Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.
Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.
Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid, Penulis: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah
Bab 2: Siapa saja yang Menahqiq Tauhid Pasti Masuk Surga Tanpa Hisab
Meneladani Nabi Ibrahim dalam Menahqiq Tauhid
Masih terkait dengan bab sebelumnya yaitu mengenai keutamaan Tauhid, akan tetapi pada bab ini lebih dikhususkan karena:
- Keutamaannya, yaitu masuk surga tanpa hisab
- Pentingnya memahami menahqiq tauhid (sempurnanya dalam bertauhid).
- Tingkatan tauhid bukan satu tingkatan saja, melainkan berjenjang. Semakin sempurna dalam menahqiq tauhid maka akan semakin tinggi derajat dan jenjangnya.
Firman Allah Ta’lla
إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةًۭ قَانِتًۭا لِّلَّهِ حَنِيفًۭا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya Ibrāhīm adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (An-Nahl 120)
وَٱلَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ
“Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apa pun),” (Al-Mu’minun: 59)
Hubungan antara Bab dan Kitab Tauhid
Sesungguhnya tatkala penulis telah menyebutkan makna dan keutamaan tauhid, sudah sepantasnya menyebutkan penjelasan tentang pelaksanaan tauhid sebab keutamaannya yang sempurna tidak akan tercapai, kecuali dengan melaksanakan yang sempurna.
Tahqiq adalah Pelaksanaan dan realisasi dari tauhid.
Keutamaan bisa diraih dengan sempurna apabila kita memahami bab yang kedua yaitu bagaiman mentahqiq tauhid dengan benar.
Makna Mentahqiq Tauhid: membersihkan dan memurnikan dari kotoran-kotoran syirik, bid’ah dan maksiat. Apabila mentahqiq Tauhid maka masuk surga tanpa hisab.
Secara bahasa Yaitu melaksanakannya dan merealisasikannya dengan tepat dan benar.
Tahqiq secara syariat ada di buku
Ada tiga pokok:
- Tidak boleh berbuat kesyirikan dalam bentuk apapun
- Tidak boleh ada bid’ah-bid’ah
- Tidak boleh ada maksiat
Semakin sempurna dalam hal ini maka semakin tinggi derajatnya dalam tauhid.
Dengan bahasa lain: tahqiq tauhid adalah mendatangkan tauhid dari segala sudutnya. Dari pokok dan dasar tauhid atau dari kesempurnannya. Ada yang wajib dan ada yang mustahab.
Pertama: Keabsahan tauhid: Pokok dan dasar tauhid: Tidak boleh ada syirik akbar, karena batal tauhidnya.
Kedua: Kesempurnaan Tauhid
- Kesempurnaan yang wajib: dengan menghindari syirik kecil, menghindari bid’ah bid’ah, dan meninggalkan dosa dan maksiat.
- Kesempurnaan yang musatab (yang disunahkan atau dianjurkan): merupakan pelengkap seperti: selalu menghadap kepada Allah, merasa tenang kepada Allah, selalu rindu kepada Allah dan berpaling dari selain Allah.
Apabila sudah melaksanan pokok dan dasar tauhid serta kesempurnaan yang wajib maka sudah disebut mentahqiq tauhid. Akan lebih tinggi lagi derajatnya di kesempurnaan yang mustahab, maka tauhid ini berjenjang.
Dalam Surat Fatir Ayat 32:

Ada tiga tingkatan:
- Mendhalimi dirinya: Yaitu dari kesyirikan tapi tidak selamat dari dosa selain kesyirikan
- Pertengahan: Selamat dari kesyirikan dan lakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan. Akan tetapi jatuh dalam hal-hal yang makruh, meninggalkan hal yang disunnahkan
- Tingkat yang paling tinggi, bersegera berbuat kebaikan: Selamat dari kesyirikan, bid’ah, dosa-dosa. Melakukan segala kewajiban dan meninggalkan yang diharamkan. Dan juga melakukan yang sunnah-sunnah dan meninggalkan yang makruh. Bahkan sebagian yang mubah juga ditinggalkan karena khawatir menjatuhkan pada hal yang makruh. Contohnya makan terlalu banyak.
Tingkat ke -3 ini yang disebut mentahqiq Tauhid.
Buku ini pada dasarnya semua babnya untuk mentahqiq tauhid tapi dengan derajat-derajat kesempurnaan yang bermacam-macam. seperti: syarat tauhid, kewajiban tauhid, kesempurnaan tauhid. Dan kebalikannya yang bisa membatalkan tauhid, mengurangi kesempurnaan wajib atau yang mengurangi kesempurnaan yang mustahab.
Dalam tauhid agama para nabi dan rasul sama. Yang berbeda dalam syariatnya saja.
Tiada perhitungan maksudnya langsung masuk surga.
Nabi ibrahim dikatakan umat padahal satu orang. Karena berkumpul pada diri beliau sifat-sifat yang diperlukan untuk satu umat. dan beliau panutan untuk umat
Kaum musyrikin tidak ada yang mengingkari adanya Allah. Tapi mereka beribadah kepada Allah dan beribadah juga kepada selain Allah.
Makna Ayat Pertama Secara Global
Bahwa Allah ﷻ menyifati Ibrahim, khalil-Nya, dengan empat sifat:
Sifat pertama, bahwa Ibrahim adalah teladan dalam segala kebagikan untuk menyempurnakan derajat kesabaran dan keyakinan yang, dengan keduanya, akan teraih kepemimpimam dalam agama.
Sifat kedua, bahwa Ibrahim adalah seorang yang khusyu’ taat dan terus menerus beribadah kepada Allah ﷻ.
Sifat ketiga, bahwa Ibrahim berpaling dari kesyirikan dan menghadapkan diri hanya kepada Allah ﷻ.
Sifat keempat, jauhnya Ibrahim dari kesyirikan dan berlepas dirinya ia dari orang-orang musyrikin.
Hubungan antara Ayat Pertama dan Bab
Allah menyifati khalil-Nya dengan sidat-sifat tersebut yang merupakan puncak dari perealisasian tauhid dan kita diperintahkan untuk meneladani Ibrahim dalam firman-Nya.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ فِىٓ إِبْرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrāhīm dan orang-orang yang bersama dengan dia;” (Al-Mumtahanah: 4)
Hubungan antara Ayat Kedua dan Bab
Sesungguhnya Allah telah menyifati orang-orang yang beriman yang lebih dahulu masuk ke dalam surga dengan beberapa sifat, bahwa yang paling agung adalah pujuan kepada mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan kesyirikan apapun, baik yang samar/tersembunyi maupun kesyirikan yang jelas. Siapa saja yang keadaannya seperti itu, sungguh ia telah mencapai puncak perealisasiaan tauhid, dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab dan tanpa adzab.
Faedah Kedua Ayat
- Keutamaan bapak kita, Ibrahim ‘alaihis shalatu wa salam
- Meneladani Nabi Ibrahim pada sifat-sifat agung tersebut.
- Penjelasan tentang sifat-sifat yang dengannyalah realisasi tauhid dapat terpenuhi.
- Kewajiban menjauhi kesyirikan dan orang-orang musyrikin serta berlepas diri dari orang-orang musyrikin tersebut,
- Seseorang disifati sebagai orang beriman karena merealisasikan tauhid.
Wallahu ‘Alam
Sumber:
Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.
