Kitab Syarah Bulugul Maram Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
Bab Sifat Shalat
Doa bangun dari Ruku
Hadits235: Dari Abu Sa’id AL Khudri Radhiallahu Anhu, dia berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam apabila mengangkat kepalanya setelah ruku beliah mengucapkan “Ya Allah ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Wahai TUhan yang layak dipuji dan dimuliakan, yang paling layak dikatakan oleh seorang hamba – dan kami semuanya adalah hamba-Mu – Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya (kecuali iman dan amal shalihnya). Hanya dari-Mu kekayaan itu (HR. Muslim).
“Rabbanaa Laka Al Hamdu, Mil’a As-Samaawati wa Al Ardhi, Wa mil’a maa syi’ta min syai’in, Ahlu ats-tsanaa’i wa al majd, Ahaqqu maa qaala al ‘abd, Wa kullunna laka ‘abdun, Allahumma Laa maani’a limaa a’thaita, Wa laa mu’thiya limaa mana’ta, Wa laa yanfa’u dza al jaddi minka al jadd”
Hal-Hal Penting dari Hadits:
Disyariatkannya dzikir tersebut pada rukun dimaksud, yaitu setelah bangkt dari ruku dan tasmi,
Dzikir yang wajib adalah ‘rabbanaa wa lakal hamd’, bila ditambah maka itu lebih utama.
Kitab Syarah Bulugul Maram Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
Bab Sifat Shalat
Mengucapkan Takbir setiap perpindahan rukun Shalat
Hadits235: Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dia berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam apabila berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku, kemudian mengucapkan ‘sami allaahu liman hamidah’ saat beliau menegakkan pungungnya setelah ruku, lalu beliau berdiri tegak sambil mengucapkan ‘rabbanaa wa lakal hamd’, kemudian bertakbir ketika turun untuk sujud, lalu takbir ketika bangkit mengangkat kepalanya, lalu bertakbir ketika sujud (kedua), kemudian takbir lagi ketika bangkit untuk berdiri (setelah sujud). Selanjutnya beliau melakukan semua ini dalam semua shalat (dalam setiap rakaat). Dan beliau juga bertakbir ketika berdiri dari duduk pada dua rakaat (pertama).” (HR. Muttafaq Alaih)
Hal-Hal Penting dari Hadits:
Hadits ini menunjukkan disyariatkannya takbir intiqal (perpindahan) antar rukun shalat pada semua posisi selain pengucapan “sami’allahu liman hamidah” ketika bangkit dari ruku.
Sami’allahu liman hamidah artinya, Allah mengabulkan bagi yang memujiNya. Ucapan ini khusus bagi imam dan orang yang shalat sendirian, tidak termasuk makmum, karena tidak sesuai dengan haknya. Hal ini berdasarkan hadist di dalam Shahih Bukhari (796) dan Shahih Muslim (409) bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda “Apabila imam mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka ucapkanlah ‘rabbanaa wa lakal hamd”.
Makmum hanya mengucapkan tahmid ini adalah merupakan pendapat jumhur ulama.
Perawi menyebutkan “hiina”, ini menunjukan bahwa takbir itu bersamaan dengan gerakan perpindahan dari satu rukuk ke rukun lainnya, sehingga tidak mendahului permulaan gerakan dan tidak pula terlambat, yakni tidak terlambat mengucapkannya sehingga ketika sampai pada rukun berikutnya ia belum selesai mengucapkan takbir. Jadi, saat takbir itu adalah ketika bergerak antara dua rukun.
Penulis: Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rahimahullah
Bab: Wasiat agar berpegang dengan Sunnah
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.
Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Wasiat agar berpegang dengan Sunnah, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala.
Wasiat berpegang teguh dengan sunnah dan jauhi bid’ah
Bait Syair 163:
Pegang teguhlah sunnah dan jauhilah setiap bid’ah … Katakan “tidak” kepada pelaku bid’ah yang mengajakmu
Bait Syair 164:
Bagi orang yang memilki keragu-raguan dan di dalam hatinya ada keberatan … Terhadap apa yang beliau tetapkan, maka dia tidak memilki bagian keimanan sama sekali
Bait Syair 165:
Ayat: “Sekali-kali, demi Rabbmu …” (An-Nisa [4]: 65) merupakan larangan yang paling keras dari perbuatan itu bagi orang-orang yang mau berpikir … Sedangkan orang-orang yang ingkar dan kafir maka telinga mereka tuli
Syair 163: Gigit sunnah itu dengan gigi geraham mu dan tinggalkan setiap bid’ah. Dan katakan orang yang mengajak kamu pada Bid’ah nya, “Tidak ada iya untuk kamu”. Maksudnya saya tidak akan memenuhi ajakanmu.
Hal ini berdasarkan beberapa hadist yang semakna dengan ini, diantaranya hadist Irbat bin Syariah radhiallahu anhu:
Suatu hari Rasulullah menasihati kami dengan nasihat yang sangat mendalam, hati-hati bergetar dan air mata berlinang, mendengar nasihat beliau. Maka para sahabat berkata “Wahai Rasulullah seakan-akan ini adalah nasihat perpisahan, maka bernasihatlah kepada kami”.
Saya wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah mendengar dan taat kepada pemimpin walaupun yang menjadi pemimpin kalian seorang budak Habasy.
Maksudnya budak ini tidak memenuhi syarat kepemimpinan. Tapi apabila dia sudah menjadi pemimpin maka nabi perintah untuk mendengar dan taat.
Sesungguhnya siapa yang hidup diantara kalian setelah ku maka dia akan melihat perselisihan pendapat yang banyak. Maka hendaknya kalian berpegang dengan sunnah ku, dan sunnah para Kulafa (4 khalifah: Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali) Ar-Rasyidin, yang mereka ini diatas ilmu dan mengamalkan dengan ilmunya.
Manusia dibagi menjadi tiga:
Rasyid: Punya ilmu dan beramal dengan ilmunya
Gowin: Sampai kepadanya ilmu tapi tidak diamalkan
Dholun: Beramal tanpa ilmu
AL-Mahdiyin, yang mendapat hidayah. Penganglah sunnah itu dan gigit lah dengan gigi geraham (gigi yang paling kuat) mu.
Dalam hadist lain:
Berpegang dengan sunnah seperti mengenggam bara api. Maksudnya akan ada resiko berpegang dengan sunnah di akhir zaman. Tapi harus bersabar atas hal tersebut.
Syair 164: Tinggalkan setiap bid’ah, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.
Kelanjutan hadist:
Penyebutan bid’ah adalah dari Nabi Shalallahu alaihi wasallam. Ini adalah istilah syar’i. Memang keliru orang yang menghukumi sesuatu yang sunnah dianggap bid’ah. Tapi orang yang mencela sesuatu yang bid’ah mengritik dan menolaknya juga keliru. Seorang mukmin adalah pertengahan sehingga apa yang dinamakan agama adalah sunnah nabi adapun yang menyelesihi sunnah adalah bid’ah.
Katakan kepada orang yang mengajak bid’ah, “saya tidak terima dari kamu”. Seorang muslim tidak ikut-ikutan di bid’ah tersebut. Dalam kehidupan kadang ada yang harus di bedakan mana yang murni bid’ah dan mana yang bid’ah terkait pada sifat, bentuk dan kondisinya. Misalnya: seorang shalat dibelakang Imam yang qunut subuh, maka ini bukan murni perkara yang bid’ah dan tidak dikatakan dia tidak boleh ikut qunut. Karena sebagian ulama ada yang membolehkannya berdasarkan hadist yang lemah dan ada yang berpegang dengan kaidah umum. Walaupun yang benarnya tidak disyariatkan. Hanya menjaga yang lebih dijaga dalam agama yaitu kebersamaan.
Contoh lainnya, Ka’bah yang sekarang dibangun diatas posisi yang keliru, awalnya pada Nabi Ibrahim membangun ka’bah dengan dua pintu (masuk dan keluar). Namun sekarang hanya satu pintu. Akan tetapi Nabi tidak merubah posisi ka’bah karena khawatir terjadi sesuatu kerusakan lebih besar. Sebagaimana Nabi berkata pada Aisyah dalam Hadist riwayat Bukhari dan Muslim:
Sejarahnya Ka’bah awalnya dua pintu akan tetapi terjadi banjir yang meruntuhkan Ka’bah. Orang Quraish membangun kembali ka’bah akan tetapi degan satu pintu dikarenakan kekurangan biaya. Sehingga apabila Nabi robohkan dan bangun lagi sesuai dengan asalnya, dikhawatirkan orang quraish menjadi murtad lagi. Menjadikan kerusakan yang lebih besar.
Kaidah Sunnah: “Tidak boleh mengubah kemungkaran, yang akan melahirkan kemungkaran yang lebih besar”.
Pembahasan: Ketundukan sempurna kepada sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Syair 164: Tidak ada pada orang yang ragu itu pada dirinya, suatu penolakan dari apa yang diputuskan oleh Nabi shalallahu alaihi wasallam. Tentang keimanannya denganya. Maksudnya penolakan atau keraguan tidak ada bagiannya sama sekali bagi diri seorang mukmim pada apa yang diputuskan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Sebagaimana firman Allah:
Syair 165: Dalil akan hal ini:
Adapun orang yang menyimpang dan munafik, mereka selalu tuli dari mendengar kebenaran dari mengikutinya.
Kitab Syarah Bulugul Maram Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
Bab Sifat Shalat
Bacaan Rasulullah dalam ruku dan sujud
Hadits234: Dari Aisyah Rhadiallahu Anha, dia berkata: Saat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam di dalam ruku dan sujud beliau mengucapkan “Maha Suci Engkau ya Allah Tuhan kami dan dengan segala pujuan-pujian kepada-Mu. Ya Allah, ampunilah aku” (Subhaanaka Allahumma Rabbanaa Wabihamdika Allahummagfirlii) (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Hal-Hal Penting dari Hadits:
Imam Ahmad meriwayatkan (36741) dengan sanad yang bersambung hingga Ibnu Mas’ud, dia berkata, “Setelah diturunkannya ayat, ‘Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan ‘ (Qs’ An-Nashr: 1) kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, apabila ruku beliau sering mengucapkan, ‘subhaanaka allahumma rabbana wabihamdika allahummaghfirlii’ Sebanyak tiga kali.”
Dzikir ini sunnah diucapkan ketika ruku dan sujud bersama dengan pengucapan ‘Subhaana rabbiyal ‘Azhiim’ saat ruku dan bersama dengan pengucapan ‘Subhaana rabbiyal a’laa’ saat sujud.
Dzikir itu sangat sesuai karena mengandung sikap tunduk dan patuh kepada Allah Ta’ala, penyucian-Nya dari segala bentuk aib dan kekurangan serta penetapan segala bentuk keterpujian bagi-Nya, kemudian setelah ini semua adalah permohonan ampunan. Dengan begitu, sang hamba dalam posisi sangat tunduk dan merendah kepada Allah Ta’alaa sambil ruku dan sujud.
Dzikir tersebut hukumnya sunnah, bukan wajib, adapun yang disyariatkan menurut ijma’ adalah ‘Subhaaana robbiyal ‘azhiim’ ketika ruku dan ‘Subhaana rabbiyal a’la’ ketika sujud.
Kitab Syarah Bulugul Maram Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
Bab Sifat Shalat
Larangan membaca ayat Al-Qur’an saat ruku dan sujud
Hadits233: Dari Ibnu Abbas Rhadiallahu Anhu, dia berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Ingatlah bahwa sesungguhnya aku dilarang membaca Al-Qur’an ketika ruku ataupun sujud. Adapun ketika ruku maka agungkanlah Tuhan, sedangkan ketika sujud, maka berdoalah dengan sungguh-sungguh, karena (saat itu) layak untuk dikabulkan doa kalian” (HR. Muslim)
Hal-Hal Penting dari Hadits:
Larangan membaca Al-Qur’an ketika ruku dan sujud baik dalam shalat fardu maupun shalat sunnah.
Hadist ini mengindikasikan haramnya apa yang dilarang itu, maka membaca Al-Qur’an ketika ruku dan sujud hukumnya haram. Namun mayoritas ulama mengindikasikan larangan itu sebatas makruh saja.
Wajib mengagungkan Rabb Jalla wa ‘Alla dalam posisi ruku dengan ungkapan redaksi yang ada tuntunannya.
Telah disebutkan dalam Musnad Ahmad (16961) dan Sunan Abu Daud (869) dari hadist Uqban bin Amir, dia berkata, “Ketika turunnya ayat, “Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Maha Besar’ (QS Al-Waqi’ah: 96), Nabi bersabda, “Berlakukanlah itu dalam ruku kalian”.
Wajib menyucikan Rabb Jalla wa ‘Alaa dalam posisi sujud dengan ungkapan yang ada tuntunannya.
Imam Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan dari Uqban bin Amir, bahwa dia berkata, “Ketika turunnya ayat, ‘sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi’ (Qs. Al Alaa: 1) Nabi bersabda, ‘Berlakukanlah itu dalam sujud kalian’.
Bacaan tasbih ruku dan sujud yang waiib adalah satu kali, yaitu ” Subhaana rabbiyal ‘azhiimi’ (Maha Suci Tuhanku lagi Maha Agung) ketika ruku dan ” Subhaana rabbiyal a’laaa’ (Maha Suci Tuhanku lagi Maha Tinggi) ketika sujud, namun minimum yang sempuma adalah tiga kali, dan maksimum sepuluh kali bagi imam.
“Subhaana rabbiyal ‘azhiim” wajib dibaca ketika ruku dan ” Subhaana robbiyal a’la” wajib dibaca ketika sujud. Namun kewajiban ini bisa gugur karena lupa dan diganti dengan sujud sahwi. Insya Allah akan dibahas kemudian.
Penulis: Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rahimahullah
Bab: Wasiat agar berpegang dengan Sunnah
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.
Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Wasiat agar berpegang dengan Sunnah, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala.
Wasiat agar mendapat keutamaan seperti ahli hadist.
Bait Syair 153:
Jika ingin kenaikan derajat seperti derajat mereka … Dan anda menginginkan kemuliaan seperti kemuliaan mereka
Bait Syair 154:
Maka tapakilah tangga ketakwaan yang mereka dirikan … Lalu naiklah dengan kemauan yang kuat dan kesungguhan seperti kesungguhan mereka.
Bait Syair 155:
Tetapilah sunnah yang utama sebagaimana mereka menetapi … Dengan menghafalnya disertai dengan menyingkap penjelasannya, lalu terus lakukan itu.
Setelah dikenal keutamaan ahli hadist ini, maka jiwa ini ingin mendapat keutamaan ini, penulis berwasiat:
Bait Syair 153: Kalo kamu ingin meningkat, tinggi seperti tingkatan mereka. Dan kamu menghendaki kemuliaan yang tinggi seperti kemuliaan mereka.
Bait Syair 154: Maka caranya: Kamu menuju pada tangga ketaqwaan yang mereka pasang. Jalan yang kedua: Naik lah kamu dengan penuh semangat, tekad kuat, dengan kesungguhan seperti kesungguhan mereka.
Ikuti jalannya para ulama ahli hadist, tapaki jalannya mereka. Sehingga kita perlu mengenal siapa ulama ahli hadist, apa buku-buku mereka, apa yang mereka ajarkan, bagaimana ilmu mereka. Bagaimana mereka mengambil ilmu dan beramal dengan ilmu. Semua ini ada dari siroh para as-salaf dari mulai sahabat, tabi’in, tabiut tabiin sampai ulama-ulama yang mengikuti mereka.
Cara kedua yaitu harus semangat seperti mereka. Kata Imam Syafei “Kemuliaan itu dengan kesungguhan. Orang yang diharamkan dapat sesuatu dikarenakan kemalasannya. Selalu berdiri tegak berupaya, kamu akan dapatkan cita-cita mu dalam waktu dekat.”
Bait Syair 155: Kemudian yang ketiga: Kosentrasi penuh terhadap sunnah dengan menghafal dan memahami penjelasannya. I’tikaf lah kamu diatas sunnah. Dengan menghafal dan mempelajari tafsir dari sunnah. Dan hendaknya engkau selalu kontinu.
Seperti Itikaf di mesjid yaitu tidak keluar mesjid (kecuali ada keperluan mendesak).
Penulis: Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rahimahullah
Bab: Wasiat agar berpegang dengan Sunnah
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.
Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Wasiat agar berpegang dengan Sunnah, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala.
Bait Syair 144:
Cukuplah mereka sebagai orang mulia karena mereka menggantikan … Penghulu orang-orang hanif (Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam) dalam agamanya yang lurus.
Bait Syair 145:
Mereka menghidupkan sunnah beliau speninggal beliau … Maka mereka pantas menjadi orang terdekat kepada beliau daripada seluruh manusia.
Bait Syair 146:
Mereka meriwayatkan hadist-hadist tentang syariat dari beliau … Tidak henti-hentinya mereka menghafal dengan hati dan dada
Bait Syair 147:
Mereka menyingkirkan darinya pemalsuan orang-orang yang batil … Juga penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, dan takwil orang yang sesat lagi hina.
Bait Syair 148:
Mereka menunaikan sabda beliau sebagai penyampai nasihat kepada umat beliau … Mereka melindungi riwayatnya dari setiap orang yang tertuduh dusta
Bait Syair 149:
Mereka tidak sama sekali tidak dipalingkan oleh harta, pelayan … tidak pula jual beli, ladang, maupun binatang ternak
Bait Syair 150:
Inilah kemulian yang sebenarnya, karena kemuliaan itu bukan kerjaan maupun nasab … Sekali-kali tidak, bukan pula mengumpulkan harta dan pelayan.
Bait Syair 151:
Setiap kemuliaan itu rendah dibanding kemulian mereka … Setiap kerajaan adalah pelayan bagi kerjaan mereka
Bait Syair 152:
Keamanan, cahaya, dan kemenangan yang besar menjadi milik mereka … Pada Hari Kiamat, dan juga kabar gembira bagi golongan mereka.
Ahli Hadist adalah Pewaris Nabi
Dalam Bait Syair 144, Cukuplah kemuliaan ahli hadist, mereka menjadi para pewaris (para pengganti) untuk pemimpin orang-orang yang bertauhid (Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam), dalam agama yang lurus.
Ahli Hadist orang yang terdekat dengan Nabi
Dalam Bait Syair 145, Mereka menghidupkan sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam setelah Nabi. Maka mereka ini yang paling berhak terhadap Nabi dari seluruh makhluk.
Ahli hadist yang paling dekat dengan nabi karena mereka yang menghidupkan Sunnah Nabi.
Umat yang paling dekat kepada Nabi Ibrahim adalah umat Islam, bukan Yahudi ataupun Nashara. Sebagaimana Allah berfirman:
Ahli Hadist meriwayatkan dan menghafal hadist Nabi dengan hati dan pena
Dalam Bait Syair 146, Mereka ini meriwayatkan dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, hadist-hadist syariat yang mereka riwayatkan. Mereka ini tidak menyimpan sebuah upaya kecuali dihabiskan didalam menghafal hadist Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
Penjagaan oleh ahli hadist yaitu dengan dada dan pena. Yaitu menjaga ilmu di dadanya dengan cara menghafalkannya, sehingga mampu menghadirkan hadist itu kapan dia kehendaki. Hafalan itu tidak akan bisa kecuali dengan Itqan (mutqin). Dan tidak ada itqan kecuali selalu di muroja’ah.
Yang kedua dijaga dengan pena, yaitu hadistnya ditulis. Apabila tidak hafal, diambil dari guru kemudian ditulis. Tapi tidak sekedar ditulis, dibenarkan tulisannya. Dengan cara apabila selesai menulis dari perkataan guru, kemudian dicocokan dengan bukunya guru. Sehingga catatannya sudah benar. Atau mencocokan tulisannya dengan tulisan murid lain yang sudah dicocokan dari guru. Sehingga yakin bahwa tulisannya sudah benar.
Rawi jaman dahulu ada yang punya hafalan saja, tidak pernah menulis, seperti As-Sya’bi. Beliau berkata saya tidak menulis hitam di atas putih. Tapi ada kelamahannya karena sifat manusia ada lupanya. Dan As-Sya’bi berkata ada hadist yang saya lupa dan apabila dihafal orang seseorang maka dia akan menjadi Alim. Hal ini dikarenakan saking banyaknya hafalan hadist As-Sya’bi. Ketika puluhan sahabat masih hidup, As-Sya’bi sudah diminta fatwanya.
Sebagian ulama tidak punya hafalan tapi dikatakan shahihul kitab. Seperti kitabnya Jarir bin Abdul Hamid Ad-Dhobi, ada riwayat beliau dalam Bukhari dan Muslim dikarenakan kitabnya shahih.
Kebanyakan Ahli hadist menggabungkan dua metoda yaitu menghafal dan menulis. Seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad. Ada beberapa metoda dalam menulis dan menghafal: penulisan ujungnya saja dan menghafal sisanya.
Ahli Hadist menafikan jalannya Ahlul Bathil, Orang yang menyimpan dan takwil sesat
Bait Syair 147: Mereka menafikan dari agama ini, jalannya ahlul bathil. Ta’rifnya orang-orang yang ekstrim. Dan Ta’wilnya orang-orang yang tersesat dan tercela.
Tiga sifat yang menjadi sumber permasalahan menyimpang dalam ilmu
Ekstrim (berlebihan)
Menempuh jalan yang bathil (jalan sendiri)
Ta’wil orang-orang yang jahil.
Ketiga kelompok ini akan ada disetiap zama, akan tetapi Alhamdulillah ada yang menjaga agama ini (ahli hadist).
Dikatakan kepada Ibnu Mubarak Rahimahullah, “Tidakkah engkau khawatir akan bahaya yang menimpa ilmu dimana ahlu bid’ah datang dan ditambah hadist yang bukan darinya?”. Ibnu Mubarak berkata “Saya tidak mengkhawatirkan itu karena para jihbit yang pandai mengeritik hadist akan selalu hidup”. Hingga hari ini orang yang menguasai hadist masih ada. Sehingga tidak akan ada yang bisa menambahkan hadist.
Ahli Hadist menyampaikan sabda Nabi sebagai nasihat bagi umat dan menjaga riwayat hadist
Bait Syair 147: Mereka ini menyampaikan sabda Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai nasihat bagi umat. Mereka menjaga riwayat hadist nabi dari setiap orang-orang yang tertuduh didalam agamanya.
Ini adalah pekerjaan ahli hadist, apabila ada hadist disampaikan. Sebagai nasihat untuk umat. Kemudian mereka jaga riwayat hadist itu dari setiap orang yang berbahaya.
Sehingga mengambil ilmu tidak sembarangan. ada etikanya. Ibnu Sirin Rahimaullah berkata “Sesungguhnya hadist ini adalah agama, lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”. Lafadh lain “Sesunguhnya ilmu itu adalah agama, lihatlah darimana kalian mengambil agama kalian”.
Apabila ingin menuntut ilmu, maka dilihat dulu gurunya. Guru tersebut belajar dari siapa. Dilihat gurunya bagus atau tidak. Zaman dulu apabila ingin memilih guru ditanyakan kepada ulama yang menjelaskan mana guru yang hadistnya shahih, bagus manhajnya.
Ibnu Sirin berkata “Mereka tidak tanya tidak sanad. Tapi ketika terjadi fitnah (terbunuhnya Ustman bin Affan Radhiallahu Anhu), baru kelihatan ada orang-orang yang menyimpang.”. Sebelumnya tidak ada yang tanya mengenai sanad, karena mengambil ilmu dari sahabat tidak usah ditanya. Akan tetapi setelah terjadinya fitnah, ternyata ada yang menyimpang. Sehingga mulai ditanyakan, dari mana kamu mengambil ilmu ini dan dari mana meriwayatkannya. Apabila dari ahli sunnah hadistnya diambil tapi apabila dari ahli bid’ah ditinggalkan.
Zaman sekarang ini begitu mudah membuka internet, sembarang dilihat. Ada orang yang tidak dikenal, didengarkan ucapannya. Kadang masuk dalam hatinya bercokol dalam dadanya dari ucapan orang tersebut, tidak bisa dia keluarkan. Masuk bid’ah dan subhat tidak diketahuinya.
Di masa ini, Ahmad Al-Hazimi, penduduk mekah yang sekarang di penjara. Orang ini mengajarkan buku-buku dari sheikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sekarang menjadi rujukannnya orang-orang teroris (ISIS). Pemahaman takfiri. Sehingga jangan sembarang mendengarkan dari Internet.
Sehingga kita perlu menempuh jalannya ahli hadist yaitu jalan yang lurus, pertengahan dan kelihatan. Sehingga mengambil ilmu harus tahu dari mana dia mengambilnya.
Ahli Hadist tidak dilalaikan Harta, Pelayan, dan Perniagaan
Bait Syair 149: Mereka tidak dilalaikan (dipalingkan) oleh dunia (harta), tidak pula oleh haul (budak-budak atau pelayanan), tidak pula dilalaikan oleh perniagaan (jual beli), tidak pernah dilalaikan oleh perkebunan dan tidak pula dilalaikan oleh kenikmatan-kenikmatan.
Akhirat bagi ahli hadist sangat terang benderang. Akan tetapi tidak pula meninggalkan dunia seluruhnya, ada yang berdagang. Seperti Ibnul Mubarak dikenal sebagai pedagang tapi sangat zuhud. Dikenal dengan orang yang mengumpulkan kebaikan, seakan segala jenis ibadah sudah dia kerjakan.
Mereka tidak dilalaikan oleh dunia, diambil sekadar dari dunia, pada hal yang tidak menyibukannya dan punya waktu tetap terkait dengan ilmu.
Ahli hadist memiliki kekuasaan sebenarnya
Bait Syair 150: Inilah kekuasaan yang sebenarnya, bukan kerajaan bukan pula nasab dan bukan pula mengumpulkan harta dan pembantu.
Kekuasaan yang sebenarnya apabila perhatian dengan ilmu, perhatian dengan Agama Allah, perhatian dengan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
Ahli hadist memiliki kemuliaan dan kekuasaan
Bait syair 151: Setiap kemuliaan itu rendah disisi kemuliaan ahli hadist. Dan setiap kekuasaan adalah membantu kekuasaan mereka, pelayan terhadap kekuasaannya ahli hadist.
Apabila ada suatu yang mulia, dibandingkan dengan kemulian ahli hadist maka sesuatu itu menjadi rendah.
Dalam kisah Harus Al-Rasyid, istrinya ketika melihat kondisi Ibnul Mubarak (seorang alim dari negeri Horosan). Ketika masuk ke Rakah disambut oleh penduduk negeri. Istri Harun Al-Rasyid dari istana dilihat dari kejauhan ada orang diikuti oleh banyak manusia sampai debu mengepul keatas. Mereka punya sendal copot dibiarkan saja, jangan sampai luput dengan orang didepan ini. Ketika ditanya siapakah orang ini, maka dijawab ini adalah Abdullah Ibnul Mubarak, Alim dari negeri Khorosan datang berkunjung ke Rakah disambut oleh manusia. Kemudian istrinya berkata inilah kekuasaan, bukan kekusaannya Harun Al-Rasyid yang berkuasa dengan tentara dan pelayan. Adapun Ibnul Mubarak menguasai hati manusia. Karena manusia perlu pada ilmunya.
Diatanya pada Hajat bin Yusuf, siapakah yang berkuasa di Basrah, orang-orang menjawab Al-Hasan Al-Basri. Dengan apa mereka memimpin kalian?. Dengan ilmunya. Orang perlu ilmu Hasan Al-Basri, sedangn dia tidak perlu dengan mereka.
Ahli hadist diperlukan oleh manusia. Apabila tinggal diuatu negeri, maka negeri itu perlu padanya. Akan tetapi dia tidak perlu pada manusia dan negeri.
Bait Syair 152: Rasa aman cahaya, keberuntungan dan kabar gembira untuk ahli hadist pada hari kiamat.
Kitab Syarah Bulugul Maram Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
Bab Sifat Shalat
Sikap Rasulullah saat membaca ayat tentang rahmat dan adzab Allah
Hadits232: Dari Hudzaifah Radhiallahu Anhu, Aku pemah shalat bersama Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, maka tidak ada ayat tentang rahmat yang dilewati beliau kecuali beliau berhenti pada ayat tersebut untuk memohon, dan tidak pula ayat tentang adzab kecuali beliau memohon perlindungan dari itu. (HR. Lima Imam hadits) dan dinilai hasan oleh At-Tirmidzi.
Hal-Hal Penting dari Hadits:
Disunnahkan menghayati Al Qur’an dan mengkaji makna-maknanya, baik ketika membaca maupun ketika mendengarkan, karena itu adalah bacaan yang sangat bermanfaat, Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Qs. Shaad [38]:29) baik itu di dalam shalat ataupun selainnya.
Disunnahkan memohon perlindungan kepada Allah ketika melalui ayat tentang adzab, ancaman dan yang serupanya, serta memohon rahmat ketika melalui ayat tentang rahmat, karena itu adalah doa yang sesuai dengan temanya.
Dalam riwayat Ahmad (18576) dan Ibnu Majah (1352) dari Muhammad bin Abdurahman bin Abu Laila dari ayahnya, dia berkata “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membaca di dalam suatu shalat yang bukan fardhu, lalu ketika melalui ayat (yang menyebutkan tentang) surga dan neraka beliau mengucapkan “Aku berlindung kepada Allah dari neraka dan celakanya penghuni neraka”.
Dalam riwayat Ahmad (24088) Dari Aisyah Rhadiallahu Anha, dia berkata “Aku shalat bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam pada malam Ramadhan. Beliau membaca surah Al Baqarah, An-Nisaa’ dan Aali ‘Imraan, dan tidaklah beliau melalui ayat yang mengandung berita gembira kecuali berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dan memohonkannya.”
Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Al Fawa’id mengatakan, “Jika Anda ingin memperoleh manfaat dari Al Qur’an, maka konsentrasikanlah hati Anda ketika membaca dan mendengarnya, pusatkan pendengaran Anda dan bayangkan kehadiran yang menerima firman Allah itu, karena itu adalah perkataan dari-Nya untuk Anda melalui lisan Rasul-Nya, Allah Ta’ala berfirman,”Sesunguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peingatan bagi orang-orang yang mempunyai hati” ini adalah tempat untuk menerima. Maksudnya adalah hati yang hidup yang ingat akan Allah. “atau yang menggunakan pendengarannya” yakni memusatkan dan menajamkan pendengarannya “Sedang dia menyaksikannya.” (Qs. Qaaf [50]: 37) Yakni menyaksikan dengan mata hatinya, tidak lengah dan tidak lupa. Jika pemberi pengaruh (yakni Al Qur’ an) telah ada (yakni dengan membaca atau mendengarnya), tempat penerimaannya dalam kondisi hidup (yakni hati), dan syaratnya ada, yakni konsentrasi serta tidak ada penghambat, maka akan tercapailah manfaatnya.
Kitab Syarah Bulugul Maram Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
Bab Sifat Shalat
Rasulullah membaca surat As-Sajdah dan Al Insan pada shalat Subuh Jum’at
Hadits231: Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, dia berkata, Dalam shalat Fajar (subuh) pada hari Jum’at, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membaca alif laam miim tanziil (surah As-sajdah) dan Hal ataa ‘alal insaan (surah Al Insaan).” (HR. Muttafaq ‘Alaih) Dalam riwayat Ath-Thabrani dari hadits Ibnu Mas’ud disebutkan, “Beliau mendawamkan hal itu.”
Hal-Hal Penting dari Hadits:
Disunnahkan membaca surat As-Sajdah di rakaat pertama shalat Subuh pada hari Jum’at dan surat Al-lnsaan di rakaat kedua.
Perkataan perawi “Kaana” dan dalam riwayat Ath-Thabrani, “Yudiimu dzaalik” menunjukkan bahwa itu terjadi terus menerus, yaitu bacaan dengan kedua surah tersebut dalam shalat Subuh pada hari Jum’at dan beliau tidak meninggalkan kebiasaannya itu.
Dalam Zad Al Ma’ad, Ibnul Qayyi, “Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam membaca surah As-Sajdah dan Al Insaan dalam shalat Subuh. Dan aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam membaca kedua surah ini dalam shalat Subuh pada hari Jum’at adalah karena keduanya mengandung apa yang telah dan yang akan terjadi pada hari Jum’at.
Kedua surah itu menyebutkan tentang penciptaan Adam Alaihi Sallam, menyebutkan tentang hari kebangkitan dan pengumpulan para hamba, itu terjadi pada hari Jum’at.
Jadi seolah-olah, dibacakannya itu pada hari Jum’at peringatan bagi umat tentang apa yang telah dan yang akan terjadi agar mereka bisa mengambil pelajaran dari yang telah terjadi dan bersiap-siap untuk yang akan terjadi.
Kitab Syarah Bulugul Maram Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
Bab Sifat Shalat
Membaca surah Ath-Thuur dalam shalat Magrib
Hadits230: Dari Jubair bin Muth’im radhiallahu anhu: Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam membaca surat Ath-Thuur dalam shalat Magrib (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Hal-Hal Penting dari Hadits:
Biasanya bacaan dalam shalat Maghrib adalah dengan Al Mufashshal yang pendek karena singkatnya waktu Maghrib, namun adakalanya pula dengan yang panjang sehingga tidak mengkhususkan dengan yang pandek. Nabi shalallahu alaihi wasallam pun (dalam shalat Maghrib) pemah membaca surah Ath-Thuur, ini termasuk Al Mukshshal yang panjang.
Diriwayatkan bahwa dalam shalat Maghrib Nabi shallahu alaihi wasallam membaca surah Al A’raaf, surah Ash-Shaffaat, surah Ad-Dukhaan, surah Al Mursalaat, surah At-Tiin, dua surah Al Mu’aurwidzat (Al Falaq dan An-Naas). Semua ini disebutkan dalam hadits-hadits shahih.
Para ulama mengatakan, “Penulisan Mushaf harus mengikuti susunan seperti yang sekarang ada ini, yaitu dalam urutan surah-surahnya, karena hal ini merupakan kesepakatan para sahabat, dan kesepakatan mereka itu adalah hujiah.”
Adapun mengenai bacaan, Imam An-Nawawi mengatakan, “Yang menjadi pilihan adalah membaca sesuai urutan mushaf, baik itu untuk dibaca di dalam shalat maupun lainnya. Bila membaca suatu surah, maka selanjutnya adalah surah yang berikutnya. Demikian ini karena urutan surah-surah itu ditetapkan untuk suatu hikmah, maka hendaknya dijaga.
Kecuali dalam hal yang dikecualikan oleh syariat, misalnya dalam shalat subuh pada hari Jum’at, pada rakaat pertama membaca surah As-Sajdah dan pada rakaat kedua membaca surah Al Insaan. Juga dalam shalat sunah Subuh, pada rakaat pertama membaca surah A lKaafiruun dan pada rakaat kedua membaca surah Al Ikhlaash. Ini boleh dilakukan walaupun tidak sesuai dengan urutan, karena Rasulullah shalallahi alaihi wasallam pun pernah membaca Al Baqarah, lalu surah An-Nisaa, kemudian surah Ali ‘Imraan.