Keutamaan Islam dari Atsar para Sahabat

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Fadhlul Islam – Bab Keutamaan Islam oleh Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Fadhlul Islam

Penulis: Asy-Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimakumullah.

Bab Keutamaan Islam

Riwayat dari Ubay bin Ka’ab

Ubay bin Ka’b رضي الله عنه , beliau berkata, “Kalian wajib (berpegang teguh) di atas jalan dan sunnah. Karena, tidaklah seorang hamba berada di atas jalan dan sunnah lalu mengingat Ar-Rahman sehingga mencucurkan air mata karena takut kepada Allah, maka tidak akan disentuh oleh api neraka. Tidaklah seorang hamba berada di atas jalan dan sunnah lalu meningat Ar-Rahman sehingga kulitnya meinding karena takut kepada Allah, kecuali keadannya seperti sebuah pohon yang daun-daunnya telah mengering dalam keadaan demikian, angin pun menimpanya sehingga daun-daunnya berguguran. Maka, dosa-dosa hamba tersebut akan berguguran sebagaimana daun-daun berguguran dari pohon itu. Sesungguhnya, bersikap pertengahan di atas jalan dan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam menyelisihi jalan dan sunnah”.

Ini adalah pemahaman Ubay terhadap Islam. Ada 4 pembahasan

Pembahasan Pertama: Islam adalah jalan dan sunnah.

Islam adalah sunnah dan sunnah adalah juga islam. Sunnah adalah ucapan dan amalan dohir dan bathin. Hal ini adalah Islam.

Pembahasan Kedua: Islam membuat seorang hamba di haramkan masuk neraka.

Apabila diatas keislaman yang benar, maka akan membawa rasa takut kepadanya. Yang menjadi sebab diharamkan dari api neraka

Islam menghapuskan dosa-dosa hamba

Pembahasan Ketiga: Keislaman menghapuskan dosa. Sebagaimana orang kafir yang masuk islam, maka keisalamannya menghapuskan yang sebelumnya. Dalam Sahih Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

Dan juga apabila sudah Islam dan melakukan dosa-dosa. Kemudian ada rasa takut kepada Allah yang menjadi sebab digugurkannya dosa-dosa tersebut.

Pembahasan Keempat: Pertengahan (berhemat) diatas keislaman lebih baik dari pada bersungguh-sungguh tidak diatas Islam

Yang paling utama yaitu orang yang bersungguh-sungguh diatas Islam. Kemudian apabila orang yang biasa saja (hemat, sederhana atau pertengahan) dalam berislam yaitu menjalankan sunnah, maka itu lebih baik daripada orang yang sungguh-sungguh tapi tidak sesuai dengan jalan dan sunnah.

Sesuatu tidak diukur dengan banyaknya amalan akan tetapi kesesuaian diatas jalan dan sunnah.

Orang yang mengobarkan waktu, tenaga dan hartanya akan tetapi menyelisihi sunnah, maka dia tidak dapat apa-apa. Sedangkan orang yang duduk saja atau istirahat (tidur) maka dia lebih bagus dari pada orang yang menyelishi sunnah.

Contohnya ada acara demo, ada orang yang ikut demo dengan mengeluarkan uang, tenaga dan waktu untuk demo. Maka dia tidak dapat apa-apa dan bahkan mendapat dosa. Sedangkan orang yang di ajak demo, dia tidak ikut dan hanya tidur dirumahnya. Maka dia lebih bagus daripada orang yang ikut demo.

Beragama bukan masalah semangat, bukan masalah punya kesungguhan. Tapi beragama itu adalah memastikan yang kita kerjakan sesuai dengan jalan Islam atau tidak.

Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafidzahullah

Riwayat Dari Abu Darda

Dari Abu Darda’ رضي الله عنه , beliau berkata, “Betapa tidur dan bebukanya orang yang cerdik lebih bagus daripada begadang malam dan puasanya orang yang bodoh. Sesungguhnya, kebaikan sebesar dzarrah, disertai dengan ketaqwaan dan keyakinan, adalah lebih besar, lebih utama, dan timbangan (pahalanya) lebih berat daripada ibadah sebesar gunung orang-orang tertipu.

Orang yang cerdik yaitu orang yang mengenal jalan Islam dengan benar. Adapun orang yang bodoh melakukan aktivitas tidak berdasarkan pada ilmu.

Bukan masalah amalan shalat dan puasanya akan tetapi bagaimana cara melakukan shalat dan puasanya. Sebagaimana kaum khawarij mereka shalat dan puasa. Malah shalat dan puasanya lebih banyak. Akan tetapi kaum khawarij dikatakan oleh Nabi:

Sehingga bukan diukur dengan banyaknya ibadah (Shalat, Puasa atau baca Al-Quran) akan tetapi apakah ibadah tersebut dikerjakan diatas Islam atau tidak.

Dharah adalah biji yang terkecil atau telur semut. Melakukan amalan yang paling kecil akan tetapi dilakukan dengan taqwa dan keyakinan, lebih baik daripada melakukan amalan besar tapi dari orang-orang yang tertipu.

Ada 4 Pembahasan:

Pembahasan Pertama: Orang yang berpegang pada Islam yang benar adalah orang yang cerdas

Yang menjadi ukuran bukan banyaknya, bukan semangatnya, bukan pula dia melebihi yang lainnya. Tapi yang menjadi standard dan ukuran adalah diatas Islam yang benar.

Pembahasan Kedua: Amalan yang sedikit tapi disertai Islam yang benar, bersama taqwa dan keyakinian, lebih baik daripada ibadah yang banyak dari orang-orang yang tertipu.

Pembahasan Ketiga: Yang menjadi ukuran bukan banyaknya amalan.

Pembahasan Keempat: Sebab amalan dilipatkgandakan.

Amalan dilipatkangandakan yaitu dengan Islam yang benar.

Sebab Utama yang menjadikan amalan besar adalah pelaku amalan itu sendiri. Yaitu memiliki keikhlasan, kejujuran, ketulusan, kesyukuran dan kesabaran serta amalan-amalan hatinya.

“Abu Bakr tidak mendahului kalian dengan banyaknya puasa, shalat tapi Abu Bakr mendahului kalian dengan sesuatu yang bercokol di dalam hatinya.”

Perkataan sebagian Salaf

Cara hidup (berislam) para sahabat: Bagaimana saya bisa mendapatkan cara berjalan mu yang sangat bagus dan rapi, yaitu Kamu jalannya pelan-pelan tapi tibanya paling awal.”

Perkataan penyair yang dinukil Ibnu Rajab

Wallahu Ta’alla ‘Alam

Keutamaan Islam dalam Hadits Nabi ﷺ

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Fadhlul Islam – Bab Keutamaan Islam oleh Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Fadhlul Islam

Penulis: Asy-Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimakumullah.

Bab Keutamaan Islam

Perumpamaan umat Islam yang bekerja dibanding Ahli Kitab

Dalam Ash-Shahih dari Ibnu Umar Radhiallahu anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Permisalan antara kalian dan dua Ahlul Kitab adalah seperti seseorang yang mempekerjakan pegawai. Dia berkata, ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari pagi sampai tengah hari dengan upah satu qirath?’ Maka bekerja lah orang-orang Yahudi. Dia berkata lagi ‘Siapa yang mau bekerja untuku dari tengah hari sampai (waktu) shalat Ashar dengan upah satu qirath?’. Maka bekerjalah orang-orang Nashara. Dia berkata lagi ‘Siapa yang mau bekerja untukku dari ashar sampai matahari tenggelam dengan upah dua qirath?’. Maka kalianlah (muslimin yang bekerja). Orang-orang Yahudi dan Nashara pun marah dan mengatakan. ‘Bagaimana ini, kami berkeja lebih banyak tetapi upahnya lebih sedikit?’ Orang tersebut menjawab, ‘Apakah saya telah mengurangi hak kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak’. Orang tersebut berkata, ‘Itulah kebaikanku yang saya berikan kepada siapa saja yang saya kehendaki.’.”

Satu qirath biasanya diibaratkan gunung yang sangat besar. Secara bahasa qirath adalah seperdua dari seperenam dirham atau seperduabelas.

Ditawarkan tiga penawaran pekerjaan:

  1. Bekerja dari pagi sampai tengah hari dengan upah satu qirath. Maka orang Yahudi yang bekerja. Berdasarkan urutan yaitu umat Yahudi, Nashara, dan Islam.
  2. Bekerja dari tengah hari sampai shalat Ashar dengan upah satu qirath.Maka orang Nashara yang bekerja.
  3. Bekerja dari Ashar sampai matahari tenggelam dengan upah 2 qirath. Maka orang Muslim yang bekerja.

Orang yahudi dan nashara marah dan mempertanyakan kenapa kami bekerja lebih banyak tapi upahnya sedikit. Sedangkan Muslim lebih sedikit bekerja tapi upahnya lebih banyak.

Kemudian yang memperkerjakan bertanya, Apakah ada hak kalian yang dikurangi? mereka berkata tidak ada. Sehingga tidak ada yang didholomi karena sudah sesuai dengan akad. Maka itulah kebaikan dari ku. Memberikan kepada siapa yang saya kehendaki.

Ada empat pembahasan:

Pembahasan Pertama: Keutamaan Islam diatas selainnya bahwa pemeluk agama islam pahalanya lebih besar dari pemeluk agama sebelumnya.

Yahudi dan Nashara adalah agama terdahulu. Setelah diutus Nabi Muhammad ﷺ, maka semuanya harus beriman kepada Nabi terakhir.

Keutamaan Islam, ummat yang sedikit amalannya tapi besar pahalanya, seperti:

  • Malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan
  • 10 hari pertama bulan Dzulhijah, yaitu hari-hari terbaik dari kehidupan di dunia.
  • Amalan hati yang membuat amalan badan menjadi berlipat ganda

Pembahasa Kedua: Disyariatkan untuk membuat perumpamaan-perumpamaan untuk mendekatkan pemahaman.

Perumpamaan dibuat agar kita memahaminya, sebagaimana firman Allah ﷻ:

وَتِلْكَ ٱلْأَمْثَـٰلُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَآ إِلَّا ٱلْعَـٰلِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia dan tiada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-Ankabut: 43)

Pembahasan Ketiga: Luasnya keutamaan Allah ﷻ untuk umat ini.

Contohnya ketiga orang duduk saja bertafakur mendapatkan pahala dari amalan hati berupa kesyukuran, ridho, rasa harapan, rasa takut, rasa cinta, dan lainnya.

Pembahasan Keempat: Yang menjadi ukuran bukan banyaknya amalan.

Belum tentu orang yang banyak amalan, akan banyak pahalan atau lebih besar kedudukannya. Yang menjadi ukuran adalah mencocoki keislaman yang benar yaitu ikhlas dan mutaba’ah.

Keutamaan Islam di dunia dan akhirat

Juga dalam (Ash-Shahih) dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah telah menyesatkan orang-orang sebelum kita perihal (mendapatkan) Jumat. Oleh karena itu, jadilah hari Sabtu untuk orang-orang Yahudi dan hari Ahaad untuk orang-orang Nasahara. Lalu, Allah mendatangkan kita dan memberi petunjuk untuk kita kepada hari Jumat. Demikian pula mereka mengikuti pada hari kiamat. Kita adalah penduduk terakhir, tetapi menjadi umat pertama pada hari kiamat“.

Maksudnya orang-orang sebelum kita disesatkan akan hari Jumat. Dimana Allah menetapkan hari Jumat adalah yang afdhal. Yahudi memilih hari Sabtu sedangkan Nashara memilih hari Ahad. Umat Islam diberi petunjuk untuk memilih hari Jumat. Urutan hari adalah Jumat, Sabtu, dan Ahad. Sehingga Yahudi dan Nashara mengikuti umat Islam didunia. Sebagaimanapula di akhirat, umat islam didahulukan. Sehingga Umat Islam datang terakhir kedunia akan tetapi didahulukan diakhirat (masuk surga).

Ada 5 Pembahasan:

Pembahasan Pertama: Keutamaan Islam bukan di dunia saja tapi di dunia dan akhirat

Pembahasan Kedua: Hidayah untuk ummat ini (Islam)

Umat Islam apabila sepakat akan sesuatu, maka selalu benar. Sebagaimana Nabi bersabda:

Tidak mungkin umat Islam bersepakat pada sesuatu yang keliru.

Kisah Sahabat Yang Sepakat dengan Kebenaran

Kisah Umar bin Khatab. Beliau keluar bersama para sahabat, yang ketika akan memasuki suatu negeri, terdengar berita bahwa negeri tersebut terkena penyakit Towun. Kemudian para sahabat berselisih, ada yang berkata jangan masuk daerah ini karena akan membahayakan. Yang lain berkata hal ini adalah takdir dan ketentuan Allah, sehingga kita masuk saja. Umar memanggil kaum Anshar untuk bermusyawarah akan tetapi mereka juga berselisih. Kemudian bermusyawarah dengan kaum Muhajirin, akan tetapi mereka juga berselisih. Kemudian berdisikusi dengan orang yang paling tua dikalangan Muhajirin, mereka tidak berselisih yaitu sepakat untuk kembali ke Kota Madinah dan tidak memasuki daerah tersebut.

Kemudian Abu Ubaidah bin Jarah berkata kepada Umar, wahai ‘Amirul Mukminin, apakah kita lari dari takdir Allah?, Maka Umar berkata “Andaikata selain kamu yang mengucapkan itu”, kenapa berucap seperti itu. Umar berkata “Kita lari dari takdir Allah, ke takdir Allah yang lainnya.

Setelah di Madinah, Abdurahman bin Auf berkata bahwa Nabi ﷺ bersabda yang maknanya apabila terjadi musibah pada suatu kaum dan kalian di negeri itu, maka jangan kalian keluar, Tapi apabila kalian belum masuk di dalamnya, maka jangan masuk ke negeri itu.

Sehingga keputusan Umar dan para sahabat sudah benar. Sehingga kesepakatannya tidak akan bertentangan dengan hadits.

Pembahasan Ketiga: Keutamaan Hari Jum’at

Hari jum’at adalah sayyidul ayam, hari yang paling utama.

Pembahasan Keempat: Umat-umat terdahulu mengikut kepada umat Islam pada hari Kiamat.

Umat Islam pemimpin dihari kiamat.

Pembahasan Kelima: Umat Islam adalah umat paling terakhir di dunia tapi yang pertama masuk surga.

Sebagaimana hadits diriwayat yang lain:

Islam adalah Agama yang hanfiyyah dan mudah

Juga dalam (Ash-Shahih) secara mua’allaq, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, “Agama yang paling dicintai oleh Allah adalah agama yang hanifiyyah yang samhah.” Selesai (penukilan darinya).

Mu’allaq artinya ketika membawakan tidak disebutkan nama gurunya ke atas. Tapi hadits ini telah disambung dalam Al-Bukary di Kitab Adab Al Mufrad.

Ada tiga pembahasan:

Pembahasan Pertama: Islam disifatkan dengan hanifyyah

Haniyyah dari kata hanaf (condong). Yaitu condong kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan.

Nabi Ibrahim disebut hanifan karena meninggalkan sesuatu karena Allah dan selalu menghadap kepada Allah, sebagaimana firman Allah:

Pembahasan Kedua: Keutamaan Islam dengan Samha (Yang Mudah)

Islam adalah agama yang mudah, gampang, pemurah.

Agama sebelum Islam ditimpa banyak kesusahan, belenggu-belenggu. Sebagaimana firman Allah:

Contohnya dalam Al-Qur’an ketika Bani Israil disuruh bertobat, mereka dikumpulkan disuatu tempat dan disuruh saling membunuh.

Dalam Islam dimudahkan untuk bertobah yaitu dengan beberapa syarat berikut:

  1. Ikhlas dalam taubat
  2. Tinggalkan perbuata dosa itu
  3. Sesali perbuatan dosanya
  4. Berniat dengan sungguh-sungguh tidak mengulangi dosa itu
  5. Waktunya sepanjang nyawa belum sampai tenggorkan dan matahari belum terbit dari arah Barat.
  6. Apabila dosa dengan manusia, maka harus meminta maaf (penghalalan) kepada yang didholimi.

Dapat dilihat dibuku ahli kitab yang ada sekarang, terlihat hal-hal yang menyusahkan.

Pembahasan Ketiga: Keutamaan Islam adalah agama yang paling dicintai oleh Allah.

Islam adalah agama yang paling dicintai Allah juga termasuk syariatnya.

Wallahu Ta’alla ‘Alam

Keutamaan Islam dalam Surat Al Hadid Ayat 28

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Fadhlul Islam – Bab Keutamaan Islam oleh Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Fadhlul Islam

Penulis: Asy-Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimakumullah.

Bab Keutamaan Islam

Dalil 3: Surat Al-Hadid 28

Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَءَامِنُوا۟ بِرَسُولِهِۦ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِۦ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًۭا تَمْشُونَ بِهِۦ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hadid: 28)

Ada dua penafsiran untuk ayat ini.

  1. Bahwa yang dipanggil disini adalah orang yang beriman dari Ahlul Kitab.
  2. Bahwa yang dipanggil disini adalah orang yang beriman dari Ummat Islam.

Apabila mengikuti penafsiran pertama bahwa Ahlul Kitab juga diajak untuk mengikuti agama yang dibawa Nabi Muhammad Shallallau ‘Alihi Wa Sallam. Ahlul Kitab yang masuk islam dapat pahala dua kali, sudah beriman kepada Rasulnya dan beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alihi Wa Sallam. Sebagaimana firman Allah Ta’alla:

أُو۟لَـٰٓئِكَ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُم مَّرَّتَيْنِ

Mereka itu diberi pahala dua kali” (Al-Qasas: 54)

Kemudian dari hadits:

Apabila mengikuti penafsiran kedua, lebih jelas lagi bahwa orang yang beriman dari ummat Islam mendapat keutamaan.

Pembahasan Pertama: Yang dimaksud dengan Islam adalah beramal dengan syairat dan terikat dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Pembahasan Kedua: Tiga bentuk keutamaan Islam

  1. Mereka diberi dua bagian dari rahmat Allah (dunia dan akhirat).
  2. Mereka dapat cahaya untuk mengambil petunjuk di jalannya. Yaitu: Ilmu, keyakinan, hak dan bathil, petunjuk dan kesesatan, baik dan buruk.
  3. Mereka di ampuni dosa-dosanya. Dikarenakan sebab ketakwaan dan ketaatan kepada Rasul.

Dalam surat Al-Ahzab yang pertama diampuni adalah dengan keislamannya:

إِنَّ ٱلْمُسْلِمِينَ وَٱلْمُسْلِمَـٰتِ وَٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتِ وَٱلْقَـٰنِتِينَ وَٱلْقَـٰنِتَـٰتِ وَٱلصَّـٰدِقِينَ وَٱلصَّـٰدِقَـٰتِ وَٱلصَّـٰبِرِينَ وَٱلصَّـٰبِرَٰتِ وَٱلْخَـٰشِعِينَ وَٱلْخَـٰشِعَـٰتِ وَٱلْمُتَصَدِّقِينَ وَٱلْمُتَصَدِّقَـٰتِ وَٱلصَّـٰٓئِمِينَ وَٱلصَّـٰٓئِمَـٰتِ وَٱلْحَـٰفِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَٱلْحَـٰفِظَـٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةًۭ وَأَجْرًا عَظِيمًۭا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin 1, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. (Al-Ahzab: 35)

Wallahu Ta’alla ‘Alam

Keutamaan Islam dalam Surat Yunus Ayat 104

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Fadhlul Islam – Bab Keutamaan Islam oleh Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Fadhlul Islam

Penulis: Asy-Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimakumullah.

Bab Keutamaan Islam

Dalil 2: Surat Yunus Ayat 104

Allah berfirman:

قُلْ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمْ فِى شَكٍّۢ مِّن دِينِى فَلَآ أَعْبُدُ ٱلَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنْ أَعْبُدُ ٱللَّهَ ٱلَّذِى يَتَوَفَّىٰكُمْ ۖ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

Katakanlah, “Hai manusia, jika kamu masih dalam keragu-raguan tentang agamaku, maka (ketahuilah) aku tidak menyembah yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mematikan kamu dan aku telah diperintah supaya termasuk orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 104)

Empat Pembahasan:

Pertama: Hakikat dari Islam adalah Mentahuidkan Allah

Islam dengan makna tauhid memberi keutamaan. Dakwah seluruh nabi dan rasul adalah tauhid, sebagaimana firman Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍۢ رَّسُولًا أَنِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَ ۖ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah ṭāgūt 1 itu” (An-Nahl: 36

Kedua: Keutamaan Islam dari sisi keumuman Islam untuk seluruh manusia.

Islam adalah untuk seluruh manusia. Al-quran adalah untuk seluruh manusia, sebagaimana firman Allah:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدْ جَآءَتْكُم مَّوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌۭ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhan-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada. (Yunus :57)

Kemudian firman Allah:

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Al-Anbiya: 107)

Firman Allah:

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا كَآفَّةًۭ لِّلنَّاسِ بَشِيرًۭا وَنَذِيرًۭا

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan (Saba: 28)

Islam untuk semua orang Arab dan orang Ajam, yang dekat dan yang jauh, berkulit putih dan hitam dan lainnya.

Rasulullah Shallalu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

Ketiga: Selamatnya Ahlul Islam dari Syubhat dan Syahwat.

Syubhat dan syahwat adalah segala kejelekan bagi manusia. Syaithon menyerang manusia dari dua hal ini. Syubhat menyebabkan keraguan dalam beragama sedangkan syahwat adalah dari hawa nafsu manusia.

Akan tetapi orang muslim selamat dari syuhbhat dan syahwat. Apabila ada yang ragu dengan keislamannya, maka orang muslim tidak ragu. Begitupula apabila ada syahwat untuk beribadah kepada selain Allah, orang muslim tetap beribadah hanya kepada Allah semata.

Hal ini apabila muslim yang mempuh jalannya dengan benar akan selamat dari syubhat dan syahwat.

Keempat: Keteguhan siapa yang berpegang dengan Islam.

Siapa yang berpegang Islam dengan benar, maka di akan diberikan keteguhan. Sehingga apabila ada seorang muslim ada keraguan dan kebimbangan, artinya ada kekeliruan dalam mempelajari Islam.

Sifat para sahabat ketika ditanya oleh Hirakel, apakah ada dari sahabat nabi yang telah masuk Islam lalu keluar dari agamanya karen benci pada agamanya?. Maka Muawiyyah bin Abi Soffyan yang memimpin rombongan Quraish mengatakan tidak ada.

Dikisahkan ketika Nabi berteduh didekan dinding Ka’bah para sahabat menghampirnya dan mengeluhkan kaum kafir Quraish. Kemudian Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa telah ada umat sebelum kalian disiksa dengan yang sangat pedih. Kemudian nabi bersabda:

Abu Bakr radhiallahu anhu adalah sahabat yang paling teguh dengan keyakinannya. Dalam kisah Isra dan Mi’raj, Abu Bakar membenarkan Nabi dari kisah tersebut. Dalam perang Badr ketika Nabi berdoa, Abu Bakr berkata Allah akan selalu memenangkan agamamu. Kemudian dalam perjanjian hudaibiyah, ketika Umar ragu, Abu Bakr yang paling teguh. Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meninggal, Abu Bakr juga yang mengingatkan sahabat yang lain.

Untuk para penuntut ilmu, apabila menuntut ilmu dengan benar maka akan membuatnya semakin teguh.

Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا۟ مَا يُوعَظُونَ بِهِۦ لَكَانَ خَيْرًۭا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًۭا

Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), (An-Nisa: 66)

Salah seorang dari Ulama tabi’in, Al-Imam Abu Ar-Riyah, beliau berkata Allah memberiku dua nikmat, saya tidak tahu nikmat mana yang paling besar. Nikmat yang pertama adalah keislaman dan yang kedua adalah saya tidak dijadikan oleh Allah sebagai haruriyan (orang yang berpemikiran khawarij).

Wallahu Ta’alla ‘Alam

Keutamaan Islam dalam Surat Al-Ma’idah Ayat 3

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Fadhlul Islam – Bab Keutamaan Islam oleh Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Fadhlul Islam

Penulis: Asy-Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimakumullah.

Pendahuluan

Salah satu karya penulis yang sangat penting karena menjelaskan tentang bagaimana manhaj dan metode Islam. Buku berisi tentang keutamaan islam dan sifat-sifatnya serta hal-hal yang bertentangan dengan kesempurnaan agama dalam 13 Bab.

Buku ini agar dipelajari dan diajarkan untuk mengingatkan Islam yang benar, manhaj yang lurus dan bagaimana jalan beragama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya.

Penulis membawakan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits disertai dengan beberapa atsar dari para As-Salaf Rakhimakumullahu Ta’alla.

Bab Keutamaan Islam

Pertama: Kesesuaian Bab ini dengan kitab

Hubungan bab ini dengan judul kitab, yaitu judul buku ini diambil dari judul bab: keutamaan Islam. Atau judul buku ini terkait dengan keseluruhan 13 bab.

Kedua: Apa maksud dari keutamaan islam

Yang diinginkan dari keutamaan islam ada beberapa sisi:

  1. Keutamaan Islam diatas seluruh agama yang lain.
  2. Keutamaan Islam dari sisi orang yang memeluk islam. Muslim akan memperoleh berbagai keutamaan.
  3. Keutamaan Islam dari sisi ummat yang menyandang agama Islam. Kaum muslim memiliki keuatamaan diatas seluruh ummat-ummat yang lainnya. Diantaranya ummat terakhir tapi pertama masuk surga, ummat pertengahan, ummat paling afdhol disisi Allah dan lainnya.

Dalil 1: Surat Al-Ma’idah Ayat 3

Allah berfirman:

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَـٰمَ دِينً

Pada hari ini, telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Tiga Pembahasan:

Pertama: Penjelasan keutamaan Islam dari sisi kesempuranaan Islam

Ayat ini yang terakhir turun pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pada hajjatul wada’, haji perpisahaan. Dimana setelah itu beliau pulang ke Madinah dan tidak lama kemudian sakit sampai wafatnya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Dalam kitab Al-Bukhari dan Muslim dari Jalu Tariq bin Sihab dari Umar bin Khatab Radhiallahu Anhu, Sesungguhnya seorang laki-laki dari Yahudi berkata kepada Umar, wahai ‘Amirul Mu’minin ada sebuah ayat di kitab kalian (Al-Qur’an) yang kalian membacanya. Andaikata ayat ini turun kepada kami kaum Yahudi, kami jadikan hari itu sebagai hari Ied (hari raya). Umar bertanya ayat apa?. Orang yahudi membacakan surat Al-Ma’idah ayat 3. Umar berkata kami telah mengenal hari itu dan tempat ayat ini turun pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, yaitu ketika beliau berdiri di Arafah pada hari Jum’at.

Hari Jum’at adalah hari Ied nya ummat Islam. Umat Islam memiliki tiga hari raya:

  1. Hari raya yang berluang dalam setahun sekali: Ied Fitri dan Ied Adha
  2. Hari raya yang berulang setiap pekan: Hari Jum’at

Agama Islam telah sempurna karena Allah telah menyempurnakannya. Agama Islam sudah lengkap, berada dipuncak keutamaan, tidak perlu ada tambahan didalamnya dan tidak ada kekurangan padanya.

Tafsir Ibnu Abas mengenai ayat ini: Allah mengabarkan kepada Nabinya dan mengabarkan pada kaum mu’minin bahwa Allah telah menyempurnakan keimanan untuk mereka. Maka mereka tidak perlu tambahan apapun selama-lamanya. Allah telah menyempurnakan agama ini, tidak ada kekurangan selama-lamanya. Allah telah meridhainya. Allah tidak pernah murka terhadap agama ini selama-lamanya.

Kaum Musyrikin berkata pada Salman Al-Farizi Radhiallahu Anhu, apakah Rasul kalian mengajarkan kalian segala sesuatu sampai bagaiamna etika membuang hajat. Salam berkata iya, Nabi melarang kami istinja menggunakan tangan kanan, istinja kurang dari tiga batu, istinja menggunakan tulang. Sehingga lengkap agama Islam, segala perkara ada tuntunannya.

Kedua: Keutamaan Islam dengan sempurnanya nikmat yang dhahir dan bathin.

Dalam ayat dikatakan: dan telah kucukupkan atas kalian nikmat-Ku. Maksudnya adalah Islam. Sebagaimana dalam surat Al-Fatihah membaca:

ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ ٦

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧

An’amta: jalannya orang-orang yang engkau beri nikmat. Yaitu Siratal Mustaqim (Islam).

Nikmat terkait baik yang dhahir dan yang bathin. Muslim akan merasakan nikmat agama ini.

Ketiga: Keutamaan Islam bahwa Allah ridha akan agama Islam

Allah telah meridhai Agama Islam dan pemeluknya. Sehingga hanya Islam yang diterima oleh Allah, tidak agama lainnya. Sebagaimana ayat:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ ٨٥

barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)

Sehingga apabila agama telah sempurna, nikmat telah dicukupkan dan Islam diridhai Allah Ta’alla, maka agama ini dijamin akan terus menerus ada dan kekal. Agama Islam akan berlaku bagi manusia disegala keadaan, setiap masa, dan disetiap waktu. Segala sesuatu terkait dengan kehidupan akhira dan dunia ada penjelasannya dalam Agama Islam.

Allah berfirman:

مَّا فَرَّطْنَا فِى ٱلْكِتَـٰبِ مِن شَىْءٍۢ ۚ

Tiadalah kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab” (QS. Al-An’am: 38)

Tiadalah yang kami terlantarkan dalam Al-Quran, pasti ada penjelasannya. Tidak ada sebuah kebaikan kecuali telah ditunjukan oleh Nabi kepada ummatnya. Dan tidak ada sebuah kejelekan kecuali telah Nabi peringatkan kejelekan itu, agar jangan sampai menimpa dan membahayakan ummatnya.

Dalam shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin Ash Radhiallahu Anhuma, beliau berkata:

Sehingga semuanya telah lengkap dijelaskan.

Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌۭ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةًۭ طَيِّبَةًۭ ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ٩٧

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik  dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Allah berfirman:

طه ١مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ ٢

Ṭāha, Kami tidak menurunkan Al-Qur`ān ini kepadamu agar kamu menjadi susah” (QS. Taha: 1-2) 

Sehingga tidak ada cerita ketika Al-Qur’an turun, membuat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjadi sengsara. Dengan kata lain agama ini turun untuk membawa kebahagian bagi pemeluknya.

Dalam salah satu buku Syeikh Al-Ustaimin di ceritakan mengenai seorang kafir dan ‘alim bertemu di sebuah rumah makan. Orang kafir mengatakan bahwa katanya dalam agama Islam semua telah dijelaskan. Orang ‘Alim berkata: iya semua telah dijelaskan. Orang kafir berkata, kalau begitu terangkan semua makan yang ada di depanmu terbuat dari apa, diaman dalam Al-Qur’an dijelaskan. Kata orang ‘alim berkata iya, kemudian dipanggil juru masaknya. Kemudian menanyakan ini makanan terbuat dari apa? Juru masak menjelaskan semua bahan makanan tersebut. Kemudian orang ‘Alim itulah di dalam Al-Qur;an Allah berfirman:

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kalian tidak mengetahuinya” (An-Nahl: 43)

Sehingga dalam segala hal ada tuntunannya. Apakah penjelasan dari sebuah ayat atau kandungan langsung pada ayat atau tidak langsung, tersirat, tersurat, umum dan khusus. Allah berfirman:

مَّا فَرَّطْنَا فِى ٱلْكِتَـٰبِ مِن شَىْءٍۢ ۚ

Tiadalah kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab” (QS. Al-An’am: 38)

Wallahu Ta’alla ‘Alam