بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.
Kitab Tsalastatul Ushul
- Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
- Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
- Rekaman video kajian: Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam Dengan Dalil-Dalil
Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil
Keimanan kepada Kitab-Kitab Allah
1. Keyakinan bahwa Seluruh Kitab Turun dari Allah Subhanahu wa Ta’ala
Kita imani bahwa seluruh kitab-kitab ini turunnya dari sisi Allah Azza wa Jalla. Turun dengan sebenar-benar turun. Turun itu dengan sebenar-benar turun Itu keyakinan Ahli sunnah Kita imani Sebagaimana yang diberitakan Karena Allah subhanahu wa ta’ala Membahasakannya dengan bahasa Menurunkan.
2. Mengimani Nama-Nama Kitab Secara Khusus dan Global
Dari kitab-kitab Apa yang disebutkan namanya apa yang disebutkan namanyadari kitab-kitab kita imani secara terperinci secara khusus apa yang tidak disebut namanya maka kita imani secara global yang disebut itu dalam Al-Quran ada enam yang disebut Al-Quran, Taurat, Injil, Zabur, Suhuf Ibrahim Lembaran-lembaran Nabi Ibrahim Dan Suhuf Musa Lembaran-lembaran Nabi Musa. Suhuf Musa ini kalau dia Taurat berarti 5 Kalau dia lembaran lagi sendiri Berarti 6, kita tidak tahu Hakikatnya bagaimana Kita beriman secara global. Tapi kita umat Islam Ada kewajiban khusus beriman terhadap Al-Quranul Karim Inilah kitab yang diturunkan Kepada kita umat Islam Dan Al-Quran ini adalah Penutup Yang telah muhaiminan Yang telah menghapus kitab-kitab sebelumnya Isi dari kitab-kitab sebelumnya ada di dalam Al-Quran.
3. Membenarkan Berita yang Sah dari Kitab-Kitab
Ketiga dari kewajiban terhadap kitab-kitab adalah membenarkan segala hal yang syah dari berita di dalam kitab-kitab itu. Kalau Al-Quran itu dipastikan. Tapi selain dari Al-Quran ini sudah banyak yang berubah dari kitab-kitab yang dipegang oleh Ahlul Kitab. Ada pun Al-Quranul Karim Al-Quranul Karim tetap terjaga Tak mungkin ada dari Al-Quran Yang bisa dirubah Karena Allah telah berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`ān dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (QS. Al-Hijr: 9)
Kami menurunkan Al-Quran dan kami akan Menjaganya. Maka Al-Quran ini Dimasukkan Satu huruf pun Maka akan ketahuan Ada yang dimasukkan bahkan di dalam pembahasan harokatnya panjang pendeknya itu ada riwayat-riwayatnya ada riwayat-riwayatnya kapan dibaca 4 harokat, kapan dibaca 2 harokat, kalau dibacaan kita misalnya, Hafs dari Atsim, itu ada 2 riwayat ada dari jalan Syatibia dan ada dari jalan Tayyibatun Nasr ada dari jalan tayyibatun nasyur perbedaan yang paling menyoloknya kalau dari jalan syatibia matmumfasilnya biasanya empat harokat, kalau tayyibatun nasyur dibaca dua saja, itu perbedaan menyolok di seluruh Al-Quran dari awal hingga akhirnya. Ini perbedaan dari sisi riwayat. Jadi ini kedetailan dalam Al-Quran sangat terjaga sekali. Ada pun selain daripada Al-Quran, kalau ada yang misalnya sahih berita dari kitab-kitab itu, maka kita wajib untuk Mengimaninya. Tapi yang menjadi masalah, mana yang benar Karena tidak ada yang dijaga seperti Penjagaan terhadap Al-Quran.
4. Beramal dengan Hukum yang Belum Di-Naskh
Keempat Kita dari kewajiban terhadap kitab-kitab Kita beramal Dengan hukum-hukum yang terkandung Di dalam kitab-kitab itu Dan ridha terhadapnya Sepanjang hukumnya belum dihapus. Dengan turunnya Al-Quran terhapus semua kitab sebelumnya. Jadi apa yang ditetapkan dalam Al-Quran itulah yang diamalkan.
Manfaat Keimanan kepada Kitab-Kitab
Ini memberikan berbagai pelajaran. Memberikan berbagai manfaat. Manfaat yang pertama supaya seorang mengenal bagaimana rahmat Allah kepada umat. Di mana umat itu diterunkan kepada mereka kitab untuk memberi hidayah kepada mereka. Sebagai pedoman dan hidayah mereka. Ini rahmat Allah SWT.
Dan yang kedua adalah dengannya seorang mengenal dari hikmah Allah SWT di dalam syariatnya. Di mana setiap umat diberi kitab apa yang mencocoki keadaan mereka apa yang mencocoki keadaan mereka, karena itu setiap umat ada kitabnya masing-masing sesuai dengan keadaan mereka ada di syariat Nabi Musa misalnya cocok untuk mereka itu tidak cocok untuk umat Islam tapi umat Islam ini dimudahkan Untuk mereka kemudahan-kemudahan Dan Lebih banyak pemberian dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala untuk mereka.
Keimanan terhadap Para Rasul
Keimanan terhadap para rasul, wa rusulihi. Keimanan kepada rasul-rasul-Nya. Ar-rusul jamak dari Rasul. Rasul itu adalah siapa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus dari manusia dengan syariat. Rasul ini sama dengan Nabi. Keduanya bersyarikat dalam hal diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hanya saja perbedaannya, kalau Rasul itu diutus kepada umat, biasanya menyelisihi mereka. Kalau Nabi itu diutus kepada umat yang sudah bersepakat dengan mereka.
Karena itu kalau kita lihat Rasul, Nabi Nuh ‘Alaihissalam diutus kepada umat. Umatnya tidak di atas akidah Nabi Nuh. Karena itu didakwai. Demikian pula Nabi Ibrahim, berbeda dengan kaumnya. Demikian pula Nabi Musa dan Nabi Harun, berbeda dengan Fir’aun. Demikian pula Nabi Isa. Demikian pula Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ini contoh para rasul.
Kalau Nabi itu diutus kepada kaum yang bersepakat dengannya. Karena itu Bani Israel itu para Nabi yang banyak. Tapi setelah Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi-Nabi yang datang setelahnya itu disebut Nabi, tidak disebut Rasul. Karena itu dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dikatakan, adalah Bani Israel itu mereka disiasati oleh para Nabi-Nya. Maksudnya siasat dalam bahasa Arab, bahasa cocoknya Diatur dan dijaga kebaikannya oleh para Nabi-Nya. Karena kata siasat dalam bahasa Arab itu adalah pengaturan terhadap umat, apa yang dengannya mereka menjadi baik. Bukan siasat dalam bahasa Indonesia, siasat politik yang ada bermakna kibul-kibulan, sikut-menyikut, tendang-menendang, bukan itu yang dimaksud.
Tapi as-siasat kalau dalam bahasa Arab itu adalah al-qiyamu bishay li-islahihi wahibdihi, yang menegakkan sesuatu untuk memperbaikinya dan menjaganya. Itu siasat namanya. Jadi para Nabi ini, Bani Israel ini dijaga oleh para Nabi-Nya. Dirawat oleh para Nabi-Nya. Setiap kali ada Nabi yang meninggal, datang lagi Nabi setelahnya. Itu Bani Israel.
Jadi itu perbedaan antara Nabi dan Rasul, itu perbedaan yang paling pokoknya. Adapun definisi yang masyur, kita dari kecil pelajar definisi, kalau Nabi itu diberikan padanya wahyu tidak diperintah menyampaikan. Kalau Rasul diberi wahyu, diperintah untuk Menyampaikan. Ini definisi paling banyak kritikannya. Masa ada Nabi diberi wahyu tidak menyampaikan. Nabi Khidir disebut Nabi, tapi dia ada bentuk penyampaian. Karena kata Nabi dan Rasul itu bersyirikat dalam makna sama-sama diutus. Diutus itu artinya menyampaikan. Jadi Rasul dan Nabi bersyirikat dalam kata Sama-sama diutus.
Keimanan kepada para Nabi dan para Rasul ini mengandung empat perkara.
1. Mengimani Kebenaran Risalah Mereka
Yang pertama, keimanan bahwa risalah mereka, kerasulan mereka itu adalah hak, benar datangnya dari Allah. Jadi wajib diimani. Bahwa mereka adalah Rasul hak benar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan ini sama semuanya para Nabi dan para Rasul seperti itu. Semua Nabi dan Rasul diimani sama. Sebab semuanya datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diutus dari sisi Allah. Siapa yang kafir terhadap kerasulan seorang Rasul, artinya dia kafir kepada seluruh Nabi dan Rasul. Itu kaedah. Siapa yang kafir terhadap satu Rasul, maka artinya dia kafir terhadap seluruh Nabi dan Rasul.
Karena itu dikatakan كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ ٱلْمُرْسَلِينَ, kaumnya Nabi Nuh telah mendustakan para Rasul. Padahal kaumnya Nabi Nuh yang diutus ke mereka Satu saja, Nabi Nuh. Tapi karena dia dustakan satu Nabi, maka hukum Al-Quran dikatakan mereka mendustakan para Rasul. Ini hati-hati ya. Kemarin sebagian orang jahil dari kaum muslimin ketika ada ribut-ribut karikatur itu, di Denmark, ketika bikin karikatur terhadap Nabi, ada yang balas bikin karikatur terhadap Nabi Isa ‘Alaihissalam. Jadi dia balas kekafiran dengan Kekafiran. Memang yang membuat karikatur Nabi sudah kafir. Ini mengaku dirinya muslim, bikin karikatur terhadap Nabi Isa, itu juga hukumnya kafir, sama. Karena itu hati-hati jangan terjerumus di dalam kejahilan-kejahilan.
2. Mengimani Nama-Nama yang Diketahui
Yang kedua, dari keimanan kepada para Rasul, dari kandungan keimanan kepada para Rasul, kita imani siapa yang diketahui namanya Para Nabi itu ada yang disebut namanya dalam Al-Quran. Disebutkan nama para Nabi dalam Al-Quran ada 25 orang Nabi. Selain Nabi Adam, itu bisa dilihat namanya ada di Surah An-Nisa, ada di Surah Al-An’am. Ini dua surah yang paling mengumpulkan nama para Nabi. Selain daripada itu ada surah-surah yang menyebutkan nama-nama Nabi yang lainnya. Ada di Surah Al-Anbiya, ada di Surah Asy-Syu’ara, ada di Surah As-Saf. Ini semuanya dari tempat-tempat kita melihat penamaan para Nabi dan para Rasul.
Tapi dari para Nabi itu dan para Rasul dalam Al-Quran disebut 25. Di luar Al-Quran ada yang disebut namanya dari Nabi. Misalnya Yusha bin Nun. Ini kan disebut namanya. Itu anak muda yang menemani Nabi Musa itu. Setelah Nabi Musa dan Nabi Harun, anak muda ini menjadi Nabi. Itu namanya Yusha bin Nun. Dan jumlahnya para Rasul itu mereka bukan hanya 25. Lebih daripada 25. Sebagaimana para Nabi, jumlah Nabi itu lebih banyak lagi.
Jadi kalau diketahui namanya, kita imani dari namanya. Yang tidak diketahui maka kita imani secara global.
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (QS. Ghafir: 78)
Diantara mereka ada yang sudah kami kisahkan dan diantara mereka ada yang belum dikisahkan. Ada yang belum dikisahkan. Jadi ada yang dikisahkan, ada yang tidak dikisahkan. Menunjukkan banyak para Nabi dan para Rasul itu.
3. Mengimani Berita yang Sahih
Kemudian yang ketiga dari keimanan kepada para Rasul adalah kita imani segala berita yang syah, yang sahih, yang benar dari berita para Nabi tanpa Rasul. Jadi kalau syah hal tersebut di dalam Al-Quran atau di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka kita terima.
Ada namanya kisah Isra’iliyyah. Kisah Isra’iliyyah ini penyebutan kisah umat terdahulu terkait dengan umat terdahulu. Kalau tidak ada beritanya di dalam Al-Quran dan Hadits, maka hukumnya tidak dibenarkan, tidak pula didustakan. Tidak dibenarkan, tidak pula didustakan. Tapi boleh diceritakan sepanjang tidak ada makna yang bertentangan dengan Al-Quran di dalamnya.
Tapi kalau ada makna yang bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits, apalagi makna tersebut adalah celahan terhadap para Nabi dan para Rasul, maka itu tidak boleh diceritakan. Seperti Naudzubillah, ada yang cerita katanya Nabi Daud tertarik dengan istri salah seorang prajuritnya. Prajuritnya disuruh perang, diletakkan dia di pasukan paling depan supaya cepat mati, kemudian setelah itu dinikahi istrinya oleh Nabi Daud. Ini Naudzubillah. Ini dari semenjak masa Umar bin Abdul Aziz berkata, beliau berkata: “Siapa yang saya dengar bercerita tentang isu, saya akan cambuk dia haddal muftari.” Hukum had terhadap orang yang bikin kesaksian palsu. Jadi kalau orang bikin kesaksian palsu dicambuk 80 kali. Jadi kalau orang mu’min saya bikin saksi palsu terhadap mu’min lainnya, dicambuk 80 kali. Apalagi ini terhadap seorang Nabi.
Nah ini berarti banyak yang mau dicambuk-cambuk di atas mimbar Jumat. Sering bawa cerita-cerita sembarangan. Hal-hal yang seperti ini dari perkara yang tidak diperbolehkan.
4. Beramal dengan Syariat Rasul
Kemudian yang keempat dari keimanan kepada para Nabi atau para Rasul, kita beramal dengan syariat Rasul yang diutus kepada kita. Yang diutus kepada kita adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan beliau adalah penutup para Nabi dan para Rasul. Wajib kita imani bahwa beliau adalah penutup para Nabi dan para Rasul.
رِّجَالِكُمْ وَلَـٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ
Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. (QS. AL-Ahzab: 40)
Wa rasul Allahi wa khataman nabiyyin. Tapi beliau adalah Rasul Allah dan penutup para Nabi.
Ditegaskan di dalam hadits yang mutawatir: La nabiya ba’di, tidak ada Nabi lagi setelahku. Ini penegasan yang secara tegas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Nabi yang terakhir.
Keimanan terhadap para Rasul ini punya berbagai manfaat, diantaranya adalah kita mengenal rahmat Allah dan kasih sayangNya terhadap segala makhluk, dimana diutus kepada mereka para Rasul untuk memberi hidayah menuju kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan diutusnya para Nabi dan para Rasul untuk mengangkat hujah terhadap mereka, supaya mereka tidak beralasan lagi pada hari kiamat: “Kami begini karena belum sampai Rasul.” Tidak, diputus hujah itu sudah diangkat.
Dan juga dari keimanan kepada para Rasul ini ada kesyukuran kepada Allah akan nikmat ini, apalagi diutus kepada kita umat Islam ini seorang Rasul yang merupakan pemuka, pemimpin para Nabi dan para Rasul, yaitu Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dan dari keimanan kepada para Rasul juga adalah cinta kepada mereka. Bagaimana seorang mengenal para Rasul itu mencintainya, menghormatinya, memujinya. Karena seorang itu dikumpulkan bersama siapa yang dia cintai.
Keimanan terhadap Hari Akhirat
Kemudian yang kelima adalah keimanan terhadap hari akhirat. Keimanan terhadap hari akhirat ini mencakup banyak hal. Karena hari akhirat itu bermula dari alam kubur. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Al-qabru awal manazilil akhirat. Kuburan itu adalah awal persinggahan negeri akhirat. Jadi masuk dalam keimanan kepada hari akhirat adalah alam kubur. Jadi apa yang ada dalam kubur itu, dari fitnah, adzab itu kita imani, kita yakini. Sebagaimana hari kebangkitan, kita imani akan hari kebangkitan itu bagian dari keimanan kepada hari akhirat. Dan ini yang diingkari oleh kaum musyrikin.
Demikian pula dari keimanan kepada hari akhirat, keimanan akan hisab dan jaza. Hisab dan pembalasan. Demikian pula masuk di dalam keimanan kepada hari akhirat, keimanan terhadap surga dan neraka. Jadi kalau diurut itu, keimanan kepada hari akhirat semenjak ruh keluar dari jasad, itu masuk sudah di pembahasan alam barzah, alam kubur. Setelah itu hari kebangkitan. Setelah hari kebangkitan, dikumpulkan di padang mahsyar.
Padang mahsyar itu adalah bumi yang telah diganti, langit yang sudah diganti.
يَوْمَ تُبَدَّلُ ٱلْأَرْضُ غَيْرَ ٱلْأَرْضِ وَٱلسَّمَـٰوَٰتُ
(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain, dan (demikian pula) langit (QS. Ibrahim: 48)
Hari tatkala bumi diganti dengan bumi selain dari bumi yang ada, demikian pula langit diganti selain dari langit yang ada sekarang ini. Karena pada mahsyar, sebab hamparan, berkumpul di situ seluruh makhluk dari awal hingga akhirnya dalam keadaan telanjang, tidak beralas kaki, belum dikhitan, matahari dekatkan di atas kepala. Manusia berkeringat sesuai dengan apa kadar amalannya. Ada yang dinaungi di bawah teduhan Arsy Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada yang berkeringat sampai ke mata kakinya. Ada yang ke lututnya. Ke pinggangnya. Ada yang ke lehernya. Ada yang ditenggelamkan oleh keringatnya.
Di padang mahsyar ini, di situ ada telaga. Setiap Nabi dan Rasul punya telaga. Dan Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga memiliki telaga. Di telaga Nabi Muhammad inilah, siapa yang minum darinya satu kali tegukan, dia tidak akan haus selama lamanya. Di telaga Nabi Muhammad inilah umatnya berkumpul. Ada pembahasan tentang telaga.
Dan di situ juga di padang mahsyar, pembahasan tentang syafaatul udhma. Karena manusia di penantian yang sangat lama itu. Satu hari di hari kiamat itu, dalam Al-Quran ada yang disebut seperti seribu tahun, ada yang disebut seperti 50 ribu tahun. Penantian yang sangat lama. Dalam keadaan yang dahsyat, Allah murka. Dengan kemurkaan yang sangat besar. Tidak pernah murkah semisal itu sebelumnya dan tidak akan murka semisal itu setelahnya. Para Nabi hanya berkata: Nafsi-nafsi. Diriku-diriku. Memikirkan dirinya.
Manusia mendatangi para Nabi dan para Rasul, supaya para Rasul memohon kepada Allah agar hisab disegerakan. Dan semuanya hanya memikirkan dirinya, memikirkan dosanya, kesalahannya. Dan akhirnya manusia kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau pun yang berdiri dan memohon kepada Allah. Beliau berkata: “Akulah yang memang pemilik syafaat itu.” Akulah pemilik syafaat itu. Maka berdirilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kemudian beliau bersujud di bawah Arsy, memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pujian yang dibukakan untuk beliau waktu itu. Mengalir di lisan beliau, beliau memuji Allah dengan pujian yang sangat agung. Kemudian Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad untuk mengangkat kepalanya, berucap memohon dan memberi syafaat. Dizinkan oleh untuk Nabi Muhammad. Maka Nabi pun memohon kepada Allah agar supaya hisab disegerakan. Dikabulkan permohonan Nabi Muhammad.
Berikutnya itulah yang disebutkan:
وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا ٢٢وَجِا۟ىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ ۚ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ ٱلْإِنسَـٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكْرَىٰ ٢٣
dan datanglah Tuhan-mu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. (QS. Al-Fajr 22-23)
Datanglah Rabb mu dan para malaikat bersaf-saf. Ini hisab. Didatangkan neraka Jahannam dalam keadaan ditarik dengan 70 ribu. Setiap tali ditarik oleh 70 ribu malaikat. Ada namanya Aradh. Ada namanya hisab. Aradh itu ditunjukkan dari amalan-amalan. Dihisab, diperhitungkan. Dipertanyakan setiap dari amalannya. Ada namanya timbangan. Ditimbang antara kebaikan dan keburukannya.
Setelah ditentukan, setelah semua ini, penentuan dia ke surga atau Ke neraka. Yang penduduk neraka dilemparkan, diseret ke neraka. Yang penduduk surga masih ada fase berikutnya. Melewati jembatan di atas neraka Jahannam. Penduduk neraka juga melewatinya tapi dia pasti jatuh di bawah neraka. Sebab ini jembatan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bersumpah seluruh dari makhluk akan mendatanginya.
وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَّقْضِيًّا
Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhan-mu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (QS. Maryam: 71)
Demi Allah, setidak seorang pun di antara kalian kecuali dia akan mendatangi jembatan yang dihamparkan di atas neraka Jahannam. Itu adalah ketentuan dari Rabb-mu yang sudah dipastikan.
Jadi ada yang menafsirkan mendatangi Jahannam artinya mendatangi jembatannya. Dan ada yang menafsirkan mendatangi Jahannam, dia datangi betul nerakanya. Tapi kalau dia kafir, dia langsung masuk dalamnya. Kalau mu’min, dia hanya melihat, setelah itu dia melewatinya. Melewati ini hikmahnya supaya seorang mu’min itu ketika dia masuk ke surga, dia pernah melihat Jahannam, ngerinya dan dahsyatnya. Maka dia semakin bersyukur kepada Allah dimasukkan ke dalam surga, dibebaskan dari api neraka.
Setelah ‘Asirat, di situ sebagian ulama dia mengatakan masih ada qisas lagi di situ. Di situlah masih ada orang yang punya amalan-amalan, ada yang menuntut dia, dia bayar. Orang yang menuntut dengan kebaikan-kebaikannya. Ada yang habis sudah amalan kebaikannya, masih ada yang menuntut, maka dosa orang itu dia tanggung. Lalu setelah itu dia dilemparkan ke dalam neraka.
Setelah selesai dari qisas berikutnya adalah memasuki surga. Jadi itu keimanan terhadap kehidupan akhirat. Ini yang tercakup di dalamnya. Allah Ta’ala ‘Alam.
Keimanan kepada Al-Qadar
Dan yang terakhir adalah keimanan kepada Al-Qadar. Keimanan kepada takdir yang baik dan yang buruknya. Wa nu’mina, wa tu’mina bil qadari khairihi wa syarihi. Engkau beriman kepada al qadar khairihi wa syarihi. Beriman kepada takdir yang baik dan buruknya. Al qadar di sini maknanya al makdur. Engkau beriman kepada yang ditakdirkan. Yang baik dan yang buruknya. Sebab takdir terbagi dua, baik dan buruk, itu terkait dengan al makdur, apa yang Allah takdirkan. Apa yang Allah tentukan. Itu ada dua. Ada yang baik, ada yang buruk. Ada keimanan, ada kekafiran. Ada kebaikan dan ada kejelekan. Ada Abu Bakr, ada Fir’aun. Ada orang yang salih, ada orang yang fasik. Ada mu’min, ada kafir. Jadi yang ditakdirkan itu baik. Ada yang baik dan ada yang buruk.
Tapi kalau perbuatan Allah menakdirkan, perbuatan Allah menakdirkan semuanya baik, tidak ada buruknya. Allah menakdirkan adanya keimanan itu baik di sisi Allah. Allah menakdirkan adanya kekufuran itu baik di sisi Allah. Sebab ada hikmahnya di sisi Allah. Perbuatan Allah selalu baik.
Jadi ini keimanan kepada takdir. Keimanan kepada takdir itu terkandung di dalamnya empat hal. Yang pertama, mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ditakdirkan. Yang kedua, mengimani bahwa segala yang ditakdirkan itu tercatat di Lauhil Mahfuz. Dan yang ketiga, mengimani bahwa segala yang ada ini itu terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan yang keempat, mengimani bahwa segala yang ada, segala makhluk itu adalah ciptaan Allah. Allah yang menciptakan dan mengadakannya.
Jadi ini empat perkara dari keimanan kepada takdir. Terkait dengan dalil-dalilnya, ini ada pembahasan khusus ya. Kita akan kaji nanti insyaallah pada tempatnya. Ini di pembahasan Al-Aqidah Al-Wasitiyyah, insyaallah kita akan uraikan lebih mendalam di situ. Tapi ini empat ini dasar pokok dalam keimanan kepada takdir.
1. Allah mengetahui segala yang ditakdirkan
Yang pertama, kita imani bahwa segala yang ditakdirkan, Allah mengetahui. Tidak mungkin ada yang ditakdirkan Allah tidak tahu. Kekafiran orang-orang Qadariyah. Itu setelah mereka mengatakan, sesuatu itu kalau baru terjadi, Allah baru tahu. Sebelumnya Allah tidak tahu katanya. Ini kekafiran orang Qadariyah. Yang disepakati oleh para ulama.
Mirip dengan kekafirannya orang Syiah Rafidhah. Orang Syiah itu punya akidah namanya akidah al-bada’. Artinya al-bada’, Allah berubah pikiran. Ini Naudzubillah. Tadinya Allah sudah menetapkan begini, kemudian Allah berubah pikiran, kemudian Allah tetapkan begini. Ini dari kekafirannya orang Yahudi. Dan ini yang disebarkan oleh orang-orang Syiah, ada di buku-buku mereka disebut dengan nama yang kedua.
2. Segala yang ditakdirkan tercatat di Lauhil Mahfuz
Dari keimanan kepada takdir, mengimani bahwa segala yang ditakdirkan tercatat Di Lauhil Mahfuz. Apa saja yang ditakdirkan sudah dicatat. Segala yang ditakdirkan tersebut.
3. Segala yang terjadi Kehendak Allah
Dan yang ketiga, kita mengimani bahwa apa yang Allah adakan, apa yang Allah ciptakan, itu terjadi dengan kehendak Allah. Tidak mungkin ada sesuatu dalam kekuasaan Allah terjadi tanpa Allah menghendakinya.
Ini orang menyimpang yang mengatakan, kalau si hamba berbuat maksiat, ini ciptaan hamba sendiri. Kehendak hamba sendiri, bukan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini menyimpang. Sebab tidak mungkin ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kenapa ada orang aneh seperti ini mengatakan bahwa hamba kalau berbuat maksiat itu kehendaknya sendiri, bukan kehendak Allah? Ini dasar pemahaman yang keliru dalam takdir. Karena dia pandang kalau kemaksiatan ini terjadi dengan kehendak Allah, berarti Allah menghendaki Kejelekan. Dan tidak boleh kita katakan Allah menghendaki kejelekan. Ini dia sudah jatuh dalam kekeliruan, kesesatan. Yang pertama dia qiaskan perbuatan makhluk dengan perbuatan Allah. Kemudian yang kedua, dianggap bahwa segala yang ditakdirkan itu pasti Allah cintai. Tidak. Takdir itu apa yang Allah kehendaki, ada yang dicintai oleh Allah, dan ada yang tidak dicintai oleh Allah. Ditakdirkan Karena Allah punya hikmah di belakangnya.
الٓمٓ ١أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ ٢
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-Ankabut: 1-2)
Apakah manusia menyangka akan dibiarkan begitu saja berucap: “Kami beriman” dan mereka belum diuji? Jadi adanya kekafiran itu ujian. Siapa yang benar Keimananya. Jadi Allah menakdirkan kekafiran, perbuatan Allah menakdirkan baik. Sebab itu ada hikmahnya. Tapi kekafiran sendiri Allah tidak cintai. Allah telah berfirman:
وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ
Dia tidak meridai kekafiran bagi hamba-Nya (QS. Az-Zumar: 7)
وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ
dan menjadikan iman itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. (QS. Al-Hujurat: 7)
Allah tidak meridai kekafiran untuk hamba-Nya. Allah membuat kalian itu menjadikan haram hal yang dibenci terhadap kalian. Kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Jadi ini semuanya tidak bertentangan. Jadi apa yang ditakdirkan atau apa yang ada dari makhluk itu, Allah yang menghendakinya.
4. Semua makhluk Ciptaan Allah
Yang keempat, beriman kepada takdir, apa yang ada dari makhluk, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengadakan dan menciptakannya. Allah yang mengadakan dan menciptakannya. Karena Allah yang firman, Allah yang menciptakan segala sesuatu.
ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍ
Allah menciptakan segala sesuatu (Az-Zumar: 62)
Ini saja empat hal ini. Kalau diakini maka akan lurus keimanan seseorang di pembahasan Takdir. Kalau ada syubahat-syubahat sana sini, syubahat itu kalau menyelisih empat ini, ditolak saja dulu. Ini batil, anggap batil. Kalau menyelisih empat ini. Bagaimana caranya mengetahui dia batil? Nanti kalau kita belajar lebih mendalam lagi akan kelihatan. Ini namanya kaedah awal pokok kewajiban.
Nah itu pentingnya seorang mengenal dasar kewajibannya. Supaya dia teguh dulu di atas petunjuk. Bisa menghindar dari kejelekan-kejelekan. Nanti kalau dia belajar lebih mendalam, dia akan lihat nanti bagaimana kebatilan itu betul-betul batil. Akan lebih kelihatan.
Dalil-Dalil Rukun Iman
Jadi sudah selesai di sini pembahasan tentang Enam rukun iman. Sekarang penulis menjelaskan dua dalil. Ada dalil terkait dengan lima rukun dan ada dalil terkait dengan Takdir.
Yang pertama ada dalil ayat Surah Al-Baqarah. Tafsir ayat Surah Al-Baqarah tentang lima rukun iman. Dalil terhadap enam rukun ini dalam firman Allah Ta’ala. Dalil atas enam rukun ini adalah firman Allah Ta’ala:
۞ لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَـٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, (Al-Baqara: 177)
“Bukanlah suatu kebajikan engkau menghadapkan wajah kalian ke timur dan ke barat.” Maksudnya kebaikan itu tidak terbatas pada itu saja. Dan itu bukan pokok dari kebajikan. Tapi kebajikan yang paling pokoknya, yang sesungguhnya adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, dan kitab-kitab serta nabi-nabi.
Di Surah Al-Baqarah, penyebutan rukun ada lima. Jadi katakan bukanlah kebaikan itu. Jadi terkait dengan kebaikan, yaitu bukan terbatas pada masalah kalian menghadap kemana di waktu ibadah. Tapi pokok kebaikan itu yang dikatakan dengan kebaikan adalah apa yang disebut pada ayat ini. Lima. Ini pokoknya. Keimanan kepada Allah, hari akhirat, para malaikat, kitab Allah, dan para Nabi.
Kemudian beliau terangkan dalil tentang takdir. Jadi di sini tidak disebut dalil. Tadi cuma disebut lima. Adapun tentang takdir, dikhususkan ayat-ayat tentang takdir dalam Al-Quran. Karena itu oleh penulis ditambah satu dalil lagi. Dalil tentang takdir adalah firman Allah Ta’ala:
إِنَّا كُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنَـٰهُ بِقَدَرٍ
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Al-Qamar: 49)
Sesungguhnya segala sesuatu itu kami ciptakan dengan qadar. Kami ciptakan dengan takdir. Jadi apa saja yang Allah ciptakan, segala sesuatu yang Allah ciptakan itu diciptakan berdasarkan takdir. Allah yang menakdirkannya. Ini diantara dalil yang menunjukkan bahwa segala yang Allah adakan itu apa yang Allah takdirkan. Segala yang Allah adakan itu Allah yang menakdirkannya, Allah yang menciptakannya, Allah yang menghendakinya.
Sengan ini selesai sudah pembahasan tentang rukun iman.
Wallahu Ta’ala ‘Alam
Referensi:
- Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
- Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah