Al-An’am Ayat 51, Tidak ada pelindung dan pemberi syafa’at, kecuali Allah Ta’ala

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

  • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
  • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

Bab 16: Syafaat

Dalil Ke-1

Firman Allah Ta’ala,

وَأَنذِرْ بِهِ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحْشَرُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّهِمْ ۙ لَيْسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِىٌّۭ وَلَا شَفِيعٌۭ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhan-nya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada “seorang pelindung dan pemberi syafaat pun selain dari Allah, agar mereka bertakwa.” (Al-An’am: 51)

Hubungan antara Bab dan Kitab Tauhid

Bahwasannya, ketika kaum musyrikin membenarkan perbuatan syirik yang mereka lakukan, seperti berdoa kepada malaikat, para nabi, dan para wali, yang mereka katakan, “Kami mengetahui bahwa mereka adalah makhluk, namun mereka memiliki kedudukan di sisi Allah, sehingga kami menginginkan dari mereka agar mereka memberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Maka, dengan bab ini penulis ingin menegakkan hujjah-hujjah bahwa hal tersebut betul-betul merupakan kesyirikan yang nyata dan dilarang oleh Allah, juga sekaligus penulis ingin menerangkan kebatilan semua sarana yang mengantarkan kepada perbuatan syirik tersebut.

Asya fa’ah: bentuk masdar dari kata syafa’a yang berarti menggabungkan sesuatu kepada yang semisalnya. Kalau engkau mengatakaan, “Syafa’tu asy-syai’a syafa’an.” artinya aku menggabungkannya kepada yang satu itu. Memberi syafa’at padanya artinya membantunya untuk mendapatkan sesuatu yang dia cari (dia tuntut) dari seseorang yang memiliki sesuatu itu.

لَيْسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِيٌّۭ: ‘tidak ada bagi mereka seorang wali dan pemberi syafa’at’: artinya dalam keadaan tidak memiliki seorang wali pun yang akan menolong mereka, juga tidak memiliki pemberi syafa’at yang akan memberi mereka syafa’at.

Makna Ayat Secara Global

Allah Ta’ala berkata kepada Nabi-Nya ﷺ, “Berilah rasa takut dengan Al-Qur’an kepada orang-orang yang merasa takut kepada Rabb-nya dari kalangan orang-orang yang memiliki hati yang mengerti, yang mengingat bahwa mereka akan berdiri di hadapan Rabb mereka tanpa ditemani seorang kerabat yang akan menolongnya dan perantara yang akan memberinya syafa’at -di sisi Allah- tanpa seizin Allah, agar mereka melakukan persiapan untuk hal itu, sehingga mereka mengerjakan amalan-amalan di dunia ini, yang dengannya Allah akan menyelamatkannya dari adzab-Nya pada hari kiamat”.

Hubungan antara Ayat dan Bab

Dalam ayat ini ada bantahan terhadap kaum musyrikin yang berdoa kepada para nabi dan orang-orang saleh untuk meminta syafa’at dari mereka.

Faedah Ayat

  1. Bantahan terhadap kaum musyrikin yang bertaqarrub kepada para nabi dan orang-orang shalih dalam rangka meminta syafaat dari mereka.
  2. Disyariatkannya memberi nasihat dan peringatan tentang hari kiamat.
  3. Bahwa orang yang beriman adalah orang yang dapat mengambil manfaat dan nasihat.



Catatan Kajian

Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah: Bab 16 Syafa’at

Bab tentang syafaat

Syafaat secara bahasa: dari kata as-syafa yang bermakna menggabungkan atau menyatukan. Atau lawannya dari ganjil, yaitu genap. Dikatakan genap karena yang satu bergabung dengan yang kedua, dan yang kedua ini menggenapkannya.

Syafaat secara istilah adalah perantaraan untuk orang lain dalam mendatangkan manfaat atau menolak bahaya.

Misalnya di vonis 4 tahun oleh hakim, kemudian ada orang yang memberi syafaat, dia berkata kepada hakim bahwa hukuman 4 tahun ini terlalu berat, harusnya dikurangi menjadi satu tahun. Maka dia meminta keringanan hukum. Ini adalah syafaat, tapi ini dikatakan syafaat sayya. Syafaat yang jelek, karena hukum tidak boleh ada syafaat karena terkait dengan hudud, hal yang telah dipastikan.

Berilah syafaat maka kalian akan mendapat pahala. yaitu membantu orang.

Syafaat ada dua jenis:

  1. Yang dinafikan, syahadat yang dicari atau diminta kepada selain Allah padahal yang tidak mampu melakukannya kecuali Allah.
  2. Yang ditetapkan, syafaat yang diminta dari Allah untuk ahli tauhid saja.

Dua ketentuan mendapatkan syafaat:

  1. Allah memberi izin kepada orang yang memberi syafaat
  2. Allah ridha kepada orang yang disyafaati.

Tiga sudut syafaat

  1. Pemilik syafaat, yaitu Allah Ta’ala
  2. Yang dimintai syafaat
  3. Orang yang meminta syafaat.

Nabi dikatakan pemberi syafaat, maksudnya memohonkan kepada Allah untuk umatnya.

Bentuk-bentuk syafaat:

Syafaat khusus untuk Nabi Muhammad ﷺ, tidak berlaku untuk yang lain. Ada tiga:

  1. Syafaat Uzma (terbesar), ketika di padang mahsyar dengan penantian yang lama, matahari didekatkan, Allah murka yang tidak pernah sebelumnya, dan tidak akan pernah setelahnya. Manusia dalam keadaan menanti hisab. 1 hari seperti 1000 atau 50000 tahun. Maka manusia mendatangi para Nabi. Hinga mendatangi Nabi ﷺ, yang berdoa kepada Allah untuk dimulai persidangan.
  2. Syafaat nabi ﷺ mengetuk pintu syurga untuk membuka syurga.
  3. Syafaat nabi ﷺ bagi pamannya Abu Thalib yang mendapatkan keringan siksa di neraka.

Syafaat bagi ahli sunnah

Yaitu dipertengahan, artinya tidak berlebihan dan juga tidak meremehkan. Terdapat golongan yang berlebihan dan ada yang meremehkan akan syafaat..

Yahudi dan Nasrani mengingkari adanya syafaat, sebagaimana Khawarij dan Mu’tazilah yang mengingkari syafaat untuk pelaku dosa besar.

Kelompok yang berlebihan dalam menetapkannya: orang sufi, khurafat, sampai dia tetapkan syafaat bisa didapatkan dari hal-hal yang tidak disyariatkan. Minta syafaat kepada orang fajir yang dikenal dengan kefasikan. Kadang mereka katakan syafaat diberikan kepada kaum musyrikin. Ada yang mengatakan bahwa Abu Lahab diringankan siksaan karena bergembira dengan Maulid Nabi Muhammad.

Dalil 1: Surat Al-An’am ayat 51, “Berilah peringatan terhadap orang-orang yang takut. Peringatannya adalah mereka akan dikumpulkan kepada Rabb mereka. Tidak ada yang mempunya pelindung dan pemberi syafaat pun.

Sisi pendalilan: Ayat ini diterangkan tidak ada yang bisa memberi syafaat, karena hanya milik Allah saja. Ini dalil tentang batilnya syafaat dari selain Allah. Batil meminta syafaat dari Nabi dan orang shalih.

Faedah ayat:

  1. Bantahan terhadap kaum musyrikin yang meminta syafaat kepada nabi dan orang salih
  2. Syafaat yang dinafikan, yaitu syafaat kepada selain Allah.
  3. Terdapat pentingnya rasa takut.
  4. Disyaratkan memberi nasihat tentang hari kiamat.
  5. Isyarat melakukan amalan yang menjadi sebab mendapatkan syafaat daripada Allah.

Wallahu Ta’ala A’lam

Sumber:

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.

Tafsir Surat Nuh Ayat 23

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

  • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
  • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

Bab 18 Faktor yang Mengakibatkan Anak Adam Menjadi Kafir dan Meninggalkan Agama Mereka, yaitu Sikap Melampaui Batas kepada Orang-Orang Shalih.

Dalam Ash-Shahih, dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu Anhu, bahwa mengenai firman Allah Ta’ala,

وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّۭا وَلَا سُوَاعًۭا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًۭا

Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata, ‘Janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan kepada) sembahan-sembahan kalian, (terutama) janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan kepada) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr” (Nuh: 23)

Beliau menafsirkan, “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Tatkala mereka meninggal, syaitan membisikan kepada mereka, ‘Dirikanlah gambar-gambar pada majelis-majelis mereka, tempat mereka pernah mengadakan pertemuan, dan namailah (gambar-gambar) itu dengan nama mereka.’ Orang-orang itu pun melaksanakan (bisikan syaitan) tersebut, tetapi (patung-patung mereka) belum disembah (ketika itu). Hingga, setelah orang-orang (yang mendirikan patung itu) meninggal dan manusia melupakan ilmu (agama), barulah (patung-patung) tadi disembah.”

Ibnu Qayyim berkata, “Banyak kalangan Salaf yang berkata, ‘Setelah mereka meninggal, orang-orang pun sering mendatangi kuburan mereka (untuk beri’tikaf), lalu mendirikan gambar-gambar mereka. Kemudian setelah masa demi masa berlalu, akhirnya mereka pun disembah.'”

Biografi

Ibnul Qayyim adalah Al-Imam Al-‘Alamah Muhamad bin Abi Bakr bin Ayyub Az-Zariy Ad-Dimasysqy, murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau meninggal pada 751 H -semoga Allah merahmati beliau-. Beliau memiliki karya-karya tulis yang bermanfaat dan terkenal.

Makna Atsar Secara Global

Ibnu ‘Abbas Radhyallahu Anhu menafsirkan ayat yang mulia ini dengan (tafsiran) bahwasannya sembahan-sembahan yang disebutkan oleh Allah bahwa kaum Nabi Nuh saling berwasiat untuk terus menyembahnya setelah Nabi Nuh Alaihi Salam melarang mereka dari berbuat kesyirikan kepada Allah. Bahwa pada asalnya sembahan-sembahan tersebut adalah nama orang-orang shalih dari kalangan mereka, yang mereka bersikap berlebih-lebihan kepada orang-orang shalih tersebut disebabkan oleh tipu daya syaithan terhadap mereka, sehingga mereka membuat gambar-gambar orang-orang shalih tersebut. Kemudian berubahlah perkara dengan gambar-gambar ini hingga menjadi patung-patung yang disembah dari selain Allah.

Adapun yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim, semakna dengan apa yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhariy, kecuali bahwa beliau (Ibnul Qayyim) menyebutkan bahwa perkara i’tikaf di atas kuburan orang-orang shalih itu dilakukan sebelum mereka membuat gambar-gambarnya. Maka hal ini dapat menambahkan (menguatkan) keterangan yang telah lalu bahwa i’tikaf di atas kubur juga merupakan sebab terjadinya peribadahan terhadap kubur tersebut.

Hubungan antara Atsar dan Bab

Atsar di atas menunjukkan bahwa sikap berlebihan terhadap orang-orang shalih merupakan sebab penyembahan kepada mereka dari selain Allah.

Faedah Atsar

  1. Bahwa sikap ghuluw ‘berlebihan’ terhadap orang-orang saleh merupakan sebab peribadahan kepada mereka dari selain Allah dan peninggalan agama secara keseluruhan.
  2. Peringatan dari membuat gambar dan menggantungkan gambar, terutama gambar orang-orang yang diagungkan.
  3. Peringatan dari tipu daya syaitan dan tawarannya yang batil dalam bentuk kebenaran.
  4. Peringatan dari berbagai macam bid’ah meskipun pelakunya bermaksud baik.
  5. Bahwa perkara ini merupakan perantara kepada syirik maka wajib dihindari.
  6. Mengetahui nilai keberadaan ilmu dan bahaya hilangnya ilmu.
  7. Bahwa sebab hilangnya ilmu adalah dengan meninggalkan ulama.
  8. Peringatan terhadap sikap taqlid karena sikap tersebut dapat mengakibatkan pelakunya keluar dari Islam.

    Wallahu Ta’ala A’lam

    Sumber:

    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.

    Bab 18 Faktor yang Mengakibatkan Anak Adam Menjadi Kafir dan Meninggalkan Agama Mereka, yaitu Sikap Melampaui Batas kepada Orang-Orang Shalih.

    بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

    Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

    • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
    • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

    Bab 18 Faktor yang Mengakibatkan Anak Adam Menjadi Kafir dan Meninggalkan Agama Mereka, yaitu Sikap Melampaui Batas kepada Orang-Orang Shalih.

    Firman Allah Ta’ala:

    يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ

    Wahai Ahli Kitab, janganlah kalian melampaui batas (yang telah ditentukan Allah) dalam agama kalian.” (An-Nisa: 171)

    Hubungan antara Bab dan Kitab Tauhid

    Setelah penulis rahimahullah menjelaskan sebagian perbuatan para penyembah kubur terhadap orang yang sudah meninggal dunia, berupa berbagai kesyirikan yang bertentangan dengan tauhid, dalam bab ini, beliau ingin menjelaskan sebab-sebab terjadinya hal tersebut agar seseorang berhati-hati dan menjauhkan diri darinya, yaitu sikap berlebihan kepada orang-orang shalih.

    Al-Ghuluw ‘melampaui batas’: yakni melampaui batas dan berlebih-lebihan dalam mengagungkan, baik dengan ucapan maupun dengan keyakinan, serta melewati batas dari hal-hal yang telah Allah Ta’ala perintahkan.

    Fi Sholihin ‘terhadap orang-orang shalih’: yaitu dari kalangan Nabi, para wali dan selainnya.

    Ahli Kitab: yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.

    La taghulu fi dinikum ‘janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian’: artinya jangan kalian melampaui batas dari apa-apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian. Maka orang-orang Nasrani telah berlebihan terhadap Isa, sedangkan orang-orang Yahudi telah berlebihan terhadap ‘Uzair’.

    Makna Ayat Secara Global

    Allah melarang orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashara untuk melampaui batas terhadap (ketentuan) yang telah Allah tetapkan untuk mereka. Yaitu, agar mereka tidak mengangkat makhluk pada kedudukan yang melebihi kedudukan (makhluk) yang telah Allah tetapkan, dan (agar mereka tidak) mendudukkan (makhluk) pada kedudukan yang tidak pantas ditempati oleh siapapun, kecuali Allah.

    Hubungan antara Ayat dan Bab

    Bahwa pada ayat ini, terdapat larangan terhadap sikap ghuluw ‘berlebih-lebihan’ secara mutlak, sehingga mencakup sikap ghuluw terhadap orang-orang shalih. Meskipun ditujukan kepada ahlul kitab, ucapan dalam ayat tersebut sesungguhnya berlaku secara umum, yang menjangkau seluruh umat manusia, sebagai peringatan bagi mereka supaya mereka tidak memperlakukan Nabi mereka dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagaimana perlakuan orang-orang Nashara kepada Isa dan orang-orang Yahudi kepada Uzair.

    Faedah Ayat

    1. Diharamkan sikap ghuluw ‘berlebih-lebihan’ terhadap individu-individu dalam amalan-amalan dan pada yang selainnya.
    2. Bantahan terhadap orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan yang menyerupai mereka dalam sikap ghuluw mereka terhadap seseorang pada amalan-amalan dan yang selainnya.
    3. Anjuran untuk senantiasa bersikap pertengahan dalam beragama dan dalam segala urusan, yaitu antara dua sikap: sikap berlebihan dan sikap meremehkan.
    4. Peringatan terhadap perbuatan syirik, sebab-sebab (kesyirikan) dan perkara-perkara yang mengantar kepada (kesyirikan)

    Wallahu Ta’ala A’lam

    Sumber:

    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.

    Hadits mengenai kisah kematian Abu Thalib

    بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

    Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

    • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
    • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

    Bab 17 Firman (Allah) Ta’ala, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai” (Al-Qashash: 56)

    Dalam As-Shahih dari Ibnul Musayyib, dari ayahnya, (ayahnya) berkata, “Tatkala Abu Thalib akan meninggal dunia, datanglah Rasulullah kepadanya, dan saat itu Abdullah bin Abi Umayyah serta Abu Jahal berada di sisinya, maka (Rasulullah) berkata kepadanya,

    Wahai pamanku, ucapkanlah La Ilaha Illallah, suatu kalimat yang dapat kujadikan sebagai hujjah untukmu di sisi Allah

    Namun, kedua orang itu berkata, ‘Apakah engkau membenci agama Abdul Muththalib?’

    Nabi pun mengulangi ucapan (beliau) kepada paman (beliau), tetapi kedua orang itu juga mengulang-ulangi perkataan mereka kepadanya. Maka, akhir perkataannya adalah bahwa ia masih tetap berada pada agama Abdul Muththalib dan enggan mengucapkan La Ilaha Illallah.

    Oleh karena itu, Nabi bersabda, ‘Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu sepanjang aku tidak dilarang

    Maka, Allah ﷻ menurunkan (firman-Nya), ‘Nabi dan orang-orang yang beriman tidaklah patut memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun (orang-orang musyrik) itu adalah kaum kerabat(-nya)’ (At-Taubah: 113)

    Mengenai Abu Thalib, Allah menurunkan (firman-Nya), ‘Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima hidayah‘ (Al-Qashash: 56)

    Biografi

    Ibnu Musayyib adalah Sa’id bin Al-Musayyib, salah seorang ulama dan ahli fikih serta termasuk kibar tabiin. Beliau meninggal setelah 90 H.

    Makna Hadits Secara Global

    Adalah Abu Thalib seorang yang senantiasa melindungi Nabi ﷺ dari gangguan kaumnya. Dia melakukan perlindungan yang tidak pernah dilakukan oleh orang lain, sehingga Nabi ﷺ sangat bersemangat terhadap hidayah pamannya tersebut. Di antara upaya beliau dalam rangka semangatnya tersebut adalah bahwa beliau menjenguknya ketika sakit. Maka Nabi ﷺ mendatanginya ketika dia sedang dalam sakaratul maut dan menawarkan, (untuk masuk) Islam, agar Islam menjadi penutup bagi kehidupannya, sehingga dia mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Nabi ﷺ meminta agar Abu Thalib mengucapkan kalimat tauhid La Ilaha Illallah, Sedangkan kaum musyrikin menawarkan agar Abu Thalib tetap dalam agama nenek moyangnya yaitu agama kesyirikan, karena mereka mengetahui bahwa kalimat ini menunjukkan penolakan terhadap kesyirikan serta pengikhlasan ibadah hanya kepada Allah semata.

    Nabi ﷺ mengulangi permintaannya kepada Abu Thalib agar melafadzhkan syahadat (_La Ilaha Illallah) itu, tetapi kaum musyrikin juga mengulangi bantahannya sehingga mereka telah menjadi sebab perpalingannya dari kebenaran dan kematiannya di atas kesyirikan.

    Kemudian ketika itu, Nabi ﷺ bersumpah untuk memintakan ampun baginya kepada Allah selama hal itu tidak dilarang (oleh Allah). Maka Allah menurunkan larangan tentang hal tersebut dan menjelaskan bahwa hidayah itu di tangan Allah, dan Allahlah yang memberikan keutamaan dengan hidayah itu kepada siapa yang Dia kehendaki. Hal ini karena Allah lebih mengetahui orang-orang yang pantas mendapatkan hidayah dan orang-orang yang tidak pantas mendapatkan (hidayah) tersebut.

    Hubungan antara Hadits dan Bab

    Bahwasannya Ar-Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam tidak berkuasa untuk memberi manfaat kepada orang yang paling dekat dengan dirinya, yang menunjukkan akan batilnya bergantung kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya, apalagi kepada selainnya.

    Faedah Hadits

    1. Bolehnya menjenguk orang musyrik yang sakit apabila diharapkan dapat masuk Islam.
    2. Bahayanya sahabat yang jelek dan teman yang jahat bagi seseorang.
    3. Bahwa makna kalimat La Ilaha Illallah adalah meninggalkan peribadahan kepada patung, para wali, dan orang shalih, serta mengesakan peribadahan hanya untuk Allah, dan bahwasannya orang-orang musyrikin mengetahui maknanya.
    4. Bahwasannya siapa saja yang mengucapkan La Illaha Illallah dengan mengetahui (makna kalimat tersebut) dan penuh keyakinan (tidak ragu) serta mengimani (kalimat) itu, dia telah masuk Islam.
    5. Bahwa semua amalan itu bergantung pada (amalan) yang terakhir.
    6. Diharamkan memintakan ampun untuk orang-orang musyrikin, juga diharamkan untuk loyal dan mencintai mereka.
    7. Batilnya bergantung kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan yang lainnya dalam usaha mencari manfaat dan menolak bahaya.
    8. Bantahan terhadap orang yang meyakini keislaman Abu Thalib.
    9. Bahanya taqlid kepada nenek moyang dan para pembesar dengan menjadikan ucapan-ucapan mereka sebagai hujah untuk rujukan ketika terjadi perselisihan.

    Sumber:

    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.


    Catatan Kajian

    Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah: Bab 17

    Hadits ini menafsirkan ayat yang sebelumnya.

    Periwayat hadits Ibnul Musayyab merupakan salah satu Al-Fuqoha As-Sab’a, tujuh ahli fikih kota Madinah, yaitu:

    1. Urwa bin Zubair bin Awwam
    2. Ubaidullah bin Abdillah bin Usbah bin Mas’ud
    3. Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar As-Syidiq.
    4. Syaid bin Musayyab
    5. Abu Bakr bin Abdurahman bin Harits
    6. Sulaiman bin Yasar
    7. Khariya bin Zaid.

    Ibnul Musayyab adalah imamnya para tabi’in dari sisi ilmu. Tabi’in paling afdhal adalah Uwais Al-Qarni karena Nabi memberikan hadits yang mengisyaratkan akan hal itu, yaitu Nabi berkata kepada Umar, “Nanti akan datang seorang lelaki yang bernama Uwais dari Bani Qarun. Apabila ketemu dia, minta supaya didoakan. Akan tetapi dari sisi ilmu, Ibnul Musayyab lebih utama.

    Ayahnya, Al-Musayyab, adalah seorang sahabat, demikian pula kakeknya, Hazn, adalah seorang sahabat. Hazn meninggal di Yamama, ketika perang melawan Musailamah Al-Kadzab. Sedangkan ayahnya, Al-Musayyab, wafat di masa khilafah Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu.

    Tatkala Abu Thalib akan meninggal dunia, beliau didatangi oleh Rasulullah ﷺ. Hal ini menunjukkan bolehnya mengunjungi orang kafir yang sedang sakit, apabila ada maslahat atau apabila diharapkan masuk Islam. Waktu itu di sisi Nabi ada Abdullahi bin Ummaya dan Abu Jahal.

