Hukum Seputar Gerhana

This image has an empty alt attribute; its file name is 798px-bismillah-1.jpeg

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema Hukum Seputar Gerhana, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Matahari dan bulan adalah ayat-ayat Allah (tanda kekuasaan). Terkait dengan ayat-ayat Allah, kewajiban kita adalah mengingatnya, mengambil pelajaran darinya, dan berpikir serta menjadikannya sebagai hal yang lebih baik dari kehidupan kita.

Allah mencela kaum musryikin yang berpaling dari ayat-ayat Allah. Allah berfirman:

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. (QS. Yusuf: 105)

Betapa banyak ayat-ayat di langit dan bumi, mereka berlalu dari ayat-ayat itu. Dan mereka dalam keadaan berpaling.

Dikejadian seperti ini kita perlu berbekal dengan ilmu syar’i. yang menjelaskan tentang hukum-hukum, bagaimana seorang muslim dan muslimah didalam menyikapinya.

Gerhana matahari dan bulan adalah bukan hanya fenomena alam tapi ini adalah tanda kebesaran Allah. Dikarenakan pada satu sisi, ada sebab-sebab terjadinya, akan tetapi semua yang terjadi adalah sesuai degnan kehendak dan kekuasaan Allah subhanahu wata’alla.

Berikut ini hadist mengenai terjadinya gerhana pada masa Rasulullah shallalhu alaihi wasallam, yang di bawahkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anha, dari riwayat Muslim:

Konteks kejadian dimasa Rasulullah

Aisha berkata beliau berkata, “Telah terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah, dihari yang sangat panas. dikatakan al khusuf atau al kusuf, maknanya sama gerhana matahari dan bulan. Kejadian gerhana ini ketika, Ibrahim putra Rasulullah meninggal dunia. Maka manusia berkata sesungguhnya terjadi gerhana karena matinya Ibrahim. Maka Nabi shallalhu alaihi wasallam berdiri dengan penuh kekhwatiran bahwa itu adalah hari qiyam (akhir). Ini menunjukan kekhawatiran akan turunnya adzab dari Allah subhanahu wata’alla..

Rasulullah juga apabila akan hujan atau awan mendung, menunjukan kekhawatiran. Apabila turun hujan maka kekhawatiran beliau lepas. Beliau berkata khawatir mendung itu tadi adalah adzab yang ditimpakan pada umatku karena telah disebut dalam surat Al-Ahqaf dimana adzab turun diawali dengan mendung.

Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami”. (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, (QS. AL-Ahqaf:24)

Kemudian Nabi ﷺ mengutus seseorang untuk meneriakan as-sholata jami’an, datanglah untuk melaksanakan shalat dengan segera secara bersama. Ini syari’at untuk berkata as-sholata jami’an sebelum shalat khusuf. Shalat gerhana tidak dikumandangkan adzan dan iqomat.

Disyariatkan untuk dilakukan shalat secara berjamaah. Tetapi kalo tidak bisa boleh sendirian karena alasan dilaksanakan shalat ini adalah terjadinya gerhana.

Dimulai dari awal gerhana sampai pada matahari dan bulan kembali pada kondisi biasa. Ini memakan waktu yang agak lama.

Ketika terjadi gerhana, beliau berdiri dengan cemas dan kemudian pergi ke masjid. Beliau juga mengucapkan takbir, Allahu Akbar, memulai shalat. Manusia bersaf-saf dibelakangnya.

Tata cara Shalat Gerhana

Shalat gerhana segera dilakukan.

Dimulai dengan takbiratul ihram. Disyariatkan bersaf-saf seperti umum nya shalat berjamaah.

Shalat dua rakaat. Bacaan yang panjang dengan jahar seperti membaca surat Al-Baqarah. Rakaat pertama bacaan yang panjang, walaupun kaidahnya apabila shalat berjamaah melihat kondisi makmum ada yang sakit, anak kecil, sudah tua. Tapi Nabi shallalhu alaihi wasallam membaca surat yang panjang. Ini adalah sunnahnya membaca surat yang panjang, akan tetapi apabila surat pendek tidak mengapa. Dikatakan saking panjangnya bacaan diantara para sahabat ada yang duduk.

Kemudian takbir dan ruku, dengan ruku yang panjang. Lamanya sama dengan berdirinya. Disunnahkan untuk memperpanjang ruku seperti berdirinya.

Kemudian angkat kepala, dan berkata samiallahu huliman hamidah, ‘itidal, rabana walakal hamd.

Kemudian berdiri lagi dengan bacaan yang panjang tapi lebih pendek dari bacaan yang pertama. Ini perbedaan dengan shalat lainnya. biasanya setelah itidal, adalah sujud, tapi shalat gerhana, berdiri lagi dan membaca surat.

Kemudian takbir dan ruku dengan ruku yang panjang sebagaimana berdirinya. Tapi lebih pendek dari ruku yang pertama. Kemudian bangun dan membaca sama samiallahu huliman hamidah, rabanna walakalhamd.

Kemudian beliau sujud, 2 kali sujud. Kemudian pada rakaat kedua seperti itu juga. Sampai sempurana 4 ruku dan 4 sujud.

  • Terdiri dari 2 rakaat
  • Rakat pertama: 2 ruku dan 2 sujud
  • Rakaat kedua: 2 ruku and 2 sujud

Kemudian Aisyah radhialllahu ‘anha berkata saya tidak pernah ruku dan sujud lebih panjang dari pada itu. Kemudian setelah itu berdiri setelah selesai dan matahari telah kembali seperti asalnya. Disyariatkan apabila gerhana sudah selesai maka shalatnya tidak diperpanjang lagi, tapi sekedar menyelesaikan shalat.

Perempuan diperbolehkan hadir dimasjid untuk shalat gerhana. tapi apabila ingin shalat dirumah, boleh juga. Tapi untuk shalat yang disyaratkan berjamaah lebih afdal dilakukan berjamaah dari pada sendirian. Kecuali perempuan.

Khutbah

Lalu berliau berdiri dan berkhutbah. Tidak disebut seperti khutbah Jum’at. Orang yang berkhutbah berdiri saja. Nabi shallalhu alaihi wasallam memuji dan menanjung Allah subhanahu wata’alla. Amaba’du. untuk memasuki khutbah.

Wahai sekalian manusia sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat dari ayat-ayat Allah subhanahu wata’alla. Dan ketahuilah matahari dan bulan ini tidak terjadi gerhana padanya dikarenakan kematian siapapun dari manusia. dan tidak pula hidupnya siapapun dari manusia. Rasulullah shallalhu alaihi wasallam ingatkan aqidah yang benar bahwa gerhana adalah tanda kebesaran Allah, yang membuat manusia takut dengannya.

Adapun kaum musyrikin mereka berkata bahwa matahari dan bulan itu, tidak terjadi gerhana pada keduanya, kecuali ada orang yang besar meninggal. Keyakinan ini salah, dan harus diluruksan sesuai syar’at. Ada yang melakukan ritual-ritual yang bertentangan dengan agama. Tidak membawa rasa takut pada Allah .

Kewajiban kita pada saat Gerhana:

Prediksi terjadinya gerhana, yang dihitung oleh ahli hisab dan falak bukanlah ukuran. Mungkin benar mungkin salah, tapi tidak dijadikan dasar untuk shalat gerhana. Yang menjadi ukuran adalah kita melihat gerhana tersebut.

  • Pertama, bertakbir, yaitu melaksanakan shalat.
  • Kedua, berdoalah kepada Allah.
  • Ketiga: bersedakahlah kalian.

Doa dan sedekah amalan yang sangat agung dari dua hal yang menolak musibah dan adzab.

  • Diriwayat lain, apabila melihat sesuatu dari garhana itu, maka bersegeralah dzikir kepada Allah, bedoa dan beristigfar.
  • Disebagian riwayat Nabi shalallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk membebaskan budak. Ini sedekah yang besar karena mengeluarkan harta banyak. Perkara besar di tolak dengan amalan besar
  • Disebagian riwayat, Nabi
  • shalallahu alaihi wasallam perintah untuk berlindung dari siksaan dialam kubur.

Apa yang dilihat Rasul ketika terjadi Gerhana:

Dari hadist Aisyah radhiallahu anha, mengatakan bahwa Rasulullah diperlihatkan keadaan neraka, yaitu:

  • Sebagaian telah memakan sebagian yang lain. Sehingga Nabi terlihat mundur, karena beliau melihat yang mengerikan dari neraka.
  • Beliau melihat Abdullah bin Hay yang meyebabkan kesyirikan dalam neraka.
  • Ada pencuri dimusim haji juga dilhat dalam neraka.
  • Dilihat pula perempuan dari bani israil yang memilki kucing, dia ikat dan tidak diberi makan sampai dia mati.
  • Kemudian melihat kebanyakan penghuni neraka adalah perempuan. Sahabat bertanya kenapa? beliau menjaawab karena mereka kafir kepada Allah, kafir kepada suaminya, kafir kepada kebaikan. Andaikata salah seorang berbuat kepadanya kebaikan selama setahun. Kemudian dia melihat sesuatu keburukan darinya maka dia akan berkata saya tidak melihat dari engkau kebaikan sama sekali.

Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasallam diperlihatkan surga:

  • Disebutkan keindahan surga, Andaikata diambil sebuah makanan diambil dan dimakan oleh para sahabat maka. tidak akan tersisa dunia ini, tidak akan ada lagi selera untuk hidup.
  • Kemudian menjelaskan bagaimana seseorang dialam kubur, ditanya 3 masalah.

Ini adalah tanda kebesaran Allah, yang dikhawatirkan dibelakangnya ada musibah, maka seseorang khawatir akan dosa-dosanya banyak berdzikir, mengagungkan Allah dan istigfar.

Ini harusnya membuat kita takut kepada Allah sebagai hambanya. Hambanya yang mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’alla.

Wallahu ‘alam

Melaksanakan Ibadah Haji

Kitab Syarah Riyadhus Shalihin
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah

Bab 5 Muraqabah

Hadist 61, hadist Jibril mengenai islam, iman dan ihsan

Rukun Islam kelima: Melaksanakan Ibadah Haji

  • Haji adalah menyengaja pergi ke baitullah untuk menunaikan manasik (ibadah) haji yang telah dijelaskan Allah didalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya.
  • Haji ke Baitullah merupakan salah satu rukun Islam.
  • Diantara manasik haji adalah Umrah. Nabi menyebutnya dengan haji kecil.

Syarat menunaikan Ibadah Haji

  1. Baligh
  2. Berakal
  3. Islam
  4. Merdeka
  5. Mampu
  • Jika salah satu syaratnya tidak terpenuhi, maka tidak wajib hukumnya melaksanakan ibadah Haji.
  • Jika kelemahan pada harta maka tidak wajib baginya untuk dirinya maupun untuk diwakilkan pada orang lain.
  • Jika kelamahan pada fisik (badan) dan dia masih berharap penyakitnya sembuh, maka dia harus menunggu sampai Allah menyembukan penyakitnya.
  • Namun apabila penyakitnya tidak bisa disembuhkan (seperti tua), maka dia harus mewakilkannya kepada orang yang bisa menghajikan untuknya.
  • Ada seorang perempuan yang bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya bapakku telah terkena kewajiban untuk melaksanakan ibadah haji, akan tetapi ia sudah tua tidak mampu melakukan perjalanan, apa saya boleh menghajikannya?”, kemudian beliau menjawab,”Ya, boleh“.

Wallahu A’lam

Puasa Ramadhan

Kitab Syarah Riyadhus Shalihin
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah

Bab 5 Muraqabah

Hadist 61, hadist Jibril mengenai islam, iman dan ihsan

Rukun Islam keempat: Puasa Ramadhan

Nama bulan Ramadhan

  • Bulan antara Sya’ban dan Syawal, masa yang sangat panas, dalam istilah Arab ramadha’
  • Pada bulan Ramadhan, panasnya dosa dipadamkan. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ailahi wasallam bersabda “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-sodanya yang telah lalu
  • Satu-satunya nama bulan dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an” (QS. Al-Baqarah :185)

Syarat-Syarat berpuasa Ramadhan:

Berpuasa di bulan Ramadhan adalah salah satu rukun Islam, yang mana Islam tidak akan sempurna kecuali dengannya. Akan tetapi tidak wajibkan berpuasa Ramadhan kecuali orang-orang yang memenuhi syarat berikut:

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Mampu
  5. Mukim
  6. Tidak berhalangan

Golongan yang tidak wajib berpuasa: anak kecil, orang gila, orang kafir, orang yang lemah, musafir, dan yang berhalangan tidak wajib berpuasa.

Orang yang lemah terbagi dua:

  1. Jika kondisi lemah (sakit)nya itu diharapkan bisa disembuhkan, maka ia berbuka dan mengqadhanya pada hari lain.
  2. Jika kondisi lemah (sakit)nya tidak dapat diharapkan kesembuhan, maka ia harus membayar fidyah dengan memberi makan orang misikin setiap hari.

Orang yang berada dalam perjalanan (musafir) tidak wajib berpuasa, tetapi wajib mengqadhanya.

Orang yang berhalangan seperti perempuan yang haid dan nifas, tidak wajib berpuasa. Tetapi, wajib mengqadhanya pada hari lain.

Puasa Ramadhan bisa dua puluh sembilan hari atau tiga puluh hari, tergantung hasil ru’yah (pemantauan). Rasulullah shallallahu ailahi wasallam bersabda, “Jika kamu tidak melihat hilal maka berpuasalah, dan jika kamu melihat hilal maka berbukalah (berhari rayalah). Lalu, jika mendung hingga kamu tidak bisa melihat hilal, maka sempurnakanlah jumlah puasamu menjadi tiga puluh hari.

Wallahu A’lam

19. Pengangkatan Derajat orang yang berilmu

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Manzhumah Mimiyah, Karya Syaikh Hâfizh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullâh, Memuat seputar wasiat dan adab ilmiah.

Bait syair 41: Dan cukup lah untuk engkau tentang keutamaan orang-orang yang berilmu, mereka diangkat beberapa deraja karena ilmunya melebihi yang lainnya.

Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Karena ilmu yang dipelajari diangkat beberapa derajat.

Dalam surat Al-Mujadalah ayat 11:

Terdapat penjelasan pengangkatan deraja untuk orang yang beriman dan berilmu.

Pembahasan: Pengangkatan derajat orang-orang yang berilmu.

Ibnu Qoyim menjelaskan tentang pengangkatan derajat disebutkan di 5 tempat.

  1. surat Al-Mujadalah ayat 11
  2. surat Al-Anfal ayat 2-4
  3. surat Taha ayat 75
  4. surat An-Nisa ayat 95-96
  5. surat Al-An’am ayat 83 (tentang kisah Nabi Ibrahim)

Di empat tempat tersebut, pengangkatan derajat dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih. Sedangkan di satu tempat (Surat An-Nisa 95-96), pengangkatan derajat dengan jihad.

Ibnu Qoyim memberikan kaidah “Seluruh pengangkatan derajat dalam Al-Qur’an kembali pada dua, yaitu: Ilmu dan Jihad. Keduanya adalah sebab tegaknya agama”.

Pengangkatan derajat dengan ilmu lebih utama karena disebutkan di 4 tempat dalam Al-Qur’an.

Pengangkatan derajat disini termasuk kedudukan, kehidupan, wibawa dan lainnya ditengah manusia. Derajatnya tidak hanya satu, lebih dari dua. Pengangkatan derajatnya baik di dunia maupun diakhirat.

Wallahu A’lam

18. Cahaya pada orang yang mendengar, memahami, menghafal dan menyampaikan ilmu.

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Manzhumah Mimiyah, Karya Syaikh Hâfizh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullâh, Memuat seputar wasiat dan adab ilmiah.

Wasaami’ul ‘ilma wal waa’ii liyahfadhohu, muwaddiyan naasyiron iyyahu fii umami

Bait Syair 39: Wasaami’ul ‘ilma, dan orang yang mendengarkan ilmu, Wal waa’ii, dan orang yang memahaminya, liyahfadhohu, supaya dia menghafalkannya, muwaddiyan, untuk dia sampaikan, naasyiron, menyebarkannya, iyyahu, ilmu itu, fii umami, ditengah umat-umat.

Bait Syair 40: Betapa indahnya wajah seseoran, apabila bersifat dengan 4 sifat tersebut, karena dia mendapatkan doa dari sebaik-baik makhluk seluruhnya (Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam)

Dalam hadist mutawatir, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam mendoakan orang yang mempunyai 4 sifat berikut, supaya diberikan keindahan pada wajah seseorang yang belajar ilmu baik didunia maupun diakhirat.

  1. Mendengarkan ilmu
  2. Memahami ilmu (dengan hatinya)
  3. Menghafalkan ilmu, setelah mendengarkan dan memahami, lalu menghafalkannya. Sehingga bisa dipakai ketika dia inginkan.
  4. Menyampaikan ilmu (disebarkan)

Penuntut ilmu akan berusaha untuk melengkapi semua 4 sifat tersebut. Akan tetapi ada penuntut ilmu yang tidak memiliki seluruh 4 sifat tersebut.

Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tapi bagaimana ilmu itu dipahami.

Seorang yang berilmu diperlukan oleh banyak orang, akan tetapi yang berilmu tersebut tidak memerlukan banyak orang. Ketika penduduk Basrah ditanya, siapakah pemimpin mereka? Mereka menjawab Hasan Al-Basri. Mereka perlu Al-Hasan akan ilmunya, akan tetapi Al-Hasan tidak perlu pada mereka.

Wallahu A’lam

17. Allah mudahkan jalan menuju surga bagi para penuntut ilmu.

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Manzhumah Mimiyah, Karya Syaikh Hâfizh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullâh, Memuat seputar wasiat dan adab ilmiah.

Bait Syair 38: Wassaalikuuna thoriqol ‘ilmi yaslukuhum, Ilal jinaani thoriqon baariul nasami.

Wassaalikuuna thoriqol ‘ilmi, dan orang-orang yang berjalan, diatas jalan menuntut ilmu, yaslukuhum, maka mereka akan diperjalankan, Ilal jinaani thoriqon, kesebuah jalan yang mengantarnya ke surga, baariul nasami, Allah yang menciptakan makhluk.

Orang yang menempuh jalan mencari ilmu, akan diperjalankan menuju surga oleh Allah.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dalam riwayat Iman Muslim, dan juga dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.

Ibnu Rajab rahimahullah, menjelaskan faedah hadist ini, sebagai berikut:

  • Siapa yang menempuh jalan, mempunyai dua makna: jalan hakiki (dengan kakinya menuju kepada majelis ilmu) dan jalan maknawi (lebih umum), termasuk menghafal, mempelajari dan mengulangi ilmu.
  • Allah akan mudahkan untuknya, jalan menuju ke surga. Ada beberapa makna:
    • Allah mudahkan untuk penuntut ilmu, mengamalkan ilmunya.
    • Allah mudahkan untuk penuntut ilmu, untuk ilmu yang dia cari dan jalan yang ditempuhnya.
    • Allah mudahkan untuk penuntut ilmu, dengan ilmu yang sudah diamalkan, dimudahkan memperoleh ilmu-ilmu yang lainnya.
    • Allah mudahkan untuk penuntut ilmu, mengambil manfaat dengan ilmu tersebut di akhirat.

Wallahu A’lam

16. Keridhoan Malaikat terhadap Penuntut Ilmu

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Manzhumah Mimiyah, Karya Syaikh Hâfizh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullâh, Memuat seputar wasiat dan adab ilmiah.

Bait Syair 37: Wainna ajnihatal amlak kitabsuthuha, litholibihi ridhon minhum bishun’ihimi

Wainna ajnihatal amlak kitabsuthuha, dan sesungguhnya sayap-sayap para malaikat dihamparkan, litholibihi, untuk siapa yang mencari ilmu, ridhon minhum bishun’ihimi, karena mereka (malaikat) ridho terhadap para penuntut ilmu.

Dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu, riwayat Abu Daud dan At-Tirmdzi, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya, karena ridha untuk para penuntut ilmu.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, riwayat Imam Muslim, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah suatu kaum berkumpul disalah satu rumah Allah. mereka membaca kitab Allah, dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat menaungi mereka, malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka kepada para malaikat di sisiNya”

Ketika para malaikat menghamparkan sayap-sayapnya untuk para penuntut ilmu, menunjukan mereka merendah, menghormati, dan memuliakan kepada penuntut ilmu. Dikarenakan para penuntut ilmu ini, membawa dan mencari warisan para Nabi. Maka kecintaan para malaikat terhadap para penuntut ilmu, bermakna pentingnya mencintai dan mengagungkan Ilmu.

Wallahu A’lam

14. Penuntut Ilmu dimohonkan ampun

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Manzhumah Mimiyah, Karya Syaikh Hâfizh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullâh, Memuat seputar wasiat dan adab ilmiah.

Bait Syair 34: Al ‘ilmu yaa shohi yastagfir, Ilmu itu, wahai kawanku, dimohonkan ampun untuk penuntutnya. Ahlu samawati wal ardi minal lamami, yaitu oleh penduduk langit dan penduduk bumi, dari dosa-dosa.

Bait Syair 35: Kadaka tastagfiru hitanu fii lujajin, sebagaimana ikan-ikan didalam dasar lautan, juga memohonkan ampun untuk ahli ilmu, Fiidhaui wadhulami, disiang dan dimalam hari.

Dari Abu Darda, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Penuntut ilmu dimohonkan ampun oleh makhluk Allah dilangit (para malaikat) dan dibumi (manusia)

Apakah orang kafir dan orang fasik memohonkan ampun untuk orang yang berilmu?

Jawabannya, iya, Lisan ada dua macam: lisan keadaan dan lisan yang berbicara. Mungkin lisannya tidak berbicara, tetapi lisan keadaannya mensyukuri ahli ilmu. Karena kebaikan oleh seluruh orang yang berilmu baik diseluruh atas muka bumi. Sampai hewan dan makhluk yang lain pun aman. Sepanjang orang yang berilmu masih mengajarkan ilmu. Contohnya orang yang bakar hutan adalah bentuk kejahilan. Apabila diajarkan ilmu kepada mereka tentang melestarikan hutan, maka akan aman hutan itu.

Tegak dan baiknya sebuah negeri karena dua komponen: Pemerintah dan Ulama. Keduanya diperintah untuk diagungkan.

Wallahu A’lam

15. Menuntut Ilmu adalah Jihad dijalan Allah

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Kitab Manzhumah Mimiyah, Karya Syaikh Hâfizh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullâh, Memuat seputar wasiat dan adab ilmiah.

Bait Syair 35: Wa kharijun fii thila bil ‘ilmi muhtasiban, mujaa hidun fii sabilillahi ayyu kamii

Wa kharijun, Dan seorang yang keluar, fii thila bil ‘ilmi, didalam mencari ilmu muhtasiban, dimana dia mengharap pahala dari Allah subhanahu wata’alla, mujaa hidun fii sabilillahi, maka dia dianggap orang yang berjihad dijalan Allah, ayyu kamii, berjihad dengan segala keberaniannya.

Pembahasan: Orang yang keluar menuntut ilmu bagaikan berjihad dijalan Allah

Diambil dari sebuah hadist riwayat Imam At-Tirmizi, Dari Annas bin Malik radhiallahu ‘anhu:

Barangsiapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada dijalan Allah sampai dia kembali.

Jihad ada dua macam:

  1. Jihad dengan tangan dan dengan tombak
  2. Jihad dengan hujjah (ilmu) dan argumen (penjelasan)

Jihad dengan ilmu dan penjelasan lebih besar dari pada dengan tangan dan tombak. Dikarenakan pada jihad dengan tangan, banyak orang yang membantu. Adapun jihad dengan ilmu, ini jihadnya orang khusus dari pengikut nabi (tidak semuanya).

Dalam surat Al-Furqan:

Surat ini turun di Mekkah, dimana tidak ada jihad dengan tangan. Sehingga Jihad yang besar dimaksud adalah jihad dengan ilmu.

Dalam surat Al-Hajj:

Surat Al-Hajj juga surat makiyyah, sehingga yang dimaksud jihad disini adalah jihad dengan ilmu.

Tidak semua orang mampu dengan jihad ilmu dan argument. Ini jihad para nabi dan rasul, para imam dan para ulama. Karena itu tinta yang mengalir dari pena para ulama, lebih suci dan berharga dari darah-darah orang yang mati syahid. Jihad ilmu ini lebih besar manfaatnya untuk umat.

Sebagian sahabat berkata: “Apabila kematian mendatangi seorang penuntut ilmu, dalam keadaan menuntut ilmu, maka dia mati dalam keadaan mati syahid.”

Sufyan Ibnu Uyaynah rahimahullah berkata “Siapa yang menuntut ilmu, artinya sudah berbai’at kepada Allah”, maksudnya sudah berbai’at untuk berjihad.

Abu Darda radhiallahu ‘anhu berkata “Siapa yang memandang orang yang pergi menuntut ilmu, dia pandang bukan jihad, maka orang ini kurang akal dan kurang pemikirannya”.

Wallahu A’lam

Allah melaknat kaum Yahudi

Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam

Bab Masjid – Pendahuluan

Hadist 198. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Allah melaknat kaum Yahudi yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid-masjid. ” (HR. Muttafaq ‘Alaih), Muslim menambahkan, “Dan Nashrani. ” Juga dari Bukhari dan Muslim dari hadits Aisyah, “Kala itu apabila di antara mereka ada seorang yang shalih meningal dunia, maka dirikan diatas kuburnya satu masjid“. Dalam hadist ini ada redaksi, “Mereka itu sejahat-jahat makhluk“.

Hal-Hal Penting dari Hadist:

  • Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasharni yang menjadikan kubur para Nabi mereka sebagai masjid.
  • Riwayat lain dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “sesungguhnnya Ummu Habibah dan Ummu Salamah bercerita kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwa ketika mereka di Habasyah mereka melihat gereja yang penuh dengan gambar. Lalu Rasulullah berkomentar “Sesungguhnya apabila ada seorang laki-laki yang shalih diantara mereka meninggal dunia maka mereka didirikan masjid diatas kuburnya, lalu didalmya mereka pasang gambar-gambar. Mereka itulah sejahat-jahatnya makhluk“.
  • Hadist ini mengharamkan memasang photo di dalam masjid apalagi meletakan patung.
  • Hadist ini mengharamkan mendirikan masjid diatas kubur dan memakamkan mayit di dalam masjid.
  • Hadist ini menjelaskan bahwa tidak sah shalat di dalam masjid yang didalamnya ada kuburan dan patung, karena mirip dengan menyembah patung. Sama halnya dengan larangan tidak boleh shalat di tempat pemakaman.
  • Hadits ini menerangkan barangsiapa yang mendirikan masjid di atas kubur, memakamkan mayit di dalam masjid, meletakkan gambar-gambar dan patung-patung di dalam masjid termasuk makhluk yang paling jahat. Karena hal ini akan menjerumuskan pada menyekutukan Allah yang merupakan dosa yang paling besar.
  • Barangsiapa melakukannya berarti ia sama dengan mereka (Yahudi dan Nashrani) dan mendapat siksa yang sama.
  • Ibnu Taimiyah menjelaskan illat (alasan) larangan mendirikan masjid di atas kubur, diantaranya; banyak kejadian orang menjadi syirik dengan meminta tolong kepada orang yang telah meninggal. Biasanya mereka tidak pemah datang ke masjid namun karena ingin mendapat berkah, mereka lalu shalat di dekat kubur yang terletak di masjid. Karena kekhawatiran ini maka tidak boleh shalat di sekitar makam Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan alasan apa pun.
  • Menurut lbnul Qayyim larangan shalat di dekat kuburan bukan karena tanahnya tapi karena dikhawatirkan membuat orang menjadi syirik
  • Syaikh Abdul Aziz melarang meletakkan bunga di atas kubur tak di kenal. Menurutnya hal ini bid’ah karena dapat dijadikan media minta berkah kepada kubur.

Wallahu A’lam