Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.
Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Kitab Manzhumah Mimiyah – Bab Keutamaan Ilmu, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafizhahullah Ta’ala. Rekaman video kajian lengkapnya dapat diakses disini.
Kitab Manzhumah Mimiyah, Karya Syaikh Hâfizh bin Ahmad Al-Hakamiy rahimahullâh, Memuat seputar wasiat dan adab ilmiah.
Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai keutamaan ilmu, melalui bait syair ke-25 sampai ke-28. Salah satu keutamaan ilmu adalah dikarenakan ilmu adalah warisan para Nabi.
Bait Syair 25: Ilmu itu, demi Allah, warisan kenabian. Tidak ada warisan yang semisal dengan warisan ilmu. Betapa beruntungnya orang yang dapat warisan ilmu.
Bait Syair 26: Karena warisan ilmu adalah warisan yang hak, kekal, dan selama-lamanya. Adapun selain itu, akan menuju kepada kesirnaan dan ketiadaan.
Bait Syair 27: Diantara warisan yang bagus adalah warisan Nabi Sulaiman, yang mewarisi kenabian dan keutamaan yang sangat jelas. Betapa pantasnya Nabi Sulaiman mendapatkan nikmat-nikmat itu.
Bait Syair 28: Demikian pula Nabi Zakaria, memohon kepada Rabbnya. Supaya dianugrahkan keturunan dari keluarganya. Dia khawatir mawali (keturunan) dibelakannya (anak pamannya, dan kaumnya)
Dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu, Rasullullah shallallhu alaihi wasallam bersabda:

Pembahasan 1: Ilmu adalah warisan para Nabi
Ibnu Qoyim berkata bahwa orang yang berilmu adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan Nabi. Karena ilmu adalah warisan, yang ada hubungan kekeluargaan yang sangat dekat.
Sebagaimana kewajiban taat pada Nabi, diwajibkan pula taat kepada para ulama. Karena para ulama adalah pewaris para nabi. Kecintaan pada ulama adalah bagian dari Agama yang harus dipegang.
Siapa pewaris para Nabi?. Apabila ada yang mengaku ahli waris tapi bukan ahli waris, bisa dipermasalahkan dipengadilan. Sama halnya apabila ada yang mengaku ulama, tapi bukan ulama, patut dipertanyakan.
Pembahasan 2: Perbedaan antara Warisan Ilmu dengan Warisan Harta
- Warisan ilmu adalah warisan para nabi. Sedangkan harta adalah warisan selain nabi (orang kaya, raja-raja)
- Warisan para Nabi kekal, sedangkan warisan harta terputus.
Harta dan ilmu sebenarnya tidak pantas dibandingkan, dikarenakan sangat jauh perbandingannya. Ibnu Qoyim memberikan perbandingan antara ilmu dan harta dari 40 sisi, diiantaranya:
- Ilmu warisan para Nabi, sedangkan harta bukan warisan para Nabi.
- Ilmu menjaga pemiliknya, sedangkan harta dijaga oleh pemiliknya.
- Harta kalau dikeluarkan akan berkurang, sedangkan ilmu ketika dikeluarkan maka akan bertambah.
- Pemilik harta apabila meninggal, maka mengucapkan selamat tinggal pada hartanya. Sedangkan pemilik ilmu apabila meninggal, ilmu nya akan ikut bersamanya dalam kuburnya.
- Ilmu itu hakim terhadap harta, adapun harta tidak pernah menghukumi ilmu.
- Harta itu bisa didapatkan oleh kebanyakan orang termasuk: kafir, fasik, orang jahat. Sedangkan ilmu hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang beriman saja.
- Ilmu diperlukan oleh para raja dan lainnya. Tapi harta diperlukan oleh orang yang kekurangan saja (fakir).
- Harta itu mengantar kepada kesewenang-wenangan, melampaui batas, kesombongan. Sedangkan ilmu mengantar kepada rendah hati, merasa cukup, dan semakin giat beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala.
- Harta menjadikan pemiliknya budak terhadapnya. Sedangkan ilmu menjadikan hamba itu budak kepada Rabbnya.
- Kecintaan kepada ilmu dan mencari ilmu, itu adalah sumber segala ketaatan. Sedangkan kecintaan pada dunia dan harta dan mencarinya, itu adalah sumber segala kejelekan.
Pembahasan 3: Warisan nabi sulaiman dan nabi zakaria
Dalam surat An-Naml

Warisannya terhadap ilmu:

Warisan yang dimaksud adalah warisan ilmu dan kenabian.
Nabi Zakaria khawatir tidak ada yang melanjutkannya. Maka beliau berdoa kepada Allah supaya dianugrahi anak, yaitu Yahya.:

Wallahu A’lam



