Isti’anah – Memohon pertolongan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Isti’anah – Memohon Pertolongan

Terjemahan Kitab

Dalil isti’anah adalah firman (Allah) Ta’ala:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan” (Q.S.Al-Fatihah: 4)

Di dalam hadits (diriwayatkan) pula:

“`Apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah`”

Definisi Al-Isti’anah

Al-Isti’ana artinya Talabul ‘Aun, yaitu meminta pertolongan atau bantuan.

Dalam Isti’anah kepada Allah terkandung tiga perkara:

  1. Kesempurnaan penghinaan diri kepada Allah.
  2. Percaya kepada Allah.
  3. Bersandar kepada Allah.

Siapa yang memenuhi tiga hal ini, itulah yang disebut dengan Isti’anah, yaitu memohon pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dalil Bahwa Isti’ana Adalah Ibadah

Dalil Isti’ana adalah firman Allah dalam Surah Al-Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (Q.S. Al-Fatihah: 4)

Para ulama mengatakan bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an kembali kepada Surah Al-Fatihah, dan seluruh kandungan Surah Al-Fatihah kembali kepada ayat Iyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Ayat ini menggabungkan dua hal: ibadah dan memohon pertolongan kepada Allah.

Di dalam Isti’ana terkandung banyak jenis ibadah. Hal ini dijelaskan oleh Abu Ishaq Al-Harawi dalam kitab Manazilus Sa’irin (Jenjang-jenjang Penghambaan), dan dijelaskan secara panjang lebar oleh Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitab Madarij as-Salikin. Buku Madarij as-Salikin sangat bagus dibaca oleh penuntut ilmu yang sudah memiliki kunci-kunci ilmu, untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang luasnya amalan-amalan hati.

Ayat Iyaka na’budu wa iyyaka nasta’in menunjukkan bahwa Isti’ana adalah ibadah. Dalam hadits disebutkan, apabila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.

Bentuk-Bentuk Isti’ana

Sheikh Ibn Utsaimin menyebutkan lima bentuk Isti’ana.

1. Isti’ana kepada Allah

Ini adalah Isti’ana yang bersifat ibadah, yang mengandung tiga perkara: kesempurnaan penyerahan diri, percaya kepada Allah, dan bersandar kepada-Nya. Isti’ana seperti ini tidak boleh diberikan kepada selain Allah. Jika diberikan kepada selain Allah, hukumnya adalah Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

2. Isti’ana kepada Makhluk pada Perkara yang Mampu Dilakukan Makhluk

Meminta tolong kepada makhluk dalam perkara yang memang mampu dilakukan oleh makhluk tersebut. Hukumnya dilihat dari jenis perkaranya.

  • Jika hal yang baik dan boleh secara syariat, maka boleh, bahkan disyariatkan. Allah berfirman, “Wata’awanu alal birri wattaqwa” (Tolong-menolonglah dalam kebaikan dan takwa).
  • Jika hal yang haram, maka tidak diperbolehkan dan hukumnya haram. Allah berfirman, “Wala ta’awanu alal izmi waluduan” (Jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan).
  • Jika hal yang mubah, maka tidak ada masalah, hukumnya mubah.

3. Isti’ana kepada Makhluk yang Hidup dan Hadir Namun Tidak Mampu

Meminta tolong kepada makhluk yang hidup dan hadir, tetapi tidak mampu melakukan hal tersebut. Ini adalah hal yang sia-sia. Misalnya, seseorang sedang mengangkat lemari, lalu meminta bantuan kepada orang lumpuh yang duduk di kursi roda. Ini jelas sia-sia.

4. Isti’ana kepada Orang Mati atau Orang Hidup dalam Perkara Gaib

Meminta tolong dari orang-orang mati, atau dari orang-orang yang hidup, pada perkara gaib yang tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hukumnya adalah Syirik Akbar yang meluarkan pelakunya dari Islam.

Praktik kesyirikan di masa sekarang ini sangat dahsyat. Ada orang yang meminta-minta di kuburan, meminta kepada Habib Fulan dengan bahasa-bahasa tertentu seperti “uang-uang lembaran halus warna merah”. Ini adalah tipuan terhadap orang-orang jahil yang senang dengan hal-hal instan dan mudah, seperti mie instan. Mereka tidak mau berpikir panjang, padahal perkara-perkara yang mereka lakukan sering jatuh dalam kesyirikan.

5. Isti’ana dengan Amalan atau Hal-hal yang Dicintai Allah

Isti’ana dengan amalan shalih atau hal-hal yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sheikh Ibn Utsaimin menjelaskan bahwa ini disyariatkan. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ

Dan carilah pertolongan dengan sabar dan shalat. (Q.S. Al-Baqarah: 45)

Sabar dan shalat adalah dua amalan shalih. Ini adalah hal yang diperbolehkan dan disyariatkan.

Demikianlah jenis-jenis Isti’ana. Pembahasan tentang Isti’ana ini juga mencakup tafsir ayat Surah Al-Fatihah dan penjelasan hadits dari hadits-hadits Arba’in Nawawi yang disebutkan oleh penulis. Hadits tersebut menjelaskan bahwa Isti’ana adalah ibadah. Kaidahnya, ibadah harus ikhlas untuk Allah, dan menyerahkannya kepada selain Allah adalah kesyirikan.

Sumber:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah