Istiadah – Meminta Perlindungan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

  • Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
  • Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
  • Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Istiadah

Terjemahan Kitab

Dalil Istiadah adalah firman (Allah) Ta’ala:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) waktu subuh.” (QS. Al-Falaq: 1)

Selanjutnya, firman Allah Ta’ala:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia.” (QS. An-Nas: 1)

Hakikat dan Kandungan Istiadah

Al-Istiadah secara bahasa berarti memohon perlindungan dari sesuatu yang tidak disenangi atau hal yang dikhawatirkan. Ketika seseorang melakukan Al-Istiadah kepada Allah, tiga hal utama yang menjadi inti dari makna tersebut.

  1. Dia berlindung kepada Allah.
  2. Dia melakukan ikhtisam, yaitu berpegang teguh kepada Allah.
  3. Dia meyakini bahwa Allah akan mencukupinya dan melindunginya dari segala kejelekan.

Al-Istiadah ini termasuk ibadah yang sangat agung. Oleh karena itu, penulis membawakan dua ayat sebagai dalil Istiadah. Firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Falaq:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) waktu subuh.” (QS. Al-Falaq: 1)

Kata Al-Falaq ditafsirkan dengan dua penafsiran. Al-Falaq bisa bermakna subuh, dan Al-Falaq juga bisa bermakna tumbuhan yang dikeluarkan dari bijinya. Misalnya, biji keluar darinya, lalu tumbuhan itu dikatakan Falaq. Memang subuh dikatakan Falaq sebab tadinya kan gelap, kemudian dari kegelapan ini ditembus oleh terang subuh yang keluar. Itu disebut Falaq karena memang dia dari sesuatu yang keluar, ditembus. Itu disebut Falaq dalam bahasa Arab. Jadi, “Saya berlindung kepada Al-Falaq”.

Selanjutnya, firman Allah Ta’ala:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia.” (QS. An-Nas: 1)

Ini mengandung tiga hal: dia berserah diri kepada Allah, menuju kepada-Nya, berpegang teguh terhadap-Nya, dan meyakini bahwa Allah yang mencukupinya dan melindunginya. Maka, ini adalah tiga hal di dalam Al-Istiadah.

Pembagian Al-Istiadah

Istiadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala oleh Syekh Ibn Utsaimin dibagi menjadi empat jenis.

1. Istiadah kepada Allah dengan Tiga Unsur Utama

Yang pertama, Al-Istiadah kepada Allah dengan tiga hal yang kita sebutkan tadi. Hukumnya adalah ibadah. Dan kalau dia ibadah, ibadah itu tidak boleh diserahkan kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Istiadah dengan Sifat-Sifat Allah

Yang kedua, Istiadah dengan sifat dari sifat-sifat Allah. Ini juga dibolehkan. Karena itu, ada beberapa doa seperti doa dua pagi dan petang:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan.”

Ini berlindung dengan kalimat-kalimat, yaitu sifat Allah. Doa dua pagi dan petang juga:

وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ

“Dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar aku tidak dibunuh.”

Minta hati, “Saya berlindung dengan Keagungan-Mu”. Ya, ‘Adhamah. Demikian pula doa kalau orang sakit, ada sakit misalnya di badan. IDiperintah oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam membaca, Bismillah tiga kali, kemudian dibaca tujuh kali:

أَعُوذُ بِاللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang aku rasakan dan aku khawatirkan.”

“Wa qudratihi”, berlindung dengan Kemampuan Allah. Dan doa di solat malam:

أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ

“Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu.”

Berlindung dengan Sifat Allah, Istiadah dengan Sifat Allah, itu boleh saja, hal yang diperbolehkan.

3. Istiadah kepada Orang Mati atau Orang Hidup yang Tidak Hadir dan Tidak Mampu

Jenis yang ketiga dari Istiadah adalah Istiadah dengan orang-orang mati atau orang yang hidup tapi tidak hadir dan tidak mampu. Maka ini masuk ke dalam kesyirikan, masuk di dalam Syirik Akbar yang telah kita sebutkan. Karena itu, dicela orang-orang yang para jin, apa, para manusia yang berlindung dari jin. Dan sekelompok dari laki-laki manusia, mereka Istiadah kepada sekelompok laki-laki dari jin. Maka mereka bertambah rahaka, ya, bertambah kesewenang-wenangan.

4. Istiadah kepada Makhluk yang Mampu Melindungi

Yang keempat dari Istiadah adalah berlindung dari sesuatu yang makhluk itu mampu melakukannya. Terdiri berlindung pada tempat yang di situ dia bisa dapat perlindungan. Ini tidak dipermasalahkan kalau dia mampu. Karena itu dikatakan di dalam hadits ketika terjadi fitnah, siapa yang mendapatkan tempat berlindung, maka hendaknya dia berlindung pada tempat tersebut. Maka hal yang seperti ini tidak ada masalah sebab ini masuk di dalam hal yang memungkinkan, hal yang memungkinkan. Baik, jadi ini empat pembagian apa Istiadah.

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah