Hadits mengenai kisah kematian Abu Thalib

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

  • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
  • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

Bab 17 Firman (Allah) Ta’ala, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai” (Al-Qashash: 56)

Dalam As-Shahih dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, (ayahnya) berkata, “Tatkala Abu Thalib akan meninggal dunia, datanglah Rasulullah ﷺ kepadanya, dan saat itu Abdullah bin Abi Umayyah serta Abu Jahal berada di sisinya, maka (Rasulullah) berkata kepadanya,

“Wahai pamanku, ucapkanlah La Ilaha Illallah, suatu kalimat yang dapat kujadikan sebagai hujjah untukmu di sisi Allah“

Namun, kedua orang itu berkata, ‘Apakah engkau membenci agama Abdul Muththalib?’

Nabi ﷺ pun mengulangi ucapan (beliau) kepada paman (beliau), tetapi kedua orang itu juga mengulang-ulangi perkataan mereka kepadanya. Maka, akhir perkataannya adalah bahwa ia masih tetap berada pada agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan La Ilaha Illallah.

Oleh karena itu, Nabi ﷺ bersabda, ‘Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu sepanjang aku tidak dilarang‘

Maka, Allah ﷻ menurunkan (firman-Nya), ‘Nabi dan orang-orang yang beriman tidaklah patut memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun (orang-orang musyrik) itu adalah kaum kerabat(-nya)’ (At-Taubah: 113)

Mengenai Abu Thalib, Allah menurunkan (firman-Nya), ‘Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima hidayah‘ (Al-Qashash: 56)

Biografi

Ibnu Musayyib adalah Sa’id bin Al-Musayyib, salah seorang ulama dan ahli fikih serta termasuk kibar tabiin. Beliau meninggal setelah 90 H.

Makna Hadits Secara Global

Adalah Abu Thalib seorang yang senantiasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Dia melakukan perlindungan yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain, sehingga Nabi ﷺ sangat bersemangat terhadap hidayah pamannya tersebut. Di antara upaya beliau dalam rangka semangatnya tersebut adalah bahwa beliau menjenguknya ketika sakit. Maka Nabi ﷺ mendatanginya ketika dia sedang dalam sakaratul maut dan menawarkan, (untuk masuk) Islam, agar Islam menjadi penutup bagi kehidupannya, sehingga dia mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Nabi ﷺ meminta agar Abu Thalib mengucapkan kalimat tauhid La Ilaha Illallah, Sedangkan kaum musyrikin menawarkan agar Abu Thalib tetap dalam agama nenek moyangnya yaitu agama kesyirikan, karena mereka mengetahui bahwa kalimat ini menunjukkan penolakan terhadap kesyirikan serta pengikhlasan ibadah hanya kepada Allah semata.

Nabi ﷺ mengulangi permintaannya kepada Abu Thalib agar melafadzhkan syahadat (_La Ilaha Illallah) itu, tetapi kaum musyrikin juga mengulangi bantahannya sehingga mereka telah menjadi sebab perpalingannya dari kebenaran dan kematiannya di atas kesyirikan.

Kemudian ketika itu, Nabi ﷺ bersumpah untuk memintakan ampun baginya kepada Allah selama hal itu tidak dilarang (oleh Allah). Maka Allah menurunkan larangan tentang hal tersebut dan menjelaskan bahwa hidayah itu di tangan Allah, dan Allahlah yang memberikan keutamaan dengan hidayah itu kepada siapa yang Dia kehendaki. Hal ini karena Allah lebih mengetahui orang-orang yang pantas mendapatkan hidayah dan orang-orang yang tidak pantas mendapatkan (hidayah) tersebut.

Hubungan antara Hadits dan Bab

Bahwasannya Ar-Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam tidak berkuasa untuk memberi manfaat kepada orang yang paling dekat dengan dirinya, yang menunjukkan akan batilnya bergantung kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya, apalagi kepada selainnya.

Faedah Hadits

  1. Bolehnya menjenguk orang musyrik yang sakit apabila diharapkan dapat masuk Islam.
  2. Bahayanya sahabat yang jelek dan teman yang jahat bagi seseorang.
  3. Bahwa makna kalimat La Ilaha Illallah adalah meninggalkan peribadahan kepada patung, para wali, dan orang shalih, serta mengesakan peribadahan hanya untuk Allah, dan bahwasannya orang-orang musyrikin mengetahui maknanya.
  4. Bahwasannya siapa saja yang mengucapkan La Illaha Illallah dengan mengetahui (makna kalimat tersebut) dan penuh keyakinan (tidak ragu) serta mengimani (kalimat) itu, dia telah masuk Islam.
  5. Bahwa semua amalan itu bergantung pada (amalan) yang terakhir.
  6. Diharamkan memintakan ampun untuk orang-orang musyrikin, juga diharamkan untuk loyal dan mencintai mereka.
  7. Batilnya bergantung kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan yang lainnya dalam usaha mencari manfaat dan menolak bahaya.
  8. Bantahan terhadap orang yang meyakini keislaman Abu Thalib.
  9. Bahanya taqlid kepada nenek moyang dan para pembesar dengan menjadikan ucapan-ucapan mereka sebagai hujah untuk rujukan ketika terjadi perselisihan.

Sumber:

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.


Catatan Kajian

Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah: Bab 17

Hadits ini menafsirkan ayat yang sebelumnya.

Periwayat hadits Ibnul Musayyab merupakan salah satu Al-Fuqoha As-Sab’a, tujuh ahli fikih kota Madinah, yaitu:

  1. Urwa bin Zubair bin Awwam
  2. Ubaidullah bin Abdillah bin Usbah bin Mas’ud
  3. Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar As-Syidiq.
  4. Syaid bin Musayyab
  5. Abu Bakr bin Abdurahman bin Harits
  6. Sulaiman bin Yasar
  7. Khariya bin Zaid.

Ibnul Musayyab adalah imamnya para tabi’in dari sisi ilmu. Tabi’in paling afdhal adalah Uwais Al-Qarni karena Nabi memberikan hadits yang mengisyaratkan akan hal itu, yaitu Nabi berkata kepada Umar, “Nanti akan datang seorang lelaki yang bernama Uwais dari Bani Qarun. Apabila ketemu dia, minta supaya didoakan. Akan tetapi dari sisi ilmu, Ibnul Musayyab lebih utama.

Ayahnya, Al-Musayyab, adalah seorang sahabat, demikian pula kakeknya, Hazn, adalah seorang sahabat. Hazn meninggal di Yamama, ketika perang melawan Musailamah Al-Kadzab. Sedangkan ayahnya, Al-Musayyab, wafat di masa khilafah Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu.

Tatkala Abu Thalib akan meninggal dunia, beliau didatangi oleh Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bolehnya mengunjungi orang kafir yang sedang sakit, apabila ada maslahat atau apabila diharapkan masuk Islam. Waktu itu di sisi Nabi ada Abdullahi bin Ummaya dan Abu Jahal.

Periwayat hadits Al-Musayyab hadir pada kejadian ini, sehingga masuk Islam. Demikian pula Abdullahi bin Ummaya, pentolan Quraisy, masuk Islam. Abu Jahal mati di atas kekafiran, yang gelarannya adalah Firaun di tengah umat ini.

Maka, Nabi berkata, “Wahai Pamanku, katakanlah La Ilaha Illallah“. Terdapat kewajiban mengucapkan La Ilaha Illallah bagi yang ingin selamat dari api neraka dan masuk ke dalam Islam. Menunjukkan tidak cukup hanya menunjukkan pembelaan dan kecintaan, tapi harus ditegaskan dengan berucap La Ilaha Illallah.

“Suatu kalimat yang dapat menjadikannya sebagai hujjah di sisi Allah“. Maksudnya, ucapan La Ilaha Illallah menjadi argumen di mana Nabi Muhammad akan membelanya di depan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa amalan itu tergantung penutupnya. Apabila penutupnya berucap La Ilaha Illallah, maka akan bermanfaat.

Namun kedua orang itu, Abdullahi bin Ummaya dan Abu Jahal, berkata kepada Abu Thalib, “Apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib?” Hal ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin mengerti konsekuensi makna ucapan La Ilaha Illallah, yaitu dia harus kafir terhadap segala yang diibadahi selain daripada Allah dan berlepas diri dari agama kaum musyrikin. Sehingga kedua orang ini berupaya untuk tetap berada di kaum musyrikin dengan berkata, “Apakah engkau benci kepada agama Abdul Muthalib?”

Nabi ﷺ mengulangi ucapan kepada Abu Thalib, tetapi mereka berdua juga mengulangi perkataan mereka kepada Abu Thalib.

Maka akhir perkataan Abu Thalib masih berada di atas agama Abdul Muthalib dan enggan mengucapkan La Ilaha Illallah.

Hal ini menunjukkan buruknya teman duduk karena andaikata tidak ada teman yang jelek ini, mungkin Abu Thalib masuk Islam. Dua teman jelek ini membuat Abu Thalib meninggal di atas kekufuran. Sehingga peringatan besar agar mengawasi teman duduknya karena bisa membawanya kepada kebinasaan.

Kemudian Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu sepanjang aku tidak dilarang“. Maka Allah menurunkan firmannya, “Nabi dan orang-orang yang beriman tidaklah patut memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik” (At-Taubah: 113). Setelah tampak jelas bahwa mereka adalah penghuni neraka jahim, walaupun kaum musyrikin itu kerabatnya sendiri. Ayat ini menunjukkan larangan untuk memohonkan ampun bagi kaum musyrikin sekalipun kerabatnya. Setelah tampak jelas, maksudnya menunjukkan kejelasan bahwa mereka adalah penghuni neraka jahim.

Allah menurunkan firmannya tentang Abu Thalib, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) takkan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”

Hadis ini menerangkan makna ayat dan menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia yang paling dekat dengan Allah, tidak bisa memberikan manfaat hidayah kepada pamannya. Sehingga batilnya bergantung kepada Nabi dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Apabila terhadap Nabi saja hal yang batil, maka selain Nabi lebih batil lagi.

Faedah hadits:

Pertama, bolehnya mengunjungi orang kafir yang sakit apabila diajak masuk Islam.

Kedua, bahayanya berteman dengan teman yang buruk.

Ketiga, makna La Ilaha Illallah adalah meninggalkan peribadatan kepada berhala, wali-wali, dan orang sholeh serta mengesakan Allah dengan ibadah. Kaum musyrikin mengetahui akan makna ini.

Keempat, siapa yang berucap La Ilaha Illallah di atas ilmu dan keyakinan serta meyakininya, maka masuk dalam Islam.

Kelima, amalan tergantung pada penutupnya.

Keenam, haramnya memohonkan ampun untuk kaum musyrikin. Sebagaimana diharamkan memberi loyalitas dan kecintaan kepada mereka.

Ketujuh, batilnya bergantung kepada Nabi dan selainnya dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya.

Kedelapan, bantahan terhadap orang yang mengatakan Abu Thalib masuk Islam.

Kesembilan, bahaya fanatik terhadap bapak-bapak dan nenek moyang. Hal ini yang menjadikan Abu Thalib tidak mau masuk Islam.

Wallahu Ta’ala A’lam

Bab 17 Firman (Allah) Ta’ala, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai” (Al-Qashash: 56)

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

  • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
  • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

Bab 17 Firman (Allah) Ta’ala, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai” (Al-Qashash: 56)

Kelengkapan Ayat

إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima hidayah” (Al-Qashash: 56)

Hubungan antara Bab dan Kitab Tauhid

Bab ini merupakan bantahan terhadap para penyembah kubur yang meyakini bahwa para nabi dan orang-orang shalih bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Sisi bantahan tersebut adalah bahwa Nabi ﷺ telah berusaha sekuat tenaga untuk memberi hidayah kepada pamannya (ketika masih hidup), tetapi beliau tidak berhasil. Kemudian, Nabi ﷺ mendoakan kebaikan untuk pemannya setelah kematian (paman)nya, tetapi beliau dilarang melakukan hal itu. Lalu, Allah Subhanahu menyebutkan bahwa Rasul ﷺ tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang dia cintai. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak berkuasa untuk mendatangkan manfaat dan menolak bahaya sehingga batallah sikap bergantung kepada Nabi ﷺ dalam usaha mendapatkan manfaat dan menolak bahaya, lebih-lebih bergantung kepada selain beliau.

Innaka ‘sesungguhnya kamu’: ucapan ini ditujukan kepada Nabi ﷺ.

La Tahdii ‘kamu tidak dapat memberi petunjuk’: yakni tidak dapat memberi hidayah taufik untuk masuk Islam. Adapun hidayah dalam arti berdakwah dan memberikan keterangan, maka Rasul ﷺ kuasa atasnya. Allah berfirman,

وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ

“Sesungguhnya engkau betul-betul memberi hidayah kepada kalan yang lurus” (Asy-Syu’ra: 52)

Man Ahbabta ‘orang yang kamu cintai’: untuk mendapatkan hidayah.

Walakinnallaha yahdii mayyasyaa‘ ‘akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki’: yakni memberi taufik untuk masuk Islam.

Wahuwa a’lamu bilmuhtadiin ‘dan Dia lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk’: yakni lebih mengetahui orang-orang yang pantas mendapat hidayah dan orang-orang yang pantas sesat.

Makna Ayat Secara Global

Allah Ta’ala mengatakan kepada Rasul-Nya ﷺ: sesungguhnya kamu tidak mampu memberi taufik untuk masuk Islam kepada orang yang kamu cintai, tetapi hal itu ada di tangan Allah. Dialah yang memberi taufik kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia yang lebih mengetahui orang-orang yang berhak mendapat hidayah dan orang-orang yang tidak berhak mendapat (hidayah).

Hubungan antara Ayat dan Bab

Pada ayat ini terdapat dalil yang jelas bahwa Rasul ﷺ tidak memiliki kekuasaan terhadap menfaat dan bahaya, tidak pula memberikan atau menghalangi, dan bahwa perkara itu semuanya ada di tangan Allah. Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap orang-orang yang menyeru (meminta) Nabi ﷺ dalam rangka menghilangkan kesulitan-kesulitan mereka dan memenuhi keperluan-keperluan mereka.

Faedah Ayat

  1. Bantahan terhadap orang-orang yang menyakini para wali dapat memberi manfaat atau bahaya serta ikut mengatur segala urusan melalui karamahnya setelah meninggal.
  2. Bahwa hidayah taufik berada di tangan Allah Subhanahu.
  3. Penetapan sifat ilmu bagi bagi Allah Subhanahu.
  4. Penetapan sifat hikmah bagi Allah Subhanahu.
  5. Penetapan batilnya bergantung kepada selain Allah.

Catatan Kajian

Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah: Bab 17

Bab ini datang setelah pembahasan syafa’at dan masih berkaitan dengan beberapa bab sebelumnya, untuk menjelaskan tentang keharusan memurnikan tauhid hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Telah diterangkan tentang malaikat, hamba Allah yang paling dekat; mereka juga adalah makhluk yang perlu kepada Allah. Demikian pula manusia yang juga makhluk yang perlu kepada Allah, termasuk para rasul dan para wali. Semuanya adalah makhluk yang tidak berhak untuk diibadahi.

Juga telah diketahui bahwa syafaat hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kepada siapa saja yang beribadah kepada selain Allah, kepada hal yang tidak mampu kecuali Allah. Maka hal ini termasuk kepada kesyirikan.

Maka dalam bab ini, penulis ingin menegaskan bahwa syafaat itu murni milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nabi Muhammad ﷺ tidak berserikat dalam hal ini. Seseorang yang beliau cintai saja tidak mampu memberi hidayah.

Sehingga ibadah kepada Nabi ﷺ adalah ibadah yang batil. Apabila ibadah kepada Nabi ﷺ yang merupakan makhluk yang paling afdhal dianggap batil, maka beribadah kepada selain beliau menjadi lebih batil lagi.

Terdapat dua penekanan pada Bab ini:

  1. Penjelasan bahwa syafaat hanya milik Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Nabi Muhammad ﷺ, hamba yang paling dekat dengan Allah, tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang dia cintai.
  2. Penegasan terhadap kaum musyrikin yang meyakini para Nabi dan orang-orang shalih memiliki manfaat dan bisa menolak bahaya. Apabila Nabi Muhammad ﷺ tidak bisa memberi hidayah kepada siapa yang beliau cintai, maka hidayah itu hanya diminta dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Bab firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, Akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lah, Allah, yang paling tahu siapa yang berhak mendapatkan hidayah tersebut.“

Hidayah, terkait dengan pembahasan Bab ini, terbagi menjadi dua:

  1. Hidayah Ad-dalala wal irsyad, yaitu hidayah yang menunjukan, mengarahkan dan membimbing.
  2. Hidayah At-taufiq wal ilham, hidayah ini hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Hidayah yang dinafikan dalam ayat ini, bahwa Nabi tidak bisa memberikan hidayah yaitu hidayah At-taufiq wal ilham. Nabi Muhammad tidak bisa memberi taufiq dan ilham kepada siapa yang kamu cintai sehingga masuk ke dalam Islam. Hidayah at-taufiq wal ilham hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ayat ini semisal dengan Firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Baqarah: “Bukan atas engkau, Nabi Muhammad, memberi hidayah kepada mereka“.

Hidayah Ad-dalala wal Irsyad, yaitu menunjukkan, mengajak, dan membimbing. Hidayah ini ditetapkan untuk Nabi Muhammad ﷺ. Nabi Muhammad ﷺ mengajak manusia ke jalan Allah, menunjukkan segala hal yang diperlukan oleh manusia. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Asy-Syura, “Dan engkau, Nabi Muhammad, sungguh memberi hidayah kepada jalan yang lurus“.

Demikian juga firman Allah, “Adapun Tsamud, kami telah beri hidayah kepadanya. Tapi dia lebih mencintai kebutaan di atas petunjuk atau hidayah“. Hidayah di sini juga adalah hidayah Ad-dalala wal irsyad.

Al-Qur’an perlu ditadaburi makna-maknanya sehingga tidak salah mengartikan bahwa terdapat kontradiksi dalam Al-Qur’an. Seperti dua ayat di atas, bahwa Nabi Muhammad tidak bisa memberi hidayah, kemudian di ayat yang lain Nabi Muhammad bisa memberi hidayah. Banyak dari kaum pembenci Islam yang mengungkap ayat-ayat seperti ini dengan tujuan membuat umat Islam ragu terhadap agamanya.

Beberapa pelajaran dari ayat ini:

Pertama, terdapat bantahan terhadap kaum musyrikin yang meyakini para nabi dan wali-wali, bahwa mereka bisa memberi manfaat dan menolak bahaya.

Kedua, hidayah, taufik, dan ilham hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ketiga, dalam ayat bahwa kecintaan yang bersifat tabiat kepada orang kafir, tidak dipermasalahkan. Misalkan seorang Muslim mencintai ayahnya yang kafir. Cintanya karena ayahnya, bukan kekafirannya. Dalam ayat “Siapa yang engkau cintai“. Allah tidak menegur Nabi yang mencintai pamannya, Abu Thalib.

Keempat, terdapat penetapan ilmu hanya untuk Allah dan penetapan hikmah hanya untuk Allah.

Kelima, terdapat batilnya bergantung kepada selain Allah.

Wallahu Ta’ala A’lam

Sumber:

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.

Inabah – Kembali kepada Allah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Inabah – Kembali kepada Allah

Terjemahan Kitab

Dalil inabah adalah firman (Allah) Ta’ala:

وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا۟ لَهُۥ

“Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian, dan berserahdirilah kepada-Nya (Al-Zumar: 54)

Pembahasan

Pertama: Definisi Inabah

Makna global inabah adalah kembali kepada Allah. Inabah hati artinya cinta kepada Allah, mengingat Allah, dan membesarkan Allah. Adapan anggota badannya menunjukan inabah hati nya yaitu selalu dalam ketaatan, ikhlas akan ibadah yang dilakukan dan mencontoh nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Makna terperinci dari Inabah, mengandung empat perkara:

  1. Kecintaan kepada Allah
  2. Tunduk dan merendah kepada Allah
  3. Selalu menghadap menuju kepada Allah
  4. Berpaling dari segala yang selain dari Allah.

Taubat termasuk salah satu bentuk dari Inabah, yaitu kembali kepada Allah. Akan tetapi inabah cakupannya lebih luas.

Kedua: Tafsir ayat surat Al-Zumar yang menunjukkan bahwa inabah adalah ibadah

Dalil inabah terdapat pada surat Al-Zumar ayat 4. “Dan kembalilah kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada -Nya.”

Berislam atau berserah diri dengan segala bentuk keislaman. Terdapat dua bentuk dalam berislam, yaitu islam kauni dan islam syar’i. Islam kauni artinya ketundukan kepada setiap ketentuan Allah Subhanahu Wata’alla. Adapaun islam syar’i adalah ketundukan terhadap syariat Allah.

Ketika Allah memerintahkan untuk “Kembalillah kalian kepada Rabb kalian“, maka menunjukkan Allah cinta kepada hal tersebut. Sesuatu yang dicintai oleh Allah, maka itu adalah ibadah. Apabila sesuatu itu Ibadah, maka kaidahnya harus ikhlas hanya untuk Allah. Apabila menyerahkannya kepada selain Allah, maka kesyirikan.

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Khasyyah – Takut

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Khasyyah – Takut

Terjemahan Kitab

Dalil khasyyah adalah firman (Allah) Ta’ala:

فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِى

“Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku (saja)” (Al-Baqarah: 150)

Pembahasan

Pertama: Definisi Khasyyah

AL-Khasyyah sama dengan Al-Khauf yang artinya rasa takut akan tetapi perbedaannya Al-Khasyyah disertai dengan ilmu pengetahun terhadap siapa yang dia takuti. Permisalan dari Al-Khauf adalah apabila seseorang takut kepada seseorang akan tetapi dia belum melihat orang yang ditakuti tersebut, dia belum tahu apakah bisa mengalahkannya atau tidak. Sedangkan Al-Khasyyah apabila takut kepada seseorang dan dia tahu orang yang dia takuti tersebut bisa membahayakannya.

Sifat Al-Khasyyah disandarkan kepada ulama, sebagaimana ayat berikut:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟ ۗ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama” (Fatir: 28)

Para ulama adalah orang-orang yang mengerti akan keagungan dan kebesaran Allah.

Sama halnya dengan Al-Khauf dalam Al-Khasyyah juga harus ada Raja (rasa harapan) sehingga tidak menjadi putus asa demikian juga sebaliknya Raja’ tanpa adanya Khasyyah akan menyebabkan merasa aman dari makar Allah.

Kedua: Tafsir ayat surat Al-Baqarah yang menunjukkan bahwa khasyyah adalah ibadah

Dalil Khasyyah adalah “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku (saja)“.

Terdapat dua pendalilan:

  1. Dilarang takut kepada mereka.
  2. Diperintah takut kepada Allah semata.

Peintah untuk takut kepada Allah menunjukan bahwa khasyyah adalah sesuatu yang di ridhai Allah. Sesuatu yang di ridhai Allah adalah ibadah. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas untuk Allah semata. Sehingga Khasyyah kepada selain Allah, maka itu adalah kesyirikan.

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Raghbah ‘Harap’, Rahbah ‘Takut’, dan Khusyuk

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Raghbah ‘Harap’, Rahbah ‘Takut’, dan Khusyuk

Terjemahan Kitab

Dalil raghbah, rahbah, dan khusyuk adalah firman (Allah) Ta’ala,

إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًۭا وَرَهَبًۭا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas . Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (Al-Anbiya: 90)

Pembahasan

Pertama: Definisi raghbah, rahbah, dan khusyuk

Ar-raghbah artinya mencari jalan untuk sampai kepada sesuatu yang dicintai. Definisinya hampir sama dengan Ar-raja’ yaitu semangat, ketamakan atau keinginan untuk mencapai sesuatu yang diharapkan. Persamaan keduanya adalah sama-sama harapan. Adapun perbedaaanya adalah, ar-raja berarti keinginan akan tetapi ar-raghbah berarti menempuh jalan untuk kesana.

Misalnya seseorang ingin masuk surga. Keinginan untuk masuk surga adalah raja. Kemudian untuk masuk surga, maka semangat beramal shaleh. Semangat beramal shaleh tersebut adalah raghbah. Bisa juga dikatakan hasil dari raja adalah raghbah atau keinginan untuk masuk surga menghasilkan semangat dalam mencari amal shaleh.

Ar-rahbah adalah rasa takut. Hampir sama dengan Al-Khauf. Akan tetapi Ar-Rahbah ada amalan untuk menghindari rasa takut.

Ibnul Qoyim berkata Ar-rahbah adalah memperhatikan dengan seksama bagaimana lari dari hal yang tidak baik. Sehingga tidak hanya takut tapi mencari jalan untuk lari darinya.

Khauf lawannya adalah Raja sedangkan Raghbah lawannya adalah Rahbah.

Al-Khusyuk adalah merendah kepada keagungan Allah. Khusyuk ada pada hati dan anggota badan. Khyusuk juga berarti menundukan kepada Allah, tenang, tumaninah. Asalnya khusyuk adalah dalam hati yang kemudian menghasilkan buahnya pada anggota badan.

Kedua: Tafsir ayat surat Al-Anbiya yang menunjukkan bahwa raghbah, rahbah, dan khusyuk adalah ibadah

Dalil raghbah, rahbah, dan khusyuk adalah firman (Allah) Ta’ala dalam surat Al-Anbiya ayat 90. Dalam surat Al-Anbiya disebutkan Nab-Nabi, kemudian ayat ini, “Sesungguhnya mereka (para nabi) bersegera dalam kebaikan”. Bersegera menunjukan kecintaan sehingga bersegera dalam kebaikan. Mereka beribadah kepada Kami dengan raghbah rasa harapan dan rahbah rasa takut. Rasa takut dan harapan ini disertai dengan amalan. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk.

Sehingga jelas sisi pendalilan bahwa mereka dipuji oleh Allah karena mereka beribadah dengan raghbah, rahbah, dan khusyuk. Sesuatu yang dipuji oleh Allah berarti sesuatu itu dicintai dan diridhai oleh Allah. Karena raghbah, rahbah, dan khusyuk dicintai dan diridhai oleh Allah, maka ketiganya adalah Ibadah. Kaidahnya dalam Ibadah harus ikhlash kepada Allah dan apabila dipalingkan untuk selain Allah maka hukumnya kesyirikan.

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Tawakkal

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Tawakkal

Terjemahan Kitab

Dalil tawakkal adalah firman (Allah) Ta’ala,

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah-lah kalian bertawakkal, jika kalian benar-benar orang yang beriman” (Al-Ma’idah: 23)

Juga firman (Allah) Ta’ala:

وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (Ath-Thalaq: 3)

Pembahasan

Pertama: Definisi Tawakkal

Tawakkal artinya ketulusan didalam menyerahkan diri dan bersandar kepada Allah serta menampakan kelemahannya.

Tawakkal adalah wasilah menuju Inaba (jenis ibadah yang akan dibahas selanjutnya).

Hakikat pada Tawakkal:

  1. Bersandarnya hati hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala semata.
  2. Mengambil sebab.
  3. Tidak melihat kepada sebab setelah mendapatkan apa yang dicari.

Misalnya tawakkal orang yang sakit, maka pertama sandarkan sakitnya kepada Allah, berserah diri kepada Allah, tampakkan kelemahannya dan bersandar penuh kepada Allah.

Kedua, mengambil sebab dengan berobat ke dokter. Nabi memerintahkan untuk berobat, “Berobatlah hamba-hamba Allah“.

Dalam hadits Umar bin Khatab Radhyiallahu Anhu, Nabi Shallallahu Wasallam bersabda, “Andaikata kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, maka kalian akan diberi rezeki seperti burung diberi rezeki. Pergi diwaktu pagi dalam perut kosong dan kembali diwaktu sore dalam keadaan sudah penuh“. Burung diberi rezeki dengan tidak diam di sarangnya, akan tetapi burung keluar mencari rezeki. Dengan keluar dari sangkarnya, maka burung telah mengambil sebab. Burung tidak mempunyai gudang makanan disarangnya tapi bertawakal dengan upayanya.

Nabi Nuh Alaihi Salam ketika akan diselamatkan bersama kaumnya disuruh mengambil sebab dengan membuat perahu agar selamat. Allah maha mampu menyelamatkan tanpa ada perahu, tidak ada kesulitan bagi Allah. Akan tetapi sudah digariskan dalam kehidupan harus mengambil sebab.

Mariam Alaihi Salam ketika akan melahirkan, disuruh melahirkan dibawah pohon kurma. Diperintah untuk menggerakan dari ranting atau dahan pohon kurma agar berjatuhan kurma-kurma basah. Padahal pohon kurma apabila dipukul keraspun tidak jatuh buahnya kebawah. Akan tetapi Allah menyuruh untuk mengambil sebab agar buahnya jatuh.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berperang dengan baju besi, masuk ke Mekkah memakai topi besai. Semuanya ini adalah mengambil sebab.

Ketiga, apabila telah sembuh dengan berobat, maka jangan dibilang bahwa kesembuhannya dikarenakan obat nya. Akan tetapi disandarkan semata kepada Allah Ta’ala, anugerah dari Allah. Dia lah yang memberikan kesembuhan.

Kedua: Bentuk-bentuk Tawakkal

Syeikh Al-Utsaimin Rahimahullah Ta’ala menyebutkan empat bentuk tawakkal:

  1. Bersandar kepada Allah, ini yang telah dibahas diatas
  2. Tawakkalu Sirr, yaitu bersandar kepada orang yang sudah mati dalam mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Ini termasuk dalam syirik akbar.
  3. Tawakkal kepada orang lain yang bisa dilakukan oleh orang tersebut akan tetapi dia merasa tingginya derajat orang tersebut dan rendahnya derajat dia. Ini termasuk syirik asghar dikarenakan kuatnya ketergantungan hati dan bersndar kepada orang. Misalkan ada orang yang bersandar dalam rezekinya kepada seseorang. Dia melihat orang tersebut punya kedudukan yang tinggi dan tanpa orang ini, dia tidak bisa seperti itu. Maka ini adalah bentuk syirik asghar, karena dia sangat kuat bergantung kepada orang tersebut. Adapun menjadikan orang tersebut hanya sebagai sebab saja dengan tetapi bersandar kepada Allah Ta’ala, maka tidak mengapa. Dilihat dari kekuatan bersandarnya hati kepada seseorang agar tidak berlebihan.
  4. Taukil yaitu diwakilkan kepada orang lain apa yang dikerjakan. Misalnya mewakilkan kepada orang lain dalam pekerjannya. Hal ini tidak ada masalah.

Ketiga: Tafsir dua ayat yang berisi dalil bahwa tawakkal adalah ibadah

(tidak ada penjelasannya)

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Firman Allah Ta’ala, “Sehingga apabila rasa takut dari hati (para malaikat) itu telah dihilangkan, mereka betanya, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka pun menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Saba: 23)

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

  • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
  • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

Bab 15: Firman Allah Ta’ala, “Sehingga apabila rasa takut dari hati (para malaikat) itu telah dihilangkan, mereka betanya, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka pun menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Saba’: 23)

Dalil Ke-1

Firman Allah Ta’ala:

حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا۟ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا۟ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ

“Sehingga apabila rasa takut dari hati (para malaikat) itu telah dihilangkan, mereka betanya, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka pun menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Saba’ : 23)

Hubungan antara Bab dan Kitab Tauhid

Pada bab ini, terapat penjelasan tentang keadaan para malaikat, bahwa mereka adalah yang terkuat dan terbesar diantara apa-apa yang disembah selain Allah. Apabila keadaan mereka seperti itu terhadap Allah – sebagaimana disebutkan bahwa mereka mengagungkan dan takut kepada Allah -, maka bagaimana mereka diseru/disembah bersama Allah, dan apalagi selain mereka (para malaikat tersebut).

Dalam hal ini ada bantahan terhadap seluruh kaum musyrikin yang menyeru bersama Allah sesuatu yang (keadaannya) sangat jauh dengan malaikat (dari sisi kekuatan dan kebesarannya).

Makna Ayat Secara Global

Allah mengabarkan tentang para malaikat, bahwa ketika mereka mendengar wahyu dari Allah kepada Jibril, ketika itu mereka sangat ketakutan, karena pengagungan dan pemuliaan kepada Allah bahkan mereka gemetar sampai seperti pingsan. Ketika rasa ketakutan itu sudah hilang dari hati mereka, mulailah saling bertanya. Mereka berkata, “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” (Saba: 23).

Maka mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi di atas segala sesuatu dan Maha Besar, yang tidak ada yang lebih besar dan lebih agung daripada Allah.”

Faedah Ayat

  1. Bantahan terhadap semua kelompok musyrikin yang beribadah kepada Allah juga kepada mereka yang tidak mendekati apalagi menyamai malaikat pada salah satu dari sifat-sifatnya.
  2. Penetapan sifat kalam/berbicara bagi Allah, sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah.
  3. Bahwa kalam Allah Subhanahu Wa Ta’ala (ucapan Allah) itu bukan makhluk, sebab mereka para malaikat berkata “Apalah yang telah difirmankan/dikatakan oleh Rabb kalian?” tidak mengatakan “Apa yang telah diciptakan oleh Rabb-mu?”
  4. Penetapan ketinggian Allah Subhanahu di atas seluruh makhluk-Nya.
  5. Penetapan kebesaran/keagungan Allah.

Catatan Kajian

Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah: Bab 15 Firman Allah Ta’ala – Saba: 23

Telah diangkat dari hati malaikat (rasa takut), mereka bertanya apa yang di firmankan oleh Rabb kalian. Mereka menjawab perkataan yang benar.

Bab ini berkaitan dengan Bab sebelumnya yang menjelaskan kebatilan sesembahan kaum musrikin. Bab sebelumnya dijelaskan bahwa manusia khususnya para Rasul tidak memiliki kemampuan apapun, tidak bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Pada Bab ini akan dijelaskan bahwa Malaikat juga adalah makhluk dan hamba Allah yang tidak memiliki suatu apapun.

Penulis membawakan dari dari Surat Saba’ ayat 23 ini dikarenakan dua hal:

Pertama, Malaikat tunduk dibawah kekuasaan Allah, sehingga tidak berhak untuk diibadahi. Malaikat adalah makhluk Allah yang apabila Allah berfirman, maka mereka tersungkur pingsan. Mereka tidak memiliki sesuatu apapun, sehingga tidak berhak untuk diibadahi.

Kedua, Semua makhluk penduduk langit dan bumi, tidak berhak untuk diibadahi. Pada bab sebelumnya dijelaskan mengenai makhluk penduduk bumi (para rasul). Pada Bab ini dijelaskan megenai makhluk penduduk langit (para malaikat).

Ini terdapat bantahan kepada seluruh lapisan kaum musyrikin. Apabila malaikat dan para nabi saja tidak berhak untuk diibadahi, apalagi yang lainnya. Mereka lebih tidak berhak untuk diibadahi.

Makna Ayat

Malaikat tersungkur pingsan ketiga mendengar firman Allah yang disampaikan kepada Jibril. Kemudian malaikat berkata “Apa yang telah di firmankan oleh Rabb-mu?”. Ini menunjukkan bahwa malaikat cinta dengan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kemudian dikatakan Allah berfirman dengan ucapan yang haq.

“Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Allah mempunyai sifat ‘ulu (ketinggian). Sifat ketinggian Allah mencakup 3 hal:

  1. ‘Ulu Al-Qodar, ketinggian dalam kemampuan. Allah Yang Maha Tinggi dalam kemampuannya
  2. ‘Ulu Al-Qohar, ketinggian dalam penaklukan dan penguasaan. Allah Yang Maha Tinggi dalam penaklukan dan penguasaan.
  3. ‘Ulu Ad-Dzat, ketinggian dalam dzat-Nya. Allah Yang Maha Tinggi dalam Dzat-Nya

Allah menerangkan diri-Nya berada diatas langit dalam berbagai ayat dan Allah menerangkan dalam Al-Qur’an bahwa Dia beristiwa diatas Arsy. Serta Rasulullah menjelaskan tentang ketinggian dzat Allah di atas langit, diatas seluruh makhluk.

Dalam Al-Qur’an nama asmaul husna yang bermakna ketinggian Allah ada tiga, yaitu: Al-Aliyyu, Al-‘Ala, dan Al-Muta’al.

Al-Kabir, artinya yang maha besar. Tidak ada yang lebih besar dan lebih agung dari-Nya.

Ayat ini bersambung dengan ayat sebelumnya yang nanti akan dibawahakan oleh penulis pada bab Syafaat. Ayat ini dikatakan para ulama bahwa dia memutus akar-akar kesyirikan dari hati.

Faedah Ayat

  • Bantahan terhadap seluruh kaum musyrikin yang beribadah kepada Allah bersama dengan selain Allah, termasuk dengan malaikat dan lainnya.
  • Terdapat dalil bahwa malaikat mempunya rasa takut, memiliki hati, memiliki jasad tidak hanya sekedar ruh, memiliki akal.
  • Penetapan sifat Al-Kalam bagi Allah
  • Firman Allah adalah hak.
  • Penetapan bahwa kalam Allah bukan makhluk.
  • Penetapan sifat Allah Al-‘Ulu, dari kata Al-Aliyyun yang bermakna ketinggian
  • Penetapan sifat Al-Kabir, kebesaran dan keagungan Allah.

Wallahu Ta’ala A’lam

Referensi:

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.

Raja’ (Pengharapan)

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

  • Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
  • Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
  • Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Raja’ (Pengharapan)

Terjemahan Kitab

Dalil raja’ adalah firman (Allah) Ta’ala,

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

“Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah berbuat kesyirikan dengan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-Nya“ (Al-Kahf: 110)

Pembahasan

Pertama: Definisi Raja’

Raja’ (pengharapan) merupakan ibadah hati. Raja’ artinya seseorang menghendaki untuk meraih sesuatu yang diharapkan. Dalam raja’ terkandung penghinaan diri dan ketundukan.

Kedua: Bentuk-bentuk raja’

Raja’ terbagi tiga jenis dimana dua terpuji dan satu tercela:

Dua Raja’ yang terpuji.

  1. Seorang yang beramal dengan ketaatan sesuai dengan petunjuk dari Allah, dia mengharapkan pahala dari Allah.
  2. Seorang yang berbuat dosa kemudian bertobat dari dosanya, dia mengharapkan pengampunan dan maaf dari Allah.

Adapun raja’ yang tidak terpuji adalah seorang yang terus menerus dalam kelalaian dan dosa, dia mengharap rahmat Allah tanpa beramal. Ini namanya tertipu atau berangan-angan.

Tiga pokok ibadah hati: khauf, raja’, dan mahabah. Ulama mengatakan ketiga ini sebagai yang menggerakan hati kepada Allah. Rasa cintanya membuat seseroang mempunyai arah. Rasa berharapnya yang membahwa seseorang berjalan kedepan. Adapun rasa takutnya adalah yang menghardik seseorang dari belakang.

Sebab munculnya raja’ pada seorang hamba:

  1. Banyak berdizkir mengingat Allah yang dicintai.
  2. Banyak memperhatikan nikmat dan karunia dari Allah.
  3. Pengetahuan tentang nama-nama dan sifat Allah.

Ibnu qoyim berkata, “Kekuatan raja’ itu sesuai dengan kadar pengetahuan dia terhadap Allah, terhadap nama-nama dan sifat-Nya.”

Ketiga: Tafsir ayat yang menunjukkan bahwa raja’ adalah ibadah

Dalil raja’ adalah firman Allah Ta’ala: “Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah berbuat kesyirikan dengan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-Nya” (Al-Kahf: 110).

Barangsiapa yang mengharap, ini adalah raja’.

Pendalilan raja’ adalah ibadah adalah karena Allah Ta’ala memuji orang yang raja’. Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan akan syarat raja’ yang benar. Sehingga raja’ ini dicintai Allah Ta’ala.

Orang beriman memiliki Raja’, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Adapun orang kafir, tidak memilki raja’, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

Semua orang bisa mempunyai harapan, tidak boleh berputus asa.

Pengertian Liqo Ar Rabbihi ada dua penafsiran:

  1. Bermakna melihat Allah Ta’ala. Ini adalah suatu nikmat yang paling besar di hari kiamat.
  2. Bermakna berjumpa menghadap Allah Ta’ala. Ini juga bermakna bergembira.

Apabila ingin dapat keutamaan berjumpa dengan Allah Ta’ala, maka ada dua syaratnya:

  1. Beramal shalih.
  2. Tidak berbuat kesyirikan.

Syarat suatu amalan dikatakan shalih:

  1. Amalannya Ikhlas karena Allah
  2. Amalannya sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasalaam.
  3. Amalannya bersih dari kesyirikan.

Akibat dari amalan yang tidak shalih, Allah ta’ala berfirman:

“janganlah berbuat kesyirikan dengan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-Nya”.

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Khauf (Rasa Takut)

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.

Kitab Tsalastatul Ushul

  • Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
  • Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
  • Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah

Landasan Pertama: Mengenal Allah

Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Khauf

Terjemahan Kitab

Dalil khauf adalah firman (Allah) Ta’ala,

فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman” (Ali ‘Imran: 175)

Pembahasan

Khauf artinya rasa takut merupakan ibadah hati. Khauf merupakan salah satu dari inti ibadah.

Pertama: Definisi Khauf

Khauf adalah kekhawatiran terhadap sesuatu yang tidak disenangi dan dikhawatirkan terjadi di masa yang akan datang. Misalnya seseorang takut kehabisan makanan dalam satu bulan kedepan.

Perbedaan antara Al-Wajan dan Al-Khauf:

  1. Al-Wajan, kekhwatiran dimasa yang sekarang. Misalnya seseorang melihat binatang buas sehingga takut pada saat itu (masa sekarang).
  2. Al-Khauf, kekhawatiran dimasa yang akan datang.

Kedua: Tafsir Ayat yang Menunjukkan Bahwa Khauf Adalah Ibadah

Dalil bahwa khauf adalah ibadah “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman” (Ali ‘Imran: 175). Maksudnya janganlah takut kepada kaum Musyrikin, tapi takut lah kepada Ku. Pembahasan ini terkait dengan peristiwa perang Ahzab, yang dijelaskan dalam surat Ali ‘Imran.

Sehingga Khauf adalah ibadah yang dirinci dalam 3 sisi:

  1. Dilarang untuk takut kepada kaum Musyrikin karena takut hanyalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
  2. Diperintah takut kepada Allah. Apabila Allah memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu Allah cintai. Maka rasa takut dicintai oleh Allah. Sehingga rasa takut adalah ibadah.
  3. Rasa takut diakhir ayat dijadikan syarat keimanan. Sehingga ini juga menunjukan bahwa khauf adalah ibadah.

Khauf adalah ibadah yang sangat besar yang menjadi sebab kebaikan hati. Pokok penghambaan yang harus selalu ada dihati hamba ada 3 yaitu: rasa takut, berharap dan rasa cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Didalam Al-Qur’an disebutkan para Nabi takut kepada Allah, sebagaimana Allah berfirman,

Dikatakan kepada Nabi Nuh:

Dikatakan kepada Nabi Muhammad:

Tidak boleh rasa takut hilang dari seorang hamba karena akan merusak hati tersebut. Sulaiman Ad-Darani Rahimahullah berkata, “Tidaklah hati itu berpisah dari rasa takut, kecuali dihatinya akan menjadi rusak”.

Ayat-ayat yang berkaitan dengan khauf:

Penafsiran takut pada kedudukan Rabb:

  1. Bermakna keagunagan dan kebesaran Allah. Hal ini apabila kita mengetahui keagungan dan kebesaran Allah Subhahanhu Wa Ta’ala
  2. Bermakna takut ketiga berdiri didepan Allah ketika mempertanggungjawabkan amalannya. Sehingga selalu mempersiapkan amalan dan memperbaiki ketaatannya.

Rasa takut ini tidak berdiri sendiri, tapi harus disertai dengan rasa harapan dan rasa cintai. Ketiganya tidak boleh dipisahkan. Sebagaian ulama mengibaratkan ketiga hal ini bagaikan burung dimana rasa cinta adalah badan burung. Adapun rasa takut dan rasa harapan adalah dua sayap burung. Ketiganya harus lengkap, apabila kekurangan salah satu maka tidak akan seimbang dan akan menjadi tersesat.

Sebagian as-salaf berkata, “Siapa yang beribadah kepada Allah hanya sekedar cinta saja, maka dia adalah zindiq. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka dia adalah khawarij. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa harapan saja, maka di adalah murji’ah”.

Sehingga ketiga rasa ini harus dikumpulkan sekaligus, sebagaimana Allah berfirman:

Mereka ini adalah orang yang beribadah dengan cara mencari segala wasilah yang paling dekat, yaitu rasa cinta. Mereka punya harapan terhadap rahmat Allah dan mereka takut kepada adzab-Nya.

Rasa takut yang benar adalah rasa takut yang menyebabkan adanya harapan. Sehingga bukan rasa takut yang menyebabkan putus asa menjadi sulit beribadah. Demikian pula, rasa harapan yang benar adalah harapan yang menyebabkan rasa takut.

Ketiga: Bentuk Khauf

Ada empat jenis rasa takut:

  1. Rasa takut ibadah. Ini adalah pembahasan dalam bab ini. Dengan rasa takut kepada Allah, maka beribadah. Apabila rasa takut ibadah ini dipalingkan kepada selain Allah, maka termasuk syirik akbar.
  2. Khauf Sirr, rasa takut kepada sesuatu yang rahasia. Misalnya takut apabila tidak berjiarah ke kuburan wali, maka akan tidak berhasil usahanya atau tertimpa musibah. Ini termasuk syirik akbar.
  3. Khauf yang meninggalkan kewajiban karena takut pada sebagian manusia. Ini hukumnya adalah haram, syirik kecil. Bentuk kesyirikan yang menghilangkan kesempurnaan tauhid.
  4. Kaufu Thabi’i, rasa takut yang merupakan tabiat manusia. Misalnya takut memasukan tangan kedalam api, karena takut terbakar api, takut melihat binatang buas. Hal ini tidak ada masalah.

Nabi Musa Alaihi Salam dalam keadaan takut ketika keluar dari Mesir, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Wallahu Ta’ala ‘Alam

Sumber:

  • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
  • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

Hadits dari Abu Hurairah tentang Rasulullah tidak bisa membela kerabatnya yang tidak beriman dan beramal shalih

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

  • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
  • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

Bab 14: Firman Allah Ta’ala, “Patutkan mereka berbuat syirik (dengan menyembah selain Allah) yang tidak dapat menciptakan apa-apa, bahkan mereka itu diciptakan? Padahal, (sembahan-sembahan selain Allah) itu tidak mampu menolong (orang-orang musyrik) juga tidak sanggup menolong diri sendiri” (Al-A’raf: 191-192)

Dalil Ke-4

Juga dalam (Ash-Shahih) dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, beliau berkata, “Ketika (ayat), ‘Dan berilah peringatan kepada keluargmu yang terdekat.’ (Asy-Syu’ara: 214) diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau berdiri seraya bersabda,

“Wahai segenap kaum Quraisy -atau ucapan yang semisalnya- tebuslah diri kalian (dari siksa Allah). Sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi kalian sedikitpun di hadapan Allah. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muthalib, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah ﷺ, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah, Wahai Fathimah, putri Muhammad, mintalah harta kepadaku sebagaimana keinginanmu. Sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah“.

Biografi

Abu Hurairah, disebutkan bahwa nama beliau yang benar adalah Abdurahman bin Shakr, dari suku Daus, termasuk orang-orang yang mulia, yang banyak hafalan lagi ulama dari kalangan sahabat. Beliau meriwayatkan lebih dari lima ribu hadits. Beliau meninggal pada 57, 58, atau 59 H.

Makna Hadits SecaraGlobal

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu mengabarkan tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ ketika Allah memerintahkan dalam kitab-Nya yang mulia untuk memberi peringatan kepada kerabat-kerabatnya, bahwa beliau betul-betul melaksanakan perintah tersebut. Beliau menyeru/memanggil orang-orang Quraisy secara keseluruhan, juga beliau seru pamannya, bibinya, serta anak perempuannya. Beliaupun memperingatkan mereka secara khusus dan memerintahkan mereka untuk menyelamatkan diri masing-masing dari adzab Allah dengan cara menauhidkan dan menaati-Nya. Beliau menyampaikan bahwa beliau tidak dapat melindungi mereka dari adzab Allah sedikitpun apabila mereka tidak beriman.

Maka semata-mata kedekatan hubungan kekerabatan mereka dengan Rasul, tidaklah bermanfaat bagi mereka tanpa keimanan.

Hubungan antara Hadits dan Bab

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh meminta kepada Rasul, apalagi kepada selain Rasul, kecuali apa-apa yang disanggupi dalam perkara dunia. Adapun dalam perkara-perkara yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah, maka tidaklah boleh memintanya kecuali kepada Allah. Pada hadits ini, terdapat bantahan terhadap para penyembah kubur yang mereka beristighasah akan kesulitan-kesulitan dan dalam pemenuhan keperluan-keperluannya kepada orang-orang yang telah meninggal.

Faedah Hadits

  1. Bantahan terhadap orang-orang yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, yang mereka itu menggantungkan diri kepada makhluk dalam pemenuhan keperluan-keperluan mereka yang tidak disanggupi (pemenuhannya) kecuali hanya oleh Allah.
  2. Bahwasannya tidak boleh memintah kepada hamba kecuali apa-apa yang disanggupinya.
  3. Bersegeranya Nabi ﷺ dalam melaksanakan perintah Allah serta menyampaikan risalah.
  4. Bahwasannya tidak ada yang bisa menyelamatkan dari adzab Allah kecuali iman dan amal shalih, bukan hanya dengan bersandar kepada nasab keturunan seseorang.
  5. Bahwa orang yang pantas menjadi paling dekat dengan Rasul ﷺ adalah orang-orang yang taat dan mengikuti beliau, baik dari kalangan kerabat-kerabat beliau maupun selainnya.
  6. Bahwa semata-mata memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasul ﷺ tidak ada manfaatnya kalau tidak memiliki iman dan amal shalih serta aqidah yang benar.

Wallahu Ta’ala A’lam

Referensi:

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.