Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.
Berikut ini adalah catatan dari kajian dengan tema: Makna La Illaha Illallah – beberapa konsekuensi dan bukan sekedar pengucapan lisan, oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi Hafidzahullah. Rekaman video kajian lengkapnya bisa diakses disini.
Kalimat la ilaha illallah ada konskuensinya dan bukan dimaksudkan untuk diucapkan dengan lisan saja, tapi harus mengerti tentang makna nya. Karena kaum munafikin pada zaman Rasulullah shallaluhu alaihi wa sallam mengucapkan kalimat ini. Padahal kita tahu kedudukan kaum munafikin lebih rendah dari kaum kafir yaitu dilapisan terbawah dari neraka.
Neraka bertingkat-tingkat sebagaiman kekafiran juga ada tingkatnnya. Surga juga bertingkat-tingkat sebagaimana tingkat amalan ahli surga. Lapisan yang paling bawah adalah kaum munafikin, sebagaimana tercantum dalam surat An-Nisa ayat 145:

Meski kaum munafikin mengerjakan shalat, puasa serta bersedekah, tidak akan berguna apabilah hanya diucapkan dengan lisan saja.
Sebagaimana beberapa sabda Rasulullah shallaluhu alaihi wa sallam, yang bermakna barangsiapa yang berucap la illaha illallah dengan jujur dan ikhlas, dan kafir terhadap segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, atau hadist lainnya yang semakna. Maka maksud dari pengucapan kalimat la ilaha illallah harus disertai dengan hal berikut:
- Mengetahuinya dengan hati.
- Mencintai kalimat ini dan mencintai orang-orang yang mengucapkannya.
- Membenci kepada siapa yang menyelishi kalimat la ilaha illallah.
Ada tiga point pembahasan:
Pembahasan 1: Memahami keadaan kaum Munafikin
Kaum Munafikin adalah musuh dalam selimut. Mereka dhohirnya isalm tetapi bathinnya bukan islam. Mereka berucap la ilaha illallah, kadang shalat walaupun malas, bersedekah walaupun kikir, dan mempunyai sifat riya. Hal ini memperjelas bahwa la ilaha illallah bukan sekedar dengan lisan.
Dikisahkan ada yang sekelompok orang yang berkata kepada Hasan Al-Basri rohimahullah, apabila seseorang berkata la ilaha illallah, maka akan masuk surga. Kemudian Al Hasan berucap, siapa yang berucap la ilaha illallah, kemudian dia tunaikan hak dan kewajiban dari la ilaha illallah, maka dia akan masuk surga. Ini adalah fiqih seseorang yang mempunyai ilmu.
Pembahasan 2: Syarat la ilaha illallah
Ada 7 (ada yang menyebutnya 8) syarat la ilaha illallah:
- Ilmu, mengilmui dan tidak boleh jahil terhadapnya
- Yaqin, meyakini terhadap kandungannya dan tidak boleh ragu atau samar
- Ikhlas, ikhlas terhadapnya dan tidak boleh syrik, riya, atau keterpaksaan
- Sidiq, jujur terhadapnya dan tidak boleh dusta
- Mahabah: mencintainya dan tidak boleh ada kebencian
- Terikat, terikat dengannya dan tida boleh bebas
- Menerima, menerimanya dan tidak menolaknya
- Engkau kafir terhadap egala yang diibadahi selain kepada Allah (sama dengan ikhlas)
Syarat Pertama: Ilmu
Artinya seseorang itu wajib untuk mengilmui tentang makna la ilaha illallah. Apa arti kalimat tersebut dan maknanya. Yaitu tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah.
Secara umum syarat ilmu adalah syarat yang peting dari kalimat la ilaha illallah, sebagaimana dalam Al-Quran Surat Muhammad ayat 9:

Kemudian mengenai perintah untuk mengetahui ilmu tentangnya, hatinya mengetahui apa yang diucapkan oleh lisan, mengetahui maknanya dalam Al-Quran Surat Az-Zukhruf ayat 86:

Dari Ustman bin Affan di hadist riwayat Muslim: “Barang siapa yang meninggal dalam keadaan mengilmui (mengetahui) akan la ilaha illallah, maka dia akan masuk surga”.

Syarat kalimat la ilaha illallah bermanfaat apabila dia mengetahuinya, mengenal dengan hati, menetapkan dan meyakininya.
Syarat Kedua: Yakin
Harus meyakini kalimat ini tanpa ada keraguan atau kebimbangan sedikitpun.
Dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 15: sesunggunya kaum mukmin beriman kepada Allah dan Rasulnya dan tidak boleh ada keraguan.

Bertolak belakang dengan sifat kaum munafikin dalam Al-Quran Surat At-Taubah ayat 45, mereka dalam keraguan. Adapun kaum mukmin yakin terhadap Allah.

Hadist riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Di isyaratkan agar tidak ada keraguan, harus yakin.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu diriwayat yang lain.

Hadist ini dikishakan ketika itu dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ada di dalam kebun, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapa yang dibelakang tembok kebun ini hatinya yakin maka beri kabar gembira dengan surga. Untuk sampai kepada derajat yakin, maka perlumempelajari, menjaganya, mengkajinya, membahasnya. Manusia dalam ilmu keyakinan bernjenjang
Syarat Ketiga: Ikhlas
Harus punya keikhlasan dalam mengucapakan ini dan tidak ada sedikitpun kesyrikan atau riya.
Dalam Al-Quran Surat Az-Zumar Ayat 3

Dalam Al-Quran Surat Al-Bayinah Ayat 5

Hadist riwayat Bukhari, Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu


Syarat Keempat: Syidik
Makna As-Syidik adalah jujur terkaitan dengan lisan, tulus dalam hatinya, dan bersungguh-sungguh dalam perbuatannya. Semuanya masuk dalam makna as-syidik, jadi bukan di lisan saja. Lawannya adalah kedustaan. Orang yang kalo jujur bersih dari kemunafikan.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Ankabut ayat 1-3: Allah mengetahui siapa yang jujur dan siapa yang dusta diantara mereka.

Dalam hadist riwayat Bukhari Muslim dari Mu’ad bin Jabal:

Syarat Kelima: Kecintaan
Al-Mahabah adalah kecintaan lawannya adalah kebencian atau ketidaksukaan. Artinya cinta terhada kalimat, kandungannya, cinta kepada yang mengucapakannya, cinta kepada yang membelanya.
Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 165: orang yg beriman kecintaan yang terbesar dalah cinta kepada Allah

Dari Anas bin Malik dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim


Dari Do’a Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Syarat Keenam: Terikat
Yang berucap la ilaha illallah didunia tidak ada yg bebas, semua terikat. Kalo tidak terikat kepada Allah dia terikat kepada syaiton atau dirinya sendiri. Dunia ini adalah penghambaahn kepada Allah. Terikat dengan kandungannya, dengan konsekuensinya, sehingga bisa mewarnai kehidupan dengan baik.
Dalam Al-Quran Surat Luqman Ayat 22: barang siapa yang berserah diri dan seorang yang baik maka dia telah berpegang teguh pada taili yg kuat

Dalam Al-Quran Surat Az-Zumar ayat 54:

Dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 65:

Syarat Ketujuh: Menerima
Menerima kalimat la ilaha illallah tanpa ada penolakan sama sekali dan tidak bersombong
Kaum musyrikin dicela dalam Al-Quran Surat As-Saffat ayat 35-36:

dan mereka berkata, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”
Dari Abu Musa Al Asyari dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim


Syarat Kedelapan : kafir terhadap segala yang diibadahi selain dari pada Allah
Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 256:

Dari Tariq bin Asyam dalam Shahih Muslim:

Ringkasan syarat:
Sehingga kalimat la ilaha illallah bukan sekadar ucapan saja ada kunsekuensi dibelakannya. Delapan syarat ini terkandung didalam konsekuensinya, apa keharusan seseorang terhadap kalimat yang agung ini. Harus dipahami bahwa seseorang yang berucap la ilaha illallah itu bukan sekedar ucapan saja, ada konsekuensi dibelakangnya, ada kewajiban kewajiban yang berjalan padanya. Karena itulah siapa yang telah mengucapakan kalimat yang agung ini dan dia telah mengtahui dari 8 syarat ini, maka artinya dia telah mengetahui konsekuensinya. Untuk selanjutnya tinggal dia bagaimana mengamalkannya.
Pembahasan 3: Kejahilahan banyak manusia terhadap sahadat
Banyak umat muslim saat ini yang jahil atau tidak mengetahui atau mengerti kalimat la ilaha illallah ini. Jangan seperti kaum Musyrikin mereka paham bahasa arab, paham konsukensi dari bahasa. walupun tidak diterangkan mereka sudah mengerti. Tetapi mereka bersombong tidak mau mematuhinya.
Wallahu ‘Alam