24. Orang yang berilmu adalah saksi Allah.

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Bait Syair 50: Bersama persaksian-Nya (akan keesaan-Nya datanglah persaksian ahlul ilmi … Di mana mereka menjawab (seruan Allah dan Rasul-Nya) … Adapun orang-orang yang bodoh, mereka berada dalam ketulian.
Bait Syair 51: Orang-orang yang berilmu akan menjadi saksi atas orang-orang yang bodoh … Pada hari ketika mereka berkumpul di hadapan Allah.

Dua pembahasan:

Pembahasan Pertama: Allah menjadikan persaksian ahlul ilm sebagai saksi.

Firman Allah:

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan; Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu(juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Imran: 18)

Malaikat dan orang-orang yang berilmu mempersaksikan bahwasannya tiadak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah.

Ibnul Qoyim, menyebutkan 10 keutamaan orang yang berilmu berdasarkan Surat Al-Imran Ayat 18. Tiga diantaranya yaitu:

  1. Dari seluruh makhluk tidak ada persaksiannya yang dipakai oleh Allah, kecuali persaksikan orang yang berilmu.
  2. Persaksian orang yang berilmu digandengkan dengan persaksiaan Allah.
  3. Persaksian orang yang berilmu digandengkan dengan persaksiaan para Malaikat.

Pembahasan Kedua: Persaksian orang-orang yang berlimu terhadap orang-orang yang bodoh disisi Allah.

Firman Allah:

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihanagar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. Al-Baqarah: 143)

Wallahu A’lam

25. Orang berilmu lebih utama dari yang beribadah

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Bait Syair 52: Kelebihan para ahli ilmu atas para ahli ibadah … Adalah seperti kelebihan bulan purnama atas planet (bintang), maka manfaatkan hidupmu.
Bait Syair 53: Seorang Alim yang bertakwa lebih berat bagi setan … Daripada seribu ahli ibadah semuanya.

Perumpamaan para ahlil ilmu dibandingkan ahli ibadah, bagaikan bulan purnama dibandingkan dengan bintang yang bersinar. Maka ambilah keburuntungan ini.

Pembahasan Pertama: Keutamaan orang yang berilmu diatas ahli ibadah

Dari Abu Darda radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Sesunguhnya keutamaan orang yang berilmu dibandingkan dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang

Satu faidah yang disebutkan oleh Ibnu Rajab, perbedaan antara bintang yang berjalan (nujum) dan bintang tetap (kawaqib).

Bintang terang tapi hanya ditempatnya saja, tidak menjadi petunjuk bagi manusia (kawaqib). Akan tetapi rembulan menjadi cahaya yang sangat terang. Ketika purnama, walaupun bintang kelihatan cahanyanya, bulan purnama menutupi semua bintang-bintang itu.

Keberadaan para ahlul ilmi, adalah nikmat bagi manusia. Apabila alim meninggal, maka seakan-akan dunia menjadi gelap.

Bintang bercahaya untuk dirinya saja. Sebagaimana ahli ibadah, bermanfaat untuk dirinya saja.

Akan tetapi Alim punya ilmu bermanfaat bagi orang lain. Kadang satu ilmu bisa menyelamatkan banyak manusia. Seperti dikejadian kisah AL-Hasan bin Ali Bin Abi Thalib bersama Muawiyah. DImana terjadi fitnah ditengah kaum muslim, Al-HAsan sebagai pewaris Ali dan Muawiyah memimpin sebagai gubernur di Syam. Maka ada perselisihan diantara dua kubu besar. Hampir terjadi peperangan. Maka datang ABu Bakrah radhiallahu anhu kepada AL-Hasan dan berkata bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda sebuah hadist tentang kamu, ketika kamu masih kecil diatas pangkuan nabi shalallahu alaihi wasallam.

Sesungguhnya anaku ini (yaitu cucu Beliau) adalah seorang sayyid (pemimpin). Dia akan mendamaikan dua kelompok besar dari kaum mukminin (yang bertikai).

Maka mendengar hadist ini Al-Hasan faham maksudnya. Beliaupun mengalah dan menyerahkan seluruh kekuasaan kepada Muawiyyah. Yang selanjunya Muawiyyah menjadi khalifah. Masa ini dikenal sebagai masa persatuan sapai lebih 30 tahun Muawiyyah memimpim tidak ada perselisihan.

Ini adalah pengaruh satu hadist yang dihafal oleh Abu Bakrah yang menghidupkan dan menerangi banyak orang yang menjadi sebab terhindarnya pertumpahan darah. Dikarenakan sebuah hadist.

Oleh karena itu ilmu sangat besar manfaatnya, mungkin hari ini atau mungkin lain waktu.

Firman Allah:

Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Isrā`īl, bahwa barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya1. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu2 sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. (QS. Al-Maidah: 32)

Siapa yang menghidupkan satu jiwa, seakan-akan menghidupkan seluruh manusia. Ilmu dapat menghidupkan jiwa manusia. Sehingga banyak pahala yang didapatkan oleh orang yang mempelajari ilmu.

Pembahasan kedua: Seorang alim lebih berat dari syaiton dari pada seribu ahli ibadah

Dari hadist riwayat At-Tirmizi, dari Ibnu Abbas:

Seorang ahli fiqih (paham ilmu agama) lebih berat (digoda) bagi setan daripada seribu ahli ibadah.

Ibnu Qoyim menyebutkan ada kelemahan hadist ini tapi maknanya benar. Kalo syaiton ingin menghidupkan bid’ah dan ingin mematikan sunnah, maka ada orang yang berilmu yang menghalanginya. Tapi syaithon bisa mempengaruhi ahli ibadah untuk berbuat bid’ah, karena tidak paham akan ilmu. Sibuk dengan ibadah tidak tahu mana yang lebih utama.

Syaiton lebih benci pada orang yang berilmu. Suatu hari Ibnu Abbas berkata mungkin diatas bumi ini tidak ada orang yang lebih disukai syaithon supaya meninggal melebihi saya. DIkarenakan apabila datang kepada saya bid’ah dari arah timur dan barat, maka akan saya patahkan dengan sunnah.

Sesungguhnya syaithon itu sudah berputus asa di tanah arab

Syaithon masuk kepada penuntut ilmu melalui beberapa pintu:

  1. Keliru dalam belajar
  2. Dibisikan kehendak dunia

Syaikhul Islam berkata bahwa manusia terbagi empat:

  1. Ada yang tidak menghendaki ketinggian dan kerusakan. Ini yang paling tinggi derajatnya
  2. Ada yang menghendaki ketinggian (pemimpin). Ini banyak menimpa orang yang belajar ilmu
  3. Tidak menghendaki ketinggian tapi kerusakan seprti para perampok
  4. Berbuat kerusakan dan ambisi untuk ketinggian (menjadi pemimpin)

Wallahu A’lam

23. Orang yang berilmu adalah wakil Allah didalam menegakan ilmu

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Bait Syair 48: Mereka menjadi para wakil dalam menunaikan ilmu … Baik perkataan, perbuatan, maupun pengaharan kepada orang lain.

Dan mereka para ulama menjadi wakil-wakil didalam menegakan ilmu, dalam ucapan, perbuatan dan pengajaran kepada yang lainnya.

Pembahasan: Orang yang berilmu adalah wakil Allah didalam menegakan ilmu untuk diri mereka dan selain meraka

Firman Allah:

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS. An-Nahl : 43)

Bertanyalah kepada orang yang berilmu apabila kalian tidak mengetahuinya. Orang yang berilmu dijadikan wakil.

Sisi pentingnya ilmu, ketika orang yang berilmu dijadikan wakil-wakil Allah, maka tidak sembarangan dalam ucapan dan tindakan. Karena wakil bertindak sesuai dengan amanah yang diwakilkan kepadanya. Seorang mufti dan hakim adalah yang memutuskan dari Allah . Menjadi khawatir seakan-akan mereka menjadi perantara antara Allah dengan makhluk. Para As-Salaf dan sahabat sangat hati-hati dalam memberikan jawaban. Banyak diantara mereka berkata tidak tahu atau disuruh bertanya kepada sahabat lainnya. Imam Malik ditanya puluhan pertanyaan dari orang Afrika, tetapi hanya dijawab 4 pertanyaan saja. Beliau berkata hanya itulah yang saya tahu jawabannya.

Topik baru: Orang yang berilmu paling takut kepada Allah,

Bait Syair 49: Rabb kita telah mengkhususkan ahlul ilmi dengan rasa takut kepada-=Nya … Serta degnan pemahaman terhadap berbagai perumpamaan-Nya dalam perkataan yang paling besar (Al-Qur’an).

Allah mengkhususkan orang-orang yang berilmu pembatasan pada mereka saja yaitu orang-orang yang takut kepada Allah . Dan mereka dikhususkan sebagai orang-orang yang memahami perumpamaan-perumpamaan Allah. Sebagiamana dalam ayat-ayat Al-Quran yang merupakan pembicanraan-pembicaraan yang paling jujur.

Pembahasan: Orang yang berilmu adalah orang yang paling takut kepada Allah .

Firman Allah:

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir : 28)

Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.

Didalam Al-Quran dijelaskan keutamaaan dari orang yang takut kepada Allah. Takut kepada Allah mendapat pahala yang besar, dapat dua surga.

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ʻAdn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya. (QS. Al-Bayyinah: 8)

Pembahasan: Orang yang berilmu diberi pemahaman perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an.

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia dan tiada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu. (QS. Al-Ankabut: 43)

Perumpamaan dalam Al-Qur’an tidak ada yang bisa memahaminya, kecuali orang yang berilmu. Sebagian ulama menangis ketika tidak memahami perumpamaan dalam Al-Quran. Dan berkata saya tidak tergolong pada orang yang berilmu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdi Hatim, dari Amar Bin Muro, berkata:

Bersedih karena Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut 43.

Ibnu Mas’ud berkata “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai ilmu, dan cukuplah tertipu pada dirinya sebagai kejahilan”.

Orang yang takut pada Allah adalah orang yang berilmu dan orang yang paham Al-Quran juga orang yang berilmu.

Wallahu A’lam

22. Mulianya penuntut ilmu dikarenakan hatinya berisi ilmu

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Bait Syair 47. Cukuplah para ahli ilmu itu mulia karena mereka menjadi bejana bagi wahyu (ilmu) … Dan sebagian ayat dari wahyu itu melekat dalam dada-dada mereka.

Keutamaan dari orang-orang yang mempeleajari ilmu, yaitu hati dari penuntut ilmu adalah wadah-wadah yang menyimpan wahyu.

Ali bin Abi thalib berkata “Hati-hati itu adalah bejana-bejana”

Hati sebagai bejana digambarkan dari beberapa tempat: Al-Qur’an dan Hadist.

Ayat-ayat berada didada orang yang berilmu, Allah berfirman:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan (Ar=Ra’ad: 17)

Ada dua perumpamaan tentang ilmu:

  1. Seperti Air yang diturnkan dari langit, yang memberi manfaat bagi kehidupan. Hati itu seperti lembah-lembah yang menampung air, ada yang besar bisa menampung banyak air, dan ada yang kecil hanya menampung sedikit air. Maka air mengalir sesuai dengan kadarnya, ada yang banyak ada yang sedikit tergantung lemahnya (hati). Maka arus dari air itu membawa buih yang mengambang. Apabila keindahan ilmu sudah menyentuh hati, maka ilmu akan mengeluarkan subhat-subhat hal-hal yang bathil dari hatinya. Seperti air mengalir kelembah, apabila ada kotoran jadi buih mengambang dan hilang.
  2. Seperti logam (emas, perak) yang dibakar dalam bara api, pasti ada kotoran-kotoran (karat) yang keluar. Yang tesisa adalah logam yang murni.

Ini perumpamaan bagaimana ilmu dengan air, juga diberi perumpamaan dengan api. Air sifatnya menyejukan, memberi manfaat. Perumpamaan dengan api, menunjukan terangnya (bersinar) ilmu itu. Bagaimana ilmu itu membakar dari kebathilan dan subhat-subhat dalam hati. Ini untuk membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.

Hadist riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Musa Al-Ashari radhiallahu anhu, Rasulullah shallallhu alaihi wasallam bersabda:

Hujan turun kebumi, yang menampungnya adalah tanah. Ada tanah yang baik bisa menyerap air. Maka tanah ini menumbuhkan rerumputan dan tanaman yang banyak. Ada tanah yang keras diamana air tidak masuk kedalam, tapi menahan air itu. Sehinga air itu bisa memberi manfaat untuk manusia (minum).

Tanah jenis ketiga yaitu tidak menampung dan tidak pula menahannya. Maka hanya mengalir saja melewatinya. Ini adalah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat bagunta ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.

Ilmu seperti hujan yang turun, kondisi tanah yang menerimanya seperti hati, Ibnu Qoyim berkata:

  1. Hati ada bisa yang menyerap. Ibnu Qoyim berkata ini adalah orang yang menghafal dan memahami. Ini yang paling utama. Para ahli fiqih, orang yang memiliki riwayat dan pemahamannya.
  2. Hati ada yang bisa menahan saja. Ibnu Qoyim ini adalah orang yang menghafal saja tapi tidak diberi reziki untuk memahami.
  3. Hati ada yang tidak bisa menyerap dan tidak bisa menahan. Ibnu Qoyim berkata ini tidak ada bagiannya sama sekali: tidak ada hafalan dan tidak memahaminya sama sekali.

Wallahu A’lam

21. Pengedepanan Penyandang Ilmu Diatas Lainnya

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Bait Syair 46. Al-Musthafa Shallallahu Alaihi Wasallam mendahulukan ahlul ilmi lantaran ilmu mereka … Maka lantaran ilmu, dahulukanlah orang-orang yang mempunyai keutamaan ilmu.

Pembahasan: Pengedepanan Penyandang Ilmu Diatas Lainnya

Orang yang menyandang ilmu dikedepankan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam sejumlah perkara:

  • Dalam shahih Muslim dari Abu Basaud Al Badri radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahi alaihi wasallam bersabda:

Yang menjadi imam adalah orang yang paling bagus membaca Al-Qur’an (Qori). Jika dalam bacaan Al-Qur’an sama, maka yang didahulukan yang paling berilmu diantara mereka tentang sunnah. Jika ilmu mereka dalam sunnah sama, maka yang didahulukan adalah yang paling dahulu masuk islam (paling tua umurnya).

  • Dalam penguburan Jenazah, apabila beberapa jenazah disatukan dalam liang lahat, maka yang didahulukan dimasukan kedalam liang lahat adalah orang yang paling berilmu. Pada perang Uhud ketika Nabi ﷺ, mengumpulkan orang yang meninggal di kafani dalam satu kain, dua orang. Nabi berkata “Siapakah yang paling banyak yang mengambil Al-Qur’an diantara dua orang ini?. Apabila diketahui salah seorang dari keduanya lebih banyak mengambil Al-Qur’an maka Nabi mendahulukan orang tersebut di liang lahat nya.

Wallahu A’lam

20. Ilmu Mengangkat Derajat seseorang dari yang lainnya

Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Bait Syair 42. Kelebihan bapak kita (Adam alaihi salam) atas para malaikat dahulu … Adalah dengan ilmu yang diajarkan oleh Rabb mereka (QS. Al-Baqarah:31)
Bait Syair 43. Demikin pula, tidaklah keutamaan Yusuf alaihi salam terlihat oleh seluruh alam semesta … Melainkan dengan ilmu dan hikmah
Bait Syair 44. Tidaklah Kalimullah (Musa alaihi salam) mengikuti Kahdir yang terkenal itu … Kecuali karena ilmu yang masih samar bagi Musa.
Bait Syair 45. Meskipun Musa memiliki keutamaan berupa risalah dari Tuhannya … Dan janji serta mendegnarkan langsung Kalam Allah.

Pembahasan Pertama: Keutamaan seseorang diatas yang lainnya, diketahui dengan ilmu.

Bait Syair 42. Kelebihan bapak kita (Adam alaihi salam) atas para malaikat dahulu … Adalah dengan ilmu yang diajarkan oleh Rabb mereka (QS. Al-Baqarah:31)

Ketika Allah menciptakan Nabi Adam, Maikat berkata “Apakah engkau akan menjadikan orang yang merusak diatas muka bumi menumpahkan darah, padahal kami selalu bertasbih dan mensucikan Mu. Maka Allah berfirman “Sesungghunya aku maha mengetahui apa yang kalian tidak ketahui”. Maka dari situ ditampilkan keutamaan Nabi Adam diatas malaikat. Nabi Adam diajari seluruh nama, ketika ditanyakan kepada para Malaikat maka mereka berkata “maha suci engkau ya Allah, tidak ada ilmu bagi kami kecuali yang engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya hanya engkaulah yang maha mengetahui dan maha bijaksana”.

Pembahasan Kedua: Keutamaan Adam diatas seluruh malaikat

Dari hal tersebut, Allah tampakan keutamaan nabi Adam, Wahai Adam beritakan kepada para malaikat nama-nama tadi. Maka Nabi Adam mengabarkannya. Maka Nabi Adam di tinggikan diatas malaikat karena Ilmu.

Kaidahnya, siapa yang ingin dilebihkan diatas yang lainnya, jangan cari dengan dunia dan harta. Sebagian As-Salaf berakata apabila ada yang mendahului kamu dalam dunia, maka hendaknya kamu dahului dia dalam akhirat.

Pembahasan Ketiga: Keutamaan Yusuf terhadap penduduk pada zamannya.

Bait Syair 43. Demikin pula, tidaklah keutamaan Yusuf alaihi salam terlihat oleh seluruh alam semesta … Melainkan dengan ilmu dan hikmah

Ketika Allah ingin menunjukan keutamaan Nabi Yusuf alaihi salam, maka Nabi Yusuf diajari oleh Allah hukum dan ilmu, sebagaimana Allah berfirman:

Dan tatkala dia cukup dewasa , Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah, Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Yusuf:22)

Hal tersebut dikarenakan balasan Allah kepada Nabi Yusuf yang telah berbuat baik (Ihsan). Ihsan kadang bermakna selalu berpegang teguh dengan Al-Quran dan Sunnah atau berbuat baik kepada manusia.

Maka ketika Nabi Yusuf diberikan kemampuan untuk menta’wil mimpi. Raja waktu itu bermimpi seluruh menteri dan manusia, tidak mampu menta’wil mimpinya. Akan tetapi Nabi Yusuf mampu menta’wil mimpi raja tersebut. Dan memang mimpinya terjadi seperti apa yang dikatakan Nabi Yusuf. Disini ditampakan keutamaan Nabi Yusuf terhadap seluruh penduduk pada masa itu, yaitu dengan ilmu.

Pembahasan Keempat: Keutamaan Musa diatas Nabi Khadir dan bagaimana Nabi Musa mengikuti Nabi Khadir karena Ilmu.

Bait Syair 44. Tidaklah Kalimullah (Musa alaihi salam) mengikuti Kahdir yang terkenal itu … Kecuali karena ilmu yang masih samar bagi Musa.

Bait Syair 45. Meskipun Musa memiliki keutamaan berupa risalah dari Tuhannya … Dan janji serta mendegnarkan langsung Kalam Allah.

Nabi Musa mengikuti Nabi Khadir untuk mendapatkan Ilmu, walaupun Nabi Musa lebih utama dibandingkan Nabi Khadir. Beberapa keutamaan Nabi Musa: diutamakan dengan risalah, diberi janji oleh Allah, mendengar langsung ucapan Allah, berbicara langsung dengan Allah.

Musa berkata kepada Khiḍr, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi:66)

Seseorang yang mempunyai kedudukan apapun, ketika ingin belajar, harus berendah hati.

Nabi Musa mengikuti Nabi Khadir dikarenakan ingin mendapatkan Ilmu. Ini menunjukan bahwa keutamaan seseorang didasarkan atas ilmunya.

Ini juga menunjukan bahwa, sebagaimana orang yang sudah mempunyai ilmu banyak, akan ada orang lain yang mempunyai ilmu tertentu yang tidak dia miliki. Ilmu tidak dikumpulkan oleh satu orang saja.

Nabi Ibrahim juga diangkat diatas kaumnya karena Ilmu. Dari kisah Nabi Ibrahim, sebagaimana Allah berfirman:

Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrāhīm untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhan-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-An’am:83)

Up to 14:19

Wallahu A’lam

Iman Kepada Allah

Kitab Syarah Riyadhus Shalihin
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah

Bab 5 Muraqabah

Hadist 61, hadist Jibril mengenai islam, iman dan ihsan

Kelanjutan hadist, Setelah itu Jibril berakta, “Jelaskan kepadaku tentang iman”

Iman itu tempatnya didalam hati, dan islam tempatnya pada anggota badan. Maka itu kami katakan bahwa Islam adalah amal yang bersifat lahir dan iman adalah masalah batin yang tempatnya ada di dalam hati.

Nabi Shallallahu alaihi wasallam berkata kepada Jibril, “Iman adalah kamu percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir dan beriman dengan takdir yang baik dan yang buruk“.

Rukun Iman pertama: Iman Kepada Allah

  • Beriman bahwa Allah itu ada, Mahahidup, Maha Mengetahui, dan Mahakuasa.
  • Allahlah yang paling berhak untuk disembah dan tidak ada seorang pun yang berhak disembah selain Dia.
  • Allah memiliki sifat kesempurnaan yang tidak mungkin menyerupai sifat-sifat makhluk. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia” (QS. Asy-Syuraa:11)
  • Beriman kepada Allah adalah beriman kepada wujud Allah, rububiyah-Nya dan uluhiyah-Nya.
  • Termasuk kafir apabila: mengingkari wujud Allah, ragu akan rububiyah-Nya (Mahahidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa), dan mempersembahkan ibadah kepada selain Allah.
  • Iman kepada Allah, termasuk meyakini bahwa Allah berada diatas segala sesuatu dan bersemayam di Arsy-Nya.
  • Allah mengetahui mata yang berkhianat, mengetahui apa yang disembunyikan dalam hati dan mengetahui yang ada di langit dan bumi baik yang sedikit atau banyak, dan besar maupun kecil. Allah berfirman: “Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit” (QS. Ali ‘Imran:5)
  • Setiap makhluk diciptakan dan dibangkitkan oleh Allah, sebagaimana Firman-Nya “Maka ketika itu mereka hidup kembali di bumi (yang baru)”. (QS. An-Nazi’at:14)
  • Tanda kekukasaan Allah ketika seseorang tidur, sesungguhnya Allah telah mewafatkannya, sebagaimana Firman-Nya “Dan Dialah yang menidurkan kamu pada malam hari” (QS. Al-An’am).
  • Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, sebagaimana firman-Nya “Ataukah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan Kami (Malaikat) selalu mencatat di sisi mereka” (QS. Az-Zukhruf:80)
  • Allah Maha Melihat. Dia melihat semut kecil hitam yang berjalan di atas pasir hitam di kegelapan malam.
  • Beriman kepada kekuasaan Allah, seperti mukjizat Nabi Musa alaihisalam yang membelah laut merah, Sa’ad bin Abi Waqqas radhiyallahu anhu dan pasukannya ketika menaklukan Persia, mereka menyebrangi sungai dengan kuda, unta, dan kaki-kaki mereka.
  • Iman kepada Allah, adalah kamu mengetahui bahwa Allah melihatmu.
  • Iman kepada Allah, mengakui bahwa hukum kauni (alam) maupun syariat semuanya milik Allah.
  • Salah satu kekuasaan Allah adalah betapa banyak raja yang kekuasaannya dirampas pada waktu yang singkat. Orang yang mulia menjadi hina dalam waktu sekejap ataupun sebaliknya.
  • Hukum syar’at milik Allah sehingga hanya Allah lah yang berhak menghalalkan, mengharamkan dan mewajibkan.

Wallahu A’lam

Mengumumkan kehilangan sesuatu di dalam masjid

Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam

Bab Masjid – Pendahuluan

Hadist 201. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkatan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mendengar seseorang mengumumkan kehilangan suatu barang (hewan) di masjid, maka ucapkanlah, ‘Mudah-mudahan Allah tidak mengembalikannya kepadamu, karena masjid-masjid tidak didirikan untuk tujuan itu” (HR Muslim).

Hal-Hal Penting dari Hadits:

  • Apabila ada yang mengumumkan kehilangan barang, maka harusnya ia mengucapkan “Semoga Allah tidak mengembalikannya kepada mu, karena mesjid didirikan bukan untuk tujuan itu”.
  • Hukum ini termasuk umum, apakah itu hewan, barang berharga, uang, atau lainnya.
  • Masjid didirikan bukan untuk menyiarkan (mengumumkan) barang yang hilang
  • Hadist ini menunjukan sebuah keharaman dalam mengumumkan barang yang hilang di dalam masjid, dan keharusan mendoakan dengan kalimat tersebut.
  • Jika ia keluar dari pintu masjid dan mengumumkan barangnya yang hilang, maka tidak diharamkan.
  • Fungsi masjid sebagai tempat shalat, dzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan kegiatan-kegiatan yang bersifat kebajikan.
  • Ibnu Katsir berkata, “Masjid adalah tempat yang paling disukai oleh Allah di muka bumi ini. Itulah rumah-Nya, sebuah tempat untuk menyembah-Nya. Allah berfirman “Dirumah-rumah-Nya, Allah mengizinkan untuk dikumandangan dan dilantunkan nama-nama-Nya (QS. An-Nuur:36).
  • Pada riwayat Imam Ath-Thabrani dan Ibnu Majah dari hadist Watsilah, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda “Jauhilah masjid-masjid kalian dari orang-orang gila dan anak-anak serta hindari dari mengencangkan suara kalian (berteriak)”.

Membaca syair di dalam masjid

Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam

Bab Masjid – Pendahuluan

Hadist 200. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Bahwa Umar pernah lewat ketika Hasan membaca sya’ir di masjid, lalu Umar memperhatikannya dengan pandangan sinis, kemudian Hasan berkata, “Aku pernah membaca sya’ir di dalam masjid, sedang di dalamnya ada yang lebih utama darimu (Maksudnya, Nabi shallallahu alaihi wasallam) (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Hal-Hal Penting dari Hadist:

  • Dalam hadist At-Tirmidzi dan Abu Daud dari Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang melantunkan sya’ir di dalam masjid.
  • Ulama hadist sepakat bahwa sya’ir yang dilarang adalah sya’ir yang bertema ejekan dan rayuan berisi kata-kata cabul dan dusta. Adapun untaian sya’ir yang berisi kebenaran, hikmah dan nasihat maka tidak dilarang dilantunkan di masjid.
  • Semua sya’ir yang bertema keagamaan dan memberikan manfaat kebaikan bagi umat boleh dibacakan di masjid.
  • Tidak boleh bercakap-cakap dan bersenda gurau di masjid karena masjid didirikan untuk melaksanakan shalat, mengingat Allah dan ibadah lainnya.

Rasulullah menahan tawanan kafir di masjid

Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam

Bab Masjid – Pendahuluan

Hadist 199. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutus tentara berkuda, mereka pun membawa seorang tawanan, lalu mereka ikat dia disatu tiang masjid. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Hal-hal Penting dari Hadist:

  • Membolehkan mengikat tawanan di masjid walaupun ia kafir
  • Orang musyrik dan ahli kitab boleh masuk ke dalam masjid bila ada keperluan seperti renovasi masjid.
  • Syaikh Shadiq Hasan menafsirkan firman Allah “Maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram” (QS. At-Taubah:28), Orang musyrik tidak boleh mendekati Masjidil Haram bukan karena mereka tidak suci tetapi karena mereka memang tidak boleh memasuki tanah suci terleh memasuki Masjidil Haram.
  • Imam Syafi’i membolehkan orang musryk memasuki masjid selain Masjidil Haram.
  • Imam Ahmad tidak melarang orang kafir masuki tanah suci tetapi melarang memasuki masjid kecuali untuk merenovasinya.

Wallahu A’lam