Dua Kandungan Pokok La Ilaha Illallah

Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Makna La Illaha Illallah – dua kandungan pokok, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.

Dua Rukun (pokok kandungan) la ilaha illallah, dua :

  1. An-Nafyu: penafian
  2. Al-Isbat: penetapan

Ini adalah fiqih yang harus diketahui tentang la ilaha illallah, dalam kalimat yang agung ini terkandung didalamnya dua rukun pokok tersebut.

Ketahuilah bawah kalimat ini, mengandung penafian dan pengisbatan. An-Nafyu dalam la ilaha dan Al-Isbat dalam illallah.

Pertama dinafikan dulu segala yang diibadahi kecuali Allah. Nafyu adalah menafikan segala yang diibadahi selain Allah. Hal ini wajib menafikan segala benda mati, hewan, tumbuhan, makhluk, dan lainnya. Berlepas diri dari semua itu.

Kedua diisbatkan, ditetapkan, ibadah itu hanya untuk Allah dan tidak ada serikat baginya.

Tauhid mencakup dua hal penafikan dan penetapan, dua rukun tersebut harus dikumpulkan. Kalo hanya menafikan saja untuk tidak beribadah selain kepada Allah tapi tidak menetapkan, itu belum bertauhid. Atau sebaliknya jika hanya menetapkan Allah saja tapi tidak mengingkari yang lain kecuali Allah, maka ini juga belum bertahuid. Inilah agama islam, agama para nabi dan para rosul.

Ada yang beranggapan semua agama sama?

Sebagaian manusia ada yang merubah dari pokok2 agama, kalimat la ilaha illallah, akhirnya masuk dalam ucapan agama semua benar, ini adalah kekafiran yang nyata. bertentangan dengan makna la ilaha illallah.

Ada yang beranggapan agama islam tidak toleransi?

Mereka menganggap kalo kita menetapkan yang diibadahi hanya Allah dan umat islam ini dari keyakinannya adalah kafir terhadap ibadah selain Allah dan memerangi kesyrikan. Mereka ini menganggap tidak ada toleransi dalam islam. Ini adalah sebuah kesalahan, sebab agama Islam sudah berjaya dari masa nabi, ketika berkuasa di Madinah, ada orang yahudi di Madinah, tapi mereka tidak di dzhalimi, tapi keyakinan nabi tidak berubah. Harus dibedakan antara ibadah (keyakinan) dan interaksi dengan manusia, jangan dicampurkan. Toleransi kaitannya dengan masalah dunia, masalah muamalah. Adapun agama ini lah keyakinan kalimat tauhid.

Dalil-dalil mengenai perintah beribadah hanya kepada Allah dalam Al-Quran

Al-Quran surat Al Isra ayat 23, perintah agar tidak menyembeah selain Allah

Al-Quran surat An-Nisa ayat 36, perintah untuk menyembah Allah dan jangan mempersekutukannya.

Awal perintah dalam Al-Quran adalah beribadah kepada Allah (Al-Baqarah 21), dan awal larangan adalah larangan berbuat kesyrikan (Al-Baqarah 22).

Al-Quran surat Al-bayinah 5, perintah hanya menyembah Allah

Al-Quran surat An-Nahl ayat 5, misi rosul untuk menyerukan menyembah Allah dan jauhi thogut.

Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 256

Al-Quran surat Az-Zukhruf ayat 26-27

Penulis membagi pembahasan menjadi 3 bagian

Bagian Pertama: Penafian dan Penetapan

Bagian Kedua: Makna Uluhiyah

Makna penafian adalah menafikan segala uluhiyah, penyembahan/peribadatan segala sesuatu selain Allah dari seluruh makhluk. Termasuk menafikan Muhammad shallaluhu alaihi wa sallam, para malaikat, malaikat Jibril (pemuka para malaikat). Apalagi wali2 dan orang soleh lainnya. Kemudian kalo engkau telah memahami tersebut maka perhatikan pembahasan uluhiyah ini.

Bagian Ketiga: Makna Uluhiyah untuk Allah semata

Makna penetapan uluhiyah untuk Allah semata. Itu perintah beribadah untuk Allah saja tidak ada serikat.

Dua hal rukun ini harus bersambung, tidak seperti kekeliruan orang sufi: mereka kalo berdzikir tidak lengkap kalimat la ilaha illallah, tinggal sisa sepotong saja: awalnya dzikir la ilaha illallah….kemudian menjadi dzikir illaha….kemudian menjadi dizikir allah…. dan terakhir menjadi dzikir huhu ……. Ini adalah bentuk mempermainkan agama dikarenakan mereka tidak paham denan makna kalimat tauhid ini. Andai kata mereka belajar mengenai maknanya, tidak mungkin hal tersebut terjadi sebab dua rukun ini tidak mungking terpisah.

Kekeliruan dalam memahami makna la ilaha illallah

Pertama: kelompok wahdatul wujud, tidak ada pembagian antara makhluk dan pencipta. Bagi mereka segalah yang ada adalah Allah. Mereka mengartikan dengan tidak ada illah yang ada kecuali Allah.

Kedua: penafsiran Ahlul Kalam, mereka memaknai kalimat tauhid: tidak ada yang mampu mengadakan, mencipta, mengatur, kecuali Allah. Ini adalah pemahaman kaum Musyrikin dahulu, tapi pemahaman seperti ini tidaklah cukup menjadikan mereka Muslim.

Ketiga: penafsiran kelompok jahmiyah, mu’tajilah termasuk ikhwanul muslimin yang mentafirkan kalimat tauhid dengan nama dan sifat Allah. Contohnya tidak ada hakim kecuali Allah. Pemahaman seperti ini menyebabkan mengkafirkan semua orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.

Makna yang benar adalah tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah.

Dalam Al-Quran Surat Al-Hajj ayat 62

Dalam Al-Quran Surat Luqman Ayat 22

Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.

Tinggalkan komentar