhr. Adalah Nadar.
Nadar adalah seorang mukallaf mewajibkan sesuatu atas dirinya. Sesuatu ini asalnya dalam syariat bukan wajib, terhadap asalnya tidak wajib. Misalnya dia bernadzar untuk i’tikaf di masjid satu hari. Asal i’tikaf tidak diwajibkan baginya, tapi dia wajibkan i’tikaf terhadap dirinya. Ini disebut Nadar. Atau dia nadzar untuk berpuasa tiga hari. Asalnya nadzar, kewajiban dia berpuasa dikatakan wajib puasa tiga hari. Itu nadzar dari asal syariat. Tapi karena dia wajibkan puasa atas dirinya, maka ini disebut sebagai Nadar.
Jadi Nadar ini ingin diterangkan oleh penulis di sini bahwa Nadar itu adalah ibadah. Kalau Nadar adalah ibadah, ibadah tidak boleh diserahkan kepada selain Allah. Apa dalilnya Nadar adalah ibadah?
يُوفُونَ بِٱلنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًۭا كَانَ شَرُّهُۥ مُسْتَطِيرًۭا
“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan: 7)
Mereka menunaikan Nazar, Allah memuji mereka yang menunaikan Nazar. Sehingga menunjukan Nazar adalah ibadah. Karena ibadah maka harus ikhlas untuk Allah, memalingkan dari Nya maka adalah Syirik Akbar. Mereka takut suatu hari, maksudnya di hari kiamat yang siksa merata di mana-mana.
Bentuk-Bentuk Nadzar
Kalau kita berbicara tentang Nadar, itu apa yang disebut ibadah? Itu Nadar yang disebut ibadah hanya seseorang maksud ketika dia menadarkan. Ini ada yang dibahas oleh para ulama, apakah di situ dikatakan makruh atau dianjurkan. Jadi kalau dia nadzar tanpa muqobil, ada nadzar tanpa muqobil (balasan) dan dengan muqobil. Jadi ada dua, ada nadarnya tanpa dia minta balasan dan ada nadzar karena diharapkan suatu balasan.
Tanpa balasan, misalnya dia sekarang duduk, “Saya ingin mengharuskan diri puasa tiga hari”. Dia bernadzar, “Lillahi, puasa tiga hari”. Ini nadzar tidak bagus, ibadah. Tapi kalau dia minta, misalnya, “Apabila saya kembali perjalanan selamat, maka saya nadzar tiga hari”. “Apabila anak saya lulus ujian, maka saya akan puasa Senin-Kamis selama satu bulan”. Misalnya, maka ini nadzar ada sebabnya, dia meminta. Inilah yang dikatakan oleh Nabi, itu yang dikeluarkan dari kebakhilan. Itu yang dikatakan oleh Nabi, itu tidak mendatangkan kebaikan, tidak mendatangkan kebaikan. Dan sebagian ulama dia mengharamkan nadzar yang seperti ini dari sisi hukumnya, itu diharamkan.
Tapi kalau dia sudah terlanjur nadzar, artinya dia sudah mengajibkan dirinya, sisa apa yang dia nadarkan? Kalau nadarnya taat, wajib dia lakukan. Nadarnya kalau nadarnya maksiat, bahkan tidak boleh dia kerjakan.
Kesimpulan Pembahasan Mengenal Allah
Dan dengan ini kita selesai pembahasan yang pertama tentang Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dari kesimpulan pembahasan Mengenal Allah itu, sebagaimana yang telah diuraikan oleh penulis, pembahasan pembahasannya jelas. Dan manusia di dalam hal ini bertingkat sesuai dengan kadar upayanya di dalam berilmu dan mengamalkan. Karena itulah yang harusnya selalu dipegang oleh para penuntut ilmu. Dia selalu memperdalam bagaimana dia mengenal Allah. Semakin dalam dia mengenal-Nya, maka itu akan semakin kuat kebaikannya dan harapan dia diselamatkan pada hal-hal yang mengkhawatirkan. Itu di sekaratul maut, di alam kubur, dan menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu Ta’ala a’lam.
Referensi:
- Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
- Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah