بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.
Kitab Tsalastatul Ushul
- Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
- Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
- Rekaman video kajian: Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam Dengan Dalil-Dalil
Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil
Tafsir yang Memperjelas Kalimat La Ilaha Ilallah
Tafsir yang memperjelas kalimat La Ilaha Ilallah adalah firman Allah Ta’ala dalam Surah Az-Zukhruf. Ayat tersebut berbunyi:
٢٥ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦٓ إِنَّنِى بَرَآءٌۭ مِّمَّا تَعْبُدُونَ ٢٦ إِلَّا ٱلَّذِى فَطَرَنِى فَإِنَّهُۥ سَيَهْدِينِ ٢٧ وَجَعَلَهَا كَلِمَةًۢ بَاقِيَةًۭ فِى عَقِبِهِۦ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ٢٨
Dan ingatlah ketika Ibrāhīm berkata kepada bapaknya dan kaumnya, “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah ,tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku”. Dan (lbrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. (QS. Az-Zukhruf: 26-28)
Ayat ini merupakan penegasan tentang Tauhid. Orang yang bertauhid itu jelas dalam penyampaiannya. Dia sampaikan dan terangkan kepada ayah dan kaumnya bahwa tidak ada yang disembunyikan. Bukan hal yang samar, tetapi perkara yang jelas dan terang-terangan dia sampaikan kepada ayah dan kaumnya. Disampaikan oleh Nabi Ibrahim Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Apa kata Nabi Ibrahim Shallallahu ‘Alaihi Wasallam? “Innani bara’un mimma ta’budun.” Sungguh, saya berlepas diri. Kata “bara” itu bermakna berlepas diri, benci, meninggalkan, dan memusuhi. “Mimma ta’budun” artinya dari apa yang kalian ibadahi. Ini adalah makna “La ilaha”, yang dalam istilah ilmu tauhid disebut sebagai an-nafiyu atau penafian. Rukun yang pertama adalah menafikan segala sesembahan selain Allah.
Lalu beliau berkata, “Illa alladzi fatarani.” Kecuali Allah yang mengadakanku. Ini adalah makna “Illa Allah”, yang disebut sebagai al-isbat atau penetapan. Kecuali Allah yang mengadakanku, yang menciptakanku. Itulah yang aku ibadahi. Jadi, ini adalah makna lengkap dari La Ilaha Illallah.
Selanjutnya, “Fa innahu sayahdin.” Karena Allah-lah yang akan memberi hidayah kepadaku. “Wa ja’alaha kalimatan baqiyatan fi aqibihi la’allahum yarji’un.” Dijadikan kalimat tauhid ini sebagai kalimat yang kekal di dalam keturunan Nabi Ibrahim Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, supaya mereka kembali, supaya mereka kembali kepada jalan yang benar, di mana mereka memberi petunjuk kepada orang-orang yang menyimpang menuju kepada jalan tauhid.
Jadi, ayat ini mengandung nafi (penafian) dan isbat (penetapan). Karena itu, kata Ibn Al-Qayyim Rahimahullah, Allah Ta’ala memerintah kita untuk mengikuti Nabi Ibrahim, imam tauhid ini, di dalam penafian dan isbat beliau. Jadi ada dua hal di sini: beliau menafikan, tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, berlepas diri, membenci, dan memusuhi apa yang mereka ibadahi. Dan beliau menetapkan ibadahnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Inilah makna al-wala (cinta dan loyalitas) dan al-barah (berlepas diri).
Tafsir Ayat Surah Ali ‘Imran tentang Persatuan Agama
Tafsir yang pertama adalah ayat yang pertama yang menafsirkan, dan ayat yang kedua yang menafsirkan. Dan juga firman Allah Ta’ala dalam Surah Ali ‘Imran:
قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍۢ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًۭٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ ٦٤
Katakanlah, “Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali ‘Imran: 64)
Katakanlah, sampaikan kepada mereka, wahai Ahli Kitab, yaitu Yahudi dan Nasara, dan siapa yang mengikuti sejalannya dengan mereka. “Ta’alau” artinya kemarilah, datanglah kalian. “Ila kalimatin sawain bainana wa bainakum.” Kepada satu kalimat, satu kalimat yang tidak ada yang lain. Tapi kalimat ini adalah kalimat yang adil, pertengahan, antara kami dan kalian. Kalimat yang sama, di mana tidak ada seorang rasul pun yang berselisih tentangnya. Tidak ada satu kitab pun yang berbeda di dalam hal ini. Semuanya sama. Kami dan kalian sama dalam hal itu.
Kalau mereka ingin melihat agama para nabinya, ingin melihat kitab-kitab yang pernah diturunkan kepada para nabi, seluruh kitab, seluruh rasul sama dalam hal ini. Apa itu? “‘Alaa na’buddailallah.” Tidak boleh kita beribadah kecuali hanya kepada Allah. “Walanusyirikabihi syia.” Dan tidak boleh kita berbuat kesyirikan kepada Allah dengan suatu apa pun. Dan jangan sebagian dari kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Robb-rob yang diibadahi selain daripada Allah.
Penggunaan kata Robb di sini bermakna al-ma’bud, bermakna yang diibadahi. Karena itu sudah berlalu penggunaan kata rububiyah di uraian penulis, Ar-Rabb huwa al-ma’bud. Ini salah satu penggunaannya dalam Al-Qur’an. Jadi ini adalah kalimat bersepakat antara seluruh agama. Kalau mau ingin cari titik kesepakatan antara seluruh agama, ini titik kesepakatannya. Titik kesepakatannya adalah: tidak boleh beribadah kecuali hanya kepada Allah, tidak boleh berbuat kesyirikan, dan tidak boleh sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Robb yang diibadahi.
Karena itu, dimaklumi dari sini bagaimana orang-orang Yahudi dan Nasara telah merubah agama mereka, telah keluar dari agama mereka. Kalau mereka berpaling, tidak menjawab, mundur, maka katakanlah “Ishhadu”, persaksikan. Maka katakanlah, ini kembali kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, katakanlah umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, persaksikanlah “Bianna muslimun”, bahwa kami ini adalah muslimun. Ini tafsir Islam. Itulah yang dibahasakan oleh penulis: Al-Islamu lillahi bit-tauhid, wal inkiyadu lahu bi-ta’ah, wal barathu minasy-syirki wa ahlihi. Ini penafsirannya umum tentang Islam.
Selesai tentang makna syahadat La Ilaha Illallah. Penulis setelah membawakan dalil tentang syahadat, ayat di Surah Ali ‘Imran: Syahidallahu annahu la ilaha illallah. Ini ayat ada pembahasannya di pembahasan ilmu, di kitab Al-Ilm. Ibn Al-Qayyim menyebutkan dari ayat ini, terdapat 10 keutamaan ilmu dan ulama pada ayat ini.
Dalil dan Makna Syahadat Muhammad Rasulullah
Sekarang penulis berpindah ke pembahasan syahadat Muhammad Rasulullah. Ini pembahasan yang kelima: Dalil syahadati anna Muhammadan Rasulullah wa tafsiruhu. Dalil syahadat La Ilaha Illallah, syahadat Muhammad Rasulullah, dan tafsirnya. Sekarang syahadat Muhammad Rasulullah. Apa dalilnya?
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌۭ
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Tawbah: 128)
Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri. Rasulnya ini berasal dari diri-diri kalian, dari kalangan kalian sendiri. Kalian kenal nasabnya, kalian kenal kejujurannya, kalian kenal amanahnya. Rasul ini bukan orang yang tiba-tiba muncul, tiba-tiba ada, tiba-tiba hadir di tengah kalian. Rasul yang kalian kenal. Ini sifatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Rasul ini sangat berat hati kalau umatnya menentang. Kalau umat ini menentang, tidak ikut kepada Nabi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sedih dengannya. Beliau merasa berat terhadap hal tersebut. Ini karena besarnya kasih sayang dan rahmat Nabi, dan semangat beliau agar orang-orang itu dapat hidayah. Karena itu, kalau ada yang berpaling, ada yang kafir, beliau sedih akan hal tersebut. Sampai pernah ditegur Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam Al-Qur’an di Surah Fatir: janganlah diri engkau, Nabi Muhammad, pergi meninggalkan mereka penuh dengan kesedihan. Hidayah itu di tangan Allah. Allah memberi hidayah kepada siapa yang Allah kehendaki, Allah menyesatkan siapa yang Allah kehendaki.
Tapi, subhanallah, dari kasih sayang Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan semangat beliau untuk kebaikan umatnya, beliau berat kalau ada yang menentang. Ini sifat seorang Rasul. Karena itu, seorang mu’min harus memiliki sifat ini. Kalau ada yang keluar dari jalan yang lurus, dia kasian terhadap orang tersebut. Ada sebagian manusia, kadang kalau saudaranya jatuh dalam kekeliruan, ketergelinciran, malah dia senang, gembira. “Wah, ini dia salah. Wah, ini kesempatan, kita sikat dia dari sini.” Ini bukan akhlak yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Kalau ada saudara kita yang tergelincir, kita bantu dia. Untuk berada di atas ketaatan. Kita ingatkan akan kesalahannya, bukan dibiarkan kesalahannya. Kalau kesalahannya dibiarkan, itu namanya orang mau jatuh di jurang, biarkan saja dia jatuh di jurang. Itu namanya membiarkan kebinasaan pada saudara. Tapi kita tarik tangannya, kita ingatkan kesalahannya, diperbaiki dengan hal yang menyebabkan dia bisa rujuk, dia bisa kembali. Orang yang mengingatkan itu, menampakkan bahwa dia ini betul-betul mencintai hidayah untuk saudaranya. Begitu akhlaknya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan ini banyak dari kita kurang di dalam hal ini. Ini dari akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang sangat besar.
Sifat beliau yang berikutnya, beliau ini sangat bersemangat atas kalian. Sangat semangat kalian itu mendapat hidayah. Sangat bersemangat kalian itu lepas dari api neraka. Kalau kita baca di sirah beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, disebutkan di dalam tafsir Surah Al-A’raf, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus utusan kepada seorang pendeta supaya masuk Islam. Maka orang ini berkata, “Apa Robb yang kamu ibadah itu? Apakah dia terbuat dari emas? Terbuat dari perak? Dari tembaga?” Bukannya menerima, malah dia mengolok-olok. Maka kembali utusan kepada Nabi, kembali utusan kepada Nabi melaporkan jawaban orang tersebut. Nabi berkata, “Kamu kembali lagi kepadanya.” Kembali lagi, diajak lagi. Dia tetap ulangi ucapannya. Kembali si utusan kepada Nabi. Nabi berkata kepada si utusan, “Kamu kembali lagi kepadanya.” Terus kembali, jawabannya sama. Maka di situlah Allah Subhanahu wa Ta’ala kirim petir, membakar orang tersebut.
Tapi perhatikan, dari semangat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, hidayah terhadap manusia. Pamannya, terus dia tawari masuk Islam sampai di akhir hayatnya. Anak muda Yahudi dikunjungi oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara dia sakit. Diajak bersyahadat La Ilaha Illallah. Ketika anak muda ini diajak masuk Islam, anak muda ini menoleh kepada ayahnya Yahudi. Ayahnya, karena melihat akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam datang mengunjungi anaknya, ayahnya berkata, “Ati’ Abal Qasim.” Taatilah Abul Qasim, maksudnya Nabi Muhammad. Taati, kau masuk Islam. Maka anak muda ini pun bersyahadat, La Ilaha Illallah, Muhammad Rasulullah. Maka Nabi keluar, menangis karena anak muda itu, seraya berkata, “Alhamdulillahilladzi angkadahu minan nar.” Segala puji hanya untuk Allah yang membebaskan dia dari api neraka.
Ini agama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bagaimana semangatnya beliau agar manusia mendapat hidayah, dan bagaimana menyelamatkan manusia dari apa? Dari api neraka. Itu para da’i seperti itu. Dia cinta hidayah untuk orang. Dia cinta manusia itu selamat dari api neraka. Bukan dia cari ridhanya manusia, senangnya manusia. “Oh, ini terlalu banyak yang ikut kepada saya, mendengar ucapan saya.” Kalau bahasa orang sekarang, “Terlalu banyak yang nge-fans ke saya.” Jadi kalau fans-nya sudah banyak, “Wah, ini kalau saya bicara begini, khawatir nih fans di Facebook ini pada kabur semua. Ya, followers saya ini berkurang satu persatu. Takut.” Akhirnya dia ikuti apa saja yang dianggap ridha oleh manusia, walaupun menyelisih hadits Rasulullah, menyelisih ayat Al-Qur’an. Dan ini ciri bahwa seorang itu tidak mengikuti jejak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ini di antara ciri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: sangat bersemangat atas kalian dan terhadap kaum mu’minin. Beliau ra’uf terhadap orang yang beriman. Beliau ini adalah seorang yang ra’uf, yang sangat belas kasih. Ra’fah ini dari kata sayang, maknanya lebih lembut lagi. Rahim dan sangat merahmati mereka. Ini dua sifat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Ar-Ra’fah, Ar-Rahmah. Beliau punya kelembutan, belas kasih kepada umatnya sangat besar sekali. Karena itu beliau sangat serius kebaikan untuk mereka. Ditunjukkan kepada mereka segala kebaikan. Bukan kebaikan saja yang ditunjukkan, segala kejelekan juga diingatkan. Dan terhadap kaum mu’minin beliau sangat merahmati. Ini makna Ar-Rahim. Penuh dengan rahmat kepada umatnya. Itulah sifat Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Empat Makna Pokok Syahadat Muhammad Rasulullah
Kemudian penulis Rahimahullah jelaskan tentang makna syahadat “Anna Muhammadan Rasulullah”. Ini pembahasan yang keenam. Makna syahadat: Sungguh, Muhammad adalah Rasul Allah. Kata beliau, makna Muhammad adalah Rasulullah. Disebutkan ada empat makna pokok.
1. Menaati Perintahnya
Yang pertama, ta’atuhu fi ma’amar. Taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada apa yang beliau perintahkan. Menaati segala perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Karena itu telah datang ayat-ayat perintah taat kepada Nabi itu di dalam Al-Qur’an. Kata Imam Ahmad, lebih dari 30 tempat Al-Qur’an perintah taat kepada Rasul. Bahkan di Surah An-Nisa, Allah berfirman, “Siapa yang taat kepada Rasul, dia telah taat kepada Allah.” Dijadikan ketaatan kepada Rasulnya sebagai ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Membenarkan Kabarannya
Yang kedua, wa tashdiquhu fi ma akhbara. Membenarkan apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa yang dikabarkan oleh Nabi? Kita benarkan. Ini konsekuensi dari syahadat. Kalau Nabi mengabarkan sesuatu, kita mengabarkannya. Kita mempercayainya, menerimanya. Karena Allah telah berfirman, “Nabi itu tidak pernah berucap dari hawa nafsunya. Yang beliau ucapkan adalah wahyu, yang diwahyukan kepada beliau.” Karena itu apa yang dikabarkan oleh Nabi itu adalah wahyu. Apalagi perkara ghaib, tidak mungkin Nabi berucap sesuatu dari dirinya sendiri. Maka apa saja yang dikabarkan oleh Nabi, kita bisa memahaminya, tidak bisa memahaminya, kita lihat atau tidak kita lihat, yang ghaib maupun yang nyata, yang masuk di akal kita maupun yang tidak masuk di akal kita, kita wajib untuk menerimanya, untuk mempercayainya, untuk mempercayainya.
3. Menjauhi Larangannya
Kemudian yang ketiga, dan menjauhi segala yang beliau larang dan beliau cegah. Segala yang beliau larang dan beliau cegah, apa saja yang dilarang oleh Nabi? Dicegah, tidak boleh kita mendekatinya. Allah berfirman, “Apa yang dibawa oleh Rasul, terimalah dia. Dan apa yang dilarang oleh Rasul, tinggalkanlah dia.” Apa yang dibawa oleh Nabi dan diterima, apa yang dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka kita wajib untuk meninggalkannya. Hendaknya kita berhenti darinya, jangan sampai mendekatinya. Hendaknya berhati-hati. Orang yang menyelisih perintah Nabi, dia akan ditimpa oleh sebuah fitnah atau ditimpa oleh siksaan yang sangat pedih.
Dan di dalam Shahih Al-Bukhari, dari hadits Abu Khairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى
Artinya: “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Ketika ditanya kepada beliau, siapa yang enggan ini? Kata beliau, “Siapa yang taat kepada aku, dia telah masuk surga. Dan siapa yang bermaksiat kepada aku, artinya dia telah enggan untuk masuk ke dalam surga.”
Dan juga dalam hadits Abu Hurairah, riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ ۖ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Artinya: “Apabila aku melarang kalian dari sesuatu, tinggalkanlah sesuatu itu. Apabila aku memerintahkan kalian dengan sesuatu, lakukanlah perintah itu sesuai dengan kemampuan kalian.”
4. Tidak boleh beribadah kepada Allah, kecuali Hanya Sesuai Syariat Allah
Kemudian yang keempat, dan tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali apa yang Allah syariatkan. Ini kadang ada yang salah terjemah di sini. Tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang disyariatkan oleh Rasul. Tidak, syariat itu datangnya dari Allah. Kalau Rasul itu yang dibahasakan, beliau mewajibkan, mensyariatkan, mengajarkan, ada pun syariat, syariat datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu penggunaan kata syara’ di dalam Al-Qur’an dan Hadits, dan di istilah-istilah para ulama. Tidak ada penggunaan syara’, syari’, syara’ itu kembali kepada Nabi, tapi kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ini yang keempat: tidak boleh seorang itu beribadah kecuali dibangun di atas apa yang Allah syariatkan. Apa yang Allah syariatkan, itulah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi konsekuensi dari syahadat. Tidak boleh seorang itu dalam beribadah, dia buat apa saja sesuai dengan keinginannya. Dia gunakan dari adat istiadat, kebiasaan, dia mengkias-kiasan hal-hal dalam ibadah. Itu tidak diterima dalam ibadah. Ibadah itu diterima di dalamnya dari perkara kias, dari mengadakan ibadah yang tidak dicontohkan oleh Allah dan tidak diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, itu adalah hal yang tidak diperbolehkan.
Maka ini dari kandungan syahadat Muhammad Rasulullah. Empat hal ini, empat makna pokok ya dari syahadat La Ilaha Illallah. Dan tentunya juga di dalam masalah kecintaan ya. Seorang tidak boleh cintanya itu melebihi kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, orang yang mendapatkan lezatnya iman, Ayakuna Allahu wa Rasuluhu ahabba ilaihi mimma siwahuma. Orang yang Allah dan Rasul-Nya yang paling dia cintai, melebihi keduanya. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya: “Tidaklah salah seorang di antara kalian itu beriman, sampai dia menjadikan saya yang paling dia cintai, melebihi anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.”
Maka ini makna syahadat Muhammad Rasulullah. Dan ini pembahasan syahadat dari tema-tema yang bagus, yang selalu bagus diingatkan di tengah manusia pada masa sekarang ini. Masa banyak orang yang bikin perkara-perkara baru, melestarikan dari bid’ah-bid’ah. Itu paling bagus untuk mengobati dan memperbaikinya, kalau kita bahas tema apa itu ibadah, apa itu kandungan syahadat La Ilaha Illallah, kandungan syahadat Muhammad Rasulullah. Kalau diukur bagaimana ibadah itu diterangkan dengan kaidah-kaidah syariat, maka ini dari tema yang sangat berharga sekali untuk menjelaskan bagaimana hakikat dari penghambaan, hakikat dari agama Islam ini.
Dalil Salat dan Zakat serta Tafsir Tauhid
Berikutnya kita di pembahasan yang ke-7. Dalil solat wa zakah wa tafsiru tauhid. Dalil salat dan zakat serta tafsir dari Tauhid. Berkata penulis Rahimahullah Ta’ala, dan tafsir tauhid adalah firman Allah Ta’ala:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)
Di sini penulis Rahimahullah membawakan satu ayat. Beliau pilih dengannya dalil untuk rukun yang kedua dan ketiga, dalil bahwa sholat adalah rukun Islam, zakat adalah rukun Islam. Karena dalil ini juga terdapat penjelasan tentang tauhid, maka kembali beliau ingatkan bahwa di dalam ayat juga ada tafsir tentang Tauhid. Ada tafsir tentang Tauhid, karena tafsir tentang Tauhid di mana dikatakan dalam ayat: “Tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah, Mukhlisina lahuddin, dan mengikhlaskan agama. Segala ibadah, segala ketaatan hanya untuk Allah. Di sini perintah untuk memberikan seluruh ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini tafsir dari Tauhid.
Demikian pula pada kata Hunafa’, jamak dari Hanif. Hanif itu dari kata Al-Hanif, artinya Al-Maid, yang condong. Kenapa dikatakan condong? Karena dia condong kepada Tauhid, meninggalkan kesyirikan. Itulah tafsir dari Tauhid. Dan ini semuanya dikatakan sebagai Dinul Qayyimah, agama yang lurus. Inilah agama yang lurus.
Pada awal ayat itu adalah tafsir dari Tauhid. Kemudian diterangkan Wa Yuqimus Salata. Yang diperintah adalah mereka menegakkan salat. Bahasanya di sini menegakkan solat, menegakkan solat, bukan melaksanakan solat atau menunaikan solat, tapi menegakkannya. Menegakkan solat artinya dia lakukan solat sebagaimana yang diperintah, sesuai dengan syarat-syaratnya, rukun-rukun, kewajiban-kewajiban, dan sunnah-sunnahnya. Misalnya dari syarat solat, dilakukan pada waktunya. Dari syarat solat, dilakukan dalam keadaan bertaharah. Maka dikerjakan pada ketentuannya, pada syarat yang disyaratkan padanya. Sebagaimana seorang itu dia mengambil dari hal-hal yang diperintah, laki-laki dia sholat secara berjamaah. Kemudian dia melakukan sholat dengan khusyuk. Di dalam sholat ada rukun-rukunnya, di dalam sholat itu dia tunaikan semua yang merupakan rukun sholat. Demikian pula kewajiban-kewajibannya, dia kerjakan. Dan dia sempurnakan solat itu dengan melaksanakan sunnah-sunnahnya, apa yang dianjurkan di dalam solat tersebut. Inilah yang dikatakan dengan Iqamatus Solat, menegakkan solat.
Adapun dalil tentang zakat, pada kelanjutan ayat yang dikatakan: “Dan mereka mengeluarkan zakat.” Mengeluarkan zakatnya. Dan zakat yang dimaksud, zakat yang dimaksud adalah zakat pada apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah wajibkan. Dan kewajiban zakat itu pada empat hal:
- Harta, yaitu pada emas dan perak, dan apa yang semakna dengannya.
- Hasil ternak atau pada hewan ternak. Dan hewan ternak yang dimaksud ada tiga: unta, sapi, dan kambing. Kerbau semisal dengan sapi.
- Hasil bumi.
- Perniagaan.
Dan ditambah di dalam kewajiban zakat pada zakat fitri. Ini zakat yang dipungut di akhir Ramadan, karena nikmat seorang telah menyempurnakan puasa di bulan Ramadan dan mendapati hari Eid. Seorang mu’min dia menegakkan, mengeluarkan dari zakat yang diwajibkan terhadapnya.
Dikatakan di akhir ayat: “Dan itulah agama yang lurus.” Jadi agama yang lurus di sini ada tiga disebutkan: ibadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agamanya untuknya, dalam keadaan Hunafa’, kemudian menegakkan solat, dan mengeluarkan zakat. Ini semuanya dikatakan sebagai agama yang lurus. Dan ini juga menunjukkan bahwa agama itu bermakna iman sama. Iman dan agama itu mencakup keyakinan, ucapan, dan perbuatan.
Selesai dalil tentang solat dan zakat. Dan kewajibannya bahwa dia adalah rukun Islam. Terkait dengan keutamannya, hukum-hukum yang terdapat di dalamnya, keagungannya. Ini adalah pembahasan yang diuraikan oleh para ulama di dalam banyak ilmu, di banyak bidang ilmu agama. Apakah di dalam pembahasan hadits Nabi ataupun di dalam pembahasan fikih, ataupun di dalam pembahasan-pembahasan yang lainnya.
Dalil Puasa Ramadan
Berikutnya pembahasan tentang dalil puasa. Dalil siyam. Kata penulis Rahimahullah Ta’ala, dalil tentang puasa adalah firman Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Dipanggil dengan panggilan apa? Keimanan. Tunjukkan bahwa ini adalah bagian dari keimanan. Kutiba alaikumussiyam. Telah diwajibkan atas kalian berpuasa. Dimulai dengan penegasan kewajiban. Kama kutiba ala ladzina minqabalikum. Sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian. Ini namanya tasliyah, hiburan. Jadi yang pertama dipanggil dulu dengan panggilan keimanan, setelah itu ditegaskan kewajiban kutiba alaikumus siyam. Sebab seorang mu’min memang seperti itu dasarnya, Sami’na wa Ata’na. Dia hanya tahu ada perintah, dia dengar dan dia taati. Tersorang mu’min, diwajibkan atas kalian berpuasa, langsung dia terima.
Tapi dari keindahan agama ini, diberi kemudahan. Karena itu diberi hiburan: “Sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian.” Ini kan hiburan, namanya. Kalian umat Islam diwajibkan berpuasa. Ini kewajiban puasa, bukan terhadap kalian saja. Umat-umat sebelum kalian juga sudah ada kewajiban apa? Kewajiban berpuasa. Ini kan meringankan. Dan lebih diringankan lagi, ditutup dengan disebutkan keutamaan: La’allakum tatakun. Supaya kalian bertakwa. Penyebutan keutamannya di belakang. Sebab keutamaan itu adalah hal yang memotivasi dia untuk berjalan. Itu keutamaan. Dasarnya dia Sami’na wa Ta’ana. Memang sudah bergerak dengan hal itu. Jadi keutamaan lebih mendorongnya. Lebih mendorongnya untuk lebih mendorong dan membimbingnya untuk berjalan. Ya.
Dan ini di dalam banyak pembahasan-pembahasan syariat seperti itu. Dimulai dengan penegasan kewajiban, baru setelah itu disebutkan keutamaan. Dan ini berbeda dengan sebagian orang yang sibuk dengan keutamaan-keutamaan. Semuanya seakan-akan bermuara dari Fadailul Amal. Karena itu kesibukannya adalah urusan Fadailul Amal. Mau hadits palsu, hadits lemah yang bentuk fadhal amal, dimakan semuanya. Nanti terkait dengan apa yang diwajibkan, dia ada yang mengerti mana yang diwajibkan, mana yang dianjurkan, mana yang sifatnya mubah, mana yang sifatnya makruh, mana yang sifatnya haram, dia tidak pahami karena dia tidak mengenal fikih di dalam hal tersebut.
Baik, jadi ini dalil tentang puasa. Dan puasa yang dimaksud di sini adalah puasa Ramadan.
Dalil Haji dan Urutan Rukun Islam
Kemudian yang terakhir, dalil haji. Kata penulis Rahimahullah Ta’ala, dalil haji adalah firman Allah Ta’ala:
وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَـٰلَمِينَ
mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali ‘Imran: 97)
Dalil tentang rukun Islam yang kelima yaitu tentang haji. Di sini penulis, beliau urutkan haji di rukun Islam yang kelima. Dan ini berdasarkan urutan di dalam hadits Umar Ibn Al-Khattab yang akan disebutkan oleh penulis. Dan para ulama berbeda pendapat tentang rukun Islam yang keempat dan kelima. Puasa dahulu baru haji, atau haji dahulu baru puasa? Ini ada silang pendapat di kalangan ulama. Kenapa ada silang pendapat? Karena ada riwayat seperti hadits Umar bin Al-Khattab yang akan datang, puasa dahulu kemudian haji. Dan ada riwayat haji dahulu baru puasa, seperti dalam hadits Ibn Umar, riwayat Bukhari dan Muslim.
Kalau dilihat dari sisi riwayat, hadits-hadits yang mengatakan haji dahulu kemudian puasa itu lebih sahih dan lebih banyak. Karena itu Imam Al-Bukhari Rahimahullah menguatkan ini. Beliau menguatkan haji dahulu, kemudian apa? Kemudian puasa. Itu yang tampak dari Al-Bukhari. Karena itu di dalam susunan kitab Shahih Al-Bukhari, diketemukan pembahasan haji dahulu. Adapun pembahasan puasa datang setelah pembahasan haji. Adapun Imam Muslim Rahimahullah, beliau sebaliknya. Beliau termasuk sama dengan penulis di sini, puasa dahulu kemudian haji.
Dan ini masalah tidak begitu rumit, bukan hal yang harus dikuatkan. Mau mengatakan rukun yang keempat puasa, yang kelima haji, atau sebaliknya haji kemudian puasa, semuanya sama saja. Sebab dua-duanya tetap terhitung sebagai Rukun Islam. Tapi kalau ingin menguatkan, memang pendapat yang mengatakan haji kemudian puasa itu lebih dekat. Alasannya karena hadits-hadits yang menjelaskan tentang haji kemudian puasa itu lebih banyak dan lebih sahih.
Kemudian yang kedua dari sisi mana? Di dalam pelaksanaan ibadah haji itu berkumpul padanya ibadah-ibadah agung yang tidak bertemu di tempat-tempat lainnya.
Kesimpulan Lima Rukun Islam
Jadi ini sudah lima rukun dari rukun Islam. Dan ini tingkatan pertama dari tingkat keislaman. Jadi kalau begitu kita simpulkan bahwa rukun Islam itu lima rukun Islam.
- Yang pertama adalah syahadat La Ilaha Illallah dan Muhammadan Rasulullah. Ini syahadat. Penegasan tentang Tauhid hanya untuk Allah, dan penegasan bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Kemudian yang kedua, kewajiban sholat. Sholat lima waktu yang dilakukan dalam sehari dan semalam.
- Kemudian yang ketiga, zakat. Zakat pada harta. Sudah diterangkan harta apa saja yang diwajibkan padanya zakat.
- Kemudian yang keempat, puasa. Maksudnya puasa Ramadan.
- Dan yang kelima adalah haji. Haji ke Baitullah, Haji ke Ka’bah. Ini haji sekali saja, kewajibannya dalam seumur hidup.
Maka ini kadar kewajiban pada lima rukun ini.
Wallahu Ta’ala ‘Alam
Referensi:
- Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
- Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah