Kematian

Telah berpulang ke Rahmatullah:

Lukman Hakim Iwan

bin

Cholid Wahjoedin

Lahir:………………, tanggal ……………………….

Wafat: …………….., tanggal ……………………….

Dimakamkan di: ……………………

Semoga Allah merahmati, memaafkan, dan memberikannya ampunan. Semoga Allah menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya, dan menjauhkannya dari azab neraka. Semoga Allah memberikan tempat terbaik di Surga-Nya Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Aamiin Allhumma Aamiin.

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 156:

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali” (QS. Al-Baqarah:156)

Kematian adalah salah satu hal yang pasti akan dihadapi oleh manusia. Saat kematian datang, jiwa akan terlepas dari raganya. Ketika waktu kematian telah datang, manusia tidak dapat menolak atau menghindarinya. Oleh karena itu, selama hidup di dunia, manusia selalu mengingat Allah Subhana Wa Ta’ala. Sebagaimana Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Perbanyaklah kalian dalam mengingat penghancur segala kelezatan dunia, yaitu kematian,” (HR at-Tirmidzi).

Kematian itu pasti akan menemui kamu

Dalam Al-Quran Surat AL-Jumu’ah Ayat 8:

Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumu’ah:8)

Tiga Perkara yang bermanfaat setelah kematian

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang diambil manfaatnya, [3] anak sholih yang mendo’akan orang tuanya.” (HR. Muslim no. 1631)

Amalan yang pahalanya mengalir setelah kematian

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Diantara pahala amal mukmin yang akan tetap mengalir setelah kematiannya adalah (1) ilmu yang dia sebarkan, (2) anak soleh yang dia tinggalkan, (3) mushaf yang dia wariskan, (4) masjid yang dia bangun, (5) rumah untuk Ibnu Sabil (orang yang di perjalanan), atau (6) sungai yang dia alirkan, (7) sedekah hartanya yang dia keluarkan ketika masih sehat dan kuat, yang masih dimanfaatkan setelah dia meninggal. (HR. Ibnu Majah 249 dan dihasankan al-Albani)

Nasihat Imam Asy-Syafi’iy kepada Muridnya, Imam Al-Muzany

Imam Al-Muzany bercerita:

“Aku menemui Imam Asy-Syafi’iy menjelang beliau wafat, lalu kubertanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini, wahai Ustadzku?”

Beliau menjawab, “Pagi ini ku akan melakukan perjalanan meninggalkan dunia, akan berpisah dengan kawan-kawanku, akan meneguk gelas kematian, akan menghadap kepada Allah dan akan menjumpai kejelekan amalanku. Aku tidak tahu: apakah diriku berjalan ke surga sehingga aku memberinya ucapan kegembiraan, atau berjalan ke neraka sehingga aku menghibur kesedihannya.”

Aku berkata, “Nasihatilah aku.”

Asy-Syafi’iy berpesan kepadaku, “Bertakwalah kepada Allah, permisalkanlah akhirat dalam hatimu, jadikanlah kematian antara kedua matamu, dan janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah. Takutlah terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, jauhilah segalah hal yang Dia haramkan, laksanakanlah segala perkara yang Dia wajibkan, dan hendaknya engkau bersama Allah di manapun engkau berada. Janganlah sekali-kali engkau menganggap kecil nikmat Allah kepadamu -walaupun nikmat itu sedikit- dan balaslah dengan bersyukur. Jadikanlah diammu sebagai tafakkur, pembicaraanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai pelajaran. Maafkanlah orang yang menzhalimimu, sambunglah (silaturrahmi dari)orang yang memutus silaturahmi terhadapmu, berbuat baiklah kepada siapapun yang berbuat jelek kepadamu, bersabarlah terhadap segala musibah, dan berlindunglah kepada Allah dari api neraka dengan ketakwaan.”

Aku berkata, “Tambahlah (nasihatmu) kepadaku.”

Beliau melanjutkan, “Hendaknya kejujuran adalah lisanmu, menepati janji adalah tiang tonggakmu, rahmat adalah buahmu, kesyukuran sebagai thaharahmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang adalah perhiasanmu, kecerdikan adalah daya tangkapmu, ketaatan sebagai mata percaharianmu, ridha sebagai amanahmu, pemahaman adalah penglihatanmu, rasa harapan adalah kesabaranmu, rasa takut sebagai pakaianmu, shadaqah sebagai pelindungmu, dan zakat sebagai bentengmu. Jadikanlah rasa malu sebagai pemimpinmu, sifat tenang sebagai menterimu, tawakkal sebagai baju tamengmu, dunia sebagai penjaramu, dan kefakiran sebagai pembaringanmu. Jadikanlah kebenaran sebagai pemandumu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Al-Qur`an sebagai juru bicaramu dengan kejelasan, serta jadikanlah Allah sebagai Penyejukmu. Barangsiapa yang bersifat seperti ini, surga adalah tempat tinggalnya.”

Kemudian, Asy-Syafi’iy mengangkat pandangannya ke arah langit seraya menghadirkan susunan ta’bir. Lalu beliau bersya’ir,

Kepada-Mu -wahai Ilah segenap makhluk, wahai Pemilik anugerah dan kebaikan-

kuangkat harapanku, walaupun aku ini seorang yang bergelimang dosa

Tatkala hati telah membatu dan sempit segala jalanku

kujadikan harapan pengampunan-Mu sebagai tangga bagiku

Kurasa dosaku teramatlah besar, tetapi tatkala dosa-dosa itu

kubandingkan dengan maaf-Mu -wahai Rabb-ku-, ternyata maaf-Mu lebihlah besar

Terus menerus Engkau Maha Pemaaf dosa, dan terus menerus

Engkau memberi derma dan maaf sebagai nikmat dan pemuliaan

Andaikata bukan karena-Mu, tidak seorang pun ahli ibadah yang tersesat oleh Iblis

bagaimana tidak, sedang dia pernah menyesatkan kesayangan-Mu,Adam

Kalaulah Engkau memaafkan aku, Engkau telah memaafkan

seorang yang congkak, zhalim lagi sewenang-wenang yang masih terus berbuat dosa

Andaikata Engkau menyiksaku, tidaklah aku berputus asa,

walaupun diriku telah engkau masukkan ke dalam Jahannam lantaran dosaku

Dosaku sangatlah besar, dahulu dan sekarang,

namun maaf-Mu -wahai Maha Pemaaf- lebih tinggi dan lebih besar

[Tarikh Ibnu Asakir Juz 51 hal. 430-431]

Makna Uluhiyah di Kalangan Kaum Musyirikin Masa Belakangan

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Makna La Illaha Illallah – Makna Uluhiyyah di Kalangan Kaum Musyirikin Masa Belakangan, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Kitab Makna La Ilaha Illallah, Penulis: Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimiy Rahimahullah

Makna Uluhiyah di kalangan kaum musyrikin masa belakangan

Makna Uluhiyah di kalangan kaum musyirikin masa belakangan. Penulis ingin menjelaskan kesalahan makna uluhiyah pada masa beliau.

Apabila engkau telah mengerti hal ini, ketahuilah bahwa uluhiyah inilah yang disebut oleh orang-orang umum pada masa kita dengan nama As-Sirr (rahasia) dan Al-Walayah (kewalian). Bagi orang awan dimasa penulis kalau dikatan Al-Walayah itu artinya wali yang ada rahasia padanya. Dan inilah yang mereka nama kan Al-Faqir dan Asy-Syaikh, sedangkan orang awam mereka menyebutnya dengan nama As-Sayid atau semisalnya. Ini adalah istilah2 atau pangggilan2 dahulu untuk orang2 yang diagungkan atau dibesarkan. Dimasa sekarang masih banyak lagi istilah2 tambahan.

Hal tersebut karena mereka menyangka bahwa Allah telah memberikan kedudukan (khusus) di sisi Allah untuk dikalangan khusus diantara makhluk. Jadi mereka menyangka ada orang2 yang diberikan kedudukan khusus ditengah Allah. ini sangkaan orang2 awam ini, yang mana mereka menyangka bahw Allah ridho, manusia berlindung pada mereka mengharap dan memohon pertolongan kepada mereka, serta menjadikan mereka sebagai peranta diantara dia dan Allah.

Inilah yang ingin ditekankan penulis mengenai kesyirikan pada jaman beliau yaitu dikarenakan kekeliruan memahami uluhiyah. Pada masa itu ada yang meyakini bahwa Allah itu sudah memilih dari hamba2nya. Ada orang diagungkan ini namanya Al-Fakir, Asy-Syeikh, As-Sayid, dan sebagainya. Mereka katakan bahwa semuanyy ini mempunyai kedudukan khusus disisi Allah. Wali-wali ini diberi rahasia oleh Allah yang menyebabkan mereka mempunyai kedudukan khusus disisi Allah. Mereka juga menyangka bahwa Allah ridho akan wali-wali tersebut untuk dijadikan tempat berlindung, seorang berharap kepadanya, memohon pertolongan dijadikan sebagai perantara. Ini adalah sangkaan kaum Musyirikin.

Jadi, demikian sangkaan para kesyirikan pada zaman kita bahwa mereka itulah perantara2 mereka yang dinamakan oleh orang-orang musyrik terdahulu dengan nama Illah. Perantara itu mereka namai Illah. Kaum musyrikin pada masa itu tegas, mereka tolak bahwa hanya Allah yang diibadahi. Mereka juga membangkang bahwa yang diibadahi itu banyak bukan cuma satu. Karena itu ketika Nabi shallalhu ‘alaihi wa sallam mengajak kepada kalimat la ilaha illallah dalam musnad Imam Ahmad. Yang kemudian mereka jawab sebagaimana tercantum dalam Al-Quran Surat Shad ayat 5.

Pada masa dahulu mereka bilang ada perantara, mereka tidak menyebutkan bahasa yang mengelabui, bahasanya tegas, dengan mengatakan bawa itu sembahan kami. Akan tetapi dimasa sekarang tidak secara langsung mengatakan sembahan kami, mereka katakan itu adalah syaikh, wali, sayid, al faqir dan sebagainya. Beda halnya dengan kaum musyirikin pada jalam dahulu mereka tegas mengatakan ini adalah berehala-berhala kami, ini sesembahan kami, dan ini illah kami.

Sehingga kita harus tahu apa hakikatnya, jangan tertipu dengan penamaan. Karena itulah orang yang belajar tauhid, setelah mengerti, mereka memahami hakikat dari tauhid. siapapun yang datang mengelabui dengan nama yang lain, akan tidak bermanfaat.

Penulis menyimpulkan mengenai ucapan seseorang yang berkata la ilaha illallah itu artinya adalah pembatilan terhadap semua bentuk perantara (As-Saikh, Al-Fakir, As-Sayid dan lain sebagainya).

Hal Ini sesuai dengan kaidah yang kedua dalam kitab Al-Qawa’id Al-Arba’ah yaitu supaya tampak agama sebenarnya kaum musyirikin. Diserukan la ilaha illallah tidak masuk pada mereka, sebab keyakinan mereka boleh menjadikan sesembahan selain dari pada Allah walaupun alasannya sebagai perantara atau mencari syafaat.

Wallahu ‘Alam

Motivasi Agar Khusyu’ Dalam Shalat – Bagian 4

Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
Bab Motivasi Agar Khusyu’ Dalam Shalat

Hadist 195. Dari Jabir bin Samurah radhiallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaknya orang-orang berhenti dari mengangkat padangan mereka ke langit dalam shalat atau (bila tidak) maka pandangan mereka tidak akan kembali” (HR. Muslim). Juga riwayat Muslim dari Aisyah radhiallahu anha, ia berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan shalat saat makanan telah dihidangkan, dan jangan shalt saat sedang menahan buang air besar dan kecil.”

Hal-hal penting dari hadist:

  • Orang yang shalat dengan mengangkat pandangan kelangit pertanda hatinya tidak khusyu’
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mendongkakan kepala di dalam shalat,
  • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan ancaman Allah terhadap orang-orang yang mengangkat pandangannya ke langit, Allah akan mencabut penglihatannya. Maksudnya pertama Allah maha mulia dan kedua tidak mengembalikan pandangannya (buta). Buta bukan secara nyata tetapi mata hatinya yang buta.

Hadist 196. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menguap itu dari (gangguan) syetan, apabila seseorang dari kamu menguap, hendaklah menahan (menutupnya) semampunya.” (HR. Muslim dan At-Tarmidzi) dan At-Tarmidzi menambahkan, “Didalam Shalat”).

Hal-hal penting dari hadist:

  • Menguap karena malas dan kekenyangan adalah berasal dari syetan.
  • Hadist riwayat Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda “Apabila seseorang dari kalian menguap, tutuplah mulutnya dengan tangannya, sesungguhnya syetan akan masuk (ke mulutnya)”.
  • Menutup mulut saat menguap membuat syetan tidak dapat menganggu orang untuk beribadah dan beraktivitas.

Wallahu ‘Alam.

Dalil 3: Perintah untuk Bertauhid dan Berbuat Baik kepada Orang Tua

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid #3, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab TauhidPenulis: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah

Bab 1 Tauhid (Hakikat dan Kedudukannya)

Dalil 1: Pendahuluan dan Dalil 1 QS. Adh-Dhaariyat Ayat 56

Dalil 2: Al-Quran Surat An-Naml Ayt 36

DALIL 3: AL-QURAN SURAT AL-ISRA’ AYAT 23-24

Dan Tuhan-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Firman Allah: Dan Rab mu telah memerintahkan agar kalian tidak beribadah hanya kepada Nya, dan hendaknya kalian berbuat baik kepada orang tua kalian dengan sebaik-baiknya.

PENJELASAN KATA DALAM AYAT

Wa qodho: memerintahkan dan mewasiatkan. Yang dinginkan adalah perintah yang bersifat perintah agama bukan qodho ketentuan yang bersifat penakdiran dan pengadaan.

Dalam kata2 bahasa arab dipakai di ayat dan hadist, kadang satu kalimat multi maknanya. Ini bisa diketahui makna sesungghunya dalam ayatnya. Misalnya Al-idzin, dalam bahasa indonesia artinya mengizinkan. Akan tetapi dalam bahasa arab ada dua makna: kauni dan syar’i. Makna kauni adalah yang allah takdirkan, suatu hal yang Allah ijinkan diputuskan sebagai penakdiran. Akan tetapi dalam makna syar’i artinya adalah sesuatu yang Allah syariatkan.

Penyimpangan dalam pembahasan takdir

Sama halnya dengan qodho pada ayat diatas, terdapat dua arti: makna kauni dan syar’i. Terdapat kelompok orang yang salah memahami makna kata tersebut yang menyebabkan kesalahan dalam pembahasan takdir. Mereke tidak bisa membedakan arti qodho tersebut. Dalam kalimat irodah, ada irodah kauniyah qodariyah dan irodah diniyah syariyah. Hal ini menyebabkan orang yang menyimpang berpendapat bahwa semua yang Allah takdirkan dicintai Allah. Apakah Allah ketika mentakdirkan kekafiran, diartikan bahwa Allah mencintai kekafiran?. Tentu saja tidak. Artinya apabila Allah mentakdirkan sesuatu belum tentua Allah mencintai sesuatu tersebut.

Kemudian timbul pertanyaan kenapa Allah mentakdirkan sesuatu yang tidak Allah cintai?

Seharusnya kita jangan menanyakan perbuatan Allah. Sesungguhnya semua perbuatan Allah itu ada hikmahnya disisi Allah. Terkadang kita tahu apa hikmahnya dan terkadang kita tidak tahu apa hikmahnya. Terkadang juga Allah memberitahu hikmahnya dan terkadang Allah memang tidak memberitahu hikmahnya

Orang yang menyimpang di pembahasan takdir, kalo ditakdirkan sesuatu maka Allah cinta sesuatu itu. Ini tidak benar. Jadi bagaiamnana membedakan? disitulah letak permasalahannya, mereka tidak bisa membedakan iradah kauniyah qodariyah dan irodah diniyah syariyah. Kalo iradah kauniyah qodariyah itu bersifat penakdiran, Allah takdirkan adanya sesuatu tapi belum tentu Allah cintai sesuatu itu. Sedangkan irodah diniyah syariyah maknanya Allah perintah sesuatu yang syar’i. Contohnya Allah perintahkan untuk beriman, itu pasti dicintai oleh allah.

Robbuka: Ar-Rob yang maha memiliki dan maha mengatur, maha memelihara, dengan nikmat2nya. Dari kata tarbiyah yang artinya alam ini dipelihara, dilengkapi, dicukupi dengan nikmat2 dari Allah. Ada yang dihidupkan ada yang matikan, Dia lah Allah yang mengatur segala rizki, ditangannya segala sesuatu.

Ala ta budu ila iyyah: Sebelumnya telah dijelaskan bahwa qodho disini bersifat syariyah diniyah sehingga maknanya suatu perintah yang dicintai Allah. Sehingga maknanya jangan kalian beribadah kecuali kepada Nya. Maknanya hendaklah beribadah kepadaNya dan tidak menyembah kepada selainNya. Ada dua rukun didalamnya sama dengan rukun la ilaha illallah yaitu an-nafiyu: lailaha dan alisbat: illallah.

Apakah dengan Pancasila menjadikan semua agama sama?

Apabilah ada yang berkata semua agama sama, maka tidak benar keislamannya. belum masuk kedalam islam. Muncul pemahaman keliru belakangan ini, dianggap bahwa pancasila itu mengadopsi seluruh agama. Sehingga dengan pancasila semua agama itu sama, pemahaman keliru. Dasar kekeliruannya sederhana, yaitu dari pertanyaan apakah pancasila itu agama atau idiologi? kalo Pancasila di bilang agama maka akan kacau negeri ini. Karena saya agamanya islam tidak mau menjadi agama pancasila dan tidak ada satu agamapun yang mau memeluk agama Pancasila. Sehingga jangan anggap semua agama sama.

Pancasila adalah idiologi, bukan agama. Kalo idiologi itu benar maka islam membenarkan. Pancasila tidak ada masalah dari dulu. Kalo ada yang mengatakan semua agama sama karena Pancasila, itu keliru. Pancasila adalah idiologi karena berisi 5 perjanjian antara warganya.

Ketika Nabi datang ke Madinah ada kesepakatan antara rosul dan orang2 yahudi, dinataranya kesepakantannya: Islam menganut agama, Yahudi juga menganut agama mereka. Tidak ada kesepatakan bahwa agama itu sama.

Wabil walidaini ihsana: dan berbuat baiklah kepada orang tua. Maknanya Allah memerintah agar kalian berbuat baik pada orang tua, sebagaimana Allah memerintah kalian untuk tidak beribadah selain kepada Nya. Ini penjelasan keagungan berbakti pada orang tua, sebab perintah ini datang setelah perintah mentahuidkan Allah.

MAKNA AYAT SECARA GLOBAL

Allah telah memerintahkan melalui lisan para rosulnya agar hanya dia semata yang disembah dan tidak ada yang disembah selainNya. Dan agar seorang anak berbakti kepaada orang tuanya, melalui ucapan dan perbuatan. Serta tidak berbuat jelek kepada orang tuanya karena orangtuanya lah yang telah memelihara dan mendidiknya ketika masih kecil dan lemah sampai dia menjadi dewasa.

Dua penekanan ayat:

  1. beribadah kepada Allah dan kafir kepada yg beribadah selain kepada Allah
  2. berbakti kepada orang tua dalam ucapan dan perbuatan

Berbakti kepada orang tua adalah suatu hal yang lumrah. Fitrah manusia membalas kebaikan dari seseorang yang berbuat baik kepada kita. Apalagi orang tua itu mendidik kita waktu kecil sampai kita dewasa.

HUBUNGAN AYAT DENGAN BAB

Tauhid adalah hak yang paling ditekankan dan kewajiban paling besar. Karena dalam ayat ini diawali dengan perkataan tauhid yang paling penting, baru yang lainnya termasuk berbakti kepada orang tua. Banyak kewajiban disebut tapi yang awalnya adalah tauhid. Pokok harta seorang muslim adalah tauhidnya, yang tidak punya tauhid orang miskin. Orang kafir adalah orang yang paling miskin, Orang yang paling terpenjara di akhirat. Ada hal2 yang diharamkan di dunia, karena muslim akan di kasih di akhirat. Oleh kaena itu seorang muslim sebagaimana kayanya tidak boleh makan dengan piring emas sebab itu piringnya penduduk surga. Untuk bagian yang beriman adalah akhirat. Kebalikan dengan non muslim, mereka tidak dikasih apa2 diakhirat. Jiwa harus ditahan, harus diberi berdasarkan posisinya.

FAEDAH AYAT

Pertama: Tauhid kewajiban yang pertama kali diperintahkan, juga hak2 wajib yang pertama bagi umatnya. Diantara hak2 ini adalah hak yang pertama, diantara kewajian2 ini adalah kewajian yang pertama.

Pembahasan tauhid meluruskan jalan orang, membuat maindset istiqomah dan benar. Apabila sudah mengerti tauhid akan memberikan pemahaan yang besar dan bagus. Dia akan tahu harta yang paling besar adalah tauhid, ilmu yang dibahas dari sudut tauhid, sudut ibadah kepada Allah yaitu sudut tauhid.

Kedua: Dalam la ilaha illallah yaitu Peniadaan dan penetapan, terdapat dalil yang menunjukan tauhid tidak akan tegak diatas an-nafi dan al-isbat. Meniadakan peribadatan selain kepada Allah dan menetapkan hanya kepada Allah beribadah. Ini terkait dengan 2 rukun asasi la ilaha illallah.

Ketiga: besarnya hak orang tua mengikuti setelah tauhid. Bahwa Allah mengikutkan hak kedua orang tersebut kepada hak kepada Allah. Dan hak tersebut datang pada yang kedua. Posisi orang tua luar biasa, banyak ayat dan hadist tentang berbakti pada orang tua.

Keempat: kewajiban berbuat baik kepada orang tua dengan segala kebaikan. Diantaranya: bentuk ucapan dan bentuk perbuatan, semasa mereka hidup setelah mereka mati. Jenis berbakti pada orang tua sangat banyak tidak ada batasanya.

Kelima: keharaman durhakan kepada orang tua. Orang berupca “Ah” tidak dibolehkan apalagi lebih dari itu. Usluk dari bahaya yang diingatkan yang kecil saja. apabila yang besar lebih berbahaya lagi. Ini dimaklumi dalam kehidupan kita. Karena itu ketika diingatkan hal yang sepele saja kepada orangtua apalagi hal yang lebih besar dari pada itu.

Wallahu ‘Alam

Dua Kandungan Pokok La Ilaha Illallah

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Makna La Illaha Illallah – dua kandungan pokok, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Dua Rukun (pokok kandungan) la ilaha illallah, dua :

  1. An-Nafyu: penafian
  2. Al-Isbat: penetapan

Ini adalah fiqih yang harus diketahui tentang la ilaha illallah, dalam kalimat yang agung ini terkandung didalamnya dua rukun pokok tersebut.

Ketahuilah bawah kalimat ini, mengandung penafian dan pengisbatan. An-Nafyu dalam la ilaha dan Al-Isbat dalam illallah.

Pertama dinafikan dulu segala yang diibadahi kecuali Allah. Nafyu adalah menafikan segala yang diibadahi selain Allah. Hal ini wajib menafikan segala benda mati, hewan, tumbuhan, makhluk, dan lainnya. Berlepas diri dari semua itu.

Kedua diisbatkan, ditetapkan, ibadah itu hanya untuk Allah dan tidak ada serikat baginya.

Tauhid mencakup dua hal penafikan dan penetapan, dua rukun tersebut harus dikumpulkan. Kalo hanya menafikan saja untuk tidak beribadah selain kepada Allah tapi tidak menetapkan, itu belum bertauhid. Atau sebaliknya jika hanya menetapkan Allah saja tapi tidak mengingkari yang lain kecuali Allah, maka ini juga belum bertahuid. Inilah agama islam, agama para nabi dan para rosul.

Ada yang beranggapan semua agama sama?

Sebagaian manusia ada yang merubah dari pokok2 agama, kalimat la ilaha illallah, akhirnya masuk dalam ucapan agama semua benar, ini adalah kekafiran yang nyata. bertentangan dengan makna la ilaha illallah.

Ada yang beranggapan agama islam tidak toleransi?

Mereka menganggap kalo kita menetapkan yang diibadahi hanya Allah dan umat islam ini dari keyakinannya adalah kafir terhadap ibadah selain Allah dan memerangi kesyrikan. Mereka ini menganggap tidak ada toleransi dalam islam. Ini adalah sebuah kesalahan, sebab agama Islam sudah berjaya dari masa nabi, ketika berkuasa di Madinah, ada orang yahudi di Madinah, tapi mereka tidak di dzhalimi, tapi keyakinan nabi tidak berubah. Harus dibedakan antara ibadah (keyakinan) dan interaksi dengan manusia, jangan dicampurkan. Toleransi kaitannya dengan masalah dunia, masalah muamalah. Adapun agama ini lah keyakinan kalimat tauhid.

Dalil-dalil mengenai perintah beribadah hanya kepada Allah dalam Al-Quran

Al-Quran surat Al Isra ayat 23, perintah agar tidak menyembeah selain Allah

Al-Quran surat An-Nisa ayat 36, perintah untuk menyembah Allah dan jangan mempersekutukannya.

Awal perintah dalam Al-Quran adalah beribadah kepada Allah (Al-Baqarah 21), dan awal larangan adalah larangan berbuat kesyrikan (Al-Baqarah 22).

Al-Quran surat Al-bayinah 5, perintah hanya menyembah Allah

Al-Quran surat An-Nahl ayat 5, misi rosul untuk menyerukan menyembah Allah dan jauhi thogut.

Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 256

Al-Quran surat Az-Zukhruf ayat 26-27

Penulis membagi pembahasan menjadi 3 bagian

Bagian Pertama: Penafian dan Penetapan

Bagian Kedua: Makna Uluhiyah

Makna penafian adalah menafikan segala uluhiyah, penyembahan/peribadatan segala sesuatu selain Allah dari seluruh makhluk. Termasuk menafikan Muhammad shallaluhu alaihi wa sallam, para malaikat, malaikat Jibril (pemuka para malaikat). Apalagi wali2 dan orang soleh lainnya. Kemudian kalo engkau telah memahami tersebut maka perhatikan pembahasan uluhiyah ini.

Bagian Ketiga: Makna Uluhiyah untuk Allah semata

Makna penetapan uluhiyah untuk Allah semata. Itu perintah beribadah untuk Allah saja tidak ada serikat.

Dua hal rukun ini harus bersambung, tidak seperti kekeliruan orang sufi: mereka kalo berdzikir tidak lengkap kalimat la ilaha illallah, tinggal sisa sepotong saja: awalnya dzikir la ilaha illallah….kemudian menjadi dzikir illaha….kemudian menjadi dizikir allah…. dan terakhir menjadi dzikir huhu ……. Ini adalah bentuk mempermainkan agama dikarenakan mereka tidak paham denan makna kalimat tauhid ini. Andai kata mereka belajar mengenai maknanya, tidak mungkin hal tersebut terjadi sebab dua rukun ini tidak mungking terpisah.

Kekeliruan dalam memahami makna la ilaha illallah

Pertama: kelompok wahdatul wujud, tidak ada pembagian antara makhluk dan pencipta. Bagi mereka segalah yang ada adalah Allah. Mereka mengartikan dengan tidak ada illah yang ada kecuali Allah.

Kedua: penafsiran Ahlul Kalam, mereka memaknai kalimat tauhid: tidak ada yang mampu mengadakan, mencipta, mengatur, kecuali Allah. Ini adalah pemahaman kaum Musyrikin dahulu, tapi pemahaman seperti ini tidaklah cukup menjadikan mereka Muslim.

Ketiga: penafsiran kelompok jahmiyah, mu’tajilah termasuk ikhwanul muslimin yang mentafirkan kalimat tauhid dengan nama dan sifat Allah. Contohnya tidak ada hakim kecuali Allah. Pemahaman seperti ini menyebabkan mengkafirkan semua orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.

Makna yang benar adalah tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah.

Dalam Al-Quran Surat Al-Hajj ayat 62

Dalam Al-Quran Surat Luqman Ayat 22

Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

Beberapa Konsekuensi La Ilaha Illallah dan bukan sekadar pengucapan lisan

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Makna La Illaha Illallah – beberapa konsekuensi dan bukan sekedar pengucapan lisan, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Kalimat la ilaha illallah ada konskuensinya dan bukan dimaksudkan untuk diucapkan dengan lisan saja, tapi harus mengerti tentang makna nya. Karena kaum munafikin pada zaman Rasulullah shallaluhu alaihi wa sallam mengucapkan kalimat ini. Padahal kita tahu kedudukan kaum munafikin lebih rendah dari kaum kafir yaitu dilapisan terbawah dari neraka.

Neraka bertingkat-tingkat sebagaiman kekafiran juga ada tingkatnnya. Surga juga bertingkat-tingkat sebagaimana tingkat amalan ahli surga. Lapisan yang paling bawah adalah kaum munafikin, sebagaimana tercantum dalam surat An-Nisa ayat 145:

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.

Meski kaum munafikin mengerjakan shalat, puasa serta bersedekah, tidak akan berguna apabilah hanya diucapkan dengan lisan saja.

Sebagaimana beberapa sabda Rasulullah shallaluhu alaihi wa sallam, yang bermakna barangsiapa yang berucap la illaha illallah dengan jujur dan ikhlas, dan kafir terhadap segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, atau hadist lainnya yang semakna. Maka maksud dari pengucapan kalimat la ilaha illallah harus disertai dengan hal berikut:

  1. Mengetahuinya dengan hati.
  2. Mencintai kalimat ini dan mencintai orang-orang yang mengucapkannya.
  3. Membenci kepada siapa yang menyelishi kalimat la ilaha illallah.

Ada tiga point pembahasan:

Pembahasan 1: Memahami keadaan kaum Munafikin

Kaum Munafikin adalah musuh dalam selimut. Mereka dhohirnya isalm tetapi bathinnya bukan islam. Mereka berucap la ilaha illallah, kadang shalat walaupun malas, bersedekah walaupun kikir, dan mempunyai sifat riya. Hal ini memperjelas bahwa la ilaha illallah bukan sekedar dengan lisan.

Dikisahkan ada yang sekelompok orang yang berkata kepada Hasan Al-Basri rohimahullah, apabila seseorang berkata la ilaha illallah, maka akan masuk surga. Kemudian Al Hasan berucap, siapa yang berucap la ilaha illallah, kemudian dia tunaikan hak dan kewajiban dari la ilaha illallah, maka dia akan masuk surga. Ini adalah fiqih seseorang yang mempunyai ilmu.

Pembahasan 2: Syarat la ilaha illallah

Ada 7 (ada yang menyebutnya 8) syarat la ilaha illallah:

  1. Ilmu, mengilmui dan tidak boleh jahil terhadapnya
  2. Yaqin, meyakini terhadap kandungannya dan tidak boleh ragu atau samar
  3. Ikhlas, ikhlas terhadapnya dan tidak boleh syrik, riya, atau keterpaksaan
  4. Sidiq, jujur terhadapnya dan tidak boleh dusta
  5. Mahabah: mencintainya dan tidak boleh ada kebencian
  6. Terikat, terikat dengannya dan tida boleh bebas
  7. Menerima, menerimanya dan tidak menolaknya
  8. Engkau kafir terhadap egala yang diibadahi selain kepada Allah (sama dengan ikhlas)

Syarat Pertama: Ilmu

Artinya seseorang itu wajib untuk mengilmui tentang makna la ilaha illallah. Apa arti kalimat tersebut dan maknanya. Yaitu tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah.

Secara umum syarat ilmu adalah syarat yang peting dari kalimat la ilaha illallah, sebagaimana dalam Al-Quran Surat Muhammad ayat 9:

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

Kemudian mengenai perintah untuk mengetahui ilmu tentangnya, hatinya mengetahui apa yang diucapkan oleh lisan, mengetahui maknanya dalam Al-Quran Surat Az-Zukhruf ayat 86:

Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafaat, akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)

Dari Ustman bin Affan di hadist riwayat Muslim: “Barang siapa yang meninggal dalam keadaan mengilmui (mengetahui) akan la ilaha illallah, maka dia akan masuk surga”.

Syarat kalimat la ilaha illallah bermanfaat apabila dia mengetahuinya, mengenal dengan hati, menetapkan dan meyakininya.

Syarat Kedua: Yakin

Harus meyakini kalimat ini tanpa ada keraguan atau kebimbangan sedikitpun.

Dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 15: sesunggunya kaum mukmin beriman kepada Allah dan Rasulnya dan tidak boleh ada keraguan.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

Bertolak belakang dengan sifat kaum munafikin dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 45, mereka dalam keraguan. Adapun kaum mukmin yakin terhadap Allah.

Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.

Hadist riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Di isyaratkan agar tidak ada keraguan, harus yakin.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diriwayat yang lain.

Hadist ini dikishakan ketika itu dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ada di dalam kebun, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa yang dibelakang tembok kebun ini hatinya yakin maka beri kabar gembira dengan surga. Untuk sampai kepada derajat yakin, maka perlumempelajari, menjaganya, mengkajinya, membahasnya. Manusia dalam ilmu keyakinan bernjenjang

Syarat Ketiga: Ikhlas

Harus punya keikhlasan dalam mengucapakan ini dan tidak ada sedikitpun kesyrikan atau riya.

Dalam Al-Quran Surat Az-Zumar Ayat 3

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

Dalam Al-Quran Surat Al-Bayinah Ayat 5

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Hadist riwayat Bukhari, Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu

Syarat Keempat: Syidik

Makna As-Syidik adalah jujur terkaitan dengan lisan, tulus dalam hatinya, dan bersungguh-sungguh dalam perbuatannya. Semuanya masuk dalam makna as-syidik, jadi bukan di lisan saja. Lawannya adalah kedustaan. Orang yang kalo jujur bersih dari kemunafikan.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabut ayat 1-3: Allah mengetahui siapa yang jujur dan siapa yang dusta diantara mereka.

Alif Lām Mīm, Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?, Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Dalam hadist riwayat Bukhari Muslim dari Mu’ad bin Jabal:

Syarat Kelima: Kecintaan

Al-Mahabah adalah kecintaan lawannya adalah kebencian atau ketidaksukaan. Artinya cinta terhada kalimat, kandungannya, cinta kepada yang mengucapakannya, cinta kepada yang membelanya.

Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 165: orang yg beriman kecintaan yang terbesar dalah cinta kepada Allah

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalimitu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Dari Anas bin Malik dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim

Dari Do’a Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Syarat Keenam: Terikat

Yang berucap la ilaha illallah didunia tidak ada yg bebas, semua terikat. Kalo tidak terikat kepada Allah dia terikat kepada syaiton atau dirinya sendiri. Dunia ini adalah penghambaahn kepada Allah. Terikat dengan kandungannya, dengan konsekuensinya, sehingga bisa mewarnai kehidupan dengan baik.

Dalam Al-Quran Surat Luqman Ayat 22: barang siapa yang berserah diri dan seorang yang baik maka dia telah berpegang teguh pada taili yg kuat

Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

Dalam Al-Quran Surat Az-Zumar ayat 54:

Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-mu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

Dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 65:

Maka demi Tuhan-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Syarat Ketujuh: Menerima

Menerima kalimat la ilaha illallah tanpa ada penolakan sama sekali dan tidak bersombong

Kaum musyrikin dicela dalam Al-Quran Surat As-Saffat ayat 35-36:

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Lāilāha illallāh” (Tiada Tuhan yang berhak disembah, melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.
dan mereka berkata, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”

Dari Abu Musa Al Asyari dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim

Syarat Kedelapan : kafir terhadap segala yang diibadahi selain dari pada Allah

Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 256:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada ṭāgūt dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dari Tariq bin Asyam dalam Shahih Muslim:

Ringkasan syarat:

Sehingga kalimat la ilaha illallah bukan sekadar ucapan saja ada kunsekuensi dibelakannya. Delapan syarat ini terkandung didalam konsekuensinya, apa keharusan seseorang terhadap kalimat yang agung ini. Harus dipahami bahwa seseorang yang berucap la ilaha illallah itu bukan sekedar ucapan saja, ada konsekuensi dibelakangnya, ada kewajiban kewajiban yang berjalan padanya. Karena itulah siapa yang telah mengucapakan kalimat yang agung ini dan dia telah mengtahui dari 8 syarat ini, maka artinya dia telah mengetahui konsekuensinya. Untuk selanjutnya tinggal dia bagaimana mengamalkannya.

Pembahasan 3: Kejahilahan banyak manusia terhadap sahadat

Banyak umat muslim saat ini yang jahil atau tidak mengetahui atau mengerti kalimat la ilaha illallah ini. Jangan seperti kaum Musyrikin mereka paham bahasa arab, paham konsukensi dari bahasa. walupun tidak diterangkan mereka sudah mengerti. Tetapi mereka bersombong tidak mau mematuhinya.

Wallahu ‘Alam

Jenis Harta Yang Wajib untuk DiZakati

Kitab Syarah Riyadhus Shalihin
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah

Bab 5 Muraqabah

Hadist 61 mengenai islam, iman dan ihsan

Rukun Islam ketiga: Membayar Zakat

Jenis harta yang wajib untuk dizakati

Pertama: Emas dan Perak

  • Hal ini termasuk uang, emas dan perak batangan, perhiasan yang dipakai dan dipinjamkan
  • Syaratnya telah mencapai satu nisab dan satu tahun penuh (haul)
  • Nisab emas adalah 85 gram, nisab perak adalah 595 gram
  • Nisab emas tidak bisa disempurnakan oleh nisab perak begitupun sebaliknya.
  • Adapun perhiasan lain seperti intan, permata, dan barang tambang lainnya, tidak wajib dikeluarkan zakatnya walaupun jumlahnya banyak. Kecuali apabila diperdagangkan

Kedua: Hewan Ternak

  • Yang termasuk hewan ternak yang wajib dizakati: unta, sapi, dan kambing
  • Nisab unta lima ekor, nisab sapi tiga puluh ekor, nisab kambing 40 ekor
  • Cara mengeluarkan zakat hewan ternak tidak seperti harta-harta lainnya. Jika telah mencapai satu nisab, maka selebihnya ada hitungannya tersendiri sesuai dengan pertambahan tersebut.

Ketiga: Hasil Bumi

  • Hal ini termasuk biji-bijian dan buah-buahan.
  • Nisabnya tiga ratus sha’ (satu sha’ yaitu takaran antara 2,157-3,0 kg)
  • Ukuran kadar zakat yang harus dikeluarkan adalah 1/10 atau 1/20.
  • 1/10 untuk tanaman disirami dengan air hujan.
  • 1/20 untuk tanaman yang diairi dengan menggunakan pompa, diesel dan sebagainya

Keempat: Barang Dagangan

  • Hal ini termasuk semua barang yang didagangkan termasuk tanah, kain, barang percah belah, mobil dan sebagainya.
  • Kadar zakat yang dikeluarkan 2.5% (seperti zakat emas dan perak)
  • Dikarenakan sifat dari barang dagangan berpurtar (artinya bisa dibeli pagi hari dan dijual sore hari), maka cara pengeluarkan zakatnya yaitu jika telah datang waktu mengeluarkan zakatnya. Walaupun barang itu baru saja di beli.

Wallahu ‘Alam.

MAKNA LA ILAHA ILLALLAH

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Makna La Illaha Illallah , oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Kitab ini ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, yang berisi tentang penjelasan makna Laa illaha illallah

Buku ini berasal dari sebuah pertanyaan ditanyakan kepada penulis. Apa makna la illaha illallah?

Beliau menjawab dengan jawaban yang menjadi judul kitab ini.

keutamaan La Ilaha Illallah

Syeikh ditanaya tentang makna la illaha illallah?, maka syeikh menjawab, ketahuilah semoga Allah merahmati mu, bahwa kalimat ini adalah pembeda antara kekufuran dan keislam dan dia adalah kalimat taqwa. Dia juga adalah tali yang amat kuat. Dalam Al-Quran Surat Az-Zukhruf Ayat 28:

Dan (lbrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu

Ada 7 pokok pembahasan:

1. Anjuran mempelajari ilmu

  • Selalu mengingatkan seseorang mempelajari mendalami, mengulangi ilmu. Pengulangan terhadap ilmu akan memperkuat ilmu tersebut.
  • Nabi Ibrahim masih memohon (berdoa) “dan jauhkanlah saya berserta anak cucuku daripada menyembah berhala2”, dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 35:
Dan (ingatlah) ketika Ibrāhīm berkata, “Ya Tuhan-ku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.
  • Nabi khawatir akan umat tergelincir pada kesyrikan l:

Sesungguhnya yang paling kutakutkan atas kalian ialah syirik kecil”. Mereka bertanya, “Apakah syirik kecil tersebut wahai Rasulullah?”  Jawab Beliau, “Riya’ ”. (H.R. Ahmad dengan sanad yang shahih)

  • Ciri yang mengenal tauhid: selalu mempelajarinya, mengulanginya, mengikuti pelajarannya.
  • Kisah dari syeikh bahwa murid beliau mengingkan belajar ilmu lain, karena mereka telah diajarkan tauhid berulang. Keesekan harinya syeikh memberi kabar bahwa ada seseorang menyembelih hewan untuk membangun rumahnya. Muridnya tidak bereaksi apa-apa. Kemudian keesokan harinya, syeikh berkata bahwa ada anak berjinah dengan ibu kandungnya. Kemudian muridnya bilang naudubillah, yang menunjukan pengingkaran. Kemudian syeikh berkata inilah mengapa kita haurs tiap hari mempelajari tauhid. Dikarenakan kalian mendengar kabar kesyirikan tapi diam sedangkan ketikan diberitakan mengenai maksiat kalian mengingkari. Padahal dosa kesyirikan lebih besar dari maksiat.

2. Doa rahmat dari penulis

Beliau mendoakan kepada pembaca yang membaca tulisan ini, semoga allah merahmatimu. Ini merupakan keseriusan guru dan rahmatnya mengambil ilmu darinya. Didalam belajar selalu dijaga oleh para guru supaya murid2 mengenal dari rahmat. Karena rahmat dari Allah sangat diperlukan, yang menyebabkan dicurahkan ilmu, dimudahkan ilmu masuk dalam hatinya, dan ilmu berpengaruh pada dirinya yang mempengaruhi hidupnya.

3. La illaha illallah adalah pembeda antara kekufuran dan keislaman

Ini adalah pembeda jalan Nabi shollahu ‘alaihi wa sallam dan jalannya kaum musyrikin. Karena ketika kaum musyirkin, di ajak untuk berucap kalimat tauhid, mereka bersombong dan tidak menerimanya. Dalam surat As-Saffat Ayat 35-36:

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “Lāilāha illallāh” (Tiada Tuhan yang berhak disembah, melainkan Allah) mereka menyombongkan diri.
dan mereka berkata, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”

Terdapat 5 ayat dalam Al-Quran yang semakna dengan La Ilaha Illallah:

Pertama: Al-Quran Surat An-Nahl ayat 36

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah ṭāgūt itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya 1. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Kedua: Al-Quran Surat An-Nahl ayat 1-2

Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.
Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku”.

Ketiga: Al-Quran Surat Al-Anbya ayat 25

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

Keempat: Al-Quran Surat Al-Ahqaf ayat 25

yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhan-nya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.

Kelima: Al-Quran Surat Az-Zukhruf ayat 45

Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu, “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”

4. La Ilaha Illallah adalah kalimat taqwa

Dari penamaannya kalimat la ilaha illallah adalah kalimat taqwa. Dalam Al-Quran Surat Al-Fath ayat 26:

Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan, (yaitu) kesombongan jahiliah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

  • Kalimat taqwa disini adalah kalimat la ilaha illallah.
  • Allah mewajibkan kepada kaum mukminin kalimat taqwa. Mereka yang berhak dan yang memilikinya.
  • Pokok dari ketaqwaan adalah tauhid.

5. La Ilaha Illallah adalah tali yang amat kuat

Yang ingkar dalam thogut dan beriman teguh kepada Allah, maka sesunggunya mereka berpegang pada tali yang amat kuat, dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 256:

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada ṭāgūt dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 

Yang berserah diri (ikhlas) dan berbuat baik, maka ia telah telah berpegang pada tali yang amat kuat, dalam Al-Quran Surat Luqman ayat 22

Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

6. La ilaha illallah adalah kalimat yang kekal

Kalimat kekal adalah kalimat la ilaha illallah, dalam Al-Quran Surat Az-Zukhruf ayat 28:

Dan (lbrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu

7. Keutamaan lain dari kalimat la ilaha illallah

Ayat2 yang menjelaskan tentang la illaha illallah

  • La ilaha illallah adalah kalimat yang al-husna, dalam Al-Quran Surat Al-Layl ayat 1-7
dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),
  • La ilaha illallah adalah kalimat yang al-ahad, perjanjian, dalam Al-Quran Surat Maryam ayat 87
Mereka tidak berhak mendapat syafaat kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah
  • La ilaha illallah adalah kalimat yang as-sowaf, puncak kebenaran, dalam Al-Quran Surat An-Naba ayat 38
Pada hari, ketika rohdan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.
  • La ilaha illallah adalah kalimat penyelamat dunia dan akhirat, d Nabi Yunus ‘alaihi salam diselamatkan dalam perut ikan karena kalimat la ilaha illallah, dalam Al-Quran Surat Al-Anbya ayat 87
    • Doa yang paling istimewa: diiringi tauhid, disertai dengan pensucian Allah, dan pengakuan terhadap dosa.
    • Orang yang terdesak apabila berdoa dengan iklhas walaupun kaum musyrikin, akan Allah kabulkan. Karena kuncinya adalah keikhlasan tauhid.
Dan (ingatlah kisah) Żān Nūn (Yūnus) ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap “Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau; sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”
  • La ilaha illallah adalah isi seluruh kitab suci yang diturunkan Allah dalam Al-Quran Surat Hud ayat 1-2
Alif Lām Rā, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,
agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu dari-Nya,
  • La ilaha illallah adalah ucapan yang teguh atau kukuh. Allah meneguhkan orang2 yang beriman (bertauhid) dengan ucapan yang kukuh dalam kehidupan dunia dan akhirat, dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 27
    • At Tsabit adalah kalimat la ilaha illallah.
    • Untuk itu orang yang bagus dalam agama, diatas petunjuk Nya, tidak akan berubah2 dikarenakan tauhid nya yang kokoh.
Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.

  • La ilaha illallah adalah kalimat yang dibaca dari akhir Adzan, maka jaminan seorang hamba dimasukan kedalam surga
  • La ilaha illallah dalah kalimat yang menyebabkan diampuni dosa
    • Dalam Al-Quran Surat Muhammad ayat 19 dan dalam hadist
Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

  • La ilaha illallah adalah kalimat yang akan menjamin dimasukan kedalam surga
    • Dana apabila masuk neraka, kalimat ini akan menariknya ke surga

    Dalil 2: Dakwah para Rasul adalah Dakwah Tauhid

    Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

    Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid #2, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

    Al-Mulakhkhash Syarah Kitab TauhidPenulis: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah

    Bab 1 Tauhid (Hakikat dan Kedudukannya)

    Dalil 1: Pendahuluan dan Dalil 1 QS. Adh-Dhaariyat Ayat 56

    DALIL 2: AL-QURAN SURAT An-Nahl AYAT 36

    Dakwah para Rasul adalah Dakwah Tauhid

    Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah ṭāgūt itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya 1. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

    PENJELASAN KATA DALAM AYAT

    Firman Allah, sesungguhnya kami telah mengutus rosul untuk beribadah kepada Allah dan jauhi thogut.

    Ba’astna: kami mengutus. Para ahli tafsir mengatakan bahwa kata ini berarti dari mati kemudian hidup. Hari kebangkitan disebut yaumul ba’ats. Keberadaan rosul adalah kehidupan bagi manusia. Menghidupkan ruh dan jiwa mereka. Ini adalah inti kehidupan. Ini adalah nikmat yang paling besar.

    Kuli umah: setiap umat, setiap kelompok, atau kurun waktu, generasi dari manusia. Maknanya satu generasi kurun waktu dari manusia.

    Rosulan: Rosul adalah seorang yang syariat diwahyukan kepadanya. dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada umat. Yang membedakan antara nabi dari rosul adalah rosul diutus dengan kitab sedangkan nabi melanjutkannya. Rosul diutus kepada kaum yang menyelesihi mereka sedangkan nabi diutus kepada kaum yang sepakat dengan mereka.

    Diutusnya para rosul adalah nikmat yang paling besar, lebih besar dari nikmat dunia, sebagaimana dalam Al-Quran Surat Al-Ma’idah ayat 20:

    Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.

    Pokok Kebaikan umat: Sepanjang umat masih berpegang pada sunnah nabi, masih mengambil dari para ulama, yang mengajarkan dari sumber yang asli yang bermuara kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka umat itu akan berada di atas kebaikan.

    Ustadz Dzulqarnain M Sanusi (September 2021)

    Ani ‘budullah: Apakah misinya setiap rosul? Yaitu mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah dan esakan Allah dalam ibadah kalian.

    Waj tanibu: tinggalkan dan jauhi.

    At thogut: dari Kata tugyan yang berarti melampui batas. Oleh karena itu setiap selain Allah yg diibadahi, dan dia ridho dengan ibadah itu, maka termasuk thogut.

    Makna Ayat secara global

    Dia telah mengutus seorang rosul pada setiap kelompok dan kurun waktu. Yang mengajak kepada manusia untuk beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan peribadatan kepada selain-Nya. Allah terus mengutus rosulnya kepada manusia sejak terjadi kesyirikan pada bani Adam, yaitu pada zaman Nabi Nuh ‘alaihi salam hingga Allah menutup dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Hubungan ayat dengan bab

    Sesungguhnya dakwah kepada tauhid dan dakwah melarang kesyirikan itu adalah tujuan dakwah seluruh nabi dan para pengikut nabi.

    Faedah Ayat

    1. Sesungguhnya hikmah pengutusan para rosul adalah untuk berdakwah menyeru kepada tauhid dan melarang kesyirikan.
      • Ini adalah pokok yang harus dijaga
      • Sering kali Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wa sallam dibahasakan sebagai kepala negara, pebisnis, ahli strategi, doker paling mumupuni. Hal ini sebenarnye keluar dari tugas pokok beliau yaitu menyerukan tauhuid dan mejauhi kesyirikan.
      • Adapun Nabi Muhammad sebagai misalnya dokter itu adalah bukti kenabian bahwa segala yang diucapkan adalah benar.
    2. Sesungguhnya agama para nabi adalah satu agama yaitu memurnikan ibadah kepada Allah dan meninggalkan kesyirikan.
      • Oleh karena itu disetiap kisah Nabi dalam Al-Quran ada kandungan tauhidnya. Seperti kisah Nabi Yusuf ‘alahi salam. Sebelum ditanya mengenai mimpinya beliau mengatakan saya ikut agama ayah ku dan kakeku yaitu tidak pantas kami berbuat kesyirikan.
      • Tujuan para nabi sama meskupun syarait berbeda:
        • Taubat syariat Bani Isyrail: berkumpul disuatu tempat, Allah membuat tempat it gelap, kemudian mereka disuruh saling membunuh.
        • Taubat syariat umat islam harus memenuhi 5 syarat:
          1. Lepaskan diri dari dosa
          2. Sesali dosa itu
          3. Berniat dengan sunguh2 tidak akan mengulangi dosa itu lagi
          4. Ikhlas dalam taubatnya
          5. Bertobat sepanjang nyawa belum sampai pada tenggorakan dan matahari belum terbit dari arah barat.
    3. Risalah tauhid berlaku untuk setiap umat dan hujjah telah tegak bagi seluruh umat
      • Setiap ummat telah diutus rosul, tidak ada ummat yang tidak ada rosulnya.
      • Umat islam umat yang ke-70, umat paling terakhir.
    4. Ayat tersebut menunjukan akan keagungan tauhid, bahwa tauhid wajib atas seluruh umat.
    5. Terdapat kandungan makna laa illaha illallah.
      • Terdapat dua hal rukun laa illaha illallah: penetapan dan peniadaaan.
      • Yaitu beribadahlah kepada Allah (penetapan) dan jauhi thogut (peniadaaan).
      • Hal ini menunjukan bahwa tauhid tidak dapat diluruskan kecuali dengan keduanya penetapan dan peniadaaan.
      • Lakum diinukum waliyadin: bukan untuk disuruh memilih agama akan tetapi penyataan berlepas diri dari agama lain.

    Wallahu ‘Alam

    Motivasi Agar Khusyu’ Dalam Shalat – Bagian 3

    Kitab Syarah Bulugul Maram
    Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
    Bab Motivasi Agar Khusyu’ Dalam Shalat

    Hadist 193, Dari Anas radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang dari kalian sedang dalam shalat sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya, maka janganlah ia berludah di depannya dan janganlah ke kanannya, tetapi ke kirinya di bawah telapak kakinya.” (HR. Mutafaq ‘Alaih) dan pada satu riwayat, “Atau ke bawah kakinya.”

    Hal-hal penting dari hadist

    1. Shalat merupakan media komuniksai antara seorang hamba dengan Tuhannya.
    2. Jangan berludah kekanan karena malaikat pencatat kebaikan berada disebelah kanan.
    3. Disebelah kanan juga ada malaikat pencatat keburukan
    4. Diperbolehkan berludah ke sebelah kiri dikarenakan: darurat, sebelah kanan lebih utama dari sebelah kiri, Malaikat yg disebelah kanan lebih mulia dari malaikat yang sebelah kiri.

    Hadist 194. Dari Anas radhiallahu anhu, ia berkata: Aisyah mempunyai satu tirai yang digunakan untuk meutup bagian samping rumahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Singkirkanlah tiraimu ini dari kita, karena gambar-gambarnya (ornamennya) selalu menganggu dalam shalatku.” (HR Bukhari). Diredaksi yang lain “Karena sesungguhnya ia melalaikanku dalam shalat”.

    Hal-hal penting dari hadist:

    1. Diharuskan menjauhkan semua yang dapat menganggu shalat.
    2. Melakukan shalat di tempat yang jauh dari hal-hal yang dapat melalaikan hati.
    3. Yang terpenting dalam shalat adalah khusu dan menghadrikan hati, maka hal-hal yang dapat merusak kesempurnaan shalat harus di hindari.
    4. Di makruhkan mendekorasi masjid secara berlebihan karena dapat menganggu kekhusyu’an shalat.

    Wallahu ‘Alam