Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.
Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.

Dan mereka para ulama menjadi wakil-wakil didalam menegakan ilmu, dalam ucapan, perbuatan dan pengajaran kepada yang lainnya.
Pembahasan: Orang yang berilmu adalah wakil Allah didalam menegakan ilmu untuk diri mereka dan selain meraka
Firman Allah:

Bertanyalah kepada orang yang berilmu apabila kalian tidak mengetahuinya. Orang yang berilmu dijadikan wakil.
Sisi pentingnya ilmu, ketika orang yang berilmu dijadikan wakil-wakil Allah, maka tidak sembarangan dalam ucapan dan tindakan. Karena wakil bertindak sesuai dengan amanah yang diwakilkan kepadanya. Seorang mufti dan hakim adalah yang memutuskan dari Allah ﷻ. Menjadi khawatir seakan-akan mereka menjadi perantara antara Allah dengan makhluk. Para As-Salaf dan sahabat sangat hati-hati dalam memberikan jawaban. Banyak diantara mereka berkata tidak tahu atau disuruh bertanya kepada sahabat lainnya. Imam Malik ditanya puluhan pertanyaan dari orang Afrika, tetapi hanya dijawab 4 pertanyaan saja. Beliau berkata hanya itulah yang saya tahu jawabannya.
Topik baru: Orang yang berilmu paling takut kepada Allah,

Allah mengkhususkan orang-orang yang berilmu pembatasan pada mereka saja yaitu orang-orang yang takut kepada Allah ﷻ. Dan mereka dikhususkan sebagai orang-orang yang memahami perumpamaan-perumpamaan Allah. Sebagiamana dalam ayat-ayat Al-Quran yang merupakan pembicanraan-pembicaraan yang paling jujur.
Pembahasan: Orang yang berilmu adalah orang yang paling takut kepada Allah ﷻ.
Firman Allah:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.
Didalam Al-Quran dijelaskan keutamaaan dari orang yang takut kepada Allah. Takut kepada Allah mendapat pahala yang besar, dapat dua surga.

Pembahasan: Orang yang berilmu diberi pemahaman perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Qur’an.

Perumpamaan dalam Al-Qur’an tidak ada yang bisa memahaminya, kecuali orang yang berilmu. Sebagian ulama menangis ketika tidak memahami perumpamaan dalam Al-Quran. Dan berkata saya tidak tergolong pada orang yang berilmu.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abdi Hatim, dari Amar Bin Muro, berkata:

Bersedih karena Allah berfirman dalam surat Al-Ankabut 43.
Ibnu Mas’ud berkata “Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai ilmu, dan cukuplah tertipu pada dirinya sebagai kejahilan”.
Orang yang takut pada Allah adalah orang yang berilmu dan orang yang paham Al-Quran juga orang yang berilmu.
Wallahu A’lam
