Siapakah Manusia yang Paling Mulia?

Kitab Syarah Riyadhus Shalihin Karya Abu Zakaria An-Nawawi Rahimahullah
Pensyarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah

Bab 6 Takwa

Hadits ke 70: Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu ia berkata, “Dikatakan, wahai Rasulullah siapakah manusia yang paling mulia?” Beliau menjawab, “Orang yang paling bertakwa di antara mereka.” Mereka berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan,” Beliau menjawab, “Yusuf, nabi Allah, anak nabi Allah, anak nabi Allah, anak kekasih Allah.” Mereka berkata, “Bukan itu yang kami tanyakan kepadamu.” Maka beliau menjawab, “Apakah tentang asal usul bangsa Arab (terkait nasab orang Arab) yang kalian tanyakan kepadaku? (Jika demikian yang kalian maksudkan) maka yang terbaik di antara mereka adalah pada zaman Jahiliyah akan menjadi yang terbaik di dalam Islam (setelah masuk Islam) jika mereka memahami (hukum-hukum syariat)” (Muttafaqun Alaih).

Penjelasan

  • Manusia yang paling mulai diantara manusia adalah “Orang yang paling bertakwa di antara mereka”.
  • Sebagaimana firman Allah,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ

Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa“. (Al-Hujurat: 13)

  • Allah Ta’ala tidak pernah memandang kepada manusia dari segi nasabnya, dari segi kedudukannya, dari segi hartanya dan dari segi kecantikannya. Namun Allah memandang dari amal-amal perbuatannya.
  • Para sahabat menginginkan jawaban lain, maka beliau mengatakan manusia yang paling mulia adalah Yusuf anak nabi Allah, anak Nabi Allah, anak kekasih Allah (Yusuf bin Ya’kub bin Ishak bin Ibrahim).
  • Para shahabat mengatakan “Kami tidak menanyakan tentang hal ini.” Beliau mengatakan “Apakah tentang pembesar-pembesar Arabkah kalian bertanya kepadaku? yang terbaik di antara mereka di masa Jahiliyah akan menjadi yang terbaik di masa Islam jika mereka memahami (hukum-hukum syariat)”, yakni sebaik-baiknya manusia dari nasab dan asal keturunannya adalah sebaik-baiknya orang Jahiliyah. Akan tetapi dengan syarat memahami agama dengan baik.
  • Misalnya, bani Hasyim terkenal nasab yang terbaik di Quraisy maka mereka menjadi yang terbaik di dalam Islam. Akan tetapi dengan syarat mereka memahami agama Allah, belajar agama Allah.
  • Namun, jika mereka tidak memahami, walaupun termasuk nasab yang terbaik di Arab maka mereka tidak menjadi makhluk yang termulia di sisi Allah.

Wallahu A’lam

Tinggalkan komentar