Tingkatan Kedua: Iman

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil

Tingkatan Kedua: Iman

Definisi dan Makna Iman

Tingkatan kedua adalah iman. Ini beliau mulai masuk di pembahasan martabah yang kedua. Tingkatan yang kedua dari tingkatan-tingkatan agama. Tingkatan agama ada tiga. Yang pertama Islam, yang kedua Iman, yang ketiga Ihsan.

Iman secara bahasa adalah al-ikrar, penetapan. Pengakuan dengan menerimanya. Itu yang disebut ikrar. Ikrar itu kadar lebih tinggi daripada at-tasdik. Tasdik itu kan penerimaan, dia benarkan. Kalau ikrar itu bukan cuma dia benarkan saja, bukan cuma dia percaya, tapi dia benarkan dan dia terima, dia akui.

Secara istilah, Iman itu ada dua makna. Ada makna umum dan ada makna khusus. Dalam makna umumnya, iman itu sama dengan Islam. Itu agama yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kalau dibahasakan, iman itu dengan istilah para as-salaf, dia adalah ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati, dan amalan dengan anggota badan. Itulah yang disebut dengan iman. Jadi iman di atas makna ini semakna dengan Islam. Jadi kita sudah bisa lihat, di lingkaran besarnya Islam, pada lingkaran besarnya itu juga iman. Dan akan datang juga ihsan pada lingkaran besarnya juga masuk ke situ. Ada makna umum yang semuanya bertemu di situ. Karena itu semuanya masuk di dalam kategori sebagai agama.

Perlu dibedakan antara keterkaitan Islam dan Iman. Kata para ulama, Islam dan Iman itu ida jitama’a iftaraka wa idaftara’a wa idaftara’a ijitama’a. Islam dan Iman apabila ijitama’a disebut bersamaan, maka iftaraka, maknanya berbeda. Maknanya berbeda. Karena itu Nabi ketika disebut Islam disebut iman di hadits Jibril, Nabi membedakan maknanya. Karena disebutkan bersamaan, iman beliau jelaskan dengan rukun Islam, beliau terangkan dengan rukun Islam. Iman beliau terangkan dengan rukun iman. Tapi kalau disebutkan bersendirian, iman dan Islam, maknanya sama. Ini kaedah umumnya di dalam memahami nas-nas yang terkait dengan Islam dan iman.

Ada pun iman dengan makna khusus. Inilah keyakinan-keyakinan batin disertai dengan amalan zahir yang membenarkan batinnya. Jadi rukun iman yang enam. Tapi harus ada amalan dhahir yang membenarkan apa yang ada di dalam batinnya. Jangan dia berkata saya beriman. Misalnya, tapi dia tidak pernah bersyahadat. La ilahilallah, Muhammadun Rasulullah. Dia berkata beriman. Dia sudah hidup sekian lama. Tidak pernah dia beramal dengan amalan kaum muslimin. Tidak pernah dia sholat. Tidak pernah dia menunjukkan ibadahnya kepada Allah. Tidak pula ada bentuk pengingkaran terhadap kesyirikan dan ahlu syirk. Maka ini namanya dia tidak ada bukti yang menunjukkan pengakuan apa yang ada di dalam hatinya. Apa yang ada di dalam batinnya.

Cabang-Cabang Keimanan (Syu’abul Iman)

Disini ada lima pembahasan. Yang pertama ta’riful iman, definisi iman. Definisi iman sudah jelaskan. Yang kedua, syu’abul iman, cabang-cabang keimanan. Penulis langsung masuk menjelaskan bahwa iman itu ada cabang-cabangnya. Dan disini penulis terkait dengan cabang-cabang keimanan beliau memilih 73 sampai 79. Ada dua riwayat disini. Ada riwayat yang mengatakan 70. Itu riwayat muslim.

Penulis rahimahullah beliau milih 73 sebab ini ada kadar tambahan ilmu di dalamnya. Jadi yang di dalamnya ada tambahan itu namanya pengetahuan. Orang yang ada tambahan pengetahuan itu hujah terhadap orang yang tidak mengetahuinya. Hanya saja sebagian ulama memandang bahwa dari sisi riwayat, riwayat al-Bukhari itu yang paling tinggi kedudukannya. Sedangkan di al-Bukhari itu disebutkan dengan lafad 63-69. Dan ini bukan masalah karena penyebutan cabang-cabang keimanan itu sudah dibahas oleh para ulama. Ditulis di dalamnya buku-buku. Dilacak begitu dari hadit-hadit Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dari ayat Al-Quran dan hadit-hadit Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa-apa yang merupakan bentuk dari keimanan. Maka dirinci keimanan-keimanan tersebut.

Ada kitab Al-Bihaki. Namanya Syu’abul Iman. Ada sekitar 8 jilid. Kemudian ada yang meringkasnya. Syu’abul Iman diringkas lagi. Dan juga Di antara ulama kita di masa ini Ada Syekh Abdurrahman bin Nasir As-Sidi. Beliau Punya buku namanya Syajaratul Iman. Pokok Keimanan. Beliau sebutkan dari cabang-cabang keimanan tersebut.

Yang jelas pembahasan tentang cabang keimanan ini pembahasan yang berharga. Karena seorang bisa masuk di dalam rincian-rincian keimanan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika beliau mengatakan bahwa iman itu banyak cabang, lebih antara 73 sampai 79, teriwati yang lain 63 sampai 69, maka Nabi terangkan tiga contoh. Ini lain disebut oleh penulis disini. Paling tingginya adalah ucapan, La ilaha illallah. Paling bawahnya adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan. Jadi beri tiga contoh oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ada ucapan la ilaha illallah. Ini qoul. Tadi kita definisikan iman bahwa iman itu ucapan. Ada bentuknya menyingkirkan gangguan dari jalan. Menyingkirkan gangguan dari jalan, ini merupakan amalan. Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan. Rasa malu termasuk keyakinan. Terkait dengan hati. Karena rasa malu itu tempatnya di hati. Kelihatan pengaruhnya di badan. Jadi kalau orang malu itu kadang terlihat dari Raut wajahnya. Terlihat dari gerak geriknya. Itu pengaruh rasa malu yang ada di dalam hati.

Jadi Nabi beri tiga contoh Yang mewakili iman itu seluruhnya. Jadi ada yang berupa ucapan. Ada yang berupa amalan. Dan ada yang berupa Keyakinan. Inilah keimanan. Yang paling tingginya Ucapan La ilaha illallah. Dan ini menunjukkan keutamaan Tauhid Dan tingginya, serta agungnya Tauhid itu. Sekaligus menunjukkan keutamaan La ilaha illallah.

Paling bawahnya adalah Menyingkirkan gangguan Dari jalan. Seorang mu’min tidak mengganggu mu’min yang lainnya. Kalau ada gangguan di jalan. Kerikil. Duri. Dia singkirkan. Itu menunjukkan keimanan pada dirinya. Sebab itu bagian dari keimanan. Apalagi kalau dia singkirkan Gangguan dari kaum mu’minin, hal yang bisa membahayakan agamanya. Jadi ada orang yang menyesatkan, ada orang yang memalingkan umat dari jalan yang lurus. Kemudian dia terangkan kesesatan pemikiran itu. Dia hindarkan umat dari penyimpangan. Maka ini lebih tinggi lagi kedudukannya. Kalau menyingkirkan gangguan dari jalan saja dapat pahala, apalagi dia menyingkirkan gangguan untuk umat yang membahayakan terhadap Agamanya. Dan disitulah jasanya para ulama ketika mereka menjelaskan kebatilan, mengingatkan bahaya bidah dan bahaya kesesatan. Karena itu, orang yang membantah ahlul bidah, itu disebut sebagai mujahid. Orang yang berjihad, di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan lebih afdal daripada jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dan rasa malu adalah bagian dari keimanan, menunjukkan pentingnya rasa malu ini, diberi contoh oleh Nabi sebagai salah satu cabang dari cabang keimanan.

Iman itu seperti pokok. Memang digambarkan seperti itu di dalam Al-Quran. Tidak akan kau melihat bagaimana Allah membuat perumpamaan. Kalimat yang baik itu seperti pohon yang baik pula. Asluha thabit, akarnya itu tetap kuat ke dalam tanah. Batangnya, pokoknya menjulang ke langit. Itu keimanan. Jadi keimanannya kalau sudah benar, akarnya ini pasti akan kuat pohonnya. Sebab pohon itu dilihat pada akarnya ya. Dan akar ini itulah akidah dan keyakinan seseorang di situ. Sebab ini yang paling pokoknya. Kalau asalnya kuat besar, maka akan tumbuh pohon yang besar pula. Yang kuat. Dia bisa terus meninggi. Pohon itu, pohon keimanan itu semakin tinggi maka semakin banyak dari cabang-cabangnya, semakin banyak dahan-dahannya, dan akan semakin banyak hasil dan buahnya, semakin rindang dipakai untuk berteduh, semakin banyak manfaatnya untuk manusia.

Karena itu datang dalam sebagian riwayat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memperumpamakan seorang mu’min itu seperti pohon kurma. Seperti pohon kurma. Karena pohon kurma ini kalau diperiksa, Semua dari pohon kurma ini Bisa dimanfaatkan. Semuanya bagus. Itulah seorang mu’min. Dia pada segala hal bermanfaat. Di kondisi apapun. Dia bisa menjadi keberkahan dan kebaikan. Dan pohon kurma ini Semakin tua Semakin tinggi maka dia semakin banyak buahnya, semakin banyak manfaatnya. Itulah seorang mu’min juga. Semakin umurnya bertambah, semakin bagus amalannya.

Jadi ini perumpamaan cabang-cabang keimanan. Membahas tentang cabang-cabang keimanan ini ini pembahasan yang sangat indah. Sebab di dalamnya seseorang itu bisa merasakan bagaimana indahnya iman, bagaimana luasnya pembahasan iman dan banyaknya pintu-pintu ketahatan di dalam keimanan tersebut.

Rukun Iman dan Dalil-Dalilnya

Yang ketiga, arkanul iman wa daliluha, tentang rukun iman dan dalilnya. Rukun iman disebutkan oleh penulis ada enam. Kata beliau Rahimahullah ta’ala, Wa arkanuhu Sittatun. Rukunnya ada Enam. An tu’mina billahi Wa malaiikatihi Wa kutubihi Wa rusulihi Wa liyumil akhir Wa tu’mina bil kadari Khairihi wa sharrihi.

Jadi rukun iman ada Enam. Ini rukun iman Enam inilah Yang wajib untuk dipelajari.

1. Keimanan kepada Allah

Rukun iman yang pertama, Tu minabilah. Engkau beriman kepada Allah. Keimanan kepada Allah itu Mencakup Empat hal. Keimanan kepada Allah mencakup Empat hal.

  1. Keimanan akan adanya Allah Subhanahu Wata’ala.
  2. Keimanan akan Rububia Allah Subhanahu Wata’ala. Mengimani bahwa Allah yang maha al-khalik, mencipta. Al-malik, yang maha memiliki. Al-razik, yang maha memberi rezeki. Al-mudabbir, yang maha mengatur segala perkara. Dibahasakan dengan bahasa lain, ifradu Allah ta’ala bi’afa’alihi, pengesahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perbuatannya.
  3. Keimanan terhadap uluhiyah Allah bahwa dia adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang berhak untuk diibadahi.
  4. Keimanan terhadap Nama-nama Dan sifat Allah Subahanahu Wa Ta’ala.

Ini empat hal kadar yang wajib diketahui dalam keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Empat hal ini Sudah pernah berlalu semua pembahasannya. Sudah pernah berlalu Dasar-dasar pembahasannya Pada kajian-kajian yang telah lalu. Sisa Seseorang itu ketika dia membaca Buku-buku akidah, Dia semakin mendalam memahami agama. Dia akan semakin kuat nanti Pada empat hal ini Yang terkait dengan keimanan Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Jadi keimanan akan adanya Allah ini itu ditunjukkan oleh dalil-dalil. Itu jatuhkan oleh syariat, oleh akal sehat, oleh fitrah dan bisa ditangkap oleh panca indera. Ada pun fitrah manusia memang asalnya manusia seperti itu. Awal diciptakan, Dia itu Berada di atas fitrahnya. Dia mengenal Yang menciptakannya. Dia mengetahui Terhadap yang menciptakannya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, Mami mauludin illa yuladuh Alal fitrah. Tidak ada anak yang dilahirkan Kecuali dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanya lah Yang membuatnya menjadi Yahudi Atau membuatnya menjadi Nasara Atau membuatnya menjadi Majusi.

Akal juga seperti itu. Menunjukkan adanya Yang mencipta. Subhanallah. Pernah disebutkan dari Abu Hanifah rahimahullah. Beliau pernah mendebat orang-orang yang tidak percaya adanya yang mencipta. Maka mereka masuk menjumpai Abu Hanifa. Abu Hanifa berkata, saya sedang berpikir tentang perahu. Perahu ini tidak ada nahkodanya. Dia singgah di dermaga. Kemudian dia angkut barang dan tumpangan. Kemudian dia berjalan mengaruhi samudera. Tiba di dermaga berikutnya, dia turunkan barang-barangnya. Padahal tidak ada orang di situ. Tidak ada nahkoda, tidak ada awak kapal. Kata orang-orang itu yang mengingkari adanya Allah ini. Mereka berkata, kami ini gila. Tidak mungkin ada perahu seperti itu. Kata Abu Hanifah, itulah yang kalian berada di tengahnya sekarang. Jadi seakan-akan tidak ada Allah yang mencipta seperti itu perumpamaannya. Jadi itu sebenarnya perumpamaan untuk mereka. Mereka itu kayak begitu cara berpikirnya. Jadi itu adalah hal yang mustahil. Jadi ini terungkap, kalau orang ini pakai akal sehatnya, dikasih perumpamaan, dia bisa berpikir seperti itu. Akhirnya, dengan hal itulah mereka sadar akan kekeliruannya.

Dan ini ditangkap oleh panca indera. Kita berdoa, memohon, dikabulkan dari doa itu, diberikan dari permohonan itu. Kita melihat dari tanda-tanda kebesaran Allah, dari berbagai ayat-ayat Allah SWT. Ini hal yang bisa terlihat dengan panca indera. Menunjukkan adanya Allah SWT, Yang mencipta. Jadi secara umum ini siapapun dari makhluk tidak diberi dalil syariat pun di dalam hal ini, dia pasti kalau masih berada di atas fitrahnya, dia pasti mengetahui ada Allah yang menciptakannya.

Yang kedua terkait dengan keimanan terhadap rububiah. Allah yang mencipta, menghidupkan, memberi rezeki, mengatur segala perkara. Ini sudah kita bahas ya bahwa kaum musyrikin juga di masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mereka mengakui ini. Mereka tidak mengingkari. Dan umumnya makhluk sepakat di atas hal ini.

Yang ketiga, keimanan terhadap uluhiyah. Ini yang banyak kekeliruan di dalam. Disinilah letak kekafiran kaum musyrikin. Karena mereka tidak beriman kepada uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi ayat di surah Yusuf itu:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِٱللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain). (QS. Yusuf: 106)

Tidaklah kebanyakan mereka itu beriman kepada Allah. Kecuali mereka berbuat kesyirikan. Iman di situ maksudnya, Iman terhadap Rububiah Allah. Jadi tidaklah mereka beriman. Kecuali kebanyakannya mereka Berbuat kesyirikan. Syiriknya dalam uluhiahnya.

Dan yang keempat, keimanan terhadap nama-nama Dan sifat-sifat Allah. Telah kita terangkan ya bahwa kaum syirikin Di masa Nabi Itu mereka tidak dikenal Mengingkari nama dan Sifat Allah SWT. Kecuali nama Ar-Rahman. Ini sudah kita berikan perbandingan Antara kaum musyrikin di masa kini Dengan kaum musyrikin di masa dahulu. Kalau kaum musyrikin di masa kini Lebih banyak kesyirikannya daripada kaum musyrikin di masa dahulu.

2. Keimanan kepada Malaikat

Keimanan terhadap Para malaikat. Malaikat disini jama’. Kata malaikat Jama’. Soal malaikat itu Bukan cuma satu. Malaikat-malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala itu banyak. Malikat ini adalah makhluk-makhluk Allah yang diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepadanya. Dan mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka tidak pernah mendahului Allah dengan ucapan. Kalau diperintah, mereka selalu melaksanakan perintah tersebut.

Maka kewajiban kita terhadap para malaikat, itu terkandung padanya empat perkara.

  1. Keimanan akan adanya para malaikat. Kita imani adanya malaikat tersebut.
  2. Kita imani Dari malaikat yang diketahui nama-namanya. Seperti kalau disebut namanya Jibril, Kita imani namanya Jibril. Dan mereka memanggil wahai malik. Malik ini malaikat Penjaga neraka. Kalau disebut namanya, Kita imani Mikail, Israfil. Ini dari nama-nama malaikat. Disebutkan di dalam Al-Quran. Ketika disebutkan di dalam Al-Quran, Ini menunjukkan Kagungan nama-nama atau keaguan malaikat ini di sisi Allah.
  3. Kita imani siapa yang disebutkan sifat-sifatnya. Seperti Jibril ‘Alaihissalam itu dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa Nabi pernah melihat Jibril di atas wujud aslinya. Dan Jibril memiliki enam ratus sayap yang telah menutupi ufuk. Maka kita imani akan sifat-sifat tersebut. Dan malaikat bisa berwujud manusia. Seperti Jibril datang dengan wujud manusia. Ada sebagian malaikat yang hadir di perang Badar, dia datang dengan wujud manusia. Sebagaimana para malaikat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus kepada Nabi Ibrahim, lalu mendatangi kaum Nabi Lut, itu juga datang dalam wujud manusia. Maka kita imani tentang sifat-sifat dari para malaikat tersebut.
  4. Kita imani Siapa yang kita ketahui Dari amalan-amalan mereka. Apa amalan mereka Dan pekerjaan mereka. Jibril Amalannya menyampaikan wahyu. Mikail Ini yang diwakilkan padanya hujan dan tumbuh-tumbuhan. Israfil inilah yang meniup sangka kala. Maka tidak ada masalah kita imani dari nama-nama tersebut. Malik itu malikat penjaga neraka. Ada mengatakan bahwa Malaikat penjaga sorga namanya Ridwan. Tapi tidak ada hadit yang kuat. Ada yang mengatakan bahwa Malaikat pencabut nyawa namanya Israil. Dan ini juga Tidak ada dalil yang kuat Tentang hal tersebut. Asalnya kita cukup ya. Malaikat penjaga neraka. Malikat pencabut nyawa. Ada yang mengatakan Mencatat kanan dan kiri namanya Rokib dan Atid. Ini juga Sifat. Itu bukan nama. Itu pensifatan Tentang bagaimana sifat Dua malikat ini. Kalau mungkar dan nakir ini benar Nama. Nama dua malikat. Dua malaikat dimana Yang bertanya di alam kubur. Dan disebutkan bahwa dua malaikat ini Azraqani Aswadad, biru hitam. Jadi dua-duanya biru hitam. Ada yang mengatakan badangnya apa namanya biru, mukanya hitam. Ada yang mengatakan selain daripada itu. Yang jelas itu dua sifat. Tentang nama kita imani yaitu syah di dalam hadith Abu Hurairah. Ada malaikat yang diwakilkan untuk di perut ibu mencatat dari empat perkara. Ada malaikat yang diwakilkan untuk apa namanya mencatat amalan-amalan. Ada malaikat penjaga gunung. Karena itu pernah Jibril turun kepada Nabi dan membawa malaikat penjaga gunung siap diperintah. Itu Nabi diusir dari ta’if. Dikatakan kepada Nabi ini malaikat penjaga gunung, kalau engkau perintah al-akhsyabain, itu dibalikkan terhadap pendatuk taif, dia akan balikkan. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata, saya berharap di belakang mereka akan lahir orang-orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jadi ini penyebutan sebagian tugas dari malaikat. Ada malaikat-malaikat yang disebutkan masuk ke Baitul Ma’mur. Ada Baitul Ma’mur di atas langit itu. Dikatakan setiap hari masuk 70 ribu malaikat beribadah tidak keluar lagi. Menunjukkan jumlah malaikat itu sangat banyak. Ada malaikat-malaikat yang berkeliling di majelis-majelis ilmu. Ada malaikat-malaikat yang berbolak-balik di pagi dan di petang. Karena itu dalam Al-Quran dikatakan, “tidak ada yang mengetahui tentang Robmu kecuali Dia saja“.

Dari manfaat-manfaat keimanan. Yang pertama dari manfaat keimanan adalah seorang mengenal keagungan Allah yang menciptakan malaikat ini. Kekuatan dan kemampuan dia. Bagaimana subhanallah, satu malaikat dari malaikat-malaikat Allah itu tidak ada yang bisa menahannya. Satu makhluk dari makhluk-makhluk Allah. Ada malaikat yang menyandang Arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disebutkan mereka menyandang Arsy ini jarak telinganya sampai ke ujung bahunya. Itu perjalanan 700 tahun. Bisa dibayangkan bagaimana besarnya mereka. Mereka menyandang Arsy, ada riwayat mengatakan empat orang. Tetapi di ayat disebutkan Delapan. Yang menyandang arsya robbu di atas mereka pada hari itu ada delapan malaikat. Yang mengkompromikannya mudah. Hadit yang mengatakan empat. Itu sekarang ini. Tapi nanti di hari kiamat yang menyandangnya ada delapan. Ada delapan yang menyandangnya. Dan di dalam sebagian hadith diterangkan tentang agungnya, banyaknya malaikat. Itu tidak ada di atas muka bumi ini empat jari kecuali ada malaikat di situ yang bersujud kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jadi bercerita tentang malaikat ini kita akan mendapat faidah tentang keagungan, kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kekuatan dan keberkasaannya. Juga dari manfaat keimanan kepada malaikat, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala bagaimana anak manusia ini betul-betul diberikan dari inayah, dari perhatian. Karena itu ada yang mencatat amalannya, ada yang menjaganya. Kalau dia taat, maka ada malaikat yang menjaganya.

لَهُۥ مُعَقِّبَـٰتٌۭ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah (QS. Ar-Ra’ad: 11)

Dia punya muakibat. Muakibat disini maksudnya malaikat-malaikat yang menjaga dia di depan dan di belakangnya. Malaikat menjaga dia karena perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karena itu di dalam hadith dikatakan, “Perihara Allah, jaga Allah, Allah akan menjagamu“. Salah satu dari bentuk penjagaan Allah untuk hamba, ada malaikat yang menjaganya. Kalau dia menjaga perintah-perintah, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian pula dari keimanan, adalah cinta kepada para malaikat. Makhluk-makhluk Allah yang mulia, makhluk-makhluk Allah yang taat, tidak pernah berdosa dan bermaksiat. Subhanallah. Di dalam hadith riwayat Bukhari dan Muslim itu diterangkan ya. Kalau Allah cinta kepada seorang hamba, Allah memanggil Jibril. Kemudian Allah berfirman, sungguhnya aku cinta kepada si Fulan, cintailah dia. Maka Jibril pun cinta kepada si Fulan itu. Lalu Jibril meniriakan ke penduduk langit, Sungguhnya Allah cinta kepada si Fulan. Hendaknya kalian mencintainya. Maka penduduk langit pun mencintai orang tersebut. Lalu diletakkan penerimaan Untuk orang tersebut di atas muka bumi. Inilah orang yang beriman dan bertakwa seperti itu.

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ ٱلرَّحْمَـٰنُ وُدًّۭا ٩٦

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (QS. Maryam: 96)

Sungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, Allah Ar-Rahman akan menjadikan wudha kecintaan untuk mereka.

Ada buku-buku ya ditulis tentang para malaikat. Keimanan terhadap para malaikat. Ada yang ringkas, ada yang tebal. Tapi bagusnya baca buku-buku yang sudah tersaring. Ada sebagian buku kadang berisi ada hadit-hadit lemahnya, israeliatnya. Apalagi kalau karya dari Asyuti. Asyuti ada tulisan tentang mereka. Biasanya Asyuti itu dia mengumpulkan dari sana sini. Ada hal yang bagus. Ada hal yang tidak bagus. Tapi kalau misalnya seorang mengambil dari buku-buku yang sudah disaring, itu ada sebagian buku ditulis di masa sekarang ini tentang keimanan terhadap para malaikat. Ini keimanan kepada malaikat ini penting. Bagian dari keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang kalau kenal fikih keimanan kepada malaikat itu dia akan kenal orang-orang yang sembarangan saja berbicara. Itu ada rekaman seseorang yang apa namanya sering mengajak berjihad ke Suria. Katanya di Suria itu turun para malaikat. Ada kisah-kisahnya. Terlihat orang pakai kuda putih berbaju putih. Gak tahu apa yang dia lihat. Mungkin benar ada yang dia lihat. Tapi mungkin saja itu jin. Kalau malaikat, malaikat kalau sudah turun dalam pertempuran. Itu tidak ada lagi kata kaum muslim masih tertindas. Pasti menang. Mereka kalau mereka sudah turun itu habis sudah. Bashar Asad dan pengikutnya. Itu mengajak orang untuk apa namanya berjihad dalam sangkaannya. Tetapi memakai dari keyakinan-keyakinan yang seperti itu. Ini kekurangan. Karena dia tidak paham tentang para malaikat.

Itu lihat para malaikat ketika turun di perang Badar, menang kaum muslimin. Menang kaum muslimin dan para malaikat. Kalau sudah turun selesai. Ketika turun para malaikat ke kaumnya Nabi Lut itu pasti Adat yang mereka dapatkan. Itu turunnya malaikat seperti itu. Ini sebagian orang jangan apa namanya tertipu dengan settingan-settingan di Youtube. Itu ada malaikat jatuh di atas Ka’bah, cahaya putih. Dia bikin ini dari hal-hal yang apa merusak keyakinan-keyakinan. Dan banyak hal-hal yang seperti ini yang terjadi di masa sekarang. Harus dicocokkan. Inilah pentingnya seorang pelajari dari keimanan, supaya dia kuat di atas akidah yang benar.

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Tinggalkan komentar