    Periwayat hadits Al-Musayyab hadir pada kejadian ini, sehingga masuk Islam. Demikian pula Abdullahi bin Ummaya, pentolan Quraisy, masuk Islam. Abu Jahal mati di atas kekafiran, yang gelarannya adalah Firaun di tengah umat ini.

    Maka, Nabi berkata, “Wahai Pamanku, katakanlah La Ilaha Illallah“. Terdapat kewajiban mengucapkan La Ilaha Illallah bagi yang ingin selamat dari api neraka dan masuk ke dalam Islam. Menunjukkan tidak cukup hanya menunjukkan pembelaan dan kecintaan, tapi harus ditegaskan dengan berucap La Ilaha Illallah.

    Suatu kalimat yang dapat menjadikannya sebagai hujjah di sisi Allah“. Maksudnya, ucapan La Ilaha Illallah menjadi argumen di mana Nabi Muhammad akan membelanya di depan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa amalan itu tergantung penutupnya. Apabila penutupnya berucap La Ilaha Illallah, maka akan bermanfaat.

    Namun kedua orang itu, Abdullahi bin Ummaya dan Abu Jahal, berkata kepada Abu Thalib, “Apakah engkau membenci agama Abdul Muthalib?” Hal ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin mengerti konsekuensi makna ucapan La Ilaha Illallah, yaitu dia harus kafir terhadap segala yang diibadahi selain daripada Allah dan berlepas diri dari agama kaum musyrikin. Sehingga kedua orang ini berupaya untuk tetap berada di kaum musyrikin dengan berkata, “Apakah engkau benci kepada agama Abdul Muthalib?”

    Nabi ﷺ mengulangi ucapan kepada Abu Thalib, tetapi mereka berdua juga mengulangi perkataan mereka kepada Abu Thalib.

    Maka akhir perkataan Abu Thalib masih berada di atas agama Abdul Muthalib dan enggan mengucapkan La Ilaha Illallah.

    Hal ini menunjukkan buruknya teman duduk karena andaikata tidak ada teman yang jelek ini, mungkin Abu Thalib masuk Islam. Dua teman jelek ini membuat Abu Thalib meninggal di atas kekufuran. Sehingga peringatan besar agar mengawasi teman duduknya karena bisa membawanya kepada kebinasaan.

    Kemudian Nabi ﷺ bersabda, “Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu sepanjang aku tidak dilarang“. Maka Allah menurunkan firmannya, “Nabi dan orang-orang yang beriman tidaklah patut memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik” (At-Taubah: 113). Setelah tampak jelas bahwa mereka adalah penghuni neraka jahim, walaupun kaum musyrikin itu kerabatnya sendiri. Ayat ini menunjukkan larangan untuk memohonkan ampun bagi kaum musyrikin sekalipun kerabatnya. Setelah tampak jelas, maksudnya menunjukkan kejelasan bahwa mereka adalah penghuni neraka jahim.

    Allah menurunkan firmannya tentang Abu Thalib, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) takkan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”

    Hadis ini menerangkan makna ayat dan menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia yang paling dekat dengan Allah, tidak bisa memberikan manfaat hidayah kepada pamannya. Sehingga batilnya bergantung kepada Nabi dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Apabila terhadap Nabi saja hal yang batil, maka selain Nabi lebih batil lagi.

    Faedah hadits:

    Pertama, bolehnya mengunjungi orang kafir yang sakit apabila diajak masuk Islam.

    Kedua, bahayanya berteman dengan teman yang buruk.

    Ketiga, makna La Ilaha Illallah adalah meninggalkan peribadatan kepada berhala, wali-wali, dan orang sholeh serta mengesakan Allah dengan ibadah. Kaum musyrikin mengetahui akan makna ini.

    Keempat, siapa yang berucap La Ilaha Illallah di atas ilmu dan keyakinan serta meyakininya, maka masuk dalam Islam.

    Kelima, amalan tergantung pada penutupnya.

    Keenam, haramnya memohonkan ampun untuk kaum musyrikin. Sebagaimana diharamkan memberi loyalitas dan kecintaan kepada mereka.

    Ketujuh, batilnya bergantung kepada Nabi dan selainnya dalam mendatangkan manfaat dan menolak bahaya.

    Kedelapan, bantahan terhadap orang yang mengatakan Abu Thalib masuk Islam.

    Kesembilan, bahaya fanatik terhadap bapak-bapak dan nenek moyang. Hal ini yang menjadikan Abu Thalib tidak mau masuk Islam.

    Wallahu Ta’ala A’lam

    Bab 17 Firman (Allah) Ta’ala, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai” (Al-Qashash: 56)

    بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

    Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

    • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
    • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

    Bab 17 Firman (Allah) Ta’ala, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai” (Al-Qashash: 56)

    Kelengkapan Ayat

    إِنَّكَ لَا تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

    Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allahlah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima hidayah” (Al-Qashash: 56)

    Hubungan antara Bab dan Kitab Tauhid

    Bab ini merupakan bantahan terhadap para penyembah kubur yang meyakini bahwa para nabi dan orang-orang shalih bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Sisi bantahan tersebut adalah bahwa Nabi telah berusaha sekuat tenaga untuk memberi hidayah kepada pamannya (ketika masih hidup), tetapi beliau tidak berhasil. Kemudian, Nabi mendoakan kebaikan untuk pemannya setelah kematian (paman)nya, tetapi beliau dilarang melakukan hal itu. Lalu, Allah Subhanahu menyebutkan bahwa Rasul tidak dapat memberikan hidayah kepada orang yang dia cintai. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi tidak berkuasa untuk mendatangkan manfaat dan menolak bahaya sehingga batallah sikap bergantung kepada Nabi dalam usaha mendapatkan manfaat dan menolak bahaya, lebih-lebih bergantung kepada selain beliau.

    Innaka ‘sesungguhnya kamu’: ucapan ini ditujukan kepada Nabi .

    La Tahdii ‘kamu tidak dapat memberi petunjuk’: yakni tidak dapat memberi hidayah taufik untuk masuk Islam. Adapun hidayah dalam arti berdakwah dan memberikan keterangan, maka Rasul kuasa atasnya. Allah berfirman,

    وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ

    Sesungguhnya engkau betul-betul memberi hidayah kepada kalan yang lurus” (Asy-Syu’ra: 52)

    Man Ahbabta ‘orang yang kamu cintai’: untuk mendapatkan hidayah.

    Walakinnallaha yahdii mayyasyaa‘ ‘akan tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki’: yakni memberi taufik untuk masuk Islam.

    Wahuwa a’lamu bilmuhtadiin ‘dan Dia lebih mengetahui orang yang mendapat petunjuk’: yakni lebih mengetahui orang-orang yang pantas mendapat hidayah dan orang-orang yang pantas sesat.

    Makna Ayat Secara Global

    Allah Ta’ala mengatakan kepada Rasul-Nya : sesungguhnya kamu tidak mampu memberi taufik untuk masuk Islam kepada orang yang kamu cintai, tetapi hal itu ada di tangan Allah. Dialah yang memberi taufik kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia yang lebih mengetahui orang-orang yang berhak mendapat hidayah dan orang-orang yang tidak berhak mendapat (hidayah).

    Hubungan antara Ayat dan Bab

    Pada ayat ini terdapat dalil yang jelas bahwa Rasul tidak memiliki kekuasaan terhadap menfaat dan bahaya, tidak pula memberikan atau menghalangi, dan bahwa perkara itu semuanya ada di tangan Allah. Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap orang-orang yang menyeru (meminta) Nabi dalam rangka menghilangkan kesulitan-kesulitan mereka dan memenuhi keperluan-keperluan mereka.

    Faedah Ayat

    1. Bantahan terhadap orang-orang yang menyakini para wali dapat memberi manfaat atau bahaya serta ikut mengatur segala urusan melalui karamahnya setelah meninggal.
    2. Bahwa hidayah taufik berada di tangan Allah Subhanahu.
    3. Penetapan sifat ilmu bagi bagi Allah Subhanahu.
    4. Penetapan sifat hikmah bagi Allah Subhanahu.
    5. Penetapan batilnya bergantung kepada selain Allah.

    Catatan Kajian

    Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah: Bab 17

    Bab ini datang setelah pembahasan syafa’at dan masih berkaitan dengan beberapa bab sebelumnya, untuk menjelaskan tentang keharusan memurnikan tauhid hanya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Telah diterangkan tentang malaikat, hamba Allah yang paling dekat; mereka juga adalah makhluk yang perlu kepada Allah. Demikian pula manusia yang juga makhluk yang perlu kepada Allah, termasuk para rasul dan para wali. Semuanya adalah makhluk yang tidak berhak untuk diibadahi.

    Juga telah diketahui bahwa syafaat hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kepada siapa saja yang beribadah kepada selain Allah, kepada hal yang tidak mampu kecuali Allah. Maka hal ini termasuk kepada kesyirikan.

    Maka dalam bab ini, penulis ingin menegaskan bahwa syafaat itu murni milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Nabi Muhammad tidak berserikat dalam hal ini. Seseorang yang beliau cintai saja tidak mampu memberi hidayah.

    Sehingga ibadah kepada Nabi adalah ibadah yang batil. Apabila ibadah kepada Nabi yang merupakan makhluk yang paling afdhal dianggap batil, maka beribadah kepada selain beliau menjadi lebih batil lagi.

    Terdapat dua penekanan pada Bab ini:

    1. Penjelasan bahwa syafaat hanya milik Allah Subahanahu Wa Ta’ala. Nabi Muhammad , hamba yang paling dekat dengan Allah, tidak bisa memberi hidayah kepada orang yang dia cintai.
    2. Penegasan terhadap kaum musyrikin yang meyakini para Nabi dan orang-orang shalih memiliki manfaat dan bisa menolak bahaya. Apabila Nabi Muhammad tidak bisa memberi hidayah kepada siapa yang beliau cintai, maka hidayah itu hanya diminta dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Bab firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, Akan tetapi Allah lah yang memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia lah, Allah, yang paling tahu siapa yang berhak mendapatkan hidayah tersebut.

    Hidayah, terkait dengan pembahasan Bab ini, terbagi menjadi dua:

    1. Hidayah Ad-dalala wal irsyad, yaitu hidayah yang menunjukan, mengarahkan dan membimbing.
    2. Hidayah At-taufiq wal ilham, hidayah ini hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Hidayah yang dinafikan dalam ayat ini, bahwa Nabi tidak bisa memberikan hidayah yaitu hidayah At-taufiq wal ilham. Nabi Muhammad tidak bisa memberi taufiq dan ilham kepada siapa yang kamu cintai sehingga masuk ke dalam Islam. Hidayah at-taufiq wal ilham hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Ayat ini semisal dengan Firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Baqarah: “Bukan atas engkau, Nabi Muhammad, memberi hidayah kepada mereka“.

    Hidayah Ad-dalala wal Irsyad, yaitu menunjukkan, mengajak, dan membimbing. Hidayah ini ditetapkan untuk Nabi Muhammad . Nabi Muhammad mengajak manusia ke jalan Allah, menunjukkan segala hal yang diperlukan oleh manusia. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Asy-Syura, “Dan engkau, Nabi Muhammad, sungguh memberi hidayah kepada jalan yang lurus“.

    Demikian juga firman Allah, “Adapun Tsamud, kami telah beri hidayah kepadanya. Tapi dia lebih mencintai kebutaan di atas petunjuk atau hidayah“. Hidayah di sini juga adalah hidayah Ad-dalala wal irsyad.

    Al-Qur’an perlu ditadaburi makna-maknanya sehingga tidak salah mengartikan bahwa terdapat kontradiksi dalam Al-Qur’an. Seperti dua ayat di atas, bahwa Nabi Muhammad tidak bisa memberi hidayah, kemudian di ayat yang lain Nabi Muhammad bisa memberi hidayah. Banyak dari kaum pembenci Islam yang mengungkap ayat-ayat seperti ini dengan tujuan membuat umat Islam ragu terhadap agamanya.

    Beberapa pelajaran dari ayat ini:

    Pertama, terdapat bantahan terhadap kaum musyrikin yang meyakini para nabi dan wali-wali, bahwa mereka bisa memberi manfaat dan menolak bahaya.

    Kedua, hidayah, taufik, dan ilham hanya milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Ketiga, dalam ayat bahwa kecintaan yang bersifat tabiat kepada orang kafir, tidak dipermasalahkan. Misalkan seorang Muslim mencintai ayahnya yang kafir. Cintanya karena ayahnya, bukan kekafirannya. Dalam ayat “Siapa yang engkau cintai“. Allah tidak menegur Nabi yang mencintai pamannya, Abu Thalib.

    Keempat, terdapat penetapan ilmu hanya untuk Allah dan penetapan hikmah hanya untuk Allah.

    Kelima, terdapat batilnya bergantung kepada selain Allah.

    Wallahu Ta’ala A’lam

    Sumber:

    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.

    Firman Allah Ta’ala, “Sehingga apabila rasa takut dari hati (para malaikat) itu telah dihilangkan, mereka betanya, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka pun menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Saba: 23)

    بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

    Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

    • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
    • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

    Bab 15: Firman Allah Ta’ala, “Sehingga apabila rasa takut dari hati (para malaikat) itu telah dihilangkan, mereka betanya, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka pun menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Saba’: 23)

    Dalil Ke-1

    Firman Allah Ta’ala:

    حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمْ قَالُوا۟ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ۖ قَالُوا۟ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ

    Sehingga apabila rasa takut dari hati (para malaikat) itu telah dihilangkan, mereka betanya, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka pun menjawab, ‘(Perkataan) yang benar.’ Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Saba’ : 23)

    Hubungan antara Bab dan Kitab Tauhid

    Pada bab ini, terapat penjelasan tentang keadaan para malaikat, bahwa mereka adalah yang terkuat dan terbesar diantara apa-apa yang disembah selain Allah. Apabila keadaan mereka seperti itu terhadap Allah – sebagaimana disebutkan bahwa mereka mengagungkan dan takut kepada Allah -, maka bagaimana mereka diseru/disembah bersama Allah, dan apalagi selain mereka (para malaikat tersebut).

    Dalam hal ini ada bantahan terhadap seluruh kaum musyrikin yang menyeru bersama Allah sesuatu yang (keadaannya) sangat jauh dengan malaikat (dari sisi kekuatan dan kebesarannya).

    Makna Ayat Secara Global

    Allah mengabarkan tentang para malaikat, bahwa ketika mereka mendengar wahyu dari Allah kepada Jibril, ketika itu mereka sangat ketakutan, karena pengagungan dan pemuliaan kepada Allah bahkan mereka gemetar sampai seperti pingsan. Ketika rasa ketakutan itu sudah hilang dari hati mereka, mulailah saling bertanya. Mereka berkata, “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” (Saba: 23).

    Maka mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar. Dan Dialah Yang Maha Tinggi di atas segala sesuatu dan Maha Besar, yang tidak ada yang lebih besar dan lebih agung daripada Allah.”

    Faedah Ayat

    1. Bantahan terhadap semua kelompok musyrikin yang beribadah kepada Allah juga kepada mereka yang tidak mendekati apalagi menyamai malaikat pada salah satu dari sifat-sifatnya.
    2. Penetapan sifat kalam/berbicara bagi Allah, sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah.
    3. Bahwa kalam Allah Subhanahu Wa Ta’ala (ucapan Allah) itu bukan makhluk, sebab mereka para malaikat berkata “Apalah yang telah difirmankan/dikatakan oleh Rabb kalian?” tidak mengatakan “Apa yang telah diciptakan oleh Rabb-mu?”
    4. Penetapan ketinggian Allah Subhanahu di atas seluruh makhluk-Nya.
    5. Penetapan kebesaran/keagungan Allah.

    Catatan Kajian

    Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah: Bab 15 Firman Allah Ta’ala – Saba: 23

    Telah diangkat dari hati malaikat (rasa takut), mereka bertanya apa yang di firmankan oleh Rabb kalian. Mereka menjawab perkataan yang benar.

    Bab ini berkaitan dengan Bab sebelumnya yang menjelaskan kebatilan sesembahan kaum musrikin. Bab sebelumnya dijelaskan bahwa manusia khususnya para Rasul tidak memiliki kemampuan apapun, tidak bisa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Pada Bab ini akan dijelaskan bahwa Malaikat juga adalah makhluk dan hamba Allah yang tidak memiliki suatu apapun.

    Penulis membawakan dari dari Surat Saba’ ayat 23 ini dikarenakan dua hal:

    Pertama, Malaikat tunduk dibawah kekuasaan Allah, sehingga tidak berhak untuk diibadahi. Malaikat adalah makhluk Allah yang apabila Allah berfirman, maka mereka tersungkur pingsan. Mereka tidak memiliki sesuatu apapun, sehingga tidak berhak untuk diibadahi.

    Kedua, Semua makhluk penduduk langit dan bumi, tidak berhak untuk diibadahi. Pada bab sebelumnya dijelaskan mengenai makhluk penduduk bumi (para rasul). Pada Bab ini dijelaskan megenai makhluk penduduk langit (para malaikat).

    Ini terdapat bantahan kepada seluruh lapisan kaum musyrikin. Apabila malaikat dan para nabi saja tidak berhak untuk diibadahi, apalagi yang lainnya. Mereka lebih tidak berhak untuk diibadahi.

    Makna Ayat

    Malaikat tersungkur pingsan ketiga mendengar firman Allah yang disampaikan kepada Jibril. Kemudian malaikat berkata “Apa yang telah di firmankan oleh Rabb-mu?”. Ini menunjukkan bahwa malaikat cinta dengan apa yang difirmankan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kemudian dikatakan Allah berfirman dengan ucapan yang haq.

    Dan Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Allah mempunyai sifat ‘ulu (ketinggian). Sifat ketinggian Allah mencakup 3 hal:

    1. ‘Ulu Al-Qodar, ketinggian dalam kemampuan. Allah Yang Maha Tinggi dalam kemampuannya
    2. ‘Ulu Al-Qohar, ketinggian dalam penaklukan dan penguasaan. Allah Yang Maha Tinggi dalam penaklukan dan penguasaan.
    3. ‘Ulu Ad-Dzat, ketinggian dalam dzat-Nya. Allah Yang Maha Tinggi dalam Dzat-Nya

    Allah menerangkan diri-Nya berada diatas langit dalam berbagai ayat dan Allah menerangkan dalam Al-Qur’an bahwa Dia beristiwa diatas Arsy. Serta Rasulullah menjelaskan tentang ketinggian dzat Allah di atas langit, diatas seluruh makhluk.

    Dalam Al-Qur’an nama asmaul husna yang bermakna ketinggian Allah ada tiga, yaitu: Al-Aliyyu, Al-‘Ala, dan Al-Muta’al.

    Al-Kabir, artinya yang maha besar. Tidak ada yang lebih besar dan lebih agung dari-Nya.

    Ayat ini bersambung dengan ayat sebelumnya yang nanti akan dibawahakan oleh penulis pada bab Syafaat. Ayat ini dikatakan para ulama bahwa dia memutus akar-akar kesyirikan dari hati.

    Faedah Ayat

    • Bantahan terhadap seluruh kaum musyrikin yang beribadah kepada Allah bersama dengan selain Allah, termasuk dengan malaikat dan lainnya.
    • Terdapat dalil bahwa malaikat mempunya rasa takut, memiliki hati, memiliki jasad tidak hanya sekedar ruh, memiliki akal.
    • Penetapan sifat Al-Kalam bagi Allah
    • Firman Allah adalah hak.
    • Penetapan bahwa kalam Allah bukan makhluk.
    • Penetapan sifat Allah Al-‘Ulu, dari kata Al-Aliyyun yang bermakna ketinggian
    • Penetapan sifat Al-Kabir, kebesaran dan keagungan Allah.

    Wallahu Ta’ala A’lam

    Referensi:

    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.

    Raja’ (Pengharapan)

    بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga dan sahabatnya.

    Kitab Tsalastatul Ushul

    • Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
    • Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
    • Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah

    Landasan Pertama: Mengenal Allah

    Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Raja’ (Pengharapan)

    Terjemahan Kitab

    Dalil raja’ adalah firman (Allah) Ta’ala,

    فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

    Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah berbuat kesyirikan dengan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-Nya (Al-Kahf: 110)

    Pembahasan

    Pertama: Definisi Raja’

    Raja’ (pengharapan) merupakan ibadah hati. Raja’ artinya seseorang menghendaki untuk meraih sesuatu yang diharapkan. Dalam raja’ terkandung penghinaan diri dan ketundukan.

    Kedua: Bentuk-bentuk raja’

    Raja’ terbagi tiga jenis dimana dua terpuji dan satu tercela:

    Dua Raja’ yang terpuji.

    1. Seorang yang beramal dengan ketaatan sesuai dengan petunjuk dari Allah, dia mengharapkan pahala dari Allah.
    2. Seorang yang berbuat dosa kemudian bertobat dari dosanya, dia mengharapkan pengampunan dan maaf dari Allah.

    Adapun raja’ yang tidak terpuji adalah seorang yang terus menerus dalam kelalaian dan dosa, dia mengharap rahmat Allah tanpa beramal. Ini namanya tertipu atau berangan-angan.

    Tiga pokok ibadah hati: khauf, raja’, dan mahabah. Ulama mengatakan ketiga ini sebagai yang menggerakan hati kepada Allah. Rasa cintanya membuat seseroang mempunyai arah. Rasa berharapnya yang membahwa seseorang berjalan kedepan. Adapun rasa takutnya adalah yang menghardik seseorang dari belakang.

    Sebab munculnya raja’ pada seorang hamba:

    1. Banyak berdizkir mengingat Allah yang dicintai.
    2. Banyak memperhatikan nikmat dan karunia dari Allah.
    3. Pengetahuan tentang nama-nama dan sifat Allah.

    Ibnu qoyim berkata, “Kekuatan raja’ itu sesuai dengan kadar pengetahuan dia terhadap Allah, terhadap nama-nama dan sifat-Nya.”

    Ketiga: Tafsir ayat yang menunjukkan bahwa raja’ adalah ibadah

    Dalil raja’ adalah firman Allah Ta’ala: “Untuk itu, barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shalih dan janganlah berbuat kesyirikan dengan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-Nya” (Al-Kahf: 110).

    Barangsiapa yang mengharap, ini adalah raja’.

    Pendalilan raja’ adalah ibadah adalah karena Allah Ta’ala memuji orang yang raja’. Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan akan syarat raja’ yang benar. Sehingga raja’ ini dicintai Allah Ta’ala.

    Orang beriman memiliki Raja’, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

    Adapun orang kafir, tidak memilki raja’, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

    Semua orang bisa mempunyai harapan, tidak boleh berputus asa.

    Pengertian Liqo Ar Rabbihi ada dua penafsiran:

    1. Bermakna melihat Allah Ta’ala. Ini adalah suatu nikmat yang paling besar di hari kiamat.
    2. Bermakna berjumpa menghadap Allah Ta’ala. Ini juga bermakna bergembira.

    Apabila ingin dapat keutamaan berjumpa dengan Allah Ta’ala, maka ada dua syaratnya:

    1. Beramal shalih.
    2. Tidak berbuat kesyirikan.

    Syarat suatu amalan dikatakan shalih:

    1. Amalannya Ikhlas karena Allah
    2. Amalannya sesuai dengan petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wasalaam.
    3. Amalannya bersih dari kesyirikan.

    Akibat dari amalan yang tidak shalih, Allah ta’ala berfirman:

    janganlah berbuat kesyirikan dengan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-Nya”.

    Wallahu Ta’ala ‘Alam

    Sumber:

    • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
    • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

    Khauf (Rasa Takut)

    بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad , keluarga dan sahabatnya.

    Kitab Tsalastatul Ushul

    • Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah Ta’alla
    • Penjelasan: Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizahullah.
    • Rekaman video kajian: Landasan Pertama: Mengenal Allah

    Landasan Pertama: Mengenal Allah

    Ibadah dan Bentuk-Bentuknya: Khauf

    Terjemahan Kitab

    Dalil khauf adalah firman (Allah) Ta’ala,

    فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

    “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman” (Ali ‘Imran: 175)

    Pembahasan

    Khauf artinya rasa takut merupakan ibadah hati. Khauf merupakan salah satu dari inti ibadah.

    Pertama: Definisi Khauf

    Khauf adalah kekhawatiran terhadap sesuatu yang tidak disenangi dan dikhawatirkan terjadi di masa yang akan datang. Misalnya seseorang takut kehabisan makanan dalam satu bulan kedepan.

    Perbedaan antara Al-Wajan dan Al-Khauf:

    1. Al-Wajan, kekhwatiran dimasa yang sekarang. Misalnya seseorang melihat binatang buas sehingga takut pada saat itu (masa sekarang).
    2. Al-Khauf, kekhawatiran dimasa yang akan datang.

    Kedua: Tafsir Ayat yang Menunjukkan Bahwa Khauf Adalah Ibadah

    Dalil bahwa khauf adalah ibadah “Maka janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar orang yang beriman” (Ali ‘Imran: 175). Maksudnya janganlah takut kepada kaum Musyrikin, tapi takut lah kepada Ku. Pembahasan ini terkait dengan peristiwa perang Ahzab, yang dijelaskan dalam surat Ali ‘Imran.

    Sehingga Khauf adalah ibadah yang dirinci dalam 3 sisi:

    1. Dilarang untuk takut kepada kaum Musyrikin karena takut hanyalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
    2. Diperintah takut kepada Allah. Apabila Allah memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu Allah cintai. Maka rasa takut dicintai oleh Allah. Sehingga rasa takut adalah ibadah.
    3. Rasa takut diakhir ayat dijadikan syarat keimanan. Sehingga ini juga menunjukan bahwa khauf adalah ibadah.

    Khauf adalah ibadah yang sangat besar yang menjadi sebab kebaikan hati. Pokok penghambaan yang harus selalu ada dihati hamba ada 3 yaitu: rasa takut, berharap dan rasa cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Didalam Al-Qur’an disebutkan para Nabi takut kepada Allah, sebagaimana Allah berfirman,

    Dikatakan kepada Nabi Nuh:

    Dikatakan kepada Nabi Muhammad:

    Tidak boleh rasa takut hilang dari seorang hamba karena akan merusak hati tersebut. Sulaiman Ad-Darani Rahimahullah berkata, “Tidaklah hati itu berpisah dari rasa takut, kecuali dihatinya akan menjadi rusak”.

    Ayat-ayat yang berkaitan dengan khauf:

    Penafsiran takut pada kedudukan Rabb:

    1. Bermakna keagunagan dan kebesaran Allah. Hal ini apabila kita mengetahui keagungan dan kebesaran Allah Subhahanhu Wa Ta’ala
    2. Bermakna takut ketiga berdiri didepan Allah ketika mempertanggungjawabkan amalannya. Sehingga selalu mempersiapkan amalan dan memperbaiki ketaatannya.

    Rasa takut ini tidak berdiri sendiri, tapi harus disertai dengan rasa harapan dan rasa cintai. Ketiganya tidak boleh dipisahkan. Sebagaian ulama mengibaratkan ketiga hal ini bagaikan burung dimana rasa cinta adalah badan burung. Adapun rasa takut dan rasa harapan adalah dua sayap burung. Ketiganya harus lengkap, apabila kekurangan salah satu maka tidak akan seimbang dan akan menjadi tersesat.

    Sebagian as-salaf berkata, “Siapa yang beribadah kepada Allah hanya sekedar cinta saja, maka dia adalah zindiq. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa takut saja, maka dia adalah khawarij. Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa harapan saja, maka di adalah murji’ah”.

    Sehingga ketiga rasa ini harus dikumpulkan sekaligus, sebagaimana Allah berfirman:

    Mereka ini adalah orang yang beribadah dengan cara mencari segala wasilah yang paling dekat, yaitu rasa cinta. Mereka punya harapan terhadap rahmat Allah dan mereka takut kepada adzab-Nya.

    Rasa takut yang benar adalah rasa takut yang menyebabkan adanya harapan. Sehingga bukan rasa takut yang menyebabkan putus asa menjadi sulit beribadah. Demikian pula, rasa harapan yang benar adalah harapan yang menyebabkan rasa takut.

    Ketiga: Bentuk Khauf

    Ada empat jenis rasa takut:

    1. Rasa takut ibadah. Ini adalah pembahasan dalam bab ini. Dengan rasa takut kepada Allah, maka beribadah. Apabila rasa takut ibadah ini dipalingkan kepada selain Allah, maka termasuk syirik akbar.
    2. Khauf Sirr, rasa takut kepada sesuatu yang rahasia. Misalnya takut apabila tidak berjiarah ke kuburan wali, maka akan tidak berhasil usahanya atau tertimpa musibah. Ini termasuk syirik akbar.
    3. Khauf yang meninggalkan kewajiban karena takut pada sebagian manusia. Ini hukumnya adalah haram, syirik kecil. Bentuk kesyirikan yang menghilangkan kesempurnaan tauhid.
    4. Kaufu Thabi’i, rasa takut yang merupakan tabiat manusia. Misalnya takut memasukan tangan kedalam api, karena takut terbakar api, takut melihat binatang buas. Hal ini tidak ada masalah.

    Nabi Musa Alaihi Salam dalam keadaan takut ketika keluar dari Mesir, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

    Wallahu Ta’ala ‘Alam

    Sumber:

    • Diktat, Silsilah yang menyelamatkan dari Api Neraka 2, Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur, Dzulqarnain M. Sunusi, Pustaka As-Sunnah, 2017
    • Seri Buku-Buku Aqidah, Agar Mudah Menjawab Tiga Pertanyaan Malaikat, Terjemah Kitab Tsalatsatul Ushul, Bambang Abu Ubaidillah, Madrosah Sunnah

    Hadits dari Abu Hurairah tentang Rasulullah tidak bisa membela kerabatnya yang tidak beriman dan beramal shalih

    بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

    Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

    • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
    • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

    Bab 14: Firman Allah Ta’ala, “Patutkan mereka berbuat syirik (dengan menyembah selain Allah) yang tidak dapat menciptakan apa-apa, bahkan mereka itu diciptakan? Padahal, (sembahan-sembahan selain Allah) itu tidak mampu menolong (orang-orang musyrik) juga tidak sanggup menolong diri sendiri” (Al-A’raf: 191-192)

    Dalil Ke-4

    Juga dalam (Ash-Shahih) dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, beliau berkata, “Ketika (ayat), ‘Dan berilah peringatan kepada keluargmu yang terdekat.’ (Asy-Syu’ara: 214) diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, beliau berdiri seraya bersabda,

    Wahai segenap kaum Quraisy -atau ucapan yang semisalnya- tebuslah diri kalian (dari siksa Allah). Sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi kalian sedikitpun di hadapan Allah. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muthalib, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah ﷺ, sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah, Wahai Fathimah, putri Muhammad, mintalah harta kepadaku sebagaimana keinginanmu. Sesungguhnya aku tidak bisa mencukupi/membela dirimu sedikitpun di hadapan Allah“.

    Biografi

    Abu Hurairah, disebutkan bahwa nama beliau yang benar adalah Abdurahman bin Shakr, dari suku Daus, termasuk orang-orang yang mulia, yang banyak hafalan lagi ulama dari kalangan sahabat. Beliau meriwayatkan lebih dari lima ribu hadits. Beliau meninggal pada 57, 58, atau 59 H.

    Makna Hadits SecaraGlobal

    Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu mengabarkan tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ ketika Allah memerintahkan dalam kitab-Nya yang mulia untuk memberi peringatan kepada kerabat-kerabatnya, bahwa beliau betul-betul melaksanakan perintah tersebut. Beliau menyeru/memanggil orang-orang Quraisy secara keseluruhan, juga beliau seru pamannya, bibinya, serta anak perempuannya. Beliaupun memperingatkan mereka secara khusus dan memerintahkan mereka untuk menyelamatkan diri masing-masing dari adzab Allah dengan cara menauhidkan dan menaati-Nya. Beliau menyampaikan bahwa beliau tidak dapat melindungi mereka dari adzab Allah sedikitpun apabila mereka tidak beriman.

    Maka semata-mata kedekatan hubungan kekerabatan mereka dengan Rasul, tidaklah bermanfaat bagi mereka tanpa keimanan.

    Hubungan antara Hadits dan Bab

    Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh meminta kepada Rasul, apalagi kepada selain Rasul, kecuali apa-apa yang disanggupi dalam perkara dunia. Adapun dalam perkara-perkara yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah, maka tidaklah boleh memintanya kecuali kepada Allah. Pada hadits ini, terdapat bantahan terhadap para penyembah kubur yang mereka beristighasah akan kesulitan-kesulitan dan dalam pemenuhan keperluan-keperluannya kepada orang-orang yang telah meninggal.

    Faedah Hadits

    1. Bantahan terhadap orang-orang yang menyembah para nabi dan orang-orang shalih, yang mereka itu menggantungkan diri kepada makhluk dalam pemenuhan keperluan-keperluan mereka yang tidak disanggupi (pemenuhannya) kecuali hanya oleh Allah.
    2. Bahwasannya tidak boleh memintah kepada hamba kecuali apa-apa yang disanggupinya.
    3. Bersegeranya Nabi ﷺ dalam melaksanakan perintah Allah serta menyampaikan risalah.
    4. Bahwasannya tidak ada yang bisa menyelamatkan dari adzab Allah kecuali iman dan amal shalih, bukan hanya dengan bersandar kepada nasab keturunan seseorang.
    5. Bahwa orang yang pantas menjadi paling dekat dengan Rasul ﷺ adalah orang-orang yang taat dan mengikuti beliau, baik dari kalangan kerabat-kerabat beliau maupun selainnya.
    6. Bahwa semata-mata memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasul ﷺ tidak ada manfaatnya kalau tidak memiliki iman dan amal shalih serta aqidah yang benar.

    Wallahu Ta’ala A’lam

    Referensi:

    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.

    Hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma mengenai Nabi Shallallahu Alaihi Wasalam mendoakan kejelekan bagi kaum musyrikin

    بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

    Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

    Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid

    • Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
    • Pensyarah: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah

    Bab 14: Firman Allah Ta’ala, “Patutkan mereka berbuat syirik (dengan menyembah selain Allah) yang tidak dapat menciptakan apa-apa, bahkan mereka itu diciptakan? Padahal, (sembahan-sembahan selain Allah) itu tidak mampu menolong (orang-orang musyrik) juga tidak sanggup menolong diri sendiri” (Al-A’raf: 191-192)

    Dalil Ke-3

    Juga dalam (Ash-Shahih) dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, (beliau berkata) bahwa beliau mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berdoa (setelah kepala beliau terluka dan gigi taring beliau patah) ketika mengangkat kepala dari ruku’ pada rakaat terakhir dalam shalat Subuh, “Ya Allah, laknatlah fulan dan fulan,” yaitu seletah mengucapkan, “Sami’allahu liman hamidah, Rabbana lakal hamdu“. Oleh karena itu, Allah menurunkan firman-Nya.

    لَيْسَ لَكَ مِنَ ٱلْأَمْرِ شَىْءٌ

    Tiada hak sedikitpun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka” (Ali ‘Imran: 128)

    Di dalam riwayat lain (disebutkan), “Beliau mendoakan kejelekan bagi Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr, dan Al-Harits bin Hisyam maka turnlah ayat,

    Tiada hak sedikitpun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka” (Ali ‘Imran: 128)

    Biografi

    Ibnu Umar adalah Abdullah bin Umar bin Al-Khathtab Radhiyallahu Anhuma, seorang shahabat yang mulia, termasuk ahli ibadah dan ulama dari kalangan shahabat. Beliau meninggal pada 73 H.

    Makna Hadits SecaraGlobal

    Abdullah bin Umar Radyiallahu Anhu mengabarkan bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendoakan kejelekan daam shalat terhadap beberapa orang dari kalangan tokoh-tokoh orang kafir yang telah menyakitinya pada perang Uhud, maka Allah menegurnya dengan firman-Nya “Tiada hak sedikitpun bagimu (untuk campur tangan) dalam urusan mereka” (Ali ‘Imran: 128).

    Lalu Allah memberikan taubat kepada mereka, sehingga mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

    Hubungan antara Hadits dan Bab

    Di dalam hadits terdapat penjelasan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tidak mampu membela dirinya dari gangguan kaum musyrikin, tidak pula membela para shahabatnya bahkan beliau meminta perlindungan kepada Allah Yang Maha Mampu dan Maha Berkuasa. Hal ini menunjukkan batilnya apa yang diyakini oleh para penyembah kubur terhadap para nabi dan orang-orang shalih.

    Faedah Hadits

    1. Batilnya bergantung kepada para wali dan orang shalih dalam meminta pemenuhan keperluan dan pelepasan diri dari kesulitan.
    2. Bolehnya mendoakan kejelekan terhadap kaum musyrikin dalam shalat.
    3. Sebagai dalil (petunjuk) bahwa menyebutkan nama orang yang didoakan kebaikan atau kejelekan untuknya tidak membatalkan shalat.
    4. Adanya penegasan bahwa imam menggabungkan bacaan tasmi’ (Sami’allahu liman hamidah) dan tahmid (Rabbana wa lakal hamdu)

    Wallahu Ta’ala A’lam

    Referensi:

    Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan (2021), Al-Mulakhkhas Syarh Kitab Tauhid (Cetakan Ketujuh), Makasar, Pustaka As-Sunnah.