12. Bahaya dan Akibat menyembunyikan Ilmu.

Kitab Manzhumah Mimiyyah

Penulis: Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rahimahullah

Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Ini adalah intisari wasiat penuntut ilmu. Merupakan etika yang dipegang oleh penuntut ilmu. Wasiat untuk penuntut ilmu sangat luas. Tapi disini adalah intisari pokok bagi penuntut ilmu. Terkadang satu wasiat dari orang tua atau guru dalam menuntut ilmu, mencukupi kehidupannya dalam menuntut ilmu.

Bait Syair 79: Berhati-hatilah dari menyembunyikan ilmu, karena sesungguhnya … Orang yang menyembunyikannya berada dalam laknat Allah dan semua orang.
Bait Syair 80: Salah satu hukumannya di akhirat kelak … AKan dipakaikan kepadanya kekang dari api Neraka yang tidak seperti kekang biasa.
Bait Syair 81: Orang yang menahan ilmu dari orang yang tidak pantas membawanya … Tidaklah disebut menyembunyikan, akan tetapi merupakan bentuk penjagaan, maka janganlah kamu cela.
Bait Syair 82: Menyembunyikan ilmu tiada lain menghalangi ilmu dari pencari … yang berhak mendapatkanya, maka pahamilah dan jangan keliru.

Ada Dua Pembahasan

Pembahasan Pertama: Hati-hati dari bahaya dan akibat menyembunyikan ilmu

Dalam bait syair 79, terhadap menyembunyikan ilmu hendaknya berhati-hati, karena orang menyembunyikan ilmu dilaknat Allah dan seluruh makhluk.

Dalam bait syari 80, karena hukumannya, sesungghunya di hari kiamat untuk orang yang menyembunyikan, dineraka akan di beri tali yang mengikat mulutnya seperti kendaraan yang diikat tali kekang (dari api neraka).

Hal ini disebut dalam Al-Quran:

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Alkitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, (Al-Baqarah:159)

Adapun mengenai diikat mulutnya dengan kekang dari api neraka, berdasarkan hadist:

Pembahasan Kedua: Yang dimaksud dengan menyembunyikan ilmu

Karena itu kewajiban kita adalah tidak menyembunyikan kebenaran, harus disampaikan. Sebagaimana firman Allah:

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (Al-Imran: 187)

Hendaknya kalian yang diberi kitab, menyampaikannya jangan menyembunyikannya. Namun demikian ada fiqih yang harus dipahami yang terdapat pada bait syair 81 bahwa orang yang menjaga ilmu dari orang yang tidak layak menyandangnya, tidak termasuk pada orang yang menyembunyikan ilmu, akan tetapi dinamakan menjaga kehormatan ilmu.

Maksudnya ini kepada orang yang belajar tapi bukan untuk mengambil manfaat. Contohnya bertanya sesuatu untuk berbuat jelek. Hal ini tidak perlu diajari ilmu untuknya.

Kemudian dalam bait syair 82, Yang dikatakan menyembunyikan itu apabila dia menahan ilmu itu dari orang yang mencarinya. Dan orang itu berhak mendapatkan ilmu itu. Maka pahamilah agar tidak keliru memahaminya.

Contoh lain apabila murid bertanya mengenai sesuatu, tetapi gurunya berpikir bahwa murid tersebut belum waktunya memahami hal tersebut. Karena belajar ada tahapannya.

Contoh lain apabila muridnya pemula, maka guru mengajarkan sebatas apa yang ada di kitab yang sedang dipelajari. Akan tetapi apabila muridnya buka pemula, guru mengajarkan lebih mendalam. Tidak hanya kitab yang dipelajari saja, akan tetapi dibahas kitab-kitab lain yang berhubungan.

Wallahu Ta’alla A’lam

11. Berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah, serta tinggalkan pendapat orang belakangan

Kitab Manzhumah Mimiyyah

Penulis: Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rahimahullah

Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Ini adalah intisari wasiat penuntut ilmu. Merupakan etika yang dipegang oleh penuntut ilmu. Wasiat untuk penuntut ilmu sangat luas. Tapi disini adalah intisari pokok bagi penuntut ilmu. Terkadang satu wasiat dari orang tua atau guru dalam menuntut ilmu, mencukupi kehidupannya dalam menuntut ilmu.

Syair 76: Tinggalkan pendapat orang belakangan yang mengaku berilmu … Berpeganglah selalu dengan para salaf.
Bait Syair 77: Ilmu itu tiada lain hanyalah Kitabullah atau As-Sunnah … Dengan cahaya petunjuknya setiap yang masih samar menjadi jelas.

Bait Syair 78: Tidaklah ada ilmu selain wahyu yang terang … dan apa-apa yang diambil darinya, ingatlah, sungguh beruntung bagi yang memanfaatkan waktunya.

Ada 3 Pembahasan

Pembahasan Pertama: Meninggalkan pengikutan kepada orang-orang belakangan.

Ini wasiat dalam belajar agar jangan terikat dengan orang-orang belakangan, harus nya terikat dengan salaf terdahulu. Hal ini dikarenakan ilmu itu datang dari Nabi dan para sahabatnya. Semakin dekat masa dengan nabi dan sahabat, maka semakin selamat ilmu nya. Sampai hari ini ilmu terwarisi, ketika kita belajar kepada para ulama di masa ini, bukan karena ilmu itu datang dari pribadi mereka, tapi mereka mewarisi ilmunya. Adapun dari orang belakangan yang kaidahnya berasal dari dia, maka harus ditinggalkan. Sehingga yang harus dipelajari adalah buku-buku terdahulu.

Pembahasan Kedua: Berpegang dengan perkara awal umat ini.

Hendaknya berpegang dengan perkara yang paling mendalam dan paling terdahulu. Ini adalah wasiat Nabi, diriwayatkan oleh Imam At-Tohawi dalam At-Tabroni dan selainnya:

Sungguh akan terjadi fitnah-fitnah, maka para sahabat bertanya bagaimana kami harus berbuat wahai Rasulullah?. Nabi berkata “Kalian kembali pada perkara kalian yang pertama”.

Dalam hadist lain mengenai fitnah, agar berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin.

Apabila ada yang keluar dari kaidah ini, maka akan menempuh jalan-jalan kesesatan yang banyak sekali.

Pembahasan Ketiga: Berpegang dengan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Atsar.

Ilmu itu hanya kitab Allah dan Atsar (maksudnya hadist dan ucapan sahabat) dan apa yang bercabang dari nya. Apabila berpegang dengan kitab Allah dan atsar, maka setiap yang tidak jelas akan menjadi terang.

Wallahu Ta’alla A’lam

10. Wajib mempelajari Ilmu Agama diatas Ilmu Dunia

Kitab Manzhumah Mimiyyah

Penulis: Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rahimahullah

Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Ini adalah intisari wasiat penuntut ilmu. Merupakan etika yang dipegang oleh penuntut ilmu. Wasiat untuk penuntut ilmu sangat luas. Tapi disini adalah intisari pokok bagi penuntut ilmu. Terkadang satu wasiat dari orang tua atau guru dalam menuntut ilmu, mencukupi kehidupannya dalam menuntut ilmu.

Bait Syair 74: Dahulukan ilmu yang wajib, yaitu ilmu-ilmu agama, karena dengan ilmu tersebut … akan menjadi jelas jalan petunjuk dan jalan yang mendatangkan siksa.

Pembahasan Pertama: Wajib mempelajari ilmu agama diatas ilmu dunia.

Wajib mendahulukan ilmu-ilmu agama diatas ilmu-ilmu dunia, karena pada ilmu agama itu akan tampak jelas petunjuk dan jalan menuju kepada siksaan.

Maksudnya ada dua:

  1. Kalau belajar didahulukan ilmu agama
  2. Kalau belajar ilmu agama, dia akan bisa membedakan antara petunjuk dan hal yang bisa menyesatkan.

Mempelajari ilmu agama adalah pokoknya. Mempelajari ilmu dunia tidak dilarang sebatas yang diperlukan.

Pembahasan Kedua: Agama akan memperbaiki segala yang patah

Bait Syair 75: Semua patah yang dialami pemuda, maka agamalah yang memperbaikinya … Sedangkan jika yang patah itu dalam agamanya maka akan sulit dan tidak membaik.

Setiap kepatahan pada anak muda, agama yang akan memperbaiki dan menutupinya. Tapi kalau patah didalam agamanya, sulit untuk diperbaiki.

Sehingga harus ada perhatian besar terhadap agamanya karena ini merupakan harta yang paling besar. Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam berdoa: “Ya Allah jangan engkau jadikan musibah yang menimpa kami, pada agama kami”.

Wallahu Ta’alla A’lam

9. Mulailah mempelajari ilmu dari yang paling penting, lalu yang tingkatannya dibawahnya.

Kitab Manzhumah Mimiyyah

Penulis: Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rahimahullah

Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Ini adalah intisari wasiat penuntut ilmu. Merupakan etika yang dipegang oleh penuntut ilmu. Wasiat untuk penuntut ilmu sangat luas. Tapi disini adalah intisari pokok bagi penuntut ilmu. Terkadang satu wasiat dari orang tua atau guru dalam menuntut ilmu, mencukupi kehidupannya dalam menuntut ilmu.

Bait Syair 73: Mulailah mempelajari ilmu yang paling penting, lalu yang tingatannya di bawahnya … Dahulukan nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah) dan curigailah pendapat-pendapat manusia.

Pembahasan Pertama: Menuntut ilmu secara bertahap, mulai dari yang prioritas kemudian prioritas setelahnya.

Ini dimaksudkan supaya kamu dapat ilmu itu, dari segala sudutnya. Ilmu terbagi dua ada yang fardu ain dan fardu kifayah. Didahulukan mempelajari ilmu yang fardu ain.

Kemudian dari setiap cabang ilmu, dimulai dari dasarnya. Sebagai contoh apabila ingin menghafal Al-Qur’an, mulai dulu dari surah-surah pendek. Apabila ingin menghafal hadist, mulai dulu dari Arba’in Nawawiyah (hadist2 pokok).

Dalam kuliah Mafatihul ‘Ilm, setiap cabang ilmu diambil dari yang dasarnya. Dinataranya pembahasan aqidah, fikih, hadist arbain nawawiyah, dalam ilmu al-quran ada zam-zami tentang umul quran dan pembahasan tajwid, ilmu hadist ada kitab al-baequniyah, dalam ushul ilmu fikih ada buku al-ushul min ilmu ushul, di maqoidu syariah ada buku dasarnya, dalam bahasa arab dasarnya.

Mempelajari ilmu secara bertahap (tadaruj) ada dasarnya dalam Al-Qur’an:

Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada alwāḥ Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman), “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik. (Al-A’raf: 145)

“Suruhlah kaummu untuk berpegang teguh pada yang terbaiknya”. Dan juga dalam ayat lain:

yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (Az-Zumar: 18)

“lalu mengikuti yang paling baiknya”.

Imam Syafe’i berkata: Ilmu itu tidak akan didapatkan oleh seseorang, walaupun belajar seribu tahun. Ilmu itu bagaikan laut yang sangat dalam. Maka ambilah dari segala sesuatunya yang paling baiknya.

Penting belajar ilmu kepada guru, karena guru dapat meringkas ilmu agar mudah dipahami. Yang apabila dipelajari satu per satu akan makan waktu yang lama.

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Alkitab, hikmah, dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia, “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata), “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbānī karena kamu selalu mengajarkan Alkitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Al-Imran: 79)

Terkait ayat ini, jadilah kalian sebagai rabani, karena kalian mengajarkan kitab disebabkan kamu tetap mempelajari. Rabani disini, dari Ibnu Abbas beliau berkata “adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu yang kecil sebelum ilmu yang besar”.

Az-Zuhri rahmihullah beliau berkata “Siapa yang mencari ilmu langsung banyak, maka perginya juga langsung banyak. Tapi ilmu itu diambil satu hadist, dua hadist (sedikit-sedikit).

Hari ini dia mengambil sesuatu, besok sama seperti itu lagi. Kemudian dikumpulkan ilmu itu. Maka seseorang akan mendapatkan hikmah. Karena banjir itu, aliran air, asalnya dari kumpulan tetesan-tetesan air hujan.

Pembahasan Kedua: Selalu mendahulukan Nash dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan hendaknya berjelek sangka terhadap pendapatnya.

Maksud pendapat disini adalah pendapat yang tercela bukan pendapat yang terpuji.

Wallahu Ta’alla A’lam

Iman Kepada Malaikat-Malaikat Allah

Kitab Syarah Riyadhus Shalihin
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah

Bab 5 Muraqabah

Hadist 61. hadist Jibril mengenai islam, iman dan ihsan

Rukun Iman Kedua: Iman Kepada Malaikat-Malaikat Allah

  • Malaikat adalah makhluk ghaib yang diciptakan oleh Allah dari cahaya dan Allah menjadikan setiap dari mereka tugas-tugas khusus untuk menjalankan apa yang diperintahkan Allah kepadanya.
  • Malaikat mengerjakan apa yang diperintah Allah dan mampu melaksanakannya.
  • Malaikat Jibril adalah malaikat yang paling mulia yang bertugas menyampaikan wahyu kepada para rasul dan para nabi.
  • Malaikat yang diberi tugas yang berkaitan dengan kehidupan: Malaikat Jibril, diberi tugas untuk urusan kehidupan hati, Malaikat Mikail diberi tugas untuk urusan yang berhubungan dengan kehidupan tetumbuhan dan bumi, dan Malaikat Israfil diberi tugas untuk urusan yang berhubungan dengan kehidupan badan.
  • Malaikat maut bertugas untuk mencabut nyawa. Malaikat ini mempunyai banyak pembantu dalam melaksanakan tugasnya.
  • Malaikat maut diberi kemampuan oleh Allah untuk mengambil ruh-ruh baik di timur maupun di barat bumi, walaupun mereka mati dalam waktu yang sama.
  • Jin lebih kuat dari manusia dan malaikat lebih kuat dari jin. (QS. An-Naml:38-40)
  • Malaikat Malik diberi tugas menjaga neraka (QS. Az-Zukhruf : 77)
  • Malaikat penjaga surga, dalam beberapa hadist diriwayatkan namanya adalah Ridwan.
  • Malaikat yang kita ketahui namanya maka kita beriman dengan namanya itu. Dan yang tidak diketahui namanya, maka kita mengimaninya secara umum.
  • Malaikat makhluk ghaib tapi terkadang bisa dilihat dalam bentuk aslinya (An Najm: 13-14) ataupun bentuk yang menyerupai orang yang dikehendaki Allah (dalam hadist Jibril).
  • Para malaikat itu berperang bersama para shahabat dalam perang Badar (QS. Al-Anfal:12), maka terlihat orang kafir berjatuhan, dibunuh oleh para malaikat.
  • Kita harus beriman kepada malaikat, barangsiapa yang mengingkari dan mendustai mereka, maka dia telah kafir yang mengeluarkannya dari agama, karena ia mendustakan Allah, Rasul-Nya, dan ijma kaum muslimin.

Wallahu A’lam

Larangan menghias Masjid

Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam

Bab Masjid – Pendahuluan

Hadist 209. Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallalahu alaihi “Aku tidak diperintah untuk menghias masjid-masjid (HR. Abu Daud) dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban.

Hal-Hal Penting dari Hadits:

  • Ibnu Abbas berkmentar seputar hadist ini bahwa maksudnya untuk dihiasi dengan ornamen-ornamen seperti orang-orang Yahudi dan Nashrani pada tempat ibadah mereka.
  • Hadist ini menunjukan keharaman menghiasi dan mendekorasi masjid, sebab perbuatan mereka termasuk perbuatan Yahudi dan Nashrani.
  • Menghias masjid tidak termasuk sunnah tetapi bid’ah, sebab terkandung sebuah sifat pemborosan, dan hal itu diharamkan, selain itu bisa menyibukkan hati, menghilangkan kekhusyuan dalam ibadah.
  • Dalam Syarh Al Iqna di jelaskan “Makruh hukumnya mendekorasi masjid dengan ornamen, ukiran, dan tulisan yang dapat mengganggu orang dari shalatnya.
  • Masjid Rasulullah dahulu dibangun dengan batu bata dan atapnya dari pelepah kurma, tiangnya dari batang pohon kurma, dan Abu Bakar ketika itu tidak merenovasinya. Di saat kayu itu telah usang dan pelepah telah pupus di masa Umar bin Khaththab, ia membangunnya seperti semula dan merenovasinya. Ketika pada masa utsman bin Affan terjadi rekontuksi bangunan besar-besaran, ia membangun temboknya dengan batu dan marmer, tiangnya pun dari batu, sementara atapnya dari kayu jati. Lalu ia pun memasukan sesuatuyang dapat menguatkan bangunan dan tidak mengindikasikan kemegahan. Ibnu Baththal mengatakan, “lni menunjukkan bahwa sunnahnya dalam membangun masjid adalah meninggalkan pertuatan yang berlebihan dalam rekontruksinya. Umar melakukan renovasi bangunan seperti awalnya meskipun telah banyak negeri yang merdeka dan memiliki banyak harta. Begitu juga pada zaman Utsman ia hanya merenovasi tanpa ada unsur kemegahan”

Bermegah-megahan dalam membangun masjid

Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam

Bab Masjid – Pendahuluan

Hadist 208. Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda, “Tidak akan datang kiamat hingga orang-orang bermegah-megah dalam (membangun) masjid-masjid. (HR. Lima Imam hadist kecuali At-Tirmidzi) dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah.

Hal-Hal Penting dari Hadits:

  • Yang dimaksud dengan berbangga-bangga di sini adalah bangga dalam hal bangunan, hiasan dan ornamen masjid.
  • Sikap berbangga-bangga dalam membangun masjid merupakan salah satu tanda akan datangnya hari kiamat, saat kondisi orang-orang berubah, tipis nilai agamanya dan lemah imannya, dan ketika beramal bukan karena Allah, tetapi hanya untuk pamer dan mencari popularitas.
  • Hadist ini menunjukan keharaman perbuatan ini, bahwa amal tersebut tidak akan diterima, sebab beramalnya bukan karena Allah.

Larangan berludah di masjid

Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam

Bab Masjid – Pendahuluan

Hadist 207. Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda, “Berludah di masjid itu satu kesalahan (dosa), dan dendanya adalah menimbunnya (dengan tanah).” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Hal-Hal Penting dari Hadits:

  • Berludah di masjid merupakan satu kesalahan dan dosa serta tidak menghormati keagungan masjid.
  • Apabila terjadi kesalahan tanpa disengaja maka dimaafkan dari dosa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihat dahak menempel di tembok masjid, beliau sulit menghilangkannya, lalu Rasulullah mengeriknya dengan tangannya.
  • Bisa saja dikatakan lafazh, “Berludah di masjid suatu kesalahan…” berlaku umum yang di-takhshish jika seseorang dalam keadaan shalat, karena geraknya dibatasi.
  • Wajib memelihara kebersihan dan keindahan masjid-masjid dan menghormatinya.

Mendirikan tenda di dalam Masjid

Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam

Bab Masjid – Pendahuluan

Hadist 206. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, Bahwa seorang anak budak perempuan yang hitam memiliki kemah di dalam masjid, ia biasa datang kepada saya lalu bercakap-cakap dengan saya. (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Hal-Hal Penting dari Hadits:

  • Hadist ini mengisyaratkan bolehnya mendirikan kemah dan tempat tidur di masjid bahkan untuk wanit, terlebih bagi orang yang tidak memiliki tempat tinggal.
  • Boleh mendirikan tenda atau kemah di masjid untuk orang tinggal atau beri’tikaf, jika tidak mempersempit orang yang shalat.
  • Para ahli Shuffah (yaitu tempat bertedu di masjid Nabawai) mereka adalah golongan sahabat yang miskin, mengasingkan diri untuk ibadah tetapi suatu waktu ia siap berjihad, menolong dan menegakkan kalimat Allah.

8. Penuntut Ilmu jangan ujub yang dapat menghapuskan amalannya.

Kitab Manzhumah Mimiyyah

Penulis: Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rahimahullah

Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Ini adalah intisari wasiat penuntut ilmu. Merupakan etika yang dipegang oleh penuntut ilmu. Wasiat untuk penuntut ilmu sangat luas. Tapi disini adalah intisari pokok bagi penuntut ilmu. Terkadang satu wasiat dari orang tua atau guru dalam menuntut ilmu, mencukupi kehidupannya dalam menuntut ilmu.

Bait Syair 72: Waspadailah sikap ujub karena ia akan menghanyutkan … amalan pelakunya dnegan banjirnya yang besar.

Pembahasan: Janganlah merasa bangga

Ujub adalah selalu memandang dirinya, merasa tinggi diatas manusia lainnya. Ini adalah hal yang berbahaya untuk penuntut ilmu. Karena Ujub ini menghabiskan amalan orang yang ujub, seperti banjir bandang yang sangat dahsat. Ujub menghabiskan amalan

Dalam hadist riwayat At-Tabrani dihasankan oleh Syeikh Al-Bani, dari Umar Bin Khatab radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Akan tampak Islam, sampai para pedagang berkeliling kesana dan kesini dilautan. Sampai kuda-kuda dimana-mana berperang dijalan Allah (saking tersebarnya agama ini). Kemudian tampaklah satu kaum, mereka membaca al-qur’an. Lalu mereka berkata siapa yang lebih bagus bacaannya dari kami, siapa yang lebih berilmu dari kami, siapa yang lebih fakih dari kami (dia banggakan dirinya). Kemudian Nabi berkata kepada para sahabat “Apakah mereka-mereka (para pembaca Al-Quran seperti ini) ini ada kebaikan?”. Para sahabat menjawab “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Rasullaah mengatakan “mereka itu dari kalian ummat ini, dan mereka ini adalah pangang-panggang api neraka”. \

Kemudian dari hadist riwayat Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah shallallhu alaihi wasallam bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya ada satu biji sawi berupa kesombongan.

Ada satu kisah Nabi yang dikuatkan oleh syeikh Mukbil rahimahullah. Nabi ini punya umat yang banyak. Suatu hari beliau berkata “Siapakah yang bisa menandingi kaum ku ini?”. Maka turun teguran Allah kepadanya. Allah menyuruh untuk memilih satu dari tiga musibah yang akan menimpa ummat mu, yaitu:

  • Umat mu akan dikalahkan oleh musuhnya
  • Mereka saling membinasakan diantara mereka sendiri
  • Tertimpa kematian.

Maka Nabi ini meminta pendapat kaumnya, kemudian kaumnya berkata engkau adalah nabi, tentukanlah. Rasullullah mengatakan “Para Nabi, apabila tertimpa masalah besar, lansung mereka bersegera melakukan shalat”. Maka Nabi shalat dan memohon petunjuk Allah. Ya Allah kalo kami dikalahkan oleh musuh, kami tidak sanggup. Kami binasa oleh tangan sebagian dari kami, kami juga tidak sanggup. Tapi kami memilih kematian. Maka dihari itu meninggal dari kaum nya sebanyak 70 ribu orang. Ini satu kalimat yang ada bentuk Ujubnya, menimbulkan musibah yang luar biasa.

Seorang penuntut ilmu harus selalu menjaga dirinya, jangan pernah merasa yang didapatkan sudah banyak. Apabila dia sudah berbuat banyak bagi manusia. Dia menganggap dirinya belum berbuat apa-apa. Selalu membuat dirinya kurang. Ini adalah ciri ulama terdahulu.

Dalam biografi syeikh Mukbil rahimahullah, beliau diakhir hayatnya ketika sakit di Jeddah, beliau mengatakan saya belum berbuat apa-apa dan sedikit ikhlasnya. Padahal orang yang ada disekitar beliau sangat tahu akan jasa beliau, murid-muridnya ada dimana-mana.

Wallahu Ta’alla A’lam