بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabatnya.
Kitab Ushulus Sunnah Imam Ahmad
- Penulis: Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah Ta’alla
- Materi kajian oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizahullah. Rekaman audio kajian lengkapnya bisa diakses disini.
Melihat Allah ‘Azza Wa Jalla
Imam Ahmad berkata, Pokok-pokok Sunnah (Islam) disisi kami adalah:
Beriman dengan ru’yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah) pada hari kiamat sebagaimana diriwayatkan dari Nabi Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits yang shahih.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sungguh telah melihat Rabbnya, hal ini telah ma’tsur dari Rasulullah diriwayatkan oleh Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh Al-Hakam bin Aban dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, diriwayatkan pula oleh Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihram dari Ibnu Abbas, dan kita memahami hadits ini sesuai dengan zhahirnya sebagaimana datangnya dari Rasulullah dan berbicara (tanpa ilmu) dalam hal ini adalah bid’ah, akan tetapi kita wajib beriman dengannya sebagaimana zhahirnya dan kita tidak berdebat dengan seorang pun dalam masalah ini.
Penjelasan:
Pembahasan 1: Melihat Allah pada hari kiamat.
Ahli sunnah menyepakati bahwa bisa melihat Allah pada hari kiamat. Adapun melihat Allah di dunia dalam keadaan tidak tidur adalah sesuatu yang mustahil. Hal ini adalah kesepakatan para ulama. Bahkan sebagian as-salaf berpendapat apabila melihat Allah dalam keadaan terjaga bisa mengeluarkannya dari Islam. Hal ini dikarenakan menyelisihi Al-Qur’an dan hadits Rasulullah.
Sebagaimana Hadits dari Jabir dalam riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda “Ketahuilah bahwa kalian ini tidak akan melihat Rabb kalian sampai kalian mati”.
Apabila dalam keadaan tidur dimungkinkan melihat Allah. Nabi ﷺ pernah melihat Allah didalam mimpinya.
Beberapa dalil mengenai melihat Allah di hari kiamat:
Dalil Ke-1: Al-Qur’an Surat Al-Qiyamah Ayat 22-23:
وُجُوهٌۭ يَوْمَئِذٍۢ نَّاضِرَةٌ ٢٢ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌۭ ٢٣
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan-nyalah mereka melihat.” (Al-Qiyamah: 22-23).
Dalil Ke-2: Al-Qur’an Surat Al-Mutaffiffin Ayat 15:
كَلَّآ إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍۢ لَّمَحْجُوبُونَ
“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang kafir) pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” (Al-Mutaffifin: 15)
Apabila orang kafir terhalang melihat Allah, maka orang muslim tidak terhalang melihat Allah.
Dalil Ke-3: Al-Qur’an Surat Yunus Ayat 26:
لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌۭ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌۭ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ أَصْحَـٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَـٰلِدُونَ
“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Yunus: 26)
Kata “tambahannya” ditafsirkan dalam hadits Riwayat Muslim, adalah mereka melihat kepada wajah Allah ﷻ. Dalam Riwayat, ketika penduduk surga telah masuk ke dalam surga, maka Allah ﷻ berfirman kepada mereka, “Ingingkah kalian aku tambah?”, maka mereka berkata kami sudah dimuliakan dengan surga ini. Maka Allah ﷻ menyingkap tirai dan merekapun melihat Allah.
Dalil Ke-4: Al-Qur’an Surat Al-Ahzab Ayat 44:
تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُۥ سَلَـٰمٌۭ ۚ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًۭا كَرِيمًۭا
“Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah, “Salām”1 dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.” (Al-Ahzab: 44)
Liqo bisa bermakna menghadap kepada Allah atau melihat Allah. Akan tetapi Liqo pada ayat ini hanya ditafsirkan dengan satu penafsiran yaitu melihat dengan mata kepala kepada Allah.
Dalil Ke-5: Al-Qur’an surat Al-‘Araf ayat 143
وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَـٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّۭا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًۭا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَـٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ
“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, “Ya Tuhan-ku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhan-nya menampakkan diri kepada gunung itu,1 dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Al-’Araf: 143)
Lan tarauni (engkau tidak akan melihatku). Ahli bid’ah berdalil dengan ayat ini bahwa Allah tidak akan dilihat selama-lamanya dikarenakan adakata “Lan” yang mereka artikan selama-lamatnya. Akan tetapi ahli Bahasa berkata bahwa kata “Lan” bisa dua arti yaitu: menunjukan selama-lamanya dan tidak selama-lamanya.
Mata manusia tidak akan sanggup melihat keagungan wajah Allah di dunia. Akan tetapi diakhirat Allah membuat kekuatan untuk dapat melihat-Nya.
Kaidah: Ahlul bid’ah apabila berdalil tentang sesuatu pasti dalam dalil tu akan akan ada bantahan untuk mereka sendiri.
Dalil Ke-6: Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 103
لَّا تُدْرِكُهُ ٱلْأَبْصَـٰرُ وَهُوَ يُدْرِكُ ٱلْأَبْصَـٰرَ ۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Al-An’am: 103)
“Latudrikuhul absor”: Allah itu tidak bisa dilingkup oleh pandangan mata. Dia Allah yang melingkup pandangan mata. Dengan dalil ini mereka ingkari melihat Allah pada hari kiamat. Tapi pendalilan ini lemah. Bahkan dalam ayat ini ada dalil bahwa Allah akan dilihat pada hari kiamat. Hal ini dikarenakan kalimat “idrak” dalam Bahasa arab adalah melihat dari seluruh sudutnya. Apabila hanya melihat sebagian sudut saja maka dikatakan “ru’yah”. Dalam ayat ini disebut idrak yang memang tidak bisa melihat Allah dari seluruh sudutnya. Yang hanya bisa dilhat adalah wajah Allah.
Dalil idrak melihat keseluruhan dan ru’ya melihat Sebagian, yaitu dalam Al-Qur’an surat Ash-Shu’ara tentang kisah nabi musa dikejar firaun dan bala tentaranya. Ketika Nabi Musa sudah jauh didepan, mereka dikejar firuan. Begitu dua kelompok sudah saling melihat (ru’ya). Maka musa berkata sebentar lagi kita akan “idrak” yaitu dikumpul dari segala penjuru.
Dalil Ke-7 Hadits Rasulullah “Kalian semua akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama. Kalian tidak akan terhalangi dalam melihat-Nya.”
Demikian Ketika hari kiamat akan melihat Allah dengan sangat jelas tidak ada yang menutupinya. Tapi tidak kita serupakan Allah dengan Bulan. Hal ini hanya perumpamaan.
Pembahasan 2: Nabi melihat Rabbnya.
Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu menyebutkan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya. “Aku melihat Rabbku di surah yang paling bagus”.
Aisha Radhiallahu ‘Anha berkata “Barang siapa yang berkata bahwa Nabi Muhammad melihat Rabbnya, maka sungguh mereka telah membuat kedustaan yang sangat besar kepada Allah”. Aisha menegaskan bahwa Nabi tidak pernah melihat Rabbnya.
Adapun Ibnu Abbas menerangkan bahwa Nabi ﷺ melihat Rabbnya. Maka penetapan dari Ibnu Abbas bertentangan apa yang disebut oleh Aisha secara dhohirnya. Adapun hakikatnya tidak bertentangan. Hal ini dikarenakan Aisha mengingkari pandangan dengan mata kepala. Adapun Ibnu Abbas ditetapkan bahwa Nabi ﷺ melihat dengan hatinya. Sehingga tidak ada pertentangan diantara dua hal ini.
Akan tetapi Ahlul Bid’ah berkata bahwa Ahlul Sunnah juga berbeda pendapat mengenai masalah aqidah. Jawabannya adalah bahwa ini adalah masalah cabang, Adapun masalah pokoknya adalah Allah akan dilihat pada hari kiamat yang tidak ada silang pendapat.
Melihat Allah pada hari kiamat pada dua tempat: (1) padang mahsyar dan (2) surga. Hanya kaum mukminin saja yang dapat melihat Allah disurga. Di padang mahsyar terdapat perbedaan pendapat apakah kaum musiryikin dan munafikin dapat melihat Allah. Yang benar bahwa orang kafir tidak melihat Allah sama sekali (QS. Al-Mutaffiffin ayat 15). Adapun kaum munafikin dalam hadits dikatakan bahwa mereka melihat Allah akan tetapi mereka melihatnya bukan diatas surah yang Allah perlihatkan pada orang-orang yang beriman. Akan tetapi kaum muanfikin melihat Allah dengan rasa kegelisahan karena akan diungkap kedustaan mereka.
Wallahu Ta’lla ‘alam