Kitab Manzhumah Mimiyah – Pendahuluan

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab 1 Pendahuluan, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses pada link berikut: Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3, dan Bagian 4.

Kitab Manzhumah Mimiyah, Karya Syaikh Hâfizh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullâh, Memuat seputar wasiat dan adab ilmiah.

Judul dan Isi Buku

Buku ini berjudul Al-Manzhumah Al-Mimiyah. Al-Manzhum artinya syair sedangkan Mimiyah adalah yang berakhiran dengan huruf mim. Syair-syair dalam buku ini termasuk yang luas dan serius.

Isi buku tentang wasiat dan adab-adab dalam menuntu ilmu, sebagai berikut:

Bab 1 Pendahuluan Penulis

Bab 2 Keutamaan Ilmu

Bab 3 Intisari Wasiat untuk Penuntut Ilmu

Bab 4 Wasiat agar Berpegang dengan Kitab Allah ‘Azza wa Jalla

Bab 5 Wasiat agar Berpegang dengan Sunnah

Pasal Tentang Ilmu Faraidh dan Ilmu Alat serta Peringatan terhadap Bahaya Ilmu-Ilmu Ahli Bid’ah

Penutup: Seputar Hasil Ilmu yang Bermanfaat dan Memetik Buah-Buahnya yang Dekat Lagi Matang

Penulis Buku

Penulis buku ini nama lengkap nya adalah Syaikh Hâfizh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullâh. Beliau berada di wilayah selatan Jazan. Lahir pada tanggal 24 Ramadhan 1342H. Beliau baru mulai belajar pada usia muda. Hafal Al-Qur’an di usia muda. Ketika kedua orang tuanya meninggal barulah beliau konsentrasi penuh untuk menuntut ilmu. Guru beliau As-Syaikh Abdulah Al-Qarawi.

Dikenal dengan beberapa akhlak:

  • Zuhud dan wara, lebih mengutamakan kehidupan akhirat dari pada dunia.
  • Ikhlas dalam belajar
  • Semangat dalam mengamalkan ilmu
  • Kuat dalam hafalan dan cepat memahami. DItugasi menjadi imam oleh gurunya Al-Qarawi disuatu mesjid. Dimana sebelumnya beliau belum hafal Al-Quran. Beliau menghafal 1 Juz satu hari dan malamnya menjadi imam pada Juz tersebut. Sehingga dalam waktu satu bulan Ramadhan beliau hafidz Al-Qur’an 30 Juz.

Beliau mengajar di madrasah salafiyah, menjadi mudir madrasaha tsanawiyah, mudir ma’had al-ilmi.

Beliau wafat pada usia 35 tahun dan 3 bulan, tepatnya tanggal 8 Dzulhijah 1377.

Bab 1 Pendahuluan

Bismillahirahmanirahim

Dimulai dengan basmallah. Ini mengikuti Al-Quran yang dimulai dengan bisimillahirahmanirahim, dengan menyebut nama Allah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Yang maha merahmati lagi maha mengasihi.

Bait syair 1 – 6

Bait Syair 1: Segala puji hanya untuk Allah, Rab semesta alam, terhadap segala nikmat-nikmatNya, karunia-karunia-Nya dan dialah Allah yang maha berhak, maka memiliki segala pujian dan segala nikmat.
Bait Syair 2: Diterangkan beberapa sifat dan nama Alllah: Yang maha memiliki kekuasaan, maha satu, yang seluruh makhluk kembali (perlu) kepadaNya. Yang maha sempurna dzatnya (tidak beranak dan tidak diperanakan). Yang maha baik, yang maha menyaksikan (mengawasi, maha mengetahui segala perkara). Mubdii kholqi min adami: Yang mengadakan makhluk dari tidak ada.
Bait Syair 3: Man ‘alamanasa ma laya’ lamuna: dia Allah yang menagjarkan manusia, apa yang sebelumnya mereka tidak ketahui. Wabil bayani anthaqohum: dan Allah membuat manusia ini berbicara dengan bayan (bisa menerangkan). Wal khathi bil qalami: dan Allah Subhanahu wa Ta’ala membuat mereka bisa menulis dengan pena.
Bait Syair 4: Tsuma shalata ‘ala mukhtar kaimi: Kemudian shalawat kepada nabi yang terpilih, utusan yang paling mulia. Bi khairi hudan: dan diutus dengan petunjuk yang paling baik. Fii fadholi umami: pada umat yang paling afdol.
Bait Syair 5: Wal ali wasahbi wal anbai’ qathibatan: Demikian pula sholawat ditujukan pula kepada keluarga Nabi dan sahabat-sabahabatnya dan seluruh pengikutnya. Watabi’na bi ihsani linahwanini: dan orang-orang yang mengikuti manhaj mereka dengan baik.
Bait Syair 6: Malaha najum wama syamsa aduha watoa’t: Salawat kepada nabi kelurga sahabat dan pengikutnya. Semoga shalawat itu sepanjang bintang masih bercahaya. Dan sepanjang matahari duha masih terbit. (maksudnya sampai hari kiamat). Demikian shalawat sebanyak bilangan nafas makhluk yang ada di alam ini.

Pembahasan

Ada 8 Pembahasan berkaitan dengan bait syair 1 – 6:

Pembahasan Pertama: Makna Alhamdu Wahlul Hamdi Wani’ami

Dimulai dengan Alhamdulillah, mencontoh Al-Qur’an, dimana surat Al-Fatihah dimulai dengan Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Penting untuk seorang penuntut ilmu, selalu memuji Allah. Dikarenakan telah diberikan taufik, diberikan kesempatan untuk belajar, hadir di majelis ilmu. Ini adalah nikmat yang sangat besar.

Sehingga untuk para penuntut ilmu yang pertama diucapkan adalah bersyukur pada Allah, Alhamdulillah. Kemudian yang kedua selalu menganggap bahwa dirinya diberi nikmat oleh Allah (dan seluruh manusia diberi nikmat oleh Allah).

Definisi Alhamd (Ibnu Qoyim) adalah pengabaran tentang kebaikan-kebaikan Allah Ta’alla yang dipuji. Disertai kecintaan, pengangungan, dan pembesaran terhadap-Nya. Kalau hanya dipuji saja tanpa disertain kecintaan dan pengagungan, itu bukan hamd. Seperti Singa pemberani ini adalah madh, pujian. Ketika kita katakan singa pemberani, bukan berarti kita cinta singa. Ada alif lam dalam alhamd artinya seluruh pujian hanya milik Allah dan keberhakan Allah Ta’a’lla. Asmaul husna Al-Hamid: yang maha terpuji.

Alhamd ada dua jenis (dari Ibnu Taimiyah):

  1. Hamd pujian kepada Allah karena kebaikan (nikmat dan karunia) Allah pada hambanya. Ini bagian dari syukur.
  2. Hamd pujian yang merupakan hak Allah Ta’alla untuk diriNya, berupa sifat-sifat kesempurnannya. Ini hanya milik siapa yang berhak memilikinya yaitu Allah Ta’alla.

Dalam bait syair yang pertama disebutkan dua jenis hamd, diawal dan diakhir. Diawal berupa pujian kepada Allah atas nama dan sifatnya, sedangkan di akhir adalah pujian kepada Allah atas nikmat yang diberikan.

Makna Ahlul Hamd artinya dialah yang berhak, yang paling layak memiliki pujian itu.

Pembahasan Kedua: terkait dengan beberapa nama dan sifat yang disebutkan oleh penulis pada bait syair ke-1 dan ke-2.

Alhamdulillahi, segala puji bagi Allah. Ini adalah nama yang terbesar bermakna yang diibadahi (Al-Ma’bud) penuh kecintaan, pangagungan dan pembesaran.

Nama Allah, dalam ayat ini dikatakan semua asma ul husna adalah milik (kembali kepada) Allah. Nama Allah ini selalu berulang dan paling banyak dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 2360 kali.

Nama Rabil ‘alamin, banyak berulang dalam Al-Qur’an. Orang Arab menggunakan nama Ar-Rab ada tiga penggunaan: memperbaiki sesuatu, maha menguasai (memiliki) dan pemimpin yang ditaati.

Sifat Dji mulki dan Djil malaakut, artinya yang maha memiliki kekuasaan. Sifat Allah memilki kekuasaan. Al-Mulk artinya berkuasa (memiliki). Al-Malakut artinya lebih dari pada itu.

Al-Mulk ada tiga makna:

  1. Penetapan sifat kepemilikan bagi Allah Ta’ala dan kekuasaan yang menunjukan sifat keagungannya, kesempurnannya dan kebesarannya.
  2. Seluruh makhluk adalah milik Allah dan hambanya semuanya fakir kepada Allah Ta’alla.
  3. Allah maha berjalan ketentuannya. Apa yang diatetapkan itulah yang berjalan, apa yang dia inginkan itulah yang berlaku. Dia lah yang memberi dan Dia pulalah yang menahan. Dia yang merendahkan dan dia pulalah yang meninggikan. Dia yang menghamparkan dan Dia pulalah yang menahan. Dia yang menghidupkan dan Dia pulalah yang mematikan.

Dalam Al-Qur’an (pembahasan asma ul husna) ada tiga nama yang mengandung sifat Al-Mulk: Al-Maalik (maalikiau middin), Al-Malik (malikinnas), Al-Maliik. Contohnya dalam Al-Qur’an: Maalikiau middin, Malikinnas, ‘Inda maliikin muqtadir. Maknanya kembali pada Al-Mulk.

Nama Al-Wahid, artinya yang maha satu. Maksudnya Allah subahanahu wa ta’ala yang bersendirian degan sifat kebesaran, keagungan, keelokan dan kekuasaan. Allah maha satu pada dzat-Nya, tidak ada yang semisal dengannya. Maha satu pada sifat-sifatNya, tidak ada yang serupa denganNya. Maha satu didalam perbuatanNya, tidak ada serikat bagiNya. Maha satu didalam uluhiyahNya (ibadah), tidak ada tandingan untukNya. Maha satu didalam segala kesempurnaan, keagungan, dan kebesaran.

Nama As-Shomad, disebutkan dalam Al-Qur’an 1 kali, di surah Al-Ikhlas. Dari sisi penggunaan menurut ahli tafsir dan bahasa, As-Shomad dalam bahasa Arab kadang digunakan dalam bahasa as-sayid ul adzim (tuan yang maha besar). Kadang digunakan suatu yang tidak ada cela padanya. Maha sempurna: tidak minum, tidak makan, tidak beranak, tidak diperankan, dan tidak ada yang keluar dariNya sesuatu apapun. Karena itu sebagian ulama menafsirkan As-Shomad sebagai lam yalid walam yu lad. Sebagian ulama mengartikan as-shomad, bahwa dialah yang dimaksudkan pada segala keperluan, kepadaNya lah seluruh makhluk itu bergantung. Ada pula yang menafsirkan seluruh makhluk kembali padaNya, menyandarkan hajat kepadaNya.

Nama Al-Bari, secara bahasa adalah yang berbuat baik kepada makhluk dan memperbaiki keadaan mereka. Ibnu Jair menngartikan yang lembut kepada hamba-hambaNya. Ibu Qoyim mengatakan kebaikann Allah subhanahu wa ta’la itu artinya sangat banyak kebaikan-kebaikan dan kedermawannya. Al-Bari ada dua jenis: sifat dan perbuatan. Dialah Allah subhanahu wa ta’la yang maha baik, selalu memberikan kebaikan.

Nama Al-Muhaimin, dalam Al-Qur’an disebutkan satu kali di Surat Al-Hasyr. Asal katanya dari Mu’taman yang bermakna terpercaya. Ada juga yang mengatakan artinya yang selalu mengawasi dan menjaga. Ada juga yang mengartikan As-Sahid yang maha menyaksikan. As-Sai’di mengartikan lebih mendalam lagi yaitu yang maha melihat perkara-perkara yang tersembunyi, maha mengetahui sudut-sudut yang tersimpan didalam dada, dan ilmu nya meliputi segala sesuatu.

Nama Mubdi Al-Khalq, dalam Al-Qur’an:

Banyak dalam Al-Qur’an dari keyakinan bahwa Allah yang mengadakan makhluk dari tidak ada menjadi ada.

Pembahasan Ketiga: Ada tiga nikmat disebutkan dalam sifat Allah

Nikmat tesebut adalah:

  • Dialah yang mengajari manusia, apa yang mereka tidak ketahui

Maka nikmat ini selalu kita ingat, tidak ada manusia dilahirkan langsung jadi alim. Tapi tadinya dia tidak tahu kemudian Allah memberikan pengajaran kepadanya:

  • Dialah yang membuat manusia berbicara dengan bayan (bisa menjelaskan)

Sebagaimana manusia bertingkat-tingkat dalam ilmu, demikian pula mereka berjenjang dalam bayan (penjelasan).

  • Dialah yang membuat manusia menulis dengan pena.

Dari surat Al-Alaq hanya disebut satu yaitu mengajarkan dengan pena karena tidak tergambar pengajaran dengan pena, ada yang ditulis sedangkan tidak ada sesuatu yang akan ditulis. Artinya ini sudah mencakup mengajarkan berbicara dengan ilmu, dan menyimpan ilmu itu. Dan kemudian baru bisa ditulis.

Pembahasan Keempat: Makna shalawat kepada Nabi, Sahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik

Bait 4: Kemudian shalawat selalu tercurah kepada Al-Mukhtar (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) yang merupakan sebaik-baik yang diutus, membawa petunjuk yang paling baik pada umat yang terbaik.

Bait 5: Demikian pula shalawat kepada keluarga beliau (istri-istri Nabi), para sahabat, pengikut sahabat (tabi’in) seluruhnya, demikian pula para tabi’in yang mengikuti manhaj mereka dengan ihsan.

Pengertian mengikuti manhaj dengan ihsan: mengikuti sangat detail dengan sempurna.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.

Shalawat, shalawat Allah untuk nabi artinya pujian Allah kepada hamba dihadapan para malaikat diatas langit.

Bait 6: Shalawat ini sepanjang bintang masih bersinar dan sepanjang matahari duha masih terbit. Dan shalawat sebanyak nafas makhluk yang berada jagat semesta ini.

Pembahasan Kelima: Beberapa sifat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Disebutkan dua sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: Al-Mukhtar (yang terpilih) dan Akramu Mab’usin (utusan yang paling mulia).

Al-Mukhtar memiliki makna yang sama dengan sifat nabi yang lain: Al-Mustafa, Al-Mujtaba, sayyidul ambiya warmusalim, sayidul waladi adam, khatamul ambiya wal mursalin.

Semua orang Arab keturunan Nabi Ismail, dari banyak suku-suku Arab dipilih bani Kinanah. Bani Kinanah ini memiliki banyak kabilah dibawahnya, salah satu nya Quraish. Kemudian orang-orang Quraish dibawahnya ada banyak kabilah, salah satu kabilahnya adalah Bani Hasyim.

Sebagaimana hadist riwayat Imam Muslim dari Washil Ibnu Astqo, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, Quraish dipilh dari Kinanah, Bani Hasyim dipilih dari Quraish. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘ailai wasallam terpilih dari Bani Hasyim.

Pembahasan Keenam: sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Petunjuk yang paling baik, sesuai sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadist riwayat Muslim:

Pembahasan Ketujuh: Umat yang paling afdhol

Umat islam adalah umat yang terbaik sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, dalam hadist Bahast bin Hakim:

Umat islam adalah umat yang ketujuh puluh dan mereka adalah umat yang paling baik dan mulia.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Pembahasan Kedelapan: Sisi kesesuaian hubungan pendahuluan penulis dengan isi syair

Dalam sastra Arab biasanya seorang penulis, ketika akan bicara, disampaikan pendahuluan berupa kata-kata yang mengesankan dengan apa yang akan dibicarakan. Yang demikian disebut dengan keindahaan pendahuluan.

Sisi hubungan bait syair di pendahuluan dengan pembahasan ilmu:

  1. Pemujian terhadap Allah, karena ilmu adalah anugrah yang harus disyukuri
  2. Disebut nama-nama Allah, karena semua ilmu terkait dengan Allah
  3. Ilmu merupakan bagian dari kekuasaan Allah
  4. Disebut AL-Wahid (maha satu), karena ciri dari penuntut ilmu (ibnu Qoyim) hanya untuk Allah yang maha satu, jadilah kamu it satu saja (dalam semangat, kehendak), untuk hal yang satu yaitu jalan kebenaran dan keimanan.
  5. As-Shomad, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tempat bergantung pada siapa yang ingin meraih ilmu.
  6. Al-Bar (maha baik), karena ilmu itu bagian dari kebaikan Allah kepada hamba
  7. Al-Muhaimin, diingatkan seorang penuntut ilmu akan ikhlas dalam belajar, semangat karena Allah melihatnya
  8. Mubni Khalaq Bil adami, perlu diingat bahwa tadinya dia tidak ada, kemudian Allah yang mengadakannya, maka dia tidaklah diadakan sia-sia, pasti ada tujuannya.
  9. Diingatkan tentang nikmat Allah, mengajari yang tidak diketahui.
  10. Penjeasan pentingnya bayan, penulisan.
  11. Disebutkan pilihan sifat-sifat Nabi diantaranya: Al-Mukhtar (dipilih), Akrami Mab’ustin. Agar supaya kita tahu bahwa, ketika belajar adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah mengenal agamanya.
  12. DIsebutkan beberapa kebaikan dari Umat, petunjuk yang paling baik.
  13. Diingatkan penuntut ilmu harus mengikuti jalan As-Salaf dengan ihsan.

Penulis memilih kata-kata di bait syair pendahuluan ini, dimana semuanya berkaitan dengan pembahasan yang akan dikaji wasiat seputar ilmu dan adab-adab ilmiah.

Wallahu A’lam

Motivasi Agar Khusyu’ Dalam Shalat – Bagian 5

Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
Bab Motivasi Agar Khusyu’ Dalam Shalat

Tambahan hadist mengenai shalat khusyu:

Hadist mengenai Niat dalam beribadah

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim Dari Umar bin Khattab radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan (ganjaran) sesuai niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu karena mengharapkan kesenangan dunia atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijarahnya itu hanya mendapatkan apa yang ditujunya.”

Hal-hal penting dari hadist:

  • Segala amal itu tergantung pada niatnya
  • Niat menjadi syarat utama dalam beramal
  • Tidak boleh mengucapkan niat, cukup dihati saja
  • Hindarkan riya’ dalam beramal dan beribadah, karena riya’ dapat merusak pahala keduanya
  • Jagalah hati jangan sampai lalai
  • Hijrah dari negeri yang lebih banyak orang musyriknya menuju negeri yang islami merupakan ibadah yang sangat besar pahalanya bila diniatkan karena Allah Ta’alla.

Dua bentuk riya’:

Pertama: Riya’ mahdhah (murni riya’) yaitu beramal semata-mata ingin mendapatkan keuntungan duniawi, pujian dan sanjungan. Yang seperti ini layak mendapat hukuman dari Allah

Kedua: Beramal karena Allah lalu di iringi riya’, Dalil-dalil yang shahih menjelaskan bahwa beramal seperti ini akan menghapuskan pahala amal yang telah dilakukannya.

Hadist mengenai berwudhu sebelum shalat

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu’, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak menerima shalat seseorang diantara kalian jika ia berhadast sampai ia berwudhu”.

Hal-hal penting dari hadist:

  • Shalat orang yang berhadast tidak diterima kecuali setelah ia suci dari hadast kecil dan besar.
  • Maksud dari kata “Allah tidak menerima …” yaitu tidak sah sholatnya dan tidak ada pahalanya.
  • Hadast itu membatalkan wudhu dan membatalkan shalat jika terdapat di dalam shalat.
  • Hadist ini menunjukan bahwa syarat shanya shalat adalah dengan bersuci.

Wallahu A’lam

01. Sunah-Sunah Ketika Bangun Tidur

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini catatan kajian mengenai Sunah-Sunah dalam Sehari dan Semalam, Oleh Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Sumber tulisan: Whatsapp Group DzulqarnainMS

Sunnah-Sunnah dalam Sehari dan Semalam 1

Ini adalah jenis-jenis ibadah yang perlu dipelajari karena berlalu pada keseharian kita. Suatu hal yang disayangkan apabila umur kita telah berlalu, tidak ada kesempatan, sementara kita melewatkan banyak kebaikan-kebaikan yang harusnya kita pelajari bisa kita amalkan. Seringkali kebaikan-kebaikan ini adalah sesuatu hal yang mudah untuk dikerjakan.

Sunah-sunah Nabi shallalluhu ‘allaihi wa sallam apabila terkumpul lebih dari seribu sunnah.

Sunnah-Sunnah ketika Bangun Tidur

  • Pertama, membaca doa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, jika bangun dari tidur, membaca doa,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا، وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kebangkitan.”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari shahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhuma dan Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, serta oleh Muslim dari shahabat Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma.]

Dalam doa ini terdapat makna-makna yang luar biasa, sebagai berikut:

  • Alhamdulillah: pertama kali bangun, langsung memuji dan menyambung Allah Ta’alla karena ini adalah nikmat yang sangat besar, karena pujian kepada Allah adalah suatu ibadah yang sangat besar.
  • Kita mulai bangun/hidup kita dengan memuji Allah Ta’alla dengan ucapan Alhamdulillah. Sebagaimana Al-Qur’an dimualai dengan Alhamdulillahi rabbil ‘almain dan berbagai surah dimulai dengan Alhamdu.
  • Kita besyukur karena telah dihidupkan setelah diwafatkan. Keadaan tidur bisa dibahasakan pula dengan wafat kecil, sedangkan apabila ruh telah keluar dari jasadnya maka itu disebut wafat besar.

Juga Nabi shalllahu ‘alaihi wasallam membaca,

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي فِي جَسَدِي، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوحِي، وَأَذِنَ لِي بِذِكْرِهِ

“Segala puji bagi Allah yang memberikan afiat untukku pada jasadku dan mengembalikan ruhku serta mengizinkanku untuk berdzikir kepada-Nya.”

[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.]

Dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan,

مَنْ تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ فَقَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي أَوْ دَعَا اسْتُجِيبَ لَهُ، فَإِنْ تَوَضَّأَ قُبِلَتْ صَلَاتُهُ

“Siapa saja yang bangun dari malam hari kemudian berkata,
‘Tiada yang berhak diibadahi, kecuali Allah semata, tiada serikat bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu. Segala puji bagi Allah, Maha Suci Allah. Tiada sembahan yang hak kecuali Allah, dan tiada daya dan upaya kecuali hanya pada Allah,’
kemudian dia berkata, ‘Ya Alllah, ampunilah saya,’
atau dia berdoa, akan dikabulkan untuknya. Kalau dia berwudhu (untuk shalat), akan diterima shalatnya.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dari hadits Ubadah bin Ash-Shamid radhiyallahu ‘anhu.]

  • Kedua dan Ketiga, mengusap muka dengan tangan guna menghilangkan rasa kantuk dan membaca sepuluh ayat terakhir surah Ali ‘Imran.

Abdullah bin Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah bermalam di rumah bibinya, Maimunah Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu ‘Abbas bercerita,

اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ الْآيَاتِ الْخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjaga, kemudian beliau mengusap tidur dari wajahnya dengan tangannya, lalu beliau membaca sepuluh ayat penutup dari surah Ali ‘Imran (ayat 190-200).”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

  • Keempat, bersiwak.

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ.

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika terbangun dari malam hari, beliau menggosok mulutnya dengan akar siwak.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhary dan Muslim]

Mafatihul ‘Ilm – Kunci-Kunci Ilmu Syar’i

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Marhaban bi tholibil Ilmi

Selamat Datang Wahai Penuntut Ilmu

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Pembukaan – Kuliah Mafatihul ‘Ilm, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Kajian ini adalah pembuka kuliah berseri Mafatihul ‘Ilm yaitu membahas kunci-kunci ilmu syar’i.

Mempelajari Ilmu terbagi dua: Ilmu Fard ‘Ain, dan Ilmu Fard Kifayah.

Ilmu Fardu ‘Ain, wajib atas setiap muslim dan muslimah untuk mempelajarinya. Dengan ilmu ini akan dimudahkan ketika menghadapi kondisi dirinya diberbagai hal yang memang dijalani oleh setiap muslim dan muslimah. Seperti kondisi berikut:

  • Ketika sakaratul maut, dimana seseorang berupaya berucap la ilaha ilallah. Bagaimana bisa dia berucap kalimat tersebut tanpa mempelajari makna dari la ilaha illallah.
  • Di alam kubur ditanya dengan tiga pertanyaan: siapa Rabmu?, siapa Nabimu?, dan apa agamamu?. Semua orang akan menjawab sesuai dengan apa yang dia pelajari, dia yakini, dan dia amalkan. Ada yang ditanya tapi jawabannya: ha.. ha.. saya tidak tahu, saya hanya mendengar manusia berucap sesuatu, maka saya juga ikut-ikutan mengucapkannya.
  • Wajib mengetahui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: siapa beliau, apa kewajiban terhadap Rasulullah.
  • Wajib mengenal agamanya, ada kewajiabn sehari-semalam seperti shalat 5 waktu, puasa, zakat, haji.
  • Apabila seseorang berbisnis maka wajib untuk mempelajari hukum-hukum seputar Riba.

Hal tersebut diatas akan ditanyakan, kita harus siap dengan jawabannya. Di hari kiamat, Allah bersumpah “Demi Rabmu wahai Muhammad, sungguh kami akan bertanya kepada manusia-manusia itu semuanya. Tentang apa yang mereka kerjakan”.

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, sehingga Allah akan mempertanyakan kewajiban ibadahnya. Sebagaimana manusia hidup didunia ini, tidak dibiarkan begitu saja tanpa ada hisab dan perhitungan. Allah berfirman “Apakah kalian menyangka kalian menciptakan kalian sia-sia dan tidak akan kembali pada kami?”

Dalam program Mafatihul ‘Ilm ini akan dikaji buku-buku yang terdapat penjelasan dari kunci-kunci ilmu yang menutupi seluruh kadar kewajiban (Fard ‘Ain) itu. Apabila ini semua telah dipelajari, maka itu tahap awal yang menutupi kewajiban tersebut.

Kurikulum Mafatihul ‘Ilm

Kurikulum kuliah Mafatihul ‘Ilm terdiri dari 26 Kitab yang mencakup: Aqidah dan Manhaj, Tafsir, Ushul Tafsir dan Tajwid, Fiqih, Ushul Fiqih, Qawaid Fiqhiyah, Maqashid Syariah, Hadits, Musthalah Hadits, Adab, dan Akhlak, Bahasa Arab dan Sirah.

Kuliah ini diawali dengan pembahasan wasiat dan adab dalam menuntut ilmu dan keutamaan islam:

01. Kitab Manzhumah Mimiyah

02. Kitab Fadhlul Islam – Keutamaan islam

Setelah itu dilanjutkan dengan 10 kitab aqidah yang diberi tema tersendiri yaitu: “Silsilah akidah yang menyelamatkan dari api neraka”. Kurikulum ini sudah dianggap baik oleh Fadhilatus Syaikh Shalih al-Fauzan hafidzahullah. Sebagai berikut:

03. Kitab Al-Qawa’idul Arba’ah – Mengenal Empat Kaidah

04. Makna La Ilaha Illallah

05. Penjelasan Makna Thagut

06. Kitab Sittah Mawadhi’ Minas Sirah – Enam Pelajaran Aqidah dari Sirah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

07. Kitab Al-Ushulus Sittah – Enam Pokok Agama

08. Kitab Tsalatsatul Ushul – Menjawab Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur

09. Kitab Tauhid – Memunikan Ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

10. Kitab Nawaqidhul Islam – Mengenal Pembatal-Pembatal Keislaman

11. Kitab Kasyfusy Syubhat – Menyingkap Syubhat-Syubhat seputar Tauhid

12. Kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah

Setelah itu dilanjutkan dengan materi berikut:

13. Manzhumah As-Syair Ilallah Wa Darul Akhirah

14. Ringkasan Fikih Syafi’iy matan Abu Syuja’

15. Ulumul Qur’an – Manzumah-Az-Zamzamy

16. Tafsir Al Mufasol

17. Musthala Hadits

18. Arbain Nawawiyah

19. Ushul Fiqh

Manfaat besar yang ingin dipetik dari kuliah Mafatihul ‘Ilm

1. Mengangkat kewajiban-kewajiban dari menuntut ilmu Fard’ ‘ain

2. Terdapat kaidah-kaidah penting yang merupakan solusi untuk segala masalah yang menimpa umat. Terdapat penyelamat dari pintu-pintu fitnah.

3. Membangun pondasi ilmiah

Ini adalah bentuk dari bagaimana seseorang itu membuat pondasi ilmiah untuk dirinya. Karena siapa yang mengambil ilmu itu dari sumber yang benar, jalan yang telah dijalani oleh para ulama, maka ia akan mapan diatas ilmu, tegar diatas jalan.

Beberapa perkataaan ulama As-Salaf:

  • Siapa yang mengambil ilmu dari mata air ilmu, maka dia akan stabil dan lurus, dan siapa yang mengambil dari lautan ilmu, maka dia akan goncang dan tidak tetap. Sebab kalau diliat lautan ilmu itu banyak, ngga bisa dia kumpul semuanya. Maka harus dipilih dari ilmu itu kadar yang paling bagusnya. Ambil initisarinya, ambil dari pokoknya, dasar2nya, kaidah2nya. Pondasi yang membangun dasar ilmiah didalamnya. Apabila mengambil dari segala sudut, ini bukan jalan yang benar. Walaupun ada faedah tapi tidak membentuk sebuah bagunan ilmiah pada dirinya.
  • Dari Ibnu Taimiyah rahimahullah: Wajib bersama manusia itu memilliki dasar-dasar yang universal (bisa mencakup seluruh pembahasan), sehingga yang cabang-cabang itu dikembalikan ke dasarnya. Supaya dia berbicara ilmu dan keadilan. Kalau tidak dia akan berada dalam kedustaan dan kejahilan. Maka lahirlah kerusakan yang besar.
  • Dari Zarkasih rahmiahullah, mengenai pintu penjelasan ilmu: seorang yang bijaksana apabila ingin belajar, ingin mengajar, maka dia harus mengumpulkan dua bentuk penjelasan: yang bersifat global dan yang bersifat rinci. Yang secara global adalah untuk menyemangati dalam belajar sedangkan rincian yang membuat jiwa itu tenang. Apabila memahami globalnya, maka akan memudahkan dalam mempelajari rincian secara tepat.
  • Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu: orang yang mengajari yang Ilmu yang kecil dahulu, sebelum ilmu yang besar.
  • Mengambil dari dasar-dasar ilmiah yang mengumpulkan dan menyatukan ilmu inti yang dipelajari inilah makna mengambil dari mata air ketika belajar
  • Seorang penyair: “Ilmu itu tidak akan didapatkan seluruhnya oleh satu orang saja, walaupun dia belajar selama 1000 tahun. Ilmu itu lautan yang sangat dalam, karena itu ambilah dari segala sesuatu yang paling indahnya dan baiknya.”
  • Termasuk kekeliruan seorang penuntut ilmu yang belum membangun pondasinya secara benar, belum mengambil dari kunci2 ilmu, langsung melompat ingin mengambil hal yang besar.
  • Sebagaian As-Salaf: “makanan orang besar itu, racun untuk anak kecil”.
  • Ketika belajar harus memiliki kaidah yang menyebabkan dia memiliki pondasi dan dasar.

4. Ketika sudah mengenal usul ilmu kemudian masuk kecabang-cabangnya.

Dalam belajar itu bertingkat-tingkat. Seperti kitabnya Ibnu Qodamah yang menulis 4 kitab. Dimana kitab tersebut ada tingkatannya seolah-olah: untuk tingkat SD, SMP, SMA, dan perkuliahan. Tingkatan kitab beliau adalah sebagai berikut:

  • Kitab pertama, berisi kumpulan kesimpulan fiqih dari satu pendapat saja,
  • Kitab kedua, berisi kesimpulan dari fiqih, ditambah pendapat kedua
  • Kitab ketiga, bersisi seluruh pendapat didalam madzhab Imam Ahmad rahimahullah.
  • Kitab keempat: berisi perbandingan madzah Imam Ahmad dengan imam yang lain.

5. Akan mengenal keindahaan islam

Membuat hidupnya tenang. Ketika ada fithah, dia tahu sebab terjadinya apa, kenapa seperti itu, dan dia punya solusi untuk hal tersebut. Ada pijakan ilmu yang dijadikan dasar.

Wallahu A’lam.

Kaum Yahudi menganggap akhirat milik mereka, tetapi mereka takut kematian dan terlalu cinta kehidupan dunia.

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah tafsir Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 94-96, oleh Syaikh Abdurahman bin Nashir as-Sa’di. Dalam ayat ini dijelaskan mengenai kaum Yahudi yang beranggapan bahwa akhirat (surga) adalah milik mereka. Akan tetapi mereka takut akan kematian dikarenakan mereka mengetahui telah berbuat kekufuran dan kemaksiatan. Selanjutnya dijelaskan mengenai sifat kaum Yahudi yaitu kecintaaan yang begitu besar terhadap kehidupan di dunia. Sehingga mereka menginginkan suatu hal yang paling mustahil, yaitu ingin diberi umur seribu tahun.

Tafsir Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 94-96

Tafsir Al-Qur’an, oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di

Katakanlah, “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilahkematian(mu), jika kamu memang benar.
Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.
Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Ayat 94: Kaum Yahudi menganggap akhirat itu untuk mereka, tapi ketika ditantang kematian, mereka menolaknya.

“Katakanlah” kepada mereka dalam bentuk membenarkan pengakuan mereka “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat itu.” maksudnya surga, “khusus untukmu di sisi Allah bukan untuk orang lain”, sebagaimana yang kalian klaim bahwasannya tidaklah akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani, dan bahwasannya neraka tidaklah akan menyentuh mereka kecuali hanya dalam waktu yang dapat dihitung saja, maka bila kalian benar dalam pengakuan ini, “maka inginilah kematian(mu)”.

Ini adalah suatu bentuk mubahalah (saling mendoakan agar orang yang dusta dilaknat Allah) antara mereka dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak ada lagi setelah pemaksaan dan tekanan bagi mereka setelah kedurhakaan mereka kecuali salah satu dari dua perkara, pertama mereka beriman kepada Allah dan RasulNya, atau kedua, bermubahalahlah dengan sesuatu yang mereka jadikan sebagai pedoman untuk dipertaruhkan dengan perkara yang ringan yaitu keinginan untuk mati yang akan menyampaikan mereka kepada negeri yang khusus bagi mereka tersebut.

Namun mereka tolak hal tersebut, sehingga setiap orang dapat mengetahui bahwa mereka itu hakikatnya benar-benar dalam kondisi durhaka dan menentang Allah dan RasulNya padahal mereka mengetahui hal tersebut. Oleh karena itu Allah berfirman,

Ayat 95: Kaum Yahudi takut akan kematian karena kekufuran dan kemaksiatan mereka

“Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri)” disebabkan kekufuran dan kemaksiatan, karena mereka sangat mengetahui bahwa hal itu adalah jalan bagi mereka kepada pembalasan atas perbuatan-perubatan mereka yang buruk, maka kematian itu adalah suatu perkara yang paling mereka benci, dan mereka adalah orang yang paling rakus terhadap kehidupan dibanding setiap manusia hingga dari kaum musyrikin yang tidak beriman kepada salah seorang Rosul oun dari para Rasul dan kitab-kitab. Kemudian Allah menyebutkan tentang sifat cinta mereka yang begitu besar terhadap kehidupan dunia seraya berfirman,

Ayat 96: Kaum Yahudi ingin hidup seribu tahun dikarenakan kecintaan yang begitu besar terhadap kehidupan dunia.

“Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun”. Hal ini, adalah lebih dalam makna-nya dari sekedar ketamakan, di mana mereka berkhayal tentang suatu hal yang paling mustahil di antara hal-hal yang mustahil, walaupun faktanya bila mereka diberikan kehidupan sebanyak yang disebutkan dalam ayat ini, tetap saja tidak ada gunanya sama sekali bagi mereka, dan tidak juga menyelamatkan mereka dari azab. “Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”. Ini adalah sebuah ancaman bagi mereka dengan adanya pembalasan terhadap perbuatan-perbuatan mereka.

Wallahu A’lam

Perbandingan antara Musyrikin Masa Dahulu dan Masa Sekarang

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Makna La Illaha Illallah – Perbandingan antara Musyrikin masa dahulu dan masa sekarang, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Kitab Makna La Ilaha IllallahPenulis: Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimiy Rahimahullah

Perbandingan antara Musyrikin masa dahulu dan Masa Sekarang

Kaum musyrikin masa dahulu paham makna la ilaha illallah. Tidak perlu ditafsirkan, mereka mengerti bahwa makna la ilaha illallah adalah tiada tuhan yang layak disembah yang hak kecuali Allah. Karena itu mereka sepontan menjawab apakah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak untuk menyembah hanya satu saja? Mereka bilang ini suatu hal yang menakjubkan.

Berbeda dengan kaum musyrikin masa sekarang, sudah berbuat kesyirikan, mereka juga salah memahami makna la ilaha illallah.

Kami menutup perkataan dengan menyebutkan suatu ayat yang Allah firman dalam kitab-Nya yang menjelaskan bahwa kekafiran kaum musyrikin dari penduduk zama kita lebih besar daripada kekafiran oran-orang yang Rasulullah perangi.

Allah Ta’alla berfirman dalam Surat Al-Isra Ayat 67:

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru, kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.

Apabila mereka ditimpa oleh bahaya dilautan, maka hilang lah segala yang mereka sembah, kecuali Allah. Begitu diselamatkan kedaratan kalian berpaling lagi. Arti lautan adalah penggambaran di kondisi susah. Sedangkan daratan digambarakan ketikan kondisi lapang.

Dizaman sekarang orang yang berilmu ketika ditimpa musibah, mereka memohon perlindungan kepada selain Allah, seperti: Ma’ruf dan Abdul Qadir Al-Jailany dan kadang kepada yang lebih dari itu seperti Zaid bin Al-Khattab dan Zubair, malah lebih lagi dari pada itu yaitu Rasulullah.

Zaid bin Al-khattab adalah saudaranya Umar bin Al-Khattab radhiallahu ‘anhu, dimasa penulis ada kuburannya yang diagung-agungkan oleh sekolompok orang dimasa itu. Sampai-sampai mereka menyembahnya ya Zaid… ya Zaid. Ketika kesyrikian terjadi, penulis tidak langsung berkata Kafir kepada mereka. Penulis hanya berucap Allah lebih bagus tempat berdoa dari pada Zaid.

Pembahasan:

Pertama: Kekafiran kaum musryikin masa belakangan lebih dahsyat dari masa dahulu

Kedua: Bukti-bukti yang menunjukan hal tersebut.

Wallahu A’lam

Orang-orang yang Berhak Mendapatkan Zakat

Kitab Syarah Riyadhus Shalihin
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah

Bab 5 Muraqabah

Hadist 61 mengenai islam, iman dan ihsan

Rukun Islam ketiga: Membayar Zakat

Orang-orang yang Berhak Mendapatkan Zakat

Zakat diberikan kepada orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah berdasarkan hikmahnya. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah Ayat 9):

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana

Pertama: Orang-orang Fakir

Kedua: Orang-orang Miskin

  • Orang fakir dan miskin adalah mereka yang penghasilannya tidak cukup untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga selama setahun.
  • Diberikan zakat bagi fakir dan miskin untuk mencukupi kebutuhannya selama setahun.

Ketiga: Amil Zakat

  • Amil adalah orang yang ditunjuk pemerintah setempat untuk mengurusi masalah zakat
  • DIberikan zakat kepada amil seukuran gaji mereka.
  • Walaupun para amil kaya, mereka berhak menerima zakat.

Keempat: Para Muallaf

  • Para muallaf hatinya masih lemah, sehingga perlu untuk dibujuk agar ketertarikan kepada islam semakin kuat
  • Diberikan zakat untuk membujuk dan mengutamakan keimanannya.

Kelima: Para Budak

  • Zakat diberikan untuk membeli dan memerdekakan budak.
  • Zakat diberikan untuk membebaskan tawanan kaum muslim yang berada di bawah kekuasaan orang-orang kafir.

Keenam: Orang-orang yang berhutang (Gharim)

  • Gharim adalah orang yang mempunyai tangungan hutang yang banyak, sehingga tidak sanggup membayarnya.
  • Zakat untuk orang yang berhutang, bisa diberikan kepada yang berhutang atau diberikan langsung kepada orang yang memberikan hutang.

Ketujuh: Orang yang berjuang di Jalan Allah

  • Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda “Barang siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah, dialah orang yang berjuang dijalan Allah” (Shahih Al-Bukari 120, 2599 dan Muslim 1904)
  • Berjuang dijalan Allah termasuk orang yang berperang untuk menjaga harta atau rumahnya dan mempertahankan negara Islam dan didalamnya banyak penduduk yang beragama Islam.
  • Uang zakat diperbolehkan untuk membeli senjata karena untuk berjihad di jalan Allah
  • Apabilah ada yang berkata, aku mampu bekerja, tetapi ingin berkonsentrasi (mengasingkan diri) untuk beribadah, shalat, berpuasa, berdzikir dan membaca Al-Qur’an, maka berikanlah kepadaku zakat sehingga aku bebas dari bekerja. Kami katakan kepadanya, kami tidak akan memberimu apa-apa, tetapi bekerjalah.
  • Apabila ada yang berkata, aku ingi mengosentrasikan diri untuk menuntut ilmu, tetapi jika bekerja, aku tidak dapat menuntut ilmu, maka berikanlah aku uang yang dapat mencukupi aku agar aku dapat berkonsentrasi menuntut ilmu. Maka kami katakan, Selamat datang, kami akan mencukupi kebutuhanmu untuk menuntut ilmu.

Kedelapan: Ibnu Sabil

  • Ibnu sabil adalah orang yang berada dalam perjalanan (musafir) yang terputus diperjalanannya dan kehabisan bekal sehingga ia tidak mempunyai ongkos untuk meneruksan perjalanannya menuju ke negerinya.
  • Ibnu sabil diberikan zakat, walaupun ia adalah orang kaya. Karena hal ini bukan berkenaan dengan fakir miskin, tetapi masalah biaya perjalanan untuk sampai ke negerinya.

Inilah kedelapan kelompok yang berhak menerima zakat, dan tidak boleh hukumnya memberikan zakat kepada selain delapan kelompok tersebut. Oleh karena itu tidak boleh memberikan zakat untuk membangun masjid, memperbaiki jalan, membangun madrasah dan kemaslahatan lainnya. Akan tetapi hal-hal tersebut bisa dibiayai dengan jalan lain yakni melalui sedekah, hibah, swadaya dan sebagainya.

Wallahu ‘Alam

Dalil 4: Perintah Bertauhid dan Larangan Berbuat Kesyirikan

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Al-Mulakhkhash Syarah Kitab Tauhid #4, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Al-Mulakhkhash Syarah Kitab TauhidPenulis: Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Hafidzahullah

Bab I Tauhid

Dalil 1: Pendahuluan dan Dalil 1 QS. Adh-Dhaariyat Ayat 56

Dalil 2: Al-Qura’n Surat An-Naml Ayt 36

Dalil 3: Al-Qura’n Surat AL-Isra’ Ayat 23-24

DALIL 4: AL-QURAN SURAT AN-NISA AYAT 36

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnus sabīl1, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,

Firman Allah: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya”

PENJELASAN KATA DALAM AYAT

La tusyriku: jangan kalian berbuat kesyirikan, artinya tinggalkan kesyrikan itu.

Definisi Syirik

Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah, menyatarakan selain Allah dengan Allah pada hal hal-hal yang menjadi kekhususan Allah. Syirik itu dasarnya pokonya berserikat pada makna menyamakan Allah dengan selain Allah baik ucapan, amalan hati, maupun perbuatan.

Penyesalan penduduk neraka, mereka berkata kami menyamakan kalian (yaitu sembahan mereka pada saat di dunia) dengan Allah rabbul ‘alamain, salam surat as syura.

Jenis Syirik

Ada dua Jenis Syirik: akbar (besar) dan asghar (kecil). Keduanya berserikat dalam makna menyetarakan Allah dengan selain Allah.

Contoh syirik akbar: berdoa kepada selain Allah. Doa itu adalah ibadah khusus untuk Allah. Apabila diberikan kepada selain Allah, maka artinya disetarakan antara Allah dan selain Allah. Hal ini membatalkan keislaman.

Contoh syirik asghar: bersumpah dengan selain nama Allah, seperti demi ka’bah. Tidak boleh bersumpah demi ka’bah karena selain Allah. Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh mengulangi syahadatnya kepada yang berkata demikian, ini menunjukan bahwa islamnya tidak batal.

Syai’an: sesuatu apapun. Jangan kamu berbuat kesyirikan dengan sesuatu apapun. Ini adalah perintah umum dalam konteks larangan. Ini berlaku umum mencakup segala macam kesyirikan: kecil dan besar.

Makna ayat secara global

Allah memerintah hambanya untuk beribadah kepadaNya semata dan melarang kesyirikan. Allah tidak mengkhususkan dalam perintah kepadanya pada salah satu jenis ibadah baik shalat, doa atau dan lainnya. Hal ini supaya mencakup semua jenis ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah. Sebagaimana Allah juga tidak mengkhususkan larangnaya pada satu jenis kesyirikan supaya mencakup semua jenis kesyirikan.

Hubungan antara ayat dan bab

Ayat ini dimulai dengan perintah untuk bertahuid dan larangan kesyrikian. Maka ini erat kain dengan makna tafsir tauhid yaitu untuk beribadah hanya kepada Allah dan larangan berbuat kesryikan.

FAEDAH AYAT

Pertama: Kewajiaban meng-esa-kan Allah dalam beribadah.

Allah telah perintahkan kewajiban ini dari awal. Sehingga ini menjadi kewajiban yang paling ditekankan dari seluruh kewajiban.

Kedua: Pengharaman kesyirikan

Allah telah melarang kesyirikan dan ini merupakan hal yang paling diharamkan. Dosa itu bertingkat-tingkat, harus tahu dosa yang paling besar dan harus dihindari. Dosa berbuat syirik (walaupun syirik kecil) adalah yang paling besar dibandingkan perbuatan maksiat.

Ketiga: Menjahui kesyriikan merupakan syarat sah ibadah.

Kesyirikan ini bisa membatalkan ibadah kita sebagaimana hadast yang membatalkan wudhu yang merupakan syaratnya suatu ibadah (shalat). Sehingga kita tidak bisa beribadah saja tanpa mengingkari kesyirikan.

Keempat: Syirik itu adalah haram baik banyak atau sedikit, baik besar atau kecil.

Perintah dalam bentuk larangan untuk tidak berbuat kesyrikan dalam ayat diatas adalah bersifat umum yang meliputi seluruh jenis kesyrikan.

Kelima: Tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam ibadah.

Tidak boleh mmepersekutuakan Allah walaupun dengan para maalaikat dan para nabi, apalagi dengan para wali, berbahala, dan lainnya.

Wallahu ‘Alam

Syubhat Klasik Kaum Musyirikin Masa Kini

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Makna La Illaha Illallah – Perkara yang Memperjelas Makna La Ilaha Illallah, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Kitab Makna La Ilaha IllallahPenulis: Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimiy Rahimahullah

Syubhat klasik kaum musyirikin masa kini

Apabila seorang musyirikin berkata, “Kami mengetahui Allah-lah Yang Mencipta, Maha Memberi Rezeki dan Maha Mengatur Segala Urusan. Namun, orang-orang shalih itu adalah orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) maka kami berdoa kepada mereka, bernadzar untuk mereka, masuk kepada mereka dan meminta perlidungan kepada mereka. Yang kami inginkan dengan hal tersebut adalah kedudukan dan syafa’at, sedang kami memahami bahwa Allah-lah Yang Maha Mengatur Segala Urusan”. Jawablah kepadanya, Bahwa ucapan engkau adalah agama Abu Jahal dan semisalnya.

Syubhat klasik kaum Musyrikin ini sering kita dapati baik dari orang awam maupun dari ulamanya. Kalo dikatakan kenapa berdoa kekuburuan? mereka menjawab jangan samakan kami dengan kaum musyirikin, kami ini mengakui Allah yang mencipta dan memberi rizki. Hanya saja saya ini banyak dosa, ini kiyai yang dikubur ini adalah seorang hamba yang dekat kepada Allah. Ini sama dengan ucapakan kaum musyrikin jaman dahulu.

Kepada yang berkata demikian maka kita jawab: itulah agama Abu Jahal dan semisalnya. Yaitu agamanya kaum musyrikin, tidak ada bedanya.

Merekalah yang berdoa kepada Isa, Uzair, para malaikat, dan wali-wali seraya berkata (dalam Al-Qur’an Surat Az-Zumar Ayat 3):

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), “Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

“Tidaklah kami menyembah mereka, kecuali supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.”

Dan Allah berfirman (tentang mereka) Dalam Al-Qur’an surat Yunus Ayat 18:

Dan mereka menyembah selain dari Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya, baik di langit maupun tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu).

Dan mereka menyembah sesuatu, selain Allah, yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata “Mereka adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”.

Kesempurnaan (pemahaman) ini adalah engkau mengetahui bahwa kaum musyirikin, yang Rasulullah perangi, selalu beribadah kepada orang-orang shalih, seperti malaikat, (Nabi) Isa, ibu beliau (yakni Maryam), ‘Uzair, dan para wali yang lain. Mereka dianggap telah kafir lantaran hal ini, padahal mereka menetapkan bahwa Allah Subhanahu Yang Maha Mencipta, Maha Memberi Rezeki, dan Maha Mengatur segala perkara.

Apabila telah mengetahui hal ini, engkau telah mengerti makna La Ilaha Illallah, juga mengerti bahwa siapapun yang meminta pertolongan kepada nabi atau malaikat, memanggil atau meminta perlindungan kepadanya, sungguh dia telah keluar dari Islam. Itulah kekafiran yang Rasululullah perangi.

Keterangan tentang Tauhid Yang Benar

Apabila merenungi hal ini dengan baik, engkau pasti mengetahui bahwa orang-orang kafir juga mempersaksikan tauhid rububiyyah Allah, yaitu menegaskan Allah penciptaan, pemberian rezeki dan pengaturan.

Jadi mereka meminta pertolongan kepada (Nabi) Isa, para malaikat dan wali-wali dengan maksud mendekatkan diri mereka kepada Allah, dengan sedekat-dekatnya dan agar mereka diberi syafaat di sisi Allah. Engka (juga) pasti mengetahui bahwa, di antara orang-orang kafir -khususnya orang-orang Nashara- ada yang menyembah malam dan siang serta zuhud dalam keduniaan, bersedekah dari penghasilan dunia mereka dalam keadaan menyepi ditempat ibadah mereka.

Alasan kaum musyrikin berbuat kesyirikian:

  1. Mencari kedekatan
  2. Mencari Syafa’at

Selanjutnya kita ketahui bahwa orang-orang kafir khususnya nashara ada yang beribadah malam dan siang, zuhud di dunia, bersedekah dengan penghasilan mereka dalam keaadaan menyepi ditempat ibadahnya. Walaupun demikian mereka ini Kafir, musuh Allah dan akan kekal dalam mereka. Dikarenakan keyakin mereka tentang nabi Isya dan para wali yang lainnya. DImana mereka berdoa kepada wali tersebut, menyembelih untuk wali tersebut dan bernadzar kepada nya. Untuk itu jelaslah bagimu, bahwa banyak manusia jauh dari tuntutan islam yang benar. Jelaslah sabda rosulullah “Islam dimulai dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana permulannya”.

Point Pembahasan

  1. Argumentasi kaum musyirikin terhadap kesyirikan mereka dalam mencari kedekatan dan syafaat
  2. Kejelasan makna la ilaha illallah bagi siapa yang memperhatikan keadaan kaum musyrikin dimasa Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam
  3. Keterasingan islam di akhir zaman.

Kenapa Islam terasing?

Dengan begitu amat jelas makna kalima tauhid ini dari Al-Quran, Hadist Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam dan kondisi kaum musryikin pada masa dahulu. Tetapi banyak yang menganggap aneh dengan makna yang benar dari la ilaha illallah. Bahkan ada yang memusuhi.

Hadist shahih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu

Awal kalian datang islam dianggap asing oleh kaum musyrikin, ketika Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam menyampaikan la ilaha illallah. Dibilang aneh oleh kaum musyrikin. Ternyata di akhir zaman juga seperti itu. Yaitu dimasa penulis, ketika diterangkan makna la ilaha illallah yang sebenarnya beliau dianggap aneh juga. Dianggap beliau ini datang dengan agama baru, dianggap menghinakan orang-orang yang membawa pemahaman menyimpang. Inilah keterasingan islam di akhir zaman.

Nasihat Agar Berpegang dengan Pokok Agama

Dua pembahasan

Pertama : Wasiat untuk berpegang teguh dengan pokok agama

Ingatlah kepada Allah, wahai saudara-saudara ku. Berpeganglah dengan pokok agama kalian. Ini anjuran untuk berpegang teguh pada agama dikarenakan memang kita diperintah untuk perpegang teguh sebagaimana firman Allah “Berpegang teguhlah kalian semua dengan tali Allah dan jangan kalian bercerai-berai”.

Pokok agama itu adalah syahadat la ilaha illallah, yang merupakan awal dan akhir agama, pondasi dan dasarnya. Harus dipegang selalu dijaga dan dipelihara. Tanpa syahadat ini tidak ada kebeuntungan untuk seorang hamba.

Kedua: Anjuran untuk mempelajarai konsekuensi dari syahadat la ilaha illallah

Konsekuesi dari syahadat la ilaha illallah:

  • Kenalilah makna la ilaha illallah, selalu mendalami semakin memperkuat. Makna jelas, syaratnya terang hanya saja memang dalam mengamalkannya adalah tugas dalam kehidupan. Ini bukan hanya sesuatu dipahami diawalnya saja dan bukan suatu perkara yang dalam kadar tertentu kemudian dalam kadar tertentu itu terus menerus seperti itu hingga akhir. Melainkan ini ada kadar tertentu memahaminya, mengerti la ilaha illallah, semakin kuat berpegang dengannya akan semakin jelas kandungan dari kalimat ini, semakin dia yakini dan semakin dia buktikan kejujurannya berpegang dengan la ilaha illallah.
  • Cintai orang yang mengucapkan dan mengamalkan la ilaha illallah
  • Jadikanlah mereka saudara-saudara kalian, walaupun mereka jauh, bukan kerabat, bukan tetangga, bukan sekampung bahkan bukan senegeri, dimanapun mereka berada.
  • Kafirlah kalian kepada thogut, musuhi mereka, dan benci kepada siapa yang mencintai mereka. Walaupun mereka adalah saudara-saudaranya dan anak-anaknya. Harus ada benci kepada orang kafir, berlepas diri dari mereka, dan meyakin mereka adalah penduduk neraka kalo mati dalam kekafiran. Adapun masalah hidup dalam sebuah negeri, dijaga negeri itu, tidak mendholomi, walaupun berbeda agama. Itu ada aturan dalam agama kita. bukan hal yang dilarang, ada tuntutnan dan syariatnya tapi bukan berearti kita cinta kepada mereka, kita membenarkan agama mereka. Ini harus dibedakan.

Kesalahan dalam memahami ayat dalam Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah ayat 8

“Sesungghunya Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, terhadap orang yang tidak memerangi kalian dan tidak mengusir kalian dari negeri-negeri kalian”

Orang kafir yang tidak memerangi kita, tidak mengusir kita dari negeri-negeri kita, maka Allah tidak melarang kita untuk berbuat baik kepada mereka dan berlaku adil kepada mereka. Karena Allah cinta kepada orang yang berlaku adil. Padahal dalam Surah Al-Mumtahanah ini, dari awalnya menegaskan bara’ kepada kaum musyirikin. Akan tetapi bukan berarti kita mencintai dan membenarkan agamanya mereka. Allah hanya menyuruh kita sebatas berbuat baik. Misalnya mereka perlu bantuan tetangga yang non muslim, diberi dari sisi dunia, ini akhlak yang baik daalam islam dan berlaku adil.

Karena itu tidak ada sejarahnya umat ini orang yang berpegang dengan agamanya, kemudian menjadi masalah bagi penganut agama lain. Bahkan ketika Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu meninggal, para ahlul kitab bersedih dikarenakan keadilan yang merata dimasa beliau, tidak ada yang didhalimi.

Memohon agar tidak berbuat syrik

Manfaat berpegang pada pokok agama akan membuat seseorang itu selalu bermohon kepada Allah supaya menghadap kepada Allah tidak berbuat kesyirikan.

  • Pesan Nabi Yakub ‘alaihi sallam kepada anak-anaknya:
  • Nabi Yusuf ‘alaihi sallam berdoa kepada Allah
  • Nabi Ibrahami ‘alaihi sallam memohon hal yang sama dalam doa’nya:

Maka seorang berusaha menjaga bagaimana dalam kehidupannya selalu diatas makna ini, la ilaha illallah. Inilah kalo tampak dalam kehidupannya keseriusan dan kesungguhan kepada Allah akan dimuliakan dia dengan kalimat la ilaha illallah diakhir khayatnya akan dimudaknan mengucap la ilaha illallah saat sakaratul maut menjemputnya, akan dimudahkan dialam kuburnya, dan mudah dalam menjawab pertanyaan kubur, sebab ini kalimat yang dia jaga dan dia pelihara.

Wallahu ‘Alam

Perkara yang Memperjelas Makna La Ilaha Illallah

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Makna La Illaha Illallah – Perkara yang Memperjelas Makna La Ilaha Illallah, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Kitab Makna La Ilaha IllallahPenulis: Muhammad bin Abdul Wahab At-Tamimiy Rahimahullah

Makna-makna yang meperjelas kalimat la ilaha illallah.

Apabila engkau ingin mengetahui hal ini secara sempurna, hal tersebut dengan dua perkara:

Pertama: Yang di perangi Nabi adalah orang yang menetapkan tauhid rububiyyah bagi Allah.

Engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Nabi, yang dibunuhi, hartanya dirampas, darahnya dihalalkan, dan kaum perempuannya ditawan adalah orang-orang yang menetapkan tauhid rububiyyah bagi Allah. Apa itu Tauhid rububiyyah yaitu tiada yang mencipta kecuali Allah, tiada yang memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, juga tiada yang mengatur segala perkara kecuali Allah.

Sebagaimana dalam firman Allah dalam Al-Quran Surat Yunus 31:

Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah”. Maka katakanlah, “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?”

Jadi ini mempertegas makna la ilaha illallah, bagaimana bentuk penegasannya? diketerangan penulis sebagai berikut:

Ini adalah masalah yang sangat besar lagi sangat penting, yaitu engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir mempersaksikan dan menetapkan seluruh hal ini. Namun, bersamaan dengan itu (persaksian tersebut) tidak memasukan mereka ke dalam Islam serta tidak mengharamkan darah dan harta mereka, padahal mereka juga bersedekah, berhaji, berumrah, beribadah dan meninggalkan sejumlah hal yang diharamkan karena takut kepada Allah.

Penegasannya adalah bahwa kalimat la ilaha illallah, makna yang ditegaskan dalamnya tauhid uluhiyyah bukan tauhid rububiyyah. Memang makna la ilaha illalah adalah tidak ada yang diibadahi dengan benar kecuali Allah. Makna ini ke uluhiyyah. Kalo ada yang mengartikan bahwa la ilaha illallah sebagai tauhid rububiyyah, ini keliru. Karena kaum musyrikin dulu juga seperti itu.

Kedua: Yang dikafirkan adalah mereka yang tidak mempersaksikan tauhid uluhiyyah untuk Allah

Perkara kedua inilah yang mengafirkan mereka serta menghalalkan darah dan harta mereka, (yaitu) mereka tidak mempersaksikan tauhid uluhiyyah untuk Allah. Tauhid uluhiyyah adalah bahwa tiada yang doa ditujukan (kepadanya) kecuali Allah, tidak mengharap, kecuali kepada Allah saja, tiada serikat bagi-Nya, tidak bermohon dan meminta pertolongan kepada selain-Nya, tidak menyembelih untuk selain-Nya, serta tidak bernadzar untuk selain Allah, tidak kepada malaikat yang didekatkan tidak pula kepada nabi yang diutus.

Jadi, barangsiapa yang memohon pertolongan kepada selain Allah, sungguh dia telah kafir. Barang siapa yang menyembelih untuk selain allah, sungguh dia telah kafir. (Juga) makna-makna yang semisal dengan ini.

Dari hal ini seruan Nabi kepada kaum kufar untuk mengucap la ilaha illallah adalah terkait tauhid uluhiyyah bukan tauhid rububiyyah, sebab tauhid rububiyyah diakui oleh kaum kufar. Walaupun kandungan dalam tauhid uluhiyyah terkandung didalamnya makna tauhid rububiyyah. Tauhid rububiiyah adalah bagian dari tauhid, tapi memaknai dengan tauhid rububiyyah saja tidak cukup untuk memasukan dalam islam. Harus ada pengakuan terhadap tauhid uluhiyyah.

Kesempurnaan (pemahaman) ini adalah engkau mengetahui bahwa kaum musyirikin, yang Rasulullah perangi, selalu beribadah kepada orang-orang shalih, seperti para malaikat, (Nabi) Isya, ibu beliau (yakni Maryam), ‘Uzair, dan para wali lainnya. Mereka dianggap telah kafir lantaran hal ini, padahal mereka menetapkan Allah Subhanahu Yang Maha Mencipta, Maha Memberi rezeki, dan Maha Mengatur segala perkara.

Jadi kesempurnaan memahami bahwa mereka ini kaum musyrikin yang diperangi oleh Nabi, mereka beribadah kepada malaikat, Nabi Isya dan selainnya. Orang-orang yang dimaklumi mereka ini makhluk Allah yang baik, bersama dengan itu mereka di kafirkan. Padahal mereka mengakui Allah yang mencipta, menghidupkan, mematikan. DIantara kaum musyrikin beribadah kepada yang baik saja para malaikat, para nabi, wali2. Tapi bersamaan dengan itu hukumnya sama, semuanya kafir.

Sehingga hal ini mempertegas makna la ilaha illallah, bahwa dalam la ilaha illallah tidak menerima perantara sama sekali, harus langsung beribadah kepada Allah.

Ada Enam Pembahasan:

Pertama: Pengakuan kaum musyirikin terhadap tauhid rububiyyah

Kedua: Kaum musyrikin juga punya beberapa bentuk ibadah dan mereka meninggalkan sejumlah hal yang diharamkan.

Ketiga: Seluruh hal tersebut tidak memasukan mereka ke dalam Islam.

Keempat: Kekafiran kaum musyirikin karena mereka tidak mempersaksikan tauhid uluhiyyah bagi Allah

Kelima: Rosulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memerangi kaum musyrikin, padahal mereka ini beribadah kepada malaikat, para nabi dan orang-orang sholeh.

Keenam: Makna-makna lain yang memperjelas makna la ilaha illallah.

Makna-makna lain yang memperkuat makna la ilaha illallah:

  1. Al-Wala’ dan Al-Bara’: loyalitas terhadap kaum muslimin dan pelepasan diri dari orang kafir
  2. Al-Hubu dan Al-Bughdu fillah: cinta dan benci karena Allah
  3. Mukhalafatu Al-Kufar: menyelisihi kaum kafir

Sturuktur dalam menjelaskan makna la ilaha illallah

Penulis cara menjelaskan makna la ilaha illallah sangat jelas sekali

  1. Diterangkan makna la ilaha illallah: tidak ada yang diibadahi yang hak kecuali Allah.
  2. Dijelaskan rukun la ilaha illallah: an-nafyu dan al-isbat
  3. Diterangkan 8 syarat la ilaha illallah: ilmu, yakin, syidik, ikhas, mahabah, terikat, menerima, kufur terhadap segalah yang diibadahi kecuali Allah. Ini adalah konsekuensi la ilaha illallah
  4. Diterangkan dua hal yang memperkuat makna la ilaha illallah: Nabi memerangi mereka yang menetapkan tauhid rububiyyah saja bagi Allah dan yang tidak mempersaksikan tauhid uluhiyah bagi Allah.

Wallahu ‘Alam