Pelajaran Kelima: Kisah Tentang Hijrah

Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah (Enam Pelajaran Aqidah dari Sirah Nabi )

Pelajaran Kelima: Kisah Tentang Hijrah

الۡمَوۡضِعُ الۡخَامِسُ: قِصَّةُ الۡهِجۡرَةِ، وَفِيهَا مِنَ الۡفَوَائِدِ وَالۡعِبَرِ مَا لَا يَعۡرِفُهُ أَكۡثَرُ مَنۡ قَرَأَهَا.

Peristiwa kelima: Kisah hijrah. Dalam kisah ini ada faedah-faedah dan pelajaran-pelajaran yang tidak diketahui oleh sebagian besar orang yang membacanya.

وَلَكِنۡ مُرَادُنَا الۡآنَ مَسۡأَلَةٌ مِنۡ مَسَائِلِهَا، وَهِيَ أَنَّ مِنۡ أَصۡحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ مَنۡ لَمۡ يُهَاجِرۡ مِنۡ غَيۡرِ شَكٍّ فِي الدِّينِ وَتَزۡيِينِ دِينِ الۡمُشۡرِكِينَ، وَلَكِنۡ مَحَبَّةً لِلۡأَهۡلِ وَالۡمَالِ وَالۡوَطَنِ، فَلَمَّا خَرَجُوا إِلَى بَدۡرٍ خَرَجُوا مَعَ الۡمُشۡرِكِينَ كَارِهِينَ، فَقُتِلَ بَعۡضُهُمۡ بِالرَّمۡيِ، وَالرَّامِي لَا يَعۡرِفُهُ.

Akan tetapi yang kita inginkan sekarang adalah sebuah permasalahan di antara berbagai permasalahan dalam kejadian tersebut. Yaitu bahwa sebagian sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ada yang tidak berhijrah. Alasannya bukan karena ragu dengan agama Islam dan bukan untuk mendukung agama orang-orang musyrik. Akan tetapi alasannya adalah kecintaan terhadap keluarga, harta, dan tanah air. Ketika mereka keluar menuju medan perang Badr, mereka keluar bersama barisan kaum musyrikin dalam keadaan tidak suka. Sebagian mereka terbunuh karena lemparan senjata, sementara si pelempar tidak mengenalinya.

فَلَمَّا سَمِعَ الصَّحَابَةُ أَنَّ مِنَ الۡقَتۡلَى فُلَانًا وَفُلَانًا شَقَّ عَلَيۡهِمۡ وَقَالُوا: قَتَلۡنَا إِخۡوَانَنَا. فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِهِمۡ﴾ … إِلَى قَوۡلِهِ: ﴿وَكَانَ ٱللَّـهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾ [النساء: ٩٧-١٠٠].

Ketika para sahabat mendengar bahwa di antara korban perang ada si Polan dan si Polan, mereka merasa berat dan berkata, “Kita telah membunuh saudara-saudara kita.” Lalu Allah taala menurunkan ayat yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri-diri mereka…” hingga firman-Nya, “Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa`: 97-100).

فَمَنۡ تَأَمَّلَ قِصَّتَهُمۡ وَتَأَمَّلَ قَوۡلَ الصَّحَابَةِ: قَتَلۡنَا إِخۡوَانَنَا، عَلِمَ أَنَّهُ لَوۡ بَلَغَهُمۡ عَنۡهُمۡ كَلَامٌ فِي الدِّينِ أَوۡ كَلَامٌ فِي تَزۡيِينِ دِينِ الۡمُشۡرِكِينَ لَمۡ يَقُولُوا: قَتَلۡنَا إِخۡوَانَنَا.

Maka, siapa saja yang merenungkan kisah mereka dan merenungkan perkataan sahabat, “Kita telah membunuh saudara-saudara kita,” maka dia mengetahui bahwa andai sampai ucapan (keraguan) terhadap agama Islam atau ucapan yang mendukung agama kaum musyrikin dari sebagian sahabat yang tidak ikut hijrah kepada para sahabat, niscaya para sahabat tidak akan berkata, “Kita telah membunuh saudara-saudara kita.”

فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدۡ بَيَّنَ لَهُمۡ وَهُمۡ بِمَكَّةَ قَبۡلَ الۡهِجۡرَةِ أَنَّ ذٰلِكَ كُفۡرٌ بَعۡدَ الۡإِيمَانِ بِقَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿مَن كَفَرَ بِٱللَّـهِ مِنۢ بَعۡدِ إِيمَـٰنِهِۦٓ إِلَّا مَنۡ أُكۡرِهَ وَقَلۡبُهُۥ مُطۡمَئِنٌّۢ بِٱلۡإِيمَـٰنِ﴾ [النحل: ١٠٦]. وَأَبۡلَغُ مِنۡ هَٰذَا مَا تَقَدَّمَ مِنۡ كَلَامِ اللهِ تَعَالَى فِيهِمۡ، فَإِنَّ الۡمَلَائِكَةَ تَقُولُ: ﴿فِيمَ كُنتُمۡ﴾ وَلَمۡ يَقُولُوا: كَيۡفَ تَصۡدِيقُكُمۡ؟ ﴿قَالُوا۟ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِى ٱلۡأَرۡضِ ۚ﴾ [النساء: ٩٧].

Karena sungguh Allah taala telah menjelaskan kepada mereka ketika mereka berada di Makkah sebelum hijrah bahwa ucapan-ucapan itu adalah kekufuran sesudah keimanan dengan dasar firman-Nya taala yang artinya, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106).

Yang lebih gamblang daripada ayat ini adalah firman Allah taala yang telah disebutkan tentang mereka. Yaitu, bahwa malaikat bertanya, “Bagaimana keadaan kalian ketika itu?”

Para malaikat tidak menanyakan, “Bagaimana pembenaran kalian?”

Mereka menjawab, “Dahulu kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).” (QS. An-Nisa`: 97).

وَلَمۡ يَقُولُوا: كَذَبۡتُمۡ. مِثۡلَ مَا يَقُولُ اللهُ وَالۡمَلَائِكَةُ لِلۡمُجَاهِدِ الَّذِي يَقُولُ: جَاهَدۡتُ فِي سَبِيلِكَ حَتَّى قُتِلۡتُ، فَيَقُولُ اللهُ: كَذَبۡتَ، وَتَقُولُ الۡمَلَائِكَةُ: كَذَبۡتَ، بَلۡ قَاتَلۡتَ لِيُقَالَ: جَرِيءٌ، وَكَذٰلِكَ يَقُولُونَ لِلۡعَالِمِ وَالۡمُتَصَدِّقِ: كَذَبۡتَ، بَلۡ تَعَلَّمۡتَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَتَصَدَّقۡتَ لِيُقَالَ: جَوَّادٌ.

Para malaikat tidak berkata, “Kalian telah berdusta.”

Seperti yang dikatakan oleh Allah dan malaikat kepada mujahid yang berkata, “Aku berjihad di jalan-Mu sampai aku terbunuh.”

Lalu Allah berkata, “Engkau dusta.”

Malaikat juga berkata, “Engkau dusta. Engkau berperang hanya agar engkau disebut sebagai pemberani.”

Demikian pula yang mereka katakan kepada orang yang alim dan orang yang bersedekah, “Engkau dusta. Engkau belajar agar engkau disebut sebagai orang yang alim dan engkau bersedekah agar disebut sebagai orang yang dermawan.”

وَأَمَّا هَٰؤُلَاءِ فَلَمۡ يُكۡذِبُوهُمۡ بَلۡ أَجَابُوهُمۡ بِقَوۡلِهِمۡ: ﴿قَالُوٓا۟ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةً فَتُهَاجِرُوا۟ فِيهَا ۚ﴾ وَيَزِيدُ ذٰلِكَ إِيضَاحًا لِلۡعَارِفِ وَالۡجَاهِلِ الۡآيَةُ الَّتِي بَعۡدَهَا، وَهِيَ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلۡوِلۡدَٰنِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهۡتَدُونَ سَبِيلًا﴾ [النساء: ٩٨].

Adapun mereka yang tidak ikut hijrah ini, maka malaikat tidak menyatakan bahwa mereka berdusta, bahkan menanggapi mereka dengan ucapan mereka. “Para malaikat berkata: Bukankah bumi Allah luas sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?”

Ayat setelahnya akan menambah jelas hal itu, baik bagi orang yang pandai maupun yang jahil. Yaitu firman Allah taala yang artinya, “Kecuali orang-orang yang tertindas dari kalangan pria, wanita, dan anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (QS. An-Nisa`: 98).

فَهَٰذَا أَوۡضَحُ جِدًّا أَنَّ هَٰؤُلَاءِ خَرَجُوا مِنَ الۡوَعِيدِ، فَلَمۡ يَبۡقَ شُبۡهَةً، لَكِنۡ لِمَنۡ طَلَبَ الۡعِلۡمَ، بِخِلَافِ مَنۡ لَمۡ يَطۡلُبۡهُ، بَلۡ قَالَ اللهُ فِيهِمۡ: ﴿صُمٌّۢ بُكۡمٌ عُمۡىٌ فَهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ﴾ [البقرة: ١٨].

Ini sangat jelas bahwa mereka (yang tidak hijrah karena uzur) tidak termasuk ke dalam ancaman (yang disebutkan di akhir surah An-Nisa` ayat 97). Maka, sudah tidak tersisa syubhat lagi. Namun, hilangnya syubhat ini hanya bisa dicapai oleh orang yang menuntut ilmu. Beda halnya dengan orang yang tidak mau menuntut ilmu. Bahkan Allah berfirman tentang mereka yang artinya, “Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak bisa kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 18).

وَمَنۡ فَهِمَ هَٰذَا الۡمَوۡضِعَ وَالَّذِي قَبۡلَهُ فَهِمَ كَلَامَ الۡحَسَنِ الۡبَصۡرِيِّ، قَالَ: لَيۡسَ الۡإِيمَانُ بِالتَّحَلِّي وَلَا بِالتَّمَنِّي وَلَٰكِنۡ مَا وَقَرَ فِي الۡقُلُوبِ وَصَدَقَتۡهُ الۡأَعۡمَالُ.

Barang siapa yang memahami peristiwa ini dan sebelumnya, maka dia akan paham ucapan Al-Hasan Al-Bashri. Beliau menuturkan, “Keimanan bukan sekadar dengan hiasan lahiriah dan angan-angan, akan tetapi keimanan adalah keyakinan yang kukuh di dalam kalbu dan dibuktikan oleh amalan-amalan.”

وَذٰلِكَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّـٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥ ۚ﴾ [فاطر: ١٠].

Tentang itu pula Allah taala berfirman yang artinya, “Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10).


Pembahasan 1: Banyaknya faidah dan pelajaran dari kisah hijrah

Banyak faedah dari kisah hijrah. Penulis di sini ingin mengangkat satu permasalahan yang ingin dijelaskan, yaitu bahwa ada sebagian sahabat yang tidak berhijrah. Mereka bukan karena ragu pada agama Islam dan tidak pula menganggap agama kaum musyrikin bagus. Akan tetapi mereka lebih cinta kepada keluarga, harta, dan tanah kelahiran. Mereka mau hijrah tapi tidak mau meninggalkan keluarganya. Mereka mau hijrah tapi takut meninggalkan hartanya yang perlu dirawat dan takut hartanya diambil oleh kaum musyrikin. Mereka mau hijrah tapi tidak kuat meninggalkan tanah kelahirannya karena sudah terbiasa hidup di negerinya. Bahkan Nabi dan para sahabat ketika sudah hijrah ke Madinah masih mengingat tanah kelahirannya di Mekkah.

Hukum hijrah adalah apabila seseorang telah berhijrah maka tidak boleh kembali lagi pada tanah yang sudah ditinggalkan untuk bermukim. Akan tetapi kalau untuk tidak bermukim maka tidak mengapa. Sebagaimana Nabi dan para sahabat ketika sudah hijrah ke Madinah dan Mekah ditaklukan menjadi negeri Islam, tapi mereka tidak kembali tinggal di Mekkah. Padahal Mekah adalah tanah yang paling dicintai oleh Allah, Mekah lebih afdhal dari pada Madinah.

Dalam menilai sebuah negeri apakah negeri Islam atau negeri kafir adalah dilihat dari mayoritas penduduknya dan syiar-syiar yang berkembang di negeri itu.

Ketika terjadi perang Badr, para sahabat yang tidak berhijrah ikut perang Badr di barisan kaum musyrikin dalam keadaan terpaksa. Sebagian dari mereka ada yang terbunuh, terkena bidikan tombak atau panah. Sahabat yang membidik tidak mengenal siapa yang dibidik karena mereka tahu bahwa semua lawannya adalah kaum musyrikin.

Para sahabat mendengar bahwa yang telah terbunuh adalah nama-nama yang mereka kenal yaitu sebagian sahabat yang tidak berhijrah. Maka hal tersebut membuat para sahabat menjadi sangat berat. Mereka berkata, “Kami sudah membunuh saudara-saudara kami”. Maka Allah ﷻ menurunkan firmannya dalam surat An-Nisa ayat 97-100.

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِهِمْ قَالُوا۟ فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا۟ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ قَالُوٓا۟ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةًۭ فَتُهَاجِرُوا۟ فِيهَا ۚ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا ٩٧ إِلَّا ٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلْوِلْدَٰنِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةًۭ وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًۭا ٩٨ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَعْفُوَ عَنْهُمْ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًۭا ٩٩ ۞ وَمَن يُهَاجِرْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدْ فِى ٱلْأَرْضِ مُرَٰغَمًۭا كَثِيرًۭا وَسَعَةًۭ ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِنۢ بَيْتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدْرِكْهُ ٱلْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا ١٠٠

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata, “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali, kecuali mereka yang tertindas, baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 97-100)

Faidah dari kisah hijrah:

Siapa yang memperhatikan kisah sahabat yang tidak berhijrah ini. Para sahabat mengatakan “Kami telah membunuh saudara-saudara kami”. Sebagian sahabat yang tidak berhijrah masih dikatakan saudara-saudara kami. Mengapa masih dikatakan saudara kami? Karena tidak ucapan jelek apapun dari para sahabat yang tidak berhijrah yang terdengar oleh para sahabat yang berhijrah ke Madinah. Ucapan jelek termasuk menjelekkan agama Islam dan menganggap agama kaum musyrikin bagus. Andaikata ada ucapan jelek sampai terdengar oleh para sahabat di Madinah, pasti mereka tidak akan berkata “Kami telah membunuh saudara-saudara kita”.

Allah ﷻ telah menjelaskan kepada para sahabat sebelum para sahabat berhijrah ke Madinah, bahwa hal tersebut adalah kekafiran setelah keimanan. Sebagaimana firman Allah yang artinya “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106). Ayat ini terkait dengan kejadian yang menimpa Ammar bin Yasir. Apabila seseorang ridha dengan kekafiran, menanggap agama kaum musyrikin bagus maka dianggap kekafiran. Kecuali apabila dipaksa seperti yang dialami Ammar, dimana ayah dan ibunya sudah mati dibunuh. Apabila dia tidak berucap mengenai kekafiran maka dia akan dibunuh juga. Maka dia mengucapkan dengan terpaksa sehingga turun ayat ini. Ammar terpaksa mengucapkan kekufuran tapi terpaksa dan hatinya tetap pada keimanannya.

Para sahabat menganggap sahabat yang tidak berhijrah masih sebagai Muslim. Sehingga ucapan mereka telah benar. Juga tidak ada yang mengingkari ucapan sahabat tersebut. Dan lebih mendalam lagi disebutkan dalam ayat yang di atas (An-Nisa), yaitu para malaikat berkata, “Dalam keadaan bagaimana kalian?”. Malaikat tidak menanyakan “Bagaimana keyakinan kalian?”. Sehingga keyakinan mereka tidak diragukan. Tapi yang ditanyakan adalah dalam keadaan apa?. Maka mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang terdhalimi di atas muka bumi (Mekkah)”. Apabila jawaban ini tidak benar maka Malaikat akan mengatakan, “Kalian telah berdusta”. Tapi Malaikat tidak mengatakannya.

Hal ini seperti dikatakan kepada seorang Mujahid dalam hadits Muslim,”Saya berjihad di jalan-Mu, Ya Allah, sampai saya terbunuh”. Maka Allah ﷻ berfirman, “Engkau telah berdusta” dan malaikat mengatakan “Engkau telah berdusta”. Bahkan engkau berperang agar disebut sebagai pemberani. Demikian pula dikatakan kepada orang yang berilmu dan orang yang bersedekah. Orang alim mengatakan “Saya belajar, membaca Al-Qur’an karena engkau, Ya Allah”, Allah ﷻ berfirman, “Engkau berdusta, Engkau belajar supaya dikatakan alim, Engkau membaca Al-Qur’an supaya dikatakan engkau ahli qiro’ah”. Demikian juga juga yang bersedekah Allah ﷻ berfirman “Engkau bersedekah supaya dikatakan orang yang dermawan”.

Andaikata ucapan sahabat yang tidak berhijrah tersebut keliru, maka malaikat akan mengatakan “Engkau telah berdusta”. Akan tetapi para Malaikat mengatakan, “Bukan kah bumi Allah itu luas?, Sehingga kalian dapat berhijrah di atas bumi itu.” Terkadang seseorang enggan berhijrah karena keluarga, harta dan tempat asalnya. Padahal apabila berhijrah akan mendapatkan hal yang lebih baik daripada itu.

Telah diungkap sisi pertama dan kedua adalah mereka tidak ada masalah dalam keislaman dan tidak pula menganggap bagus kaum musyrikin. Sisi yang ketiga, bahwa hal tersebut semakin diperjelas dengan firman Allah taala yang artinya, “Kecuali orang-orang yang tertindas dari kalangan pria, wanita, dan anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).” (QS. An-Nisa`: 98). Dalam ayat ini dikatakan tidak semua yang berhijrah disalahkan, ada orang-orang yang mempunyai udzur, yaitu: laki-laki yang lemah yang kalau keluar mungkin sudah dibunuh, perempuan, anak, kecil dan yang tidak tahu jalan.

Maka, orang-orang yang mempunyai udhzur tidak ada ancaman, sehingga keluar dari syubhat yang tersisa. Hal ini jelas bagi orang yang menuntut ilmu. Berebeda dengan orang yang tidak menuntut ilmu. Bahkan Allah ﷻ berfirman tentang mereka yang artinya, “Mereka tuli, bisu, dan buta, sehingga mereka tidak bisa kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah: 18).

Kisah hijrah perlu dibahas dan dikaji, banyak pelajaran yang bisa diambil. Akan tetapi buku-buku tentang sirah perlu disaring sehingga mendapatkan riwayat-riwayat yang shahih dan dikeluarkan riwayat-riwayat yang lemah atau dusta. Banyak kisah hijrah akan tetapi tidak diketemukan sanad yang shahih.

Pembahasan 2: Kisah orang-orang yang meninggalkan hijrah tanpa udzur dan adanya ancaman, padahal mereka berada di atas kesilaman tanpa ragu dalam agama serta tidak menganggap baik agama kaum musyrikin

Orang yang tidak hijrah tanpa udzur mendapatkan ancaman, padahal mereka berada di atas keislaman, tidak ragu akan agama Islam, dan tidak menganggap baik agama kaum musyrikin. Ancamannya sebagaimana firman Allah ﷻ yang artinya “Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali” (An-Nisa: 97).

Pembahasan 3: Memahami ucapan Al-Hasan Al-Bashriy untuk tempat ini dan tempat sebelumnya.

Ini adalah pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Hijrah, yaitu memahami ucapan Al-Hasan Al-Bashriy untuk tempat ini dan tempat sebelumnya. Maksudnya ucapan beliau pada pelajaran sebelumnya (Pelajaran Keempat) dan pelajaran ini (Pelajaran Kelima). Pelajaran Keempat adalah tentang kisah Abu Thalib terdapat kemiripan dengan kisah hijrah.

Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Iman ini bukanlah dengan berhias, juga bukan dengan berangan-angan. Iman itu sesuatu yang bertetap di dalam hati dan dibenarkan oleh amalan.” Sebagaimana Allah ﷻ berfirman yang artinya “Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10)

Dalam kisah Abu Thalib, terdapat amalannya, akan tetapi yang kurang adalah sesuatu di dalam hati, sehingga dia tidak masuk dalam Islam.

Dalam kisah hijrah, Iman tidak seperti kisah para sahabat yang tidak berhijrah tanpa udzur. Mereka beriman, kaum muslimin, akan tetapi tidak beramal dengan melaksanakan hijrah.

Hal ini menunjukkan bahwa Tauhid, tidak sekadar mengenal tauhid dan meninggalkan kesyirikan, akan tetapi harus ada amalan yang menunjukkan hal tersebut seperti permusuhan dengan kaum musyrikin, meninggalkan kaum musyrikin, menolong agama, berdakwah kepada tauhid, melarang dari kesyirikan, amar ma’ruf dan nahi munkar.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber:

Matan dan Terjemahan Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah:

Ismail bin Issa. (2020, April 16). Sittatu Mawadhi’ Minas Sirah. Sittatu Mawadhi’ minas Sirah – إسماعيل بن عيسى. https://ismail.web.id/2020/04/16/sittatu-mawadhi-minas-sirah/

Pelajaran Keempat: Kisah Abu Thalib

Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah (Enam Pelajaran Aqidah dari Sirah Nabi )

Pelajaran Keempat: Kisah Abu Thalib

الۡمَوۡضِعُ الرَّابِعُ: قِصَّةُ أَبِي طَالِبٍ، فَمَنۡ فَهِمَهَا حَسَنًا وَتَأَمَّلَ إِقۡرَارَهُ بِالتَّوۡحِيدِ، وَحَثَّ النَّاسِ عَلَيۡهِ، وَتَسۡفِيهَ عُقُولِ الۡمُشۡرِكِينَ، وَمَحَبَّتَهُ لِمَنۡ أَسۡلَمَ وَخَلَعَ الشِّرۡكَ، ثُمَّ بَذَلَ عُمۡرَهُ وَمَالَهُ وَأَوۡلَادَهُ وَعَشِيرَتَهُ فِي نُصۡرَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى أَنۡ مَاتَ. ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى الۡمَشَقَّةِ الۡعَظِيمَةِ وَالۡعَدَاوَةِ الۡبَالِغَةِ، لَكِنۡ لَمَّا لَمۡ يَدۡخُلۡ فِيهِ وَلَمۡ يَتَبَرَّأۡ مِنۡ دِينِهِ الۡأَوَّلِ لَمۡ يَصِرۡ مُسۡلِمًا، مَعَ أَنَّهُ يَعۡتَذِرُ مِنۡ ذٰلِكَ بِأَنَّ فِيهِ مسَبَّةً لِأَبِيهِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ وَلِهَاشِمٍ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ مَشَايِخِهِمۡ.

Peristiwa keempat: Kisah Abu Thalib. Siapa saja yang memahaminya dengan baik dan memperhatikan

  • pengakuannya terhadap tauhid,
  • anjurannya kepada manusia agar bertauhid,
  • sikap beliau yang membodoh-bodohkan akal orang-orang musyrik,
  • kecintaan beliau kepada orang yang masuk Islam dan lepas dari kesyirikan,
  • kemudian beliau menghabiskan umur, harta, anak-anak, dan kerabatnya untuk menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai meninggal,
  • kemudian sikap beliau yang menyabarkan Rasulullah terhadap kesulitan yang besar dan permusuhan yang memuncak.

Akan tetapi ketika Abu Thalib tidak masuk Islam dan tidak berlepas diri dari agamanya yang dahulu, maka dia tidak menjadi seorang muslim. Meskipun dia beralasan dengan apabila dia masuk Islam, maka akan mencoreng kehormatan ayahnya—yaitu ‘Abdul Muththalib—dan Hasyim, serta selain keduanya dari para tokoh leluhur mereka.

ثُمَّ مَعَ قَرَابَتِهِ وَنُصۡرَتِهِ اسۡتَغۡفَرَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى عَلَيۡهِ: ﴿مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسۡتَغۡفِرُوا۟ لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ﴾ [التوبة: ١١٣].

Kemudian karena hubungan kekerabatan dan pembelaan Abu Thalib ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan untuknya. Lalu Allah taala menurunkan ayat kepada beliau yang artinya, “Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).

وَالَّذِي يُبَيِّنُ هَٰذَا أَنَّهُ إِذَا عُرِفَ رَجُلٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡبَصۡرَةِ أَوِ الۡأَحۡسَاءِ بِحُبِّ الدِّينِ وَبِحُبِّ الۡمُسۡلِمِينَ، مَعَ أَنَّهُ لَمۡ يَنۡصُرِ الدِّينَ بِيَدٍ وَلَا مَالٍ وَلَا لَهُ مِنَ الۡأَعۡذَارِ مِثۡلُ مَا لِأَبِي طَالِبٍ، وَفَهِمَ الۡوَاقِعَ مِنۡ أَكۡثَرَ مَنۡ يَدَّعِي الدِّينَ، تَبَيَّنَ لَهُ الۡهُدَى مِنَ الضَّلَالِ، وَعَرَفَ سُوءُ الۡأَفۡهَامُ، وَاللهُ الۡمُسۡتَعَانُ.

Dan yang lebih memperjelas ini adalah bahwa ketika ada seseorang dari penduduk Bashrah atau Ahsa` yang dikenal mencintai agama Islam dan mencintai kaum muslimin, namun dia tidak menolong agama dengan tangan dan harta. Dia juga tidak memiliki uzur semisal uzur yang dimiliki Abu Thalib.

(Jadi siapa saja yang memahami kisah Abu Thalib ini) dan memahami kenyataan berupa banyaknya orang yang mengaku-aku mengerti agama, maka akan jelas baginya petunjuk dari kesesatan dan dia akan mengerti buruknya pemahaman (terhadap agama). Allah lah yang dimintai pertolongan.


Pembahasan 1: Kisah Abu Thalib

Nabi ﷺ dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal sebelum Rasulullah dilahirkan. Rasulullah ﷺ diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Abdul Muthalib sebelum meninggal berwasiat kepada anaknya yang lain yaitu Abdul Thalib untuk mengasuh dan merawat Nabi Muhammad ﷺ.

Abu Thalib merawat dan mendidik Nabi Muhammad ﷺ hingga diutus menjadi seorang Rasul. Abu Thalib membela dan melindungi Nabi Muhammad ﷺ dari orang-orang Quraish. Seperti kejadian pemboikotan Nabi ﷺ dan para shahabat, Abu Thalib juga ikut diboikot. Abu Thalib adalah orang yang menguatkan Nabi ﷺ.

Abu Thalib meng-ikrar Tauhid dan mengakui agama yang di bawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Seperti ucapan Abu Thalib, “Saya telah mengetahui bahwa agama Nabi Muhammad ﷺ adalah agama yang membawa manusia kepada yang paling baik. Andaikata tidak khawatir akan celaan, maka engkau telah melihat saya lapang menerima agama ini dengan penuh kejelasan”.

Abu Thalib menganggap kaum musyrikin bodoh akalnya. Abu Thalib cinta kepada yang memeluk Islam dan yang menanggalkan kesyirikan. Abu Thalib mencurahkan umur, harta, anak-anak dan kerabatnya untuk menolong Rasulullah ﷺ sampai Abu Thalib meninggal.

Kemudian Abu Thalib bersabar dari kesulitan yang besar dan permusuhan yang berlebihan. Tetap melindungi Nabi Muhammad ﷺ.

Pada masa sulit setelah pemboikotan, meninggal Khadijah istri Nabi Muhammad ﷺ dan juga meninggal pamannya Abu Thalib. Maka semakin besar gangguan terhadap Nabi ﷺ dan para shahabat. Sehingga Nabi menginjinkan para shahabat untuk berhijrah ke Habasa. Raja Habasa, Najasi, terkenal sebagai raja yang tidak mendholomi rakyatnya apapun agamanya.Diantara yang Hijrah ke Habasa adalah Ustman bin Affan.

Para shahabat yang berhijrah ke Habasa menjadi sebab Raja Najasi masuk Islam. Yaitu ketika kaum musyrikin mendengar para shahabat berhijrah, mereka menyusul ke Habasa. Mereka membawakan hadiah untuk Najasi agar para shahabat dikembalikan ke Mekkah. Akan tetapi Najasi berlaku adil dengan memanggil keduabelah pihak untuk berdebat antara para shahabat dan kaum musyrikin. Maka dari perdebatan itu Najasi mengenal kebenaran dari Nabi ﷺ dan mengenal tanda-tanda kenabiannya yang sesuai dengan kitab nya. Setelah dibacakan kepada Najasi surah Maryam, maka dia menangis mendengarkan surah tersebut.

Akan tetapi Abu Thalib tidak memeluk Islam dan tidak berlepas diri dari agama kaum musyrikin. Alasan Abu Thalib tidak masuk Islam adalah karena dia tidak mau mencela ayahnya (Abdul Muthalib), kakeknya (Hasyim) dan nenek moyang mereka.

Ketika Abu Thalib mendekati ajalnya, Nabi berada di sisinya dan berkata, “Wahai paman ku, katakan La Ilaha Illallah, kalimat yang dengannya saya akan mempersaksikan untuk mu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Akan tetapi setiap Nabi menawarkan untuk mengucapkan syahadat, ada Abu Jahal, Abdullah bin Umaya, yang merupakan dua pembesar Quraish yang berkata,”Wahai Abu Thalib apakah kamu benci kepada agama ayahmu Abdul Muthalib?”. Hal ini membangkitkan kesukuan Abdul Muthalib dan juga tidak mau mencaci nenek moyangnya. Akhirnya Abu Thalib meninggal dalam keadaan Musyrik, tidak masuk Islam. Abu Thalib menjadi penghuni neraka dilapisan paling bawah, karena dia tahu bahwa Agama Islam adalah benar tapi tidak mau masuk Islam.

Ketika Abu Thalib meninggal Rasulullah memohonkan ampun untuk Abu Thalib dikarenakan kekerabatannya dan pertolongan Abu Thalib kepada Rasulullah ﷺ. Maka turun 2 ayat yang menegur Nabi ﷺ, Allah berfirman

  • Tidaklah patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun pada Allah bagi orang-orang Musyrik. Walaupun itu karib kerabat mereka” (At-Taubah: 113)
  • Engkau Nabi Muhammad tidak bisa memberikan hidayah kepada siapa yang engkau cintai”. (Al-Qhashash: 56)

Allah memberikan kekhususan bagi Nabi Muhammad, yaitu diberikan syafaat khusus untuk Abu Thalib. Abu Thalib harusnya disiksa pada neraka yang paling bawah. Dengan syafaat Nabi ﷺ, Abu Thalib mendapatkan siksaan yang paling ringan siksaannya di dalam neraka. Walaupun kekal didalam neraka. Dalam Shahih Muslim disebutkan siksaan Abu Thalib dalam neraka yaitu, dua terompah yang dipanaskan, sebelum kaki menyentuh terompah tersebut, maka mendidih kepalanya.

Pelajaran Aqidah dari Kisah Abu Thalib

Hal yang memperjelas perkara ini apabila seorang penduduk Bashrah, penduduk Ahsa, mengaku mencintai agama, mencintai kaum muslimin dan dianggap bersama kaum muslim. Padahal dia tidak pernah menolong agama tidak dengan tangan dan tidak pula dengan harta. Dan dia tidak memiliki udzur-udzur seperti Abu Thalib miliki.

Apabila ada yang mengaku cinta Agama Islam dan cinta kaum muslimin. Akan tetapi ketika terjadi perseteruan antara hak dan bathil, antara tauhid dan kesyirikan, dia tidak pernah menampakan dirinya. Karena dia ingin aman dan tidak mau ada musuhnya. Maka orang seperti ini apabila hidup di masa Abu Jahal, tidak ada yang mengingkarinya sebab itu bukan hal yang dipermasalahkan oleh kamu Musyrikin. Kaum musyrikin juga beribadah (haji dan umrah) dan mempunyai akhlak yang bagus. Akan tetapi inti permasalahan kaum musyrikin adalah pada pembahasan tauhid. Hal ini yang membuat mereka membenci Nabi Muhammad ﷺ dan para shahabat.

Abu Thalib mempunyai udzhur yaitu dia khawatir mencela nenek moyangnya. Akan tetapi orang yang sekarang tidak ada udzur seperti Abu Thalib.

Penulis mengingkari sekelompok orang di masanya, yang dianggap berilmu, tahu kebenaran, mengenal tauhid, mengetahui kebathilan kesyirikan. Akan tetapi tidak pernah berdakwah tauhid, melarang kesyirikan dan mengingkari kaum musyrikin.

Abu Thalib saja membela Nabi ditengah kaum musyrikin, bahkan menganggap mereka bodoh. Akan tetapi Abu Thalib tidak masuk Islam.

Sehingga keislaman jelas ketentuannya: shahadat, mengakui tauhid, meninggalkan kesyirikan, dan memusuhi kaum musyrikin. Keislaman dibuktikan dengan ucapan dan amalan.

Pembahasan 2: Tidak cukup mengaku Islam benar dan membela Islam, mencela kesyirikan dan kaum musyrikin

Tidak cukup mengaku Islam benar dan membela Islam, mencela kesyirikan dan kaum musyrikin. Tapi harus masuk kedalam Islam, mengikuti Rasulullah ﷺ, berlepas diri dari kesyirikan dan kaum musyrikin.

Abu Thalib membela Rasullullah, mencela kaum musyrikin, cinta kepada orang yang masuk Islam, senang dengan orang yang menanggalkan kesyirikan. Akan tetapi Abu Thalib tidak masuk islam dikarenakan tidak bersyahadat. Abu Thalib dianggap tidak masuk Islam dan tidak mengikuti Rasulullah ﷺ.

Bermusuhan dengan kaum musyrikin saja tidak cukup. Seperti halnya orang Yahudi bermusuhan dengan orang Nashara. Tapi tidak mengatakan bahwa orang Yahudi muslim walaupun orang Yahudi bisa membantah kaum Nashara. Ada syarat-syarat keislaman, yaitu:

  1. Allah adalah satu-satunya yang diibadahi.
  2. Berlepas diri dari segala yang diibadahi kecuali Allah.
  3. Mengetahui Tauhid.
  4. Meninggalkan kesyirikan
  5. Berlepas diri dari kesyirikan dan kaum musyrikin.

Pembahasan 3: Ada udzhur-udzhur bagi Abu Thalib tapi tidak menjadi seorang Muslim

Tidak semua yang mempunyai udzur, akan diterima udzurnya. Udzur Abu Thalib sebenarnya hal yang mudah, yaitu kesabaran dalam menghadapi kaumnya walaupun ayah dan nenek moyangnya dicela. Maka tidak menjadi masalah, karena Allah akan memuliakannya dengan masuk Islam. Dia lebih mementingkan gensinya sehingga tidak dicela ayahnya.

Pembahasan 4: Menyingkap petunjuk terhadap kesesatan dan jeleknya pemahaman.

Menyingkap petunjuk terhadap kesesatan dan jeleknya pemahaman terhadap orang yang mengenal kebenaran dan tauhid dan mengerti juga kebathilan syirik. Tetapi mereka tidak menolong agama dan tidak memerintah kepada tauhid, dan tidak melarang dari kesyirikan.

Ini adalah pelajaran yang paling pokok dari kisah Abu Thalib. Sehingga semakin jelas apa tauhid dan agama yang dibawa Rasulullah ﷺ, yaitu kandungan dari syarat La Ilaha Illallah.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber:

Matan dan Terjemahan Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah:

Ismail bin Issa. (2020, April 16). Sittatu Mawadhi’ Minas Sirah. Sittatu Mawadhi’ minas Sirah – إسماعيل بن عيسى. https://ismail.web.id/2020/04/16/sittatu-mawadhi-minas-sirah/

Pelajaran Ketiga: Kisah Pembacaan Surat An-Najm

Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah (Enam Pelajaran Aqidah dari Sirah Nabi )

Pelajaran Ketiga: Kisah Pembacaan Surat An-Najm

الۡمَوۡضِعُ الثَّالِثُ : قِصَّةُ قِرَاءَتِهِ ﷺ سُورَةَ النَّجۡمِ بِحَضۡرَتِهِمۡ، فَلَمَّا بَلَغَ ﴿أَفَرَءَيۡتُمُ ٱللَّـٰتَ وَٱلۡعُزَّىٰ﴾ [النجم: ١٩] أَلۡقَى الشَّيۡطَانُ فِي تِلَاوَتِهِ: (تِلۡكَ الۡغَرَانِيقُ الۡعُلَا، وَإِنَّ شَفَاعَتَهُنَّ لَتُرۡتَجَى) فَظَنُّوا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَهَا، فَفَرِحُوا بِذٰلِكَ وَقَالُوا كَلَامًا مَعۡنَاهُ: هَٰذَا الَّذِي نُرِيدُ، وَنَحۡنُ نَعۡرِفُ أَنَّ اللهَ هُوَ النَّافِعُ الضَّارُّ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلَكِنۡ هَٰؤُلَاءِ يَشۡفَعُونَ لَنَا عِنۡدَهُ.

Peristiwa ketiga: Kisah pembacaan surah An-Najm oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah kehadiran mereka. Ketika beliau sampai ayat yang artinya, “Maka apakah patut kalian (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata dan al-‘Uzza,” setan menyisipkan dalam bacaan beliau, “Itu adalah gharaniq (nama berhala/malaikat) yang mulia dan sesungguhnya syafaat mereka diharapkan.” Sehingga mereka menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengucapkannya. Maka, mereka pun gembira dengan perkataan itu dan mereka berkata dengan ucapan yang maknanya, “Inilah yang kami inginkan. Kami mengetahui bahwa Allah sajalah yang memberi manfaat dan mudarat, tidak ada sekutu bagi-Nya, namun mereka ini (berhala-berhala) dapat memberi syafaat untuk kami di sisi-Nya.”

فَلَمَّا بَلَغَ السَّجۡدَةَ سَجَدَ وَسَجَدُوا مَعَهُ، فَشَاعَ الۡخَبَرُ أَنَّهُمۡ صَافَوۡهُ، وَسَمِعَ بِذٰلِكَ مَنۡ بِالۡحَبَشَةِ فَرَجَعُوا، فَلَمَّا أَنۡكَرَ ذٰلِكَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَادُوا إِلَى شَرٍّ مِمَّا كَانُوا عَلَيۡهِ.

Ketika Rasulullah membaca sampai ayat sajdah, beliau pun sujud dan mereka ikut sujud beserta beliau. Sehingga tersebarlah berita bahwa orang-orang musyrik mengikuti beliau dan berita itu terdengar oleh kaum muslimin yang sedang hijrah di Habasyah sehingga mereka kembali. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari bacaan itu, orang-orang musyrik itu kembali kepada keburukan mereka dahulu.

وَلَمَّا قَالُوا لَهُ: إِنَّكَ قُلۡتَ ذٰلِكَ. خَافَ مِنَ اللهِ خَوۡفًا عَظِيمًا، حَتَّى أَنۡزَلَ اللهُ عَلَيۡهِ: ﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِىٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَـٰنُ فِىٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ﴾… [الحج: ٥٢].

Ketika orang-orang musyrik itu berkata kepada beliau, “Sesungguhnya engkau telah mengucapkannya,” maka Rasulullah sangat takut kepada Allah sampai Allah menurunkan ayat kepada beliau yang artinya, “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia membaca, setan menyisipi bacaan itu…” (QS. Al-Hajj: 52).

فَمَنۡ فَهِمَ هَٰذِهِ الۡقِصَّةَ، ثُمَّ شَكَّ بَعۡدَهَا فِي دِينِ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَمۡ يُفَرِّقۡ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَ دِينِ الۡمُشۡرِكِينَ، فَأَبۡعَدَهُ اللهُ، خُصُوصًا إِنۡ عَرَفَ أَنَّ قَوۡلَهُمۡ: (تِلۡكَ الۡغَرَانِيقُ) يُرَادُ بِهَا الۡمَلَائِكَةُ.

Jadi, siapa saja yang memahami kisah ini, lalu setelah itu masih ragu tentang agama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak bisa membedakan antara agama Nabi dengan agama orang-orang musyrik, maka berarti Allah telah menjauhkannya. Terkhusus apabila dia mengerti bahwa ucapan mereka, “Itu adalah gharaniq,” yang mereka maksudkan adalah malaikat.


Pembahasan 1: Kisah Nabi ﷺ membaca surat An-Najm yang dihadiri oleh kaum musyrikin.

Ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yang menjadikan para malaikat sebagai anak perempuan Allah Ta’ala. Dan bantahan terhadap Ilhat yang mereka lakukan.

Ketika sampai pada firman Allah “Maka, apakah kalian , patut menganggap Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang paling ketiga?“, Maka syaitan menyusupkan kepada bacaan Nabi ﷺ, yaitu “Al-Gharaniq yang tinggi, sesungguhnya syafaat-syafaat mereka diharapkan”. Maksudnya Nabi tidak membaca apa yang dikatakan oleh syaitan akan tetapi syaithon bersuara dengan memasukan kalimat tadi. Sehingga terdengar oleh orang-orang, yang menyangka perkataan syaithon itu termasuk bacaan Nabi ﷺ.

Kaum musyrikin menyangka Nabi mengucapkan kalimat itu dan mereka bergembira akan hal itu. Mereka berucap yang maknanya, “Itulah yang kami inginkan, kami mengetahui hanya Allah yang memberi madharat dan manfaat, tapi sembahan kami memberi syafaat untuk kami disisi Allah Ta’ala.”

Al-Gharaniq adalah jamak dari Ghanuq yang artinya burung putih (jantan) yang panjang lehernya (burung bangauw). Kaum musyrikin menamakan berhala-berhala mereka dengan Al-Gharaniq.

Ketika mencapai ayat sajadah pada ayat terakhir surat An-Najm, maka Nabi bersujud dan kaum musyrikin ikut bersujud bersama beliau. Maka tersebar berita bahwa Nabi ﷺ telah berdamai dengan kaum musyrikin. Berita ini terdengar oleh para sahabat yang berada di Hasaba. Sehingga para sahabat kembali ke Mekah.

Akan tetapi begitu Rasulullah ﷺ mengingkari perdamaian ini, maka kaum musryikin kembali memusuhinya dan lebih jelek dari pada keadaan sebelumnya. Mereka berkata, “Engkau yang mengucapkan hal tersebut, kenapa diingkari?”. Maka Nabi sangat takut kepada Allah Ta’ala, sehingga Allah menurunkan firmannya:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِىٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَـٰنُ فِىٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ﴾… [الحج: ٥٢].

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia membaca, setan menyisipi bacaan itu…” (QS. Al-Hajj: 52)

Siapa yang memahami kisah ini, kemudian setelah itu ragu kepada Agama Nabi ﷺ. Dan tidak membedakan antara agama Nabi dan agama kaum musyrikin, semoga Allah menjauhkannya. Apalagi kalau mereka mengetahui ucapan Al-Gharaniq maksudnya adalah para malaikat.

Kisah pembacaan surat An-Najm ini disebut juga Kisah Gharaniq. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa periwayatan pada kisah ini, sanad nya lemah. Sebagian ulama lain seperti Ibnu Hajar berpendapat bahwa hadits ini memiliki beberapa jalur riwayat yang sebagiannya menguatkan sebagian lainnya. Secara umum yang mengatakan riwayat ini tidak sah adalah lebih dekat, hanya saja firman Allah dari surat Al-Hajj sudah cukup sebagai dalil bahwa syaithon menyisipi bacaan para Rasul.

Pembahasan 2: Hakikat permusuhan antara Nabi ﷺ dan kaum musyrikin

Hakikat permusuhan antara Nabi dan Kaum musyrikin adalah pada permasalahan Tauhid dan hakikat kesyirikan. Bahwa apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin berupa peribadatan kepada berhala dengan alasan mendekatkan mereka kepada Allah dan mencari syafaat adalah kesyirikan. Sehingga kaum musyrikin memusuhi Nabi ﷺ dan para sahabat.

Mereka menganggap Nabi ﷺ dan para sahabat mencela agama mereka. Dari sisi Nabi ﷺ dan para shabat bahwa ini adalah sikap al-bara, bahwa tidak cukup seorang bertauhid dan meninggalkan kesyirikan akan tetapi harus memusuhi kaum musyrikin dan membenci agama mereka.

Pada awalnya kaum Musyrikin percaya kepada Nabi ﷺ dan menggelarinya Al-Amin. Akan tetapi tiba-tiba menjadi orang yang sangat mereka musuhi karena hal tersebut diatas.

Pembahasan 3: Perbedaan antara agama kaum muslimin dengan agama kaum musyrikin

Harus dibedakan antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Disebutkan dalam Kitab Qawaidul Arba’, pada kaidah yang kedua: Alasan kaum musyrikin melakukan kesyirikan ada dua yaitu:

  1. Mencari Kedekatan
  2. Mencari Syafaat.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Sumber:

Matan dan Terjemahan Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah:

Ismail bin Issa. (2020, April 16). Sittatu Mawadhi’ Minas Sirah. Sittatu Mawadhi’ minas Sirah – إسماعيل بن عيسى. https://ismail.web.id/2020/04/16/sittatu-mawadhi-minas-sirah/