8. Penuntut Ilmu jangan ujub yang dapat menghapuskan amalannya.

Kitab Manzhumah Mimiyyah

Penulis: Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad Al-Hakami Rahimahullah

Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Intisari Wasiat Untuk Penuntut Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Ini adalah intisari wasiat penuntut ilmu. Merupakan etika yang dipegang oleh penuntut ilmu. Wasiat untuk penuntut ilmu sangat luas. Tapi disini adalah intisari pokok bagi penuntut ilmu. Terkadang satu wasiat dari orang tua atau guru dalam menuntut ilmu, mencukupi kehidupannya dalam menuntut ilmu.

Bait Syair 72: Waspadailah sikap ujub karena ia akan menghanyutkan … amalan pelakunya dnegan banjirnya yang besar.

Pembahasan: Janganlah merasa bangga

Ujub adalah selalu memandang dirinya, merasa tinggi diatas manusia lainnya. Ini adalah hal yang berbahaya untuk penuntut ilmu. Karena Ujub ini menghabiskan amalan orang yang ujub, seperti banjir bandang yang sangat dahsat. Ujub menghabiskan amalan

Dalam hadist riwayat At-Tabrani dihasankan oleh Syeikh Al-Bani, dari Umar Bin Khatab radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Akan tampak Islam, sampai para pedagang berkeliling kesana dan kesini dilautan. Sampai kuda-kuda dimana-mana berperang dijalan Allah (saking tersebarnya agama ini). Kemudian tampaklah satu kaum, mereka membaca al-qur’an. Lalu mereka berkata siapa yang lebih bagus bacaannya dari kami, siapa yang lebih berilmu dari kami, siapa yang lebih fakih dari kami (dia banggakan dirinya). Kemudian Nabi berkata kepada para sahabat “Apakah mereka-mereka (para pembaca Al-Quran seperti ini) ini ada kebaikan?”. Para sahabat menjawab “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Rasullaah mengatakan “mereka itu dari kalian ummat ini, dan mereka ini adalah pangang-panggang api neraka”. \

Kemudian dari hadist riwayat Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah shallallhu alaihi wasallam bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang didalam hatinya ada satu biji sawi berupa kesombongan.

Ada satu kisah Nabi yang dikuatkan oleh syeikh Mukbil rahimahullah. Nabi ini punya umat yang banyak. Suatu hari beliau berkata “Siapakah yang bisa menandingi kaum ku ini?”. Maka turun teguran Allah kepadanya. Allah menyuruh untuk memilih satu dari tiga musibah yang akan menimpa ummat mu, yaitu:

  • Umat mu akan dikalahkan oleh musuhnya
  • Mereka saling membinasakan diantara mereka sendiri
  • Tertimpa kematian.

Maka Nabi ini meminta pendapat kaumnya, kemudian kaumnya berkata engkau adalah nabi, tentukanlah. Rasullullah mengatakan “Para Nabi, apabila tertimpa masalah besar, lansung mereka bersegera melakukan shalat”. Maka Nabi shalat dan memohon petunjuk Allah. Ya Allah kalo kami dikalahkan oleh musuh, kami tidak sanggup. Kami binasa oleh tangan sebagian dari kami, kami juga tidak sanggup. Tapi kami memilih kematian. Maka dihari itu meninggal dari kaum nya sebanyak 70 ribu orang. Ini satu kalimat yang ada bentuk Ujubnya, menimbulkan musibah yang luar biasa.

Seorang penuntut ilmu harus selalu menjaga dirinya, jangan pernah merasa yang didapatkan sudah banyak. Apabila dia sudah berbuat banyak bagi manusia. Dia menganggap dirinya belum berbuat apa-apa. Selalu membuat dirinya kurang. Ini adalah ciri ulama terdahulu.

Dalam biografi syeikh Mukbil rahimahullah, beliau diakhir hayatnya ketika sakit di Jeddah, beliau mengatakan saya belum berbuat apa-apa dan sedikit ikhlasnya. Padahal orang yang ada disekitar beliau sangat tahu akan jasa beliau, murid-muridnya ada dimana-mana.

Wallahu Ta’alla A’lam

Tinggalkan komentar