Kitab Syarah Bulugul Maram
Penulis: Abdullah bin Abdurahman Al Bassam
Bab Sifat Shalat
Tata Cara Shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
Hadist 217: Dari Aisyah Radhiallahu Anha, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memulai shalatnya dengan takbir dan bacaan, “Alhamdu lillahi rabbil ‘aalamiin” (maksudnya surah Al-Faatihah). Bila ruku beliau tidak menengadahkan kepalanya dan tidak pula menundukkannya, tapi antara keduanya, bila bangun dari ruku beliau tidak sujud sebelum benar-benar berdiri tegak. Bila bangun dari sujud, beliau tidak sujud lagi sebelum benar-benar duduk tegak. Beliau membaca tahiyat pada tiap-tiap dua rakaat. Beliau duduk di atas telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki yang kanan. Beliau melarang uqbah as-syaithan (duduk di atas dua tumit) dan melarang meletakkan kedua lengan di tanah seperti binatang buas. Beliau mengakhiri shalat dengan mengucapkan salam.” (HR. Muslim).
Hal-Hal Penting dari Hadits:
- Shalat dimulai dengan takbiratul ihram, maka tidak sah shalat tanpa takbiratul ihram.
- Bacaan shalat dibuka dengan “Alhamdu lillahi rabbil ‘aalamiin“, hal ini menunjukkan bahwa basmalah tidak termasuk surah Al Faatihah, dan ini merupakan pendapat tiga imam, yaitu; Abu Hanifah, Malik dan Ahmad serta yang lainnya. Argumen mereka adalah hadits ini.
- Apabila Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ruku, beliau tidak menengadahkan kepalanya, yaitu beliau tidak mengangkat kepalanya sehingga lebih tinggi dari garis punggungnya.
- Dan tidak pula menundukkannya sehingga lebih rendah dari garis punggungnya, akan tetapi antara keduanya.
- Apabila bangkit dari ruku, beliau tidak langsung sujud sebelum benar-berar berdiri tegak.
- Apabila beliau bangkit dari sujud, beliau tidak langsung sujud lagi sebelum benar-benar duduk dengan tegak.
- Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam duduk setiap selesai dua rakaat, dan dalam duduknya itu beliau membaca tahiyat, yaitu tasyahhud yang bacaannya telah diriwayatkan.
- Duduknya beliau di antara dua sujud dan pada tasyahhud awal dalam shalat yang memiliki dua tasyahhud adalah dengan menduduki telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki kanannya serta mengarahkan ujung jari-jarinya ke arah kiblat.
- Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang uqbah as-syaithan (duduk di atas dua tumit), yaitu memancangkan kedua betis dan paha lalu menempatkan pantat antara keduanya di atas lantai. Ini adalah cara duduknya anjing yang dianjurkan syetan agar ditiru untuk menghilangkan wibawa shalat dan gayanya yang indah.
- Beliau juga melarang menghamparkan lengan, yaitu meletakkannya (menempelkan telapak dan lengan bawah hingga sikut) di lantai, karena hal ini menyerupai binatang buas saat membentangkan kedua kakinya (yang depan), baik itu ketika sedang makan maupun ketika sedang mengintai mangsa yang lengah.
- Beliau menutup shalatnya dengan taslim, yaitu mengucapkan kepada orang-orang yang shalat kala itu dan para malaikat , “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaah” satu kali sambil menoleh ke kanan, dan sekali lagi sambil menoleh ke kiri. Hal ini agar doa mulia itu bisa mencakup semua yang hadir.
- Ummul Mukminin, Aisyah Radhiallahu Anha telah meriwayatkan sifat shalat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini secara lengkap untuk mengajari umatnya agar bisa shalat seperti itu sebagai manifestasi sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Bukhari).
Wallahu Ta’ala A’lam