Kitab Manzhumah Mimiyyah
Penulis: Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rahimahullah
Bab Penutup: Hasil Ilmu yang Bermanfaat dan Memetik Buahnya yang Dekat dan Matang.
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.
Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Penutup: Hasil Ilmu yang Bermanfaat dan Memetik Buahnya yang Dekat dan Matang , oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala.
Wasiat-Wasiat untuk Penuntut Ilmu
Bait Syair 219:

Bait Syair 220:

Bait Syair 221:

Bait Syair 222:

Bait Syair 223:

Bait Syair 224:

Bait Syair 225:

Bait Syair 226:

Bait Syair 227:

Wasiat Ke-6: Keimanan Kepada Takdir
Syair 219: Dan kepada takdir-takdir, jadilah kamu seorang hamba terhadap yang maha memilikinya. Dan seorang ahli ibadah yang ikhlas dalam syariatnya yang lurus.
Terhadap takdir seorang hamba hendaknya, sebagai hamba kepada rabnya. Selalu beribadah kepada Allah dan mengumpulkan dua hal dalam qoda dan qodar:
- Imani ketentuan Allah. Hal ini dipembahasan Tauhid Rububiyah bahwa hamba Allah tidak akan keluar dari ketentuan Allah.
- Ikhas dalam syariat Allah subhanahu wata’alla
Kaidah: tidak boleh mempertentangan antara keimanan kepada takdir dan keimanan kepada syariat Allah. Misalnya ini sudah ditakdirkan saya tidak usah shalat, puasa dan beramal.
Wasiat Ke-7: Mengumpulkan antara ibadah dan memohon pertolongan kepada Allah.
Syair 220: KepadaNya lah engkau beribadah dan meminta pertolongan dengan hal ini engkau akan sampai kepada Allah. Apabila tidak engkau akan kebingungan dalam kegelapan.
Menuntut ilmu adalah ibadah maka hendaknya minta pertolongan kepada Allah untuk dimudahkan dalam memahami ilmu.
Hal ini menggabungakan antara ibadah dan minta pertolongan sebagaimana firman Allah:

Seluruh kandungan Al-Qur’an kembali kepada surat Al-Fatihah dan seluruh kandungan surat Al-Fatihah kembali pada ayat ke-5.
Seorang penuntut ilmu tidak hanya memelihara ilmu nya seperti hafalan Al-qur’an atau hadist tetapi dia juga harus memelihara ibadahnya seperti shalat malam.
Wasiat Ke-8: Mengambil sebab, berdoa kepada Allah dan percaya kepada Nya
Syair 221: Ambilah sebab-sebab, dan mohon kepada yang memberi sebab itu. Dan percaya lah kamu pada Allah saja tanpa melihat kepada sebab. Maka kamu akan beruntung kalau kamu percaya. Dan kamu tidak akan disertai dengan kedholiman.
Apabila tidak mengambil sebab, maka tidak masuk akal. Seperti seorang mau selamat di jalan tapi naik motor ditengah jalan terus. Hal ini tidak mengambil sebab.
Semua syariat Allah dicontohkan mengambil sebab. Seperti Nabi Nuh disuruh membuat perahu yang menjadi sebab selamat. Padahal Allah maha mampu tanpa membuat perahu. Maryam ketika hamil diperintah untuk berada dibawah pohon kurma dan menggerakan rantingnya. sehingga berjathuan buah-buah yang segar. Hal ini disuruh mengambil sebab dengan menggerakan ranting. Padahal kurma tidak akan jatuh walaupun dipukul pohonnya.
Seorang penuntut ilmu harus mengambil sebab dengan belajar bagaimana cara menuntut ilmu, etika yang benar, menempuhnya, berusaha dan berupaya. Sehingga Allah mudahkan ilmu untuk dia.
Akan tetapi kita harus memohon kepada yang memberi sebab, jangan bersandar kepada sebab. Karena Allah lah yang memberi untuk dimudahkan.
Dan percaya kepada Allah jangan kepada sebab.
Apabila seseorang sudah berjalan menuntut ilmu, tawaqal kepada Allah, dan setelah berhasil, jangan melihat kepada sebab tapi melihat ini semua adalah anugrah dari Allah. Jangan berkata hal ini karena saya sudah berusaha, capek, begini dan begitu.
Jangan sampai penuntut ilmu apabila sudah berhasil bangga akan dirinya.
Wasiat Ke-9: Menimbang perkara dengan syariat
Syair 222: Dengan syarait timbanglah segala perkara yang engkau berniat melakukannya. Kalo tampak perkara itu sholih, maka lakukan dan jangan kamu menahannya.
Seorang penuntut ilmu menimbang segala perkara dengan syariat, sudah benar atau tidak. Apabila sudah sesuai maka jalankan dan apabila tidak sesuai maka berhenti. Sehingga apabila ingin melakukan sesuatu tidak langsung dilakukan tetapi ditimbang dengan syariat dulu apa yang akan dilakukannya.
Wasiat Ke-10: Ke-ikhlasan, jujur, selalu menapaki sunnah dan menekan dirinya.
Syair 223: Ikhlaskan perkara itu, kemudian jujurlah dan mencocoki sunnah. Hal ini disyaratkan untuk kesholihan amalan.
Dalam segala perkara harus ikhlas agar beruntung. Dalam saat-saat penting yang menyelamatkan adalah keikhlasannya. Sebagaimana kisah 3 orang yang terkurung didalam gua. Mereka diselamatkan oleh keikhlasannya, yang masing-masing menyebutkan amalannya dan dikatakan “Ya Allah apabila amalan itu ikhlas mengharapkan wajahmu, maka beri kami jalan keluar dari musibah yang menimpa kami.”. Sehingga mereka selamat dari gua.
Nabi Yusuf juga diselamatkan dari kekejian karena keikhlasannya. Ujiannya sangat besar, ketiga di uji oleh perempuan cantik. Dimana sebab-sebab untuk berbuat maksiat sangat terbuka, diantaranya: ditempat yang kosong, pintu ditutup, beliau yang diajak, perempuan cantik, Nabi Yusuf orang asing disitu tidak ada kerabat dan keluarga. Disebutkan alasannya adalah ke-ikhlasan sebagaimana firman Allah:

Apabila belajar dengan ikhlas, maka ilmu yang dipelajari dimudahkan dan ber-berkah. Karena keikhlasan orang yang ilmunya sedikit tapi amalannya lebih besar dari pada yang banyak ilmunya.
As-syidik bisa bemakna jujur atau tulus. Jujur apabila dalam ucapan dan tulus dalam niat (kesungguhan) dan perbuatan badan.
Dan mencocoki sunnah. Apabila ikhlas dan jujur tapi tidak mencocoki sunnah maka tidak diterima amalannya. Sebagaimana sabda rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

Syarat diterimanya amalan:
- ikhlas
- syidik
- mencocoki sunnah
- dan menekan jiwanya.
Diperlukan menekan jiwa dikarenakan apabila dia telah beramal kemudian diungkit amalannya (ria dan ujub), maka amalannya menjadi batal (tidak diterima).
Syair 224: Ikhlaskan lah karena Allah, jujurlah kamu dalam bersungguh-sungguh, dan hendaknya kamu mencocoki jalan Allah. Dan tekanlah jiwa itu maka jiwa akan selalu tunduk.
Para ulama apabila telah berbuat sesuatu, dianggap dirinya belum ada apa-apanya. Walaupun harapannya besar akan diterima amalnya. Hal ini menggabungkan antara al-khauf dan ar-roja.
Abu Ustman Ash-shaubuni rakhimakumullah ta’ala berkata dalam wasiatnya: “Seorang penasihat tapi tidak mengambil nasihat untuk dirinya. Orang yang membangunkan orang lain tapi dia sendiri tidak senang untuk bangun. Orang yang memerintah tapi dia sendiri tidak aktif dalam menerima perintah. Orang yang melarang tapi dia sendiri tidak terhentak oleh larangan. Dirinya mengajar, mengakui memberi peringatan membuat orang takut, tapi dia sendiri banyak yang campuradukan, dilalaikan dan belebihan, berbuat dosa tenggelam didalamnya. Tapi dia percaya bersama dengan itu rahmat Allah. Mengharapkan pengampunan Allah.”
Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu berkata “Apabila kalian tahu dosa-dosa ku, maka tidak ada yang mau duduk dengan ku”.
Kita harus melatih diri untuk menekan diri, tidak merasa bangga dengan yang kita punyai.
Wasiat Ke-11: Tidak takjub dengan amalan yang telah dilakukan.
Syair 225: Janganlah ujub dan jangan sekali-kali amalanmu itu disamping dosa. Pikirkan dosanya, banyak kekurangan. Dan melihat banyak nikmat.
Apabila telah beramal jangan kagum dengan amalannya. Karena ujub (rasa bangga) dengan amalan sangat berbahaya yang dapat menghancurkan amalan. Hal ini etika seorang penuntut ilmu untuk tidak ujub.
Apabila sudah ingat dosa maka jangan merasa bangga dengan amalan.
Apabila menyadari nikmat Allah yang sangat banyak, maka amalan yang kita punya tidak cukup untuk menysukuri nikmat Allah.
Empat perkara:
- Tidak boleh ujub dengan amalan
- Apabila beramal, ingat amalan disamping dosa
- Apabila beramal selalu dihadrikan banyak kekurangannya
- Ketiga beramal merasa belum cukup untuk mensyukuri nikmat Allah.
Abu Bakr Asy-syidiq radhiallahu anhu berkata: “Saya berharap bahwa saya adalah sebuah rambut disamping hamba seorang mukmin”. Artinya menganggap dirinya belum ada apa-apa, yaitu apabila behadapan dengan seorang mukmin maka dia seperti sehelai rambut.
Abu Bakr Asy-syidiq radhiallahu anhu berkata: ” bahwa inilah (menunjuk lisannya sendiri) yang membawa kepada kebinasaan.
Wasiat Ke-12: Jauhi Larangan, Taubat dan Istigfar
Syair 226: Dimana saja dari larangan, maka jauhi larangan tersebut. Apabila keliru maka bertaubat dan istigfar dan selalu menyesal.
Manusia tidak pernah luput dari kesalahan, termasuk penuntut ilmu. Yang penting apabila ada larangan dihindari dan apabila berdosa dia bertobat dan menyesalinya.

Dalam segala keadaan ada pintu ibadah untuk seorang mukmin:
- Dikasih cobaan, maka bersabar
- Dikasih nikmat, maka bersyukur
- Melakukan dosa, maka bertaubat.
Akan tetapi tidak bergampangan melakukan dosa.
Wasiat Ke-13: Selalu instropeksi diri
Syair 227: Dan hentikan jiwa itu, Kemudian apabila ada larangan, dihentikan jiwanya
Ketika ada perintah, berhenti dulu apakah sudah melaksanakan perintah atau belum. Kemudian ketika ada larangan, dihentikan juga jiwanya.
Muhasabah yaitu menghisab diri sendiri. Sehingga amalannya terkontrol dan terjaga. Tahu kekurangan, kekeliruan, kelalaian diri sendiri. Umar bin khataab berkata “Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri-diri kalian sebelum kalian ditimbang nanti. Karena akan lebih ringan hisab kalian apabila telah kalian hisab sendiri.”
Muhasabah bisa dalam bentuk hisab dirinya sebelum beramal atau hisab dirinya setelah beramal. Sebelum beramal ditanyakan apa yang akan dikerjakan, keikhlasan. Adapun setelah beramal ada tiga jenis:
- Hisab diatas ketaatan
- Hisab diatas larangan
- Hisab diatas amalan (dikerjakan apa ditinggalkan)
- Hisab diatas perkara yang mubah.
Hisab sejauh mana dirinya mengerjakan ketaatan, kemudian apakah sudah meninggalkan apa yang dilarang, kemudian hisab dirinya dengan selalu bertobat dan beristigfar kepada Allah Subhanahu Wata’alla.
Wallahu Ta’alla ‘Alam
