Istighatsah – Meminta Dihindarkan dari kesusahan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

  • Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
  • Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
  • Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Istighatsah

Definisi Istighatsah

Al-Istighatsah itu adalah Tolabul Ghaits. Tolabul Ghaits adalah meminta supaya dihindarkan dari kesusahan, diselamatkan dari bahaya.

Perbedaan antara Doa dan Istighatsah: kalau istighatsah itu dia berlindung dari hal yang sifatnya makruf, sesuatu yang sudah membahayakannya. Kalau doa itu dia meminta umum. Ya, kalau doa baik. Itu perbedaan Doa dengan Istighatsah.

Berikutnya, apa perbedaan antara Istighatsah dan Istiadah? kalau istiadah itu dia memohon perlindungan supaya dijaga dari hal yang jelek, dibentengi, ditamengi supaya terpelihara tidak didekati oleh kejelekan. Kalau istighatsah, dia sudah kena musibah, kena bahaya, dia minta kepada Allah supaya dibantu menghilangkan bahaya ini. Jadi istighatsah itu permohonan supaya menghilangkan bahaya yang telah menimpanya.

Jadi istighatsah itu cocok dibahasakan dengan memohon pertolongan. Sebab pertolongan itu sifatnya diberikan pada orang yang sudah kena apa, bahaya. Kalau orang yang belum kena bahaya, itu disebut perlindungan.

Istighatsah itu mengandung dua hal. Yang pertama, kesempurnaan kefakiran kepada Allah. Dia betul-betul fakir kepada Allah. Dan yang kedua, dia meyakini bahwa Allah mencukupinya. Ini dua kandungan dari apa Al-Istighatsah. Dia betul-betul sempurna kefakirannya kepada Allah, dan yang kedua dia meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mencukupinya.

Dalil Al-Istighatsah

Kata penulis Rahimahullah, “Wa dalilul istighatsah kauluhu ta’ala: Istaghitsuna Rabbakum Fasta’jaba lakum”. Dalil istighatsah adalah firman Allah Ta’ala:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ

“Ingatlah ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu diperkenankan-Nya kepada kalian.” (QS. An-Anfal: 9)

Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian, wahai umat Islam, telah berjumpa dengan musuh kalian. Maka waktu itu, “Tastagitsuna Rabbakum”, kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian. Ini kejadian di Surah Al-Anfal, sudah terjadi, bertemu dua pasukan. Jadi bahayanya itu sudah ada. Karena itu bahasanya bahasa Istighatsah.

Bahasa-bahasa Istighatsah umum, bikin acara Istighatsah, kumpul-kumpul di mana begitu. Dan kadang dia tidak paham apa istighatsah itu. Mungkin kadang dia yang dia minta, mungkin hal yang sudah menimpa umat, itu masuk Istighatsah. Tapi kadang ada hal-hal yang dikhawatirkan, ditakutkan, itu bukan istighatsah. Di situ namanya istiadah.

Tapi yang menjadi rumit ini, bikin acara yang seperti itu pada hal-hal yang ada ritual khusus, perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya. Kalau seorang mengajak manusia untuk berdoa, kemudian mendoakan kebaikan untuk negeri, itu adalah hal yang baik, perkara yang bagus. Tapi harusnya hal yang sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Jangan masukkan di dalamnya ritual-ritual yang tidak ada dalil.

“Istaghitsuna Rabbakum”, ketika kalian meminta pertolongan kepada Rabb kalian, “Fastajabalakum”, lalu Allah mengabulkan. Ini diperbincangkan, kejadian ini ketika Rasulullah meminta pertolongan maka dikabulkan. Dikabulkan, diberi dari malaikat, diturunkan kepada kaum mukminin sehingga mereka menang. Karena itu di kelanjutan ayat:

إِنَّا مُنْصِرُونَكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

“Sungguh, Aku akan menolong kalian dengan seribu malaikat yang mengikuti kalian.”

Padahal jumlah waktu itu kaum musyrikin lebih dari seribu, dan umat Islam cuma berapa? 300 lebih, mungkin 313, sekitar itu. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memohon kepada Allah dan para sahabat memohon. Itulah Istighatsah namanya. Kemudian dibantulah, maka turun para malaikat. Dan disebutkan dalam riwayat di Perang Badar itu ada malaikat-malaikat yang turun berwujud manusia, berperang ikut di dalam peperangan.

Baik, ini malaikat. Kalau turun, benar-benar apa, turun kemenangan. Itu kalau malaikat turun, jangan seperti cerita-cerita di Suriah, turun malaikat. Ini cerita-cerita para pemberontak, orang-orang yang jahil. Kemudian untuk mendukung patwa-patwa menyesatkan supaya manusia memberontak kepada pemerintah. Itu katanya ada yang melihat apa namanya, orang pakaian putih, tidak tau dari mana. Orang pakaian putih boleh dari mana? Pakaian putih? Kalau malaikat turun, malaikat turun pasti mati semua. Itu orang kan begitu. Kalau malaikat benar turun, ini tetap begitu, begitu. Saya ini Ashabul Fitnah, seperti itu biasanya mencari alasan saja untuk pembenaran perbuatannya yang keji. Sudah terbunuh kaum Muslimin di mana-mana, dia masih menggambarkan bahwa diri mereka benar. Jelas, ada lebih mengerikan lagi. Kalau penduduk Suriah sembilan juta orang, terus satu juta mati untuk kebaikan, delapan juta maka satu juta ini gak apa-apa mati. Patwa, patwa konyol seperti tidak ada rasa takut kepada Allah, tidak ada harganya nyawa kalau Muslimin. Padahal satu jiwa yang melayang itu seakan akan dia membunuh seluruh, seluruh manusia. Tapi sebagian orang tidak ada rasa takut.

Jadi dari dalil ini tampak bahwa Istighatsah itu adalah ibadah karena Allah mencintainya, dikabulkan permohonannya. Berarti dia adalah ibadah. Hanya diberikan kepada Allah. Dan kaidahnya, kalau Istighatsah adalah ibadah, harus ikhlas hanya untuk Allah. Memalingkannya kepada selain Allah, hukumnya Syirik Akbar.

Bentuk-Bentuk Al-Istighatsah

Istighatsah itu ada beberapa bentuk. Disebutkan Al-Syeikh Ibn Utsaimin di sini Rahimahullah ada empat bentuk Istighatsah.

1. Istighatsah kepada Allah

Yang pertama dijelaskan oleh penulis di sini, Istighatsah yang bersifat ibadah.

2. Istighatsah kepada Orang Mati atau Orang Hidup yang Tidak Hadir dan Tidak Mampu

Istighatsah yang kedua, Istighatsah kepada orang-orang mati atau kepada orang-orang yang hidup tapi tidak hadir di situ, tidak mampu. Maka ini dari Syirik Akbar.

3. Istighatsah kepada Orang Hidup yang Hadir dan Mampu

Kemudian yang ketiga adalah Istighatsah kepada orang-orang yang hidup, hadir, dan dia mampu. Untuk itu, Nabi Musa ‘Alaihissalam disebutkan dalam Al-Quran:

فَٱسْتَغَـٰثَهُ ٱلَّذِى مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِى مِنْ عَدُوِّهِۦ فَوَكَزَهُۥ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ

“Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu.” (QS. Al-Qasa: 15)

Kaum dari Nabi Musa ini beristighatsah kepada Nabi Musa agar supaya menyelamatkan dia dari musuhnya. Maka Nabi Musa pun meninju, ya, mengikut Fir’aun ini yang mengganggu Bani Israel tadi. Maka matilah orang-orang tersebut. Ini di kisahnya di Surah Al-Qasas. Jadi Istighatsah itu kalau dia terhadap makhluk hidup, mampu, ini hukumnya boleh. Ini tiga syarat, itu dibolehkan.

4. Istighatsah kepada Orang Hidup yang Tidak Mampu

Yang keempat, Istighatsah kepada orang yang hidup tapi tidak mampu. Tidak mampu, ini masuk ke dalam bentuk apa? Sia-sia. Nah, tapi kalau misalnya dia bilang, dia lihat orang lumpuh tadi, dia sudah mau tenggelam, dia sudah tenggelam, ada orang apa namanya, buta lewat, minta tolong. Ini orang buta mana bisa dia melihat, berenang?. Atau orang buta lewat, misalnya dia tidak punya tangan, kemudian minta tolong padahal dia sudah mau tenggelam. Di sini kalau dia hanya minta tolong, ini hal yang sia-sia karena dia tidak mampu untuk melakukannya. Tidak mampu. Kecuali kalau dia yakin ini si buta tapi dia orang salih, mungkin dia komat-kamit mulutnya sedikit, “Saya tiba selamat”. Begitu kan? Ini namanya keyakinan aneh yang tersembunyi. Ini bahaya. Seperti ini namanya keyakinan rahasia. Itu maksud di pembahasan kesyirikan.

Referensi:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah