Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil

Landasan Kedua: Mengenal Agama Islam dengan Dalil-Dalil

Setelah itu, penulis rahimahullah ta’ala berpindah kepada landasan yang kedua. Kata beliau rahimahullah ta’ala: Landasan kedua adalah mengenal agama Islam dengan dalil-dalil. Mengenal agama Islam dengan dalil-dalil. Beliau terangkan apa itu Islam: Wa huwa Al-istislamu lillahi Bittauhidi Wal-inqiyadu lahu Bittaa Wal-bara’atu Minasyirki wa ahlihi. Islam itu adalah Al-Istislamu lillahi (berserah diri kepada Allah), Bittauhid (dengan mentauhidkannya), Wal-Inqiyadu lahu bittaa (dan tunduk kepadanya dengan ketaatan), Wal-Bara’at minasyirki wa ahlihi (serta berlepas diri dari perbuatan syirik dan pelakunya).

Islam itu mempunyai tiga tingkatan: Al-Islamu wal-Iman wal-Ihsan (Islam, Iman, dan Ihsan). Dan setiap tingkatan mempunyai rukun-rukun. Ini dari ucapan penulis rahimahullah ta’ala. Kita poinkan tiga pembahasan. Ada tiga masail:

1. Ta’rifuddin (Definisi Agama)

Kata din dalam istilah syari’i digunakan untuk dua ma’na (makna). Makna yang pertama adalah makna umum. Ad-din artinya ma’an zalahu allahu alal anbiya ditahkiki ibadati. Ad-din artinya apa yang Allah turunkan terhadap para nabi dalam merealisasikan ibadah kepada Allah. Definisi umumnya, ad-din adalah agama yang dibawa oleh para nabi dan para rasul. Sebab seluruh nabi dan rasul agamanya sama, agamanya adalah Islam.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Al-Anbiya’u Ikhwatun li’allat. Para nabi saudara-saudara seibu. Dan dikatakan dinuhum wahid, agama mereka adalah satu. Jadi ini agama dengan makna umum.

Yang kedua, Ad-Din ada ma’na yang kedua. Ad-Din bermakna At-Tauhid.

2. Ta’riful Islam (Definisi Islam)

Islam dalam definisi syari’ahnya juga punya dua makna. Ada ma’na umum dan ada ma’na khusus. Di atas makna umumnya, apa yang diterangkan oleh penulis disini? Wa huwa al-istislamu lillahi bitawheed (berserah diri kepada Allah dengan tawheed), Wal-inqiyadu lahu bithawah (dan terikat, tunduk kepada Allah dengan At-ta’a, ketaatan), Wal baratu minasyirki wa ahlihi (serta berlepas diri dari perbuatan kesyirikan dan berlepas diri dari pelaku kesyirikan).

Jadi ada empat hal di dalam Islam dengan makna yang umum ini. Ada empat perkara:

  1. Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkannya.
  2. Terikat ketaatan.
  3. Berlepas diri dari kesyirikan.
  4. Berlepas diri dari pelaku kesyirikan.

Islam dimakna yang kedua bermakna khusus. Bermakna khusus dan ini ada dua penggunaannya. Penggunaan yang pertama, Islam bermakna agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Kemudian yang kedua, bermakna amalan-amalan yang dhahir disertai dengan amalan batin yang membenarkan amalan dhahir tersebut. Ini ma’na yang kedua akan datang nanti. Dan ini yang disebutkan oleh penulis disini. Ada tiga tingkatan: Islam, iman, dan ihsan. Islam yang di tiga tingkatan ini, itu Islam dengan makna khusus. Karena Islam dengan makna khusus maksudnya lima rukun Islam. Itu amalan yang dhahir (zahir). Lima rukun Islam: Syahadat la ilaha illallah Muhammad Rasulullah, menegakkan solat, mengeluarkan zakat, haji bagi siapa yang mampu, dan berpuasa di bulan Ramadhan.

Tapi amalan zahir ini disertai dengan amalan batin yang membenarkan dhahir-nya (zahirnya). Disertai dengan amalan batin yang membenarkan dhahir-nya. Sama dengan iman dengan makna yang khusus. Iman itu kebalikannya adalah amalan batin disertai dengan dhahir yang membenarkan batinnya. Ini di penyebutan makna khususnya.

Islam Ada dua makna. Ada makna umum dan ada makna khusus. Ma’na umum yang disebut oleh penulis di dalam kitab ini. Ma’na khusus? Ada berapa penggunaan? Ada dua. Yang pertama, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Yang kedua, amalan-amalan yang dhahir atau rukun Islam yang lima, disertai dengan amalan batin yang membenarkan amalan dhahir tersebut.

Kalau kita paham ini, maka insya Allah akan mudah nanti memahami seluk-beluk Islam. Apa itu hakikatnya dan bagaimana Islam tersebut.

Pentingnya Mengenal Agama dengan Dalil

Kata penulis: Wahuwa al-istislamu lillahi bit-tawhid. Islam itu adalah al-istislam (berserah diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bit-tawhid.

Jadi Landasan Kedua ini mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya. Ini sudah kita terangkan di awal pembahasan dan di muqaddimah juga bahwa mengenal agama itu harus dengan dalil-dalil. Karena orang yang ikut-ikutan itu tidak bermanfaat baginya, tidak bermanfaat. Karena itu jawaban orang yang di alam kubur itu, dalam hadits Asma’ binti Abi Bakr riwayat Bukhari Muslim, semakna dengannya hadits Barak bin Azib riwayat Imam Ahmad. Ketika orang ini ditanya pertanyaan malaikat di alam kubur. Dia menjawab apa? Ha ha la adiri. Semi’tunna syai’an fakulituhu. Dia berkata, “Ha ha, saya tidak tahu. Saya hanya mendengar manusia berucap sesuatu, maka saya juga ikut-ikut mengucapkannya.” Ikut-ikutan ini tidak bermanfaat.

Beragama itu dengan dalil. Akan tetapi bukan artinya beragama itu dengan dalil diwajibkan setiap orang itu menghafal dalilnya. Menghafal itu kadar tambahan. Tapi yang penting, dalilnya pernah sampai kepadanya, pernah dia pahami. Kalau itu sudah sampai dan dia pahami, maka itu sudah cukup sebagai argumen hujjah terhadapnya. Dan pemahaman itu manusia bertingkat-tingkat di dalam pemahaman juga.

Kalau misalnya dia adalah orang ajam (non-Arab), dikatakan padanya telah sampai dalil, dia pahami. Apabila dalil itu dia mengerti, jadi ada yang terjemahkan padanya dalil tersebut. Ada pun orang-orang Arab yang mereka ini memahami bahasa Arab, maka sampainya Al-Quran itu telah cukup di dalam kepahaman terhadap mereka. Karena dikatakan supaya saya memperingatkan dengan Al-Quran ini. Dan siapa yang sampai Al-Quran itu kepadanya. Adapun menghafal itu kadar tambahan. Menghafal karena itu harus selalu ditanamkan di dalam diri tentang wajibnya memahami agama dengan dalil-dalil.

Sekarang ini subhanallah, banyak orang yang seakan-akan agama itu hanya ikut-ikutan. Siapa yang dia idola-kan, siapa yang dia tokoh-kan, maka pada idola dan tokohnya itulah seluruh pemahaman agamanya. Tidak melihat kepada dalilnya, Ini jalan yang keliru. Dan jalan yang sepertinya hanya berbuah penyesalan pada hari kiamat.

Karena itu dalam Al-Quran di surah Al-Furqan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan penyesalan orang yang cuma ikut-ikutan kepada tokohnya. Hari dimana orang yang zalim menggigit kedua tangannya. Kita di dunia ini, kalau kita lihat ada orang yang sangat sedih, yang kena musibah karena kadang hampir hilang kesadarannya, biasanya diketemukan dia gigit jarinya, ujung kukunya satu atau dua. Ini penyesalan. Ini pada hari kiamat bukan jari yang dia gigit, dua tangannya dia gigit ke mulutnya, menyesal dia apa yang dia katakan? Ya laytanit takhatu ma’ar rasulisabila. Wahai, andai kata saya dulu telah menjadikan sebuah jalan yang saya ikuti bersama ar-rasul. Baru dia menyesal. Kenapa dulu ketika di dunia dia tidak mengikuti jalan bersama Rasul? Wahai betapa menyedihkannya saya. Kenapa saya menjadikan si Fulan sebagai orang yang saya cintai? Si Fulan ini tokoh yang dia ikuti-ikuti, dia jadikan sebagai khalil, dia percayai, dia cintai, itu yang dia ikuti. Jalannya Rasul malah dia tidak ikuti.

Apa yang terjadi pada si Fulan ini? Dia telah menyesatkanku dari jalan Allah, dari ad-dikir. Setelah datang dikir itu kepadaku. Dan dalam manusia itu selalu berkhianat, selalu menjadi sebab seorang itu jauh dari taufiq, jauh dari kebaikan. Ini antara cara syaitan menyesatkan manusia. Karena itu seorang dai dia tidak tertipu dengan banyaknya orang yang mendengarkan apa yang dia ucapkan atau banyaknya orang yang kelihatannya mendukungnya. Tapi yang menjadi ukuran untuknya, orang-orang yang mendengarkannya, yang dia da’wahi, ini kembali kepada Al-Quran dan Sunnah. Bukan mengikut kepada dirinya.

Seorang da’i bukan berda’wah kepada dirinya. Dia berda’wah ke jalan Allah. Dia hanya menerangkan jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menjelaskannya kepada manusia. Maka ini dari hal yang penting untuk selalu diingat: Ma’rifatu dinil islami bil adillah. Mengenal agama Islam dengan dalil dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Apabila dikenal dasar ini, insya Allah akan mudah menyelesaikan berbagai hal yang terjadi di tengah umat ini. Ada sebagian hal yang diributkan di tengah umat, itu dasarnya karena sebagian orang tidak kembali kepada Al-Quran dan Sunnah, tidak kembali kepada dalil. Senangnya kembali kepada tokoh-tokohnya, senangnya kembali kepada hawa nafsunya, senangnya kembali kepada kebiasaan yang berjalan di tengah manusia. Andai kata mereka kembali kepada Allah dan Rasulnya, selesai masalah.

فَإِن تَنَـٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍۢ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`ān) dan rasul (sunahnya)” (QS. An-Nisa: 59)

وَمَا ٱخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِن شَىْءٍۢ فَحُكْمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ

Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.(QS. Asy-Syura: 10)

Kalau kalian berselisih pada sesuatu, kembalikan kepada Allah dan Rasulnya. Kembalikan kepada Allah artinya dikembalikan kepada Al-Quran. Kembalikan kepada Rasul artinya dikembalikan kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Apa yang kalian berselisih dalamnya, hukumnya kembali kepada Allah. Maka ini akan indah dari hidup itu.

ٱتَّبِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya” (QS. Al-A’raf: 3)

Kalau seorang berpegang dengan dalil, ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dan Rabb kalian. Ini mengikuti apa yang diturunkan, yang diturunkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jadi kalau seorang hamba berjalan di atas jalan ini, maka dia berpegang di atas prinsip, di atas agama: ikuti apa yang diturunkan kepada kalian dan Rabb kalian, dan jangan kalian ikuti selain daripada Allah. Dari wali-wali, ini wali-wali ini awliya, jamaah dari wali, orang yang dia cintai, orang yang dia hormati, orang yang dia ikuti, pemimpin-pemimpin, tokoh-tokoh yang dibahasakan awliya.

Subhanallah, memang banyak orang terfitnah dengan manusia. Ada yang terfitnah dengan penampilan orang tersebut, dari kelembutan, kesederhanaan gerak-geriknya. Ada yang terfitnah dengan retorika, tutur kata, ucapan, lisan. Ada yang terfitnah dengan banyaknya orang yang bersamanya, pengikutnya. Ada yang terfitnah dengan harta, dengan dunia, sehingga dia keluar dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

ثُمَّ جَعَلْنَـٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْرِ فَٱتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Kemudian, Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)

Di ayat yang lain, Allah berfirman: Kemudian kami jadikan Nabi Muhammad di atas syariat dari sebuah perkara. Ikuti syariat tersebut dan jangan kalian mengikuti hawa nafsu-hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

Ini dari beberapa dalil yang menunjukkan tentang kewajiban beragama dengan dalil. Bukan cuma ikut-ikutan. Apalagi menjadikan selain daripada Allah sebagai panutan-panutan yang diikuti oleh seorang muslim dan muslimah. Adalah dalil Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ini cara beragama, ini kaedah penting. Kaedah ini yang menyelamatkan dari pemikiran-pemikiran menyimpang. Menyelamatkan dari pemikiran-pemikiran menyimpang. Sebab orang yang datang dengan perkara baru, orang yang berbuat bid’ah, kalau ditanya apa dalilnya?. Maka ini akan membuat mereka apa? Kalang kabut disitu. Tidak bisa membawakan dalil. Kalau ada ayat dia sebut, atau ada hadits dia sampaikan, tidak ada urusannya, tidak ada kaitannya dengan bid’ah yang dia kerjakan.

Islam disini ditafsirkan oleh penulis. Dia adalah berislam Lillahi (hanya untuk Allah) dengan mentauhidkannya. Ini asalnya, dasarnya pada Islam adalah ini. Terikat dengan ketaatan. Dan berlepas diri dari kesyirikan serta berlepas diri dari pelaku kesyirikan.

3. Tingkatan-tingkatan agama

Pembahasan yang ketiga: Maratibuddin (tingkatan-tingkatan agama). Penulis menerangkan di sini: Wa huwa thalathu maratib. Hua maksudnya Islam itu ada tiga tingkatan.

Kalau digambar seperti lingkaran, lingkaran besarnya namanya Islam. Di dalam lingkaran Islam ini ada tiga lingkaran yang lain di dalamnya. Ada lingkaran lagi kecil di dalamnya, namanya lingkaran Islam juga. Ini adalah Islam dengan makna Makna khusus. Kalau lingkaran yang pertama tadi, Islam dengan Umum.

Di dalam lingkaran Islam yang di dalam, lingkaran Islam yang kedua yang di dalam, ada lagi lingkaran iman. Di dalam lingkaran iman ada lagi lingkaran namanya lingkaran Ihsan. Sebab orang yang sudah masuk ke lingkaran Ihsan, dia artinya sudah mencakup lingkaran iman dan lingkaran Islam. Orang yang berada di lingkaran iman, belum tentu dia berada di lingkaran Ihsan. Tapi sudah pasti dia masuk dalam lingkaran Islam. Orang yang berada di lingkaran Islam ini, belum tentu dia masuk di dalam lingkaran iman dan lingkaran Ihsan. Jadi seperti itu pendekatannya, hakikat tentang tingkatan-tingkatan agama ini.

Islam dalam maknanya yang khusus, bahwa Islam itu rukun Islam yang lima atau amalan yang zahir, disertai dengan amalan hati yang membenarkan amalan zahir tersebut. Yaitu Islam. Kalau iman, definisinya kebalikannya. Iman itu adalah amalan yang batin, yaitu rukun iman yang enam. Jadi amalan yang batin, tapi disertai dengan zahir yang membenarkan keimanannya, membenarkan batinnya.

Ihsan ini tingkat itqan, tingkat kesempurnaan. Dia lengkap dan sempurna pada seluruh sendi-sendi agama. Jadi kelihatan perbedaannya: kalau Islam itu terkait dengan amalan yang zahir. Kalau iman terkait dengan amalan yang batin. Kalau ihsan terkait dengan Itqan. Bagaimana seorang itu sempurna, lengkap dan mapan di atas tingkatan agama itu.

Islam itu amalan yang zahir disertai dengan amalan batin yang membenarkan Zahirnya. Kalau zahir saya diterima, itu tidak cukup ya. Karena kaum munafikin bersyahadat: Asyadu an la ilah illallah, Asyadu anna muhammad rasulullah. Mereka solat juga, hadir ke masjid solat. Walaupun solatnya itu malas, riya’. Bersedekah juga mereka, keluarkan zakat. Tapi kikir, sering mengungkit-ngungkit. Kalau dia bersedekah ngomel, itu kaum munafikin. Dia kadang juga bersedekah, dia celah sedekahnya orang. Puasa, malas juga. Demikian pula haji. Jadi mereka kerjakan, kaum munafikin mengerjakan.

Jadi amalan dohirnya menjadi benar dengan Keimanan dalam hati. Harus ada dari amalan hati yang membenarkan dohir ini. Kalau dalam hatinya disembunyikan kekafiran, maka yang zahirnya tidak bermanfaat.

Sama dengan keimanan. Kalau dia katakan dalam hatinya dia beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, beriman kepada hari akhirat, beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Tetapi dia sendiri tidak ada amalan zahirnya yang menunjukkan benarnya apa yang dalam hati. Tidak pernah dia sholat. Tidak terdengar dia bersyahadat. Maka ini menunjukkan tidak benarnya Amalan batinnya. Amalan batin itu benar kalau terlihat pengaruhnya di amalan lahirnya. Harus ada bukti dari amalan lahir yang membenarkan batinnya.

Sangat terikat antara Islam dan iman. Kalau ihsan, ihsan adalah kadar itqan pada Islam dan iman. Begitu dia mutqin, sempurna pada Islam dan imannya, itulah disebut derajat ihsan. Karena itu derajat yang paling tinggi dari tiga tingkatan ini, adalah tingkatan ihsan. Karena itu orang yang sudah sampai ke tingkat ihsan, masuk dalam lingkaran ihsan, berarti dia sudah ada di dalam lingkaran iman dan lingkaran Islam. Sebagaimana orang yang berada di tingkatan iman, ada di lingkaran iman, ini dia sudah ada di dalam lingkaran Islam. Tapi belum tentu dia masuk di dalam lingkaran Ihsan. Sebab Ihsan ini terkait dengan terajat itqan.

Karena itu ditafsirkan pada ayat keseratus dari surat Tawbah tentang para sahabat:

وَٱلسَّـٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَـٰنٍۢ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,”(QS. At-Tawbah: 100)

Dan siapa yang mengikuti mereka dengan ihsan. Ihsan disini diartikan oleh para ulama ahli tafsir dengan itqan. Itqan adalah kalau dia misalnya membuat sesuatu, ada pekerjaan, sesuatu dia kerjakan, sesuatu itu secara lengkap sempurna sehingga tidak ada kritikan lagi pada sesuatu itu, tidak ada hal yang dicari lagi. Jangan sudah dia bekerja dikatakan “Fulan ini belum selesai, kenapa kamu belum buat begini?”. Enggak. Kalau sudah orang yang mengerjakan sesuatu dengan ihsan, dengan itqan, artinya tidak ada lagi yang mengeritik dalam kerjaan itu. Semuanya sudah menerima, sudah puas.

Kalau diibaratkan mengikuti jalannya para sahabat. Apabila para sahabat berjalan meninggalkan jejak-jejak kaki. Maka mengikuti mereka dengan ihsan, artinya dia mengikuti jejak yang sama. Tidak keluar darinya. Tidak bikin jejak baru. Ada orang yang menginjak jejak kaki, jejaknya jadi berubah. Ini tidak. Ihsan itu diikuti jejak itu persis. Sama. Tidak merubahnya. Dia hanya menapaki jejak yang sama.

Baik, jadi disini penulis rahimahullah ta’ala sudah menerangkannya tentang apa itu Islam dan beliau sudah terangkan tentang tingkat-tingkat Islam.

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah