Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah (Enam Pelajaran Aqidah dari Sirah Nabi ﷺ)
- Penulis: Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah
- Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah. Rekaman video kajian 6. Pelajaran Keempat: Kisah Abu Thalib – Sittah Mawadhi’ Minas Sirah.
Pelajaran Keempat: Kisah Abu Thalib
الۡمَوۡضِعُ الرَّابِعُ: قِصَّةُ أَبِي طَالِبٍ، فَمَنۡ فَهِمَهَا حَسَنًا وَتَأَمَّلَ إِقۡرَارَهُ بِالتَّوۡحِيدِ، وَحَثَّ النَّاسِ عَلَيۡهِ، وَتَسۡفِيهَ عُقُولِ الۡمُشۡرِكِينَ، وَمَحَبَّتَهُ لِمَنۡ أَسۡلَمَ وَخَلَعَ الشِّرۡكَ، ثُمَّ بَذَلَ عُمۡرَهُ وَمَالَهُ وَأَوۡلَادَهُ وَعَشِيرَتَهُ فِي نُصۡرَةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ إِلَى أَنۡ مَاتَ. ثُمَّ صَبَّرَهُ عَلَى الۡمَشَقَّةِ الۡعَظِيمَةِ وَالۡعَدَاوَةِ الۡبَالِغَةِ، لَكِنۡ لَمَّا لَمۡ يَدۡخُلۡ فِيهِ وَلَمۡ يَتَبَرَّأۡ مِنۡ دِينِهِ الۡأَوَّلِ لَمۡ يَصِرۡ مُسۡلِمًا، مَعَ أَنَّهُ يَعۡتَذِرُ مِنۡ ذٰلِكَ بِأَنَّ فِيهِ مسَبَّةً لِأَبِيهِ عَبۡدِ الۡمُطَّلِبِ وَلِهَاشِمٍ وَغَيۡرِهِمَا مِنۡ مَشَايِخِهِمۡ.
Peristiwa keempat: Kisah Abu Thalib. Siapa saja yang memahaminya dengan baik dan memperhatikan
- pengakuannya terhadap tauhid,
- anjurannya kepada manusia agar bertauhid,
- sikap beliau yang membodoh-bodohkan akal orang-orang musyrik,
- kecintaan beliau kepada orang yang masuk Islam dan lepas dari kesyirikan,
- kemudian beliau menghabiskan umur, harta, anak-anak, dan kerabatnya untuk menolong Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai meninggal,
- kemudian sikap beliau yang menyabarkan Rasulullah terhadap kesulitan yang besar dan permusuhan yang memuncak.
Akan tetapi ketika Abu Thalib tidak masuk Islam dan tidak berlepas diri dari agamanya yang dahulu, maka dia tidak menjadi seorang muslim. Meskipun dia beralasan dengan apabila dia masuk Islam, maka akan mencoreng kehormatan ayahnya—yaitu ‘Abdul Muththalib—dan Hasyim, serta selain keduanya dari para tokoh leluhur mereka.
ثُمَّ مَعَ قَرَابَتِهِ وَنُصۡرَتِهِ اسۡتَغۡفَرَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَأَنۡزَلَ اللهُ تَعَالَى عَلَيۡهِ: ﴿مَا كَانَ لِلنَّبِىِّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَن يَسۡتَغۡفِرُوا۟ لِلۡمُشۡرِكِينَ وَلَوۡ كَانُوٓا۟ أُو۟لِى قُرۡبَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُمۡ أَصۡحَـٰبُ ٱلۡجَحِيمِ﴾ [التوبة: ١١٣].
Kemudian karena hubungan kekerabatan dan pembelaan Abu Thalib ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan ampunan untuknya. Lalu Allah taala menurunkan ayat kepada beliau yang artinya, “Tidak patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam.” (QS. At-Taubah: 113).
وَالَّذِي يُبَيِّنُ هَٰذَا أَنَّهُ إِذَا عُرِفَ رَجُلٌ مِنۡ أَهۡلِ الۡبَصۡرَةِ أَوِ الۡأَحۡسَاءِ بِحُبِّ الدِّينِ وَبِحُبِّ الۡمُسۡلِمِينَ، مَعَ أَنَّهُ لَمۡ يَنۡصُرِ الدِّينَ بِيَدٍ وَلَا مَالٍ وَلَا لَهُ مِنَ الۡأَعۡذَارِ مِثۡلُ مَا لِأَبِي طَالِبٍ، وَفَهِمَ الۡوَاقِعَ مِنۡ أَكۡثَرَ مَنۡ يَدَّعِي الدِّينَ، تَبَيَّنَ لَهُ الۡهُدَى مِنَ الضَّلَالِ، وَعَرَفَ سُوءُ الۡأَفۡهَامُ، وَاللهُ الۡمُسۡتَعَانُ.
Dan yang lebih memperjelas ini adalah bahwa ketika ada seseorang dari penduduk Bashrah atau Ahsa` yang dikenal mencintai agama Islam dan mencintai kaum muslimin, namun dia tidak menolong agama dengan tangan dan harta. Dia juga tidak memiliki uzur semisal uzur yang dimiliki Abu Thalib.
(Jadi siapa saja yang memahami kisah Abu Thalib ini) dan memahami kenyataan berupa banyaknya orang yang mengaku-aku mengerti agama, maka akan jelas baginya petunjuk dari kesesatan dan dia akan mengerti buruknya pemahaman (terhadap agama). Allah lah yang dimintai pertolongan.
Pembahasan 1: Kisah Abu Thalib
Nabi ﷺ dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal sebelum Rasulullah dilahirkan. Rasulullah ﷺ diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Abdul Muthalib sebelum meninggal berwasiat kepada anaknya yang lain yaitu Abdul Thalib untuk mengasuh dan merawat Nabi Muhammad ﷺ.
Abu Thalib merawat dan mendidik Nabi Muhammad ﷺ hingga diutus menjadi seorang Rasul. Abu Thalib membela dan melindungi Nabi Muhammad ﷺ dari orang-orang Quraish. Seperti kejadian pemboikotan Nabi ﷺ dan para shahabat, Abu Thalib juga ikut diboikot. Abu Thalib adalah orang yang menguatkan Nabi ﷺ.
Abu Thalib meng-ikrar Tauhid dan mengakui agama yang di bawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Seperti ucapan Abu Thalib, “Saya telah mengetahui bahwa agama Nabi Muhammad ﷺ adalah agama yang membawa manusia kepada yang paling baik. Andaikata tidak khawatir akan celaan, maka engkau telah melihat saya lapang menerima agama ini dengan penuh kejelasan”.
Abu Thalib menganggap kaum musyrikin bodoh akalnya. Abu Thalib cinta kepada yang memeluk Islam dan yang menanggalkan kesyirikan. Abu Thalib mencurahkan umur, harta, anak-anak dan kerabatnya untuk menolong Rasulullah ﷺ sampai Abu Thalib meninggal.
Kemudian Abu Thalib bersabar dari kesulitan yang besar dan permusuhan yang berlebihan. Tetap melindungi Nabi Muhammad ﷺ.
Pada masa sulit setelah pemboikotan, meninggal Khadijah istri Nabi Muhammad ﷺ dan juga meninggal pamannya Abu Thalib. Maka semakin besar gangguan terhadap Nabi ﷺ dan para shahabat. Sehingga Nabi menginjinkan para shahabat untuk berhijrah ke Habasa. Raja Habasa, Najasi, terkenal sebagai raja yang tidak mendholomi rakyatnya apapun agamanya.Diantara yang Hijrah ke Habasa adalah Ustman bin Affan.
Para shahabat yang berhijrah ke Habasa menjadi sebab Raja Najasi masuk Islam. Yaitu ketika kaum musyrikin mendengar para shahabat berhijrah, mereka menyusul ke Habasa. Mereka membawakan hadiah untuk Najasi agar para shahabat dikembalikan ke Mekkah. Akan tetapi Najasi berlaku adil dengan memanggil keduabelah pihak untuk berdebat antara para shahabat dan kaum musyrikin. Maka dari perdebatan itu Najasi mengenal kebenaran dari Nabi ﷺ dan mengenal tanda-tanda kenabiannya yang sesuai dengan kitab nya. Setelah dibacakan kepada Najasi surah Maryam, maka dia menangis mendengarkan surah tersebut.
Akan tetapi Abu Thalib tidak memeluk Islam dan tidak berlepas diri dari agama kaum musyrikin. Alasan Abu Thalib tidak masuk Islam adalah karena dia tidak mau mencela ayahnya (Abdul Muthalib), kakeknya (Hasyim) dan nenek moyang mereka.
Ketika Abu Thalib mendekati ajalnya, Nabi berada di sisinya dan berkata, “Wahai paman ku, katakan La Ilaha Illallah, kalimat yang dengannya saya akan mempersaksikan untuk mu di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Akan tetapi setiap Nabi menawarkan untuk mengucapkan syahadat, ada Abu Jahal, Abdullah bin Umaya, yang merupakan dua pembesar Quraish yang berkata,”Wahai Abu Thalib apakah kamu benci kepada agama ayahmu Abdul Muthalib?”. Hal ini membangkitkan kesukuan Abdul Muthalib dan juga tidak mau mencaci nenek moyangnya. Akhirnya Abu Thalib meninggal dalam keadaan Musyrik, tidak masuk Islam. Abu Thalib menjadi penghuni neraka dilapisan paling bawah, karena dia tahu bahwa Agama Islam adalah benar tapi tidak mau masuk Islam.
Ketika Abu Thalib meninggal Rasulullah memohonkan ampun untuk Abu Thalib dikarenakan kekerabatannya dan pertolongan Abu Thalib kepada Rasulullah ﷺ. Maka turun 2 ayat yang menegur Nabi ﷺ, Allah berfirman
- “Tidaklah patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, memintakan ampun pada Allah bagi orang-orang Musyrik. Walaupun itu karib kerabat mereka” (At-Taubah: 113)
- “Engkau Nabi Muhammad tidak bisa memberikan hidayah kepada siapa yang engkau cintai”. (Al-Qhashash: 56)
Allah memberikan kekhususan bagi Nabi Muhammad, yaitu diberikan syafaat khusus untuk Abu Thalib. Abu Thalib harusnya disiksa pada neraka yang paling bawah. Dengan syafaat Nabi ﷺ, Abu Thalib mendapatkan siksaan yang paling ringan siksaannya di dalam neraka. Walaupun kekal didalam neraka. Dalam Shahih Muslim disebutkan siksaan Abu Thalib dalam neraka yaitu, dua terompah yang dipanaskan, sebelum kaki menyentuh terompah tersebut, maka mendidih kepalanya.
Pelajaran Aqidah dari Kisah Abu Thalib
Hal yang memperjelas perkara ini apabila seorang penduduk Bashrah, penduduk Ahsa, mengaku mencintai agama, mencintai kaum muslimin dan dianggap bersama kaum muslim. Padahal dia tidak pernah menolong agama tidak dengan tangan dan tidak pula dengan harta. Dan dia tidak memiliki udzur-udzur seperti Abu Thalib miliki.
Apabila ada yang mengaku cinta Agama Islam dan cinta kaum muslimin. Akan tetapi ketika terjadi perseteruan antara hak dan bathil, antara tauhid dan kesyirikan, dia tidak pernah menampakan dirinya. Karena dia ingin aman dan tidak mau ada musuhnya. Maka orang seperti ini apabila hidup di masa Abu Jahal, tidak ada yang mengingkarinya sebab itu bukan hal yang dipermasalahkan oleh kamu Musyrikin. Kaum musyrikin juga beribadah (haji dan umrah) dan mempunyai akhlak yang bagus. Akan tetapi inti permasalahan kaum musyrikin adalah pada pembahasan tauhid. Hal ini yang membuat mereka membenci Nabi Muhammad ﷺ dan para shahabat.
Abu Thalib mempunyai udzhur yaitu dia khawatir mencela nenek moyangnya. Akan tetapi orang yang sekarang tidak ada udzur seperti Abu Thalib.
Penulis mengingkari sekelompok orang di masanya, yang dianggap berilmu, tahu kebenaran, mengenal tauhid, mengetahui kebathilan kesyirikan. Akan tetapi tidak pernah berdakwah tauhid, melarang kesyirikan dan mengingkari kaum musyrikin.
Abu Thalib saja membela Nabi ditengah kaum musyrikin, bahkan menganggap mereka bodoh. Akan tetapi Abu Thalib tidak masuk Islam.
Sehingga keislaman jelas ketentuannya: shahadat, mengakui tauhid, meninggalkan kesyirikan, dan memusuhi kaum musyrikin. Keislaman dibuktikan dengan ucapan dan amalan.
Pembahasan 2: Tidak cukup mengaku Islam benar dan membela Islam, mencela kesyirikan dan kaum musyrikin
Tidak cukup mengaku Islam benar dan membela Islam, mencela kesyirikan dan kaum musyrikin. Tapi harus masuk kedalam Islam, mengikuti Rasulullah ﷺ, berlepas diri dari kesyirikan dan kaum musyrikin.
Abu Thalib membela Rasullullah, mencela kaum musyrikin, cinta kepada orang yang masuk Islam, senang dengan orang yang menanggalkan kesyirikan. Akan tetapi Abu Thalib tidak masuk islam dikarenakan tidak bersyahadat. Abu Thalib dianggap tidak masuk Islam dan tidak mengikuti Rasulullah ﷺ.
Bermusuhan dengan kaum musyrikin saja tidak cukup. Seperti halnya orang Yahudi bermusuhan dengan orang Nashara. Tapi tidak mengatakan bahwa orang Yahudi muslim walaupun orang Yahudi bisa membantah kaum Nashara. Ada syarat-syarat keislaman, yaitu:
- Allah adalah satu-satunya yang diibadahi.
- Berlepas diri dari segala yang diibadahi kecuali Allah.
- Mengetahui Tauhid.
- Meninggalkan kesyirikan
- Berlepas diri dari kesyirikan dan kaum musyrikin.
Pembahasan 3: Ada udzhur-udzhur bagi Abu Thalib tapi tidak menjadi seorang Muslim
Tidak semua yang mempunyai udzur, akan diterima udzurnya. Udzur Abu Thalib sebenarnya hal yang mudah, yaitu kesabaran dalam menghadapi kaumnya walaupun ayah dan nenek moyangnya dicela. Maka tidak menjadi masalah, karena Allah akan memuliakannya dengan masuk Islam. Dia lebih mementingkan gensinya sehingga tidak dicela ayahnya.
Pembahasan 4: Menyingkap petunjuk terhadap kesesatan dan jeleknya pemahaman.
Menyingkap petunjuk terhadap kesesatan dan jeleknya pemahaman terhadap orang yang mengenal kebenaran dan tauhid dan mengerti juga kebathilan syirik. Tetapi mereka tidak menolong agama dan tidak memerintah kepada tauhid, dan tidak melarang dari kesyirikan.
Ini adalah pelajaran yang paling pokok dari kisah Abu Thalib. Sehingga semakin jelas apa tauhid dan agama yang dibawa Rasulullah ﷺ, yaitu kandungan dari syarat La Ilaha Illallah.
Wallahu Ta’ala A’lam.
Sumber:
Matan dan Terjemahan Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah:
Ismail bin Issa. (2020, April 16). Sittatu Mawadhi’ Minas Sirah. Sittatu Mawadhi’ minas Sirah – إسماعيل بن عيسى. https://ismail.web.id/2020/04/16/sittatu-mawadhi-minas-sirah